Titut, Penari Jaranan Buto
Oleh: Afin Yulia
[sunting]
Sudah lama Titut ingin menari jaranan Buto di atas pentas seperti almarhum ayah. Namun, tidak ada kesempatan. Ia selalu menarikan tari Gandrung di acara tujuh belasan.
Tahun ini Titut ingin menarikan tari Jaranan Buto. Oleh karena itu, ia mengajak teman-temannya. Sayang tak ada satu pun yang bersedia.
Mereka bilang ,"Tari Jaranan Buto itu untuk anak laki-laki, bukan perempuan. Lebih baik kita menari gandrung atau kupu cedung saja."
Titut kecewa, tetapi apa boleh buat? Ia tidak bisa memaksa mereka. Karena itu ia mencari kawan lain. Siapa tahu ada yang tertarik menari jaranan buto bersamanya.
Namun, lagi-lagi tak ada bersedia. Mereka bilang kalau menari Jaranan Buto tak kelihatan cantik. Karena semua akan didandani seperti buto atau raksasa. Padahal mereka ingin terlihat seperti bidadari saat menari di pentas Agustusam nanti.
"Huff." Titut mendesah.
Diam-diam ia merasa sedih karena upayanya tidak berhasil.
"Ah, ke mana lagi ya mencari kawan untuk menari Jaranan Buto?" tanyanya.
Saat itulah ia bertemu Doni. Ia bercerita hendak menari jaranan Buto di pentas hari kemerdekaan nanti bersama teman-temannya. Namun, ia sedang bingung sekarang. Salah salah satu dari mereka mengundurkan diri. Alhasil penarinya kini tinggal lima. Padahal harusnya enam.
"Sekarang aku sedang mencari penggantinya."
"Wah, benarkah?" Titut membelalakkan mata.
"Iya. Kira-kira siapa ya, Tut?"
"Bagaimana kalau aku saja?"
Doni melengak. "Kamu? Memangnya bisa?" kata Doni setengah tak percaya.
"Bapak pernah mengajariku waktu TK."
"Tapi, itu kan sudah lama. Setahuku selama ini kau tak pernah menarikannya. Aku yakin kau pasti sudah lupa."
"Kalau berlatih lagi pasri bisa," yakin Titut.
Namun, Doni menolak tawaran Titut. Ia tetap pada pendirian semula, mencari kawan laki-laki untuk menggantikan anggota yang mengundurkan diri.
Sekali lagi Titut kecewa. Sebab usahanya membujuk Doni tidak berhasil. Tika yang tahu kesedihan Titut langsung menepuk bahunya.
"Sudahlah, lupakan menari Jaranan. Ayo latihan Gandrung saja. Kawan-kawan sudah menunggumu," katanya disambut anggukan Titut.
Sejak hari itu Titut sibuk berlatih tarian Gandrung agar semakin baik dan padu saat pentas nanti. Walau demikian, Titut masih memendam keinginan untuk menari Jaranan. Karenanya ia diam-diam mengikuti latihan Doni dan kawan-kawan.
Dari tempat tersembunyi ia mengawasi mereka seraya mengikuti gerakan tariannya. Setiba di rumah, biasanya ia akan mengulang gerakan tersebut. Ia melakukannya hingga sepekan sebelum hari H.
Namun, sesuatu terjadi lima hari sebelum hari H dengan Doni dan kawan-kawannya. Seorang dari mereka terkilir saat latihan, sehingga tak bisa ikut menari di malam tujuh belasan.
Padahal mereka sudah berlatih tari dengan formasi enam orang. Kalau formasinya dirubah, mereka tak punya waktu lagi.
"Lalu bagaimana, Don?" tanya Titut.
"Entah, Tut. Aku bingung juga."
Doni diam sejenak sebelum bicara ,"Oh ya, Tut. Kapan hari kau bilang waktu kecil pernah diajari menari Jaranan Buto oleh ayahmu kan?"
"Iya."
"Apa kau masih ingat? Kalau masih, kau saja yang menggantikannya."
"Baiklah, ayo kita coba!" ucap Titut gembira.
Hari itu juga, Titut berlatih dengan Doni dan kawan-kawannya. Mereka takjub karena ia bisa menyesuaikan diri dengan cepat.
Pada hari H, Titut tampil sempurna. Ia bisa menari jaranan Buto dengan ketangkasan yang sama dengan kawan-kawannya. Tak heran jika penonton memuji penampilannya. Mereka bilang Titut luar biasa.
Turut tersenyum gembira. Senyumnya semakin lebar saat Pak Lurah yang ikut menyaksikan bilang ,”Wah, kelompok kalian harus tampil di acara karnaval Agustusan. Mewakili Desa Genteng Kulon bersama-sama yang lain.”
Benar saja, tanggal 28 Agustus Titut tampil bersama kawan-kawannya di acara karnaval umum. Mereka ikut barisan desa Desa Genteng Kulon, tempat ia lahir dan besar. Sambil menari sepanjang jalan, Titut diam-diam tersenyum bangga. Ia senang melihat sorak-sorai penonton setiap kali ia dan teman-temannya beraksi di jalan raya.