Toraja: Negeri Para Leluhur
TORAJA: NEGERI PARA LELUHUR
[sunting]Berawal dari percakapan kami saat sedang berkeliling mengitari jalanan di Makassar, tercetus ide untuk melakukan perjalanan ke Toraja menggunakan motor. Toraja merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki daya tarik dengan budaya yang megah serta pemandangan yang mempesona. Perjalanan yang dilakukan oleh 3 orang Perempuan menggunakan sepeda motor yang sama sekali belum pernah mengunjungi Toraja. Perencanaan dan persiapan kurang lebih 2 minggu. Dimulai dari menghubungi teman yang kiranya dapat menjadi tour guide kami selama disana hingga membawa kendaraan untuk di service agar memberikan prima terbaik saat perjalanan. Perkenalkan, kami bertiga Anna si pemimpin perencanaan yang selalu memastikan perjalanan aman dan lancar; Sani si Perempuan kuat yang mengendarai motor sendiri dan menikmati perjalanan dengan Santai. Moya, si videographer amatir yang tak pernah melewatkan merekam tiap gerbang kabupaten yang dilewatkan serta momen indah perjalanan. Kemudian, ada Lany, teman yang membantu kami selama berada di Toraja. Perjalanan dimulai pada pukul 11.00 Wita disertai dengan cuaca yang sangat cerah dan matahari yang sedikit menyengat. Pemberhentian pertama kami yaitu di Kabupaten Pangkep, di karena telah memasuki waktu shalat dzuhur. Perjalanan terasa sangat Panjang saat kami melewati poros Barru – Parepare. Sepanjang perjalanan selain mengambil video, Moya sibuk menghitung jembatan yang kami lewati. Saat di Parepare kami singgah untuk mengisi bensin, serta mengisi tenaga. Saat memasuki waktu ashar, kami telah berada di Kabupaten Pinrang. Kami memutuskan untuk beristirahat shalat serta merenggangkan badan kami yang telah melakukan perjalanan berjam-jam. Perjalanan selama 9 jam terasa cukup melelahkan. Kami tiba di Kota Makale, Tana Toraja dan menunggu Lani untuk menjemputkan kami di Monumen Patung Lakipadada. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, Lany akhirnya tiba dan kami langsung menuju kerumahnya untuk beristirahat. Saat pagi tiba kami disambut dengan udara dingin dan kabut tipis di Makale. Pukul 05.30 Wita, kami langsung menuju ke Lolai, yang dikenal dengan Negeri di atas awan. Perjalanan menanjak disertai kabut tebal membuat kami cukup tegang, namun sesampainya di puncak, kami tertegun. Lautan awan putih terhampar di bawah, perlahan tersibak oleh matahari terbit walaupun cuaca agak mendung. Terlihat deretan pegunungan hijau. Moya berhasil mengabadikan momen dengan cukup baik, setelah itu kami bergantian mengambil foto dan memintai Lany untuk mengambil foto kami bertiga. Sekitar jam 10.00 Wita, kami mengunjungi situs Megalitikum Bori Kalimbuang yang bukan hanya sekedar objek wisatam melainkan juga sebagai situs arkeologis yang menyimpan jejak Sejarah Panjang peradaban mengalitikum di Indonesia. Bori Kalimbuang menyuguhkan keindahan menhir, batu kubur dan berbagai ritual adat Toraja yang masih dijalankan hingga kini. Selain nilai Sejarah dan spiritual, Bori Kalimbuang juga menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Hamparan rumput hijau dan pepohonan rindang menambah Kesan tenang dan sacral di tempat ini. Sepanjang perjalananpun kami disuguhkan hamparan sawah dan rumah-rumah adat tongkonan yang menghiasi perjalanan. Pada siang hari kami berpindah ke destinasi selanjutnya yaitu Kete Kesu. Desa adat ini menampilkan deretan rumah adat Tongkonan yang megah dengan ukiran dan tanduk kerbau didepannya. Kami sibuk mencari angle terbaik, sementara Lany duduk diam dan mengamati orang-orang disekitar Tongkonan dan sesekali membantu kami untuk mengambil beberapa foto. Setelah pua menjelajahi keindahan desa adat Kete Kesu dengan dereta tongkonan dan tebing batu tempat kuburan leluhur, langkah kami berlanjut ke area pusat kerajinan tangan yang terletak tidak jauh dari komples rumah adat. Disinilah pengalaman berbelanja di mulai, sebuah perpaduan antara kegiatan wisata dan apresiasi budayas. Deretan kios kecil berdiri di pinggir jalan setapak, Sebagian besar dikelola oleh Masyarakat setempat. Harga barang di Kete Kesu cukup bervariasi, mulai dari souvenir kecil seharga puluhan ribu rupiah hingga ukiran besar bernilai jutaan rupiah. Namun lebih dari sekadar nilai ekonomi, berbelanja di tempat ini memberikan rasa penghargaan terhadap karya seni dan tradisi lokal. Setiap pembelian menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan budaya Toraja yang kini mulai menyesuaikan diri dengan pariwisata modern.