Lompat ke isi

Tugu Pahlawan sebagai Ruang Publik dengan Aspek Historis

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Potret monumen Tugu Pahlawan, Surabaya

Surabaya menjadi tempat terjadinya Pertempuran Surabaya; sebuah pertempuran yang terjadi antara pejuang lokal melawan pasukan Sekutu, khususnya pasukan Britania Raya yang memboncengi Belanda. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran terbesar di Indonesia pasca diproklamasikannya kemerdekaan. Peperangan semakin intens setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby yang memicu amarah pasukan Britania Raya. Kemenangan akhirnya jatuh di tangan Indonesia. Diperkirakan sebanyak 6.300–15.000 warga Indonesia tewas akibat peristiwa tersebut.[1] Sebagai bentuk penghargaan usaha para pejuang, Tugu Pahlawan dibangun di pusat kota Surabaya.

Monumen Tugu Pahlawan berdiri megah dengan tinggi 41,15 meter, dengan 10 lengkungan yang terbagi menjadi 11 ruas. Angka-angka tersebut melambangkan tanggal 10 November 1945, puncak dari Pertempuran Surabaya. Di sekitar monumen terdapat relief yang menggambarkan perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu, di sudut kompleks Tugu Pahlawan terdapat Museum 10 November yang menyimpan berbagai artefak dan dokumentasi sejarah Pertempuran Surabaya; termasuk senjata, foto, dan barang-barang pribadi para pejuang.[2] Museum ini memberikan edukasi kepada pengunjung tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Murid sekolah sering kali menjadi pengunjung museum ini, terlebih karena biaya tiket yang digratiskan untuk pelajar.[3]

Tugu Pahlawan tidak hanya berfungsi sebagai tempat peringatan dan edukasi sejarah, tetapi juga sebagai ruang publik yang kerap digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Lapangan Tugu Pahlawan sering digunakan untuk upacara dan acara budaya. Area sekitarnya juga dimanfaatkan untuk berdagang oleh pedagang kaki lima yang menjual makanan hingga pakaian bekas, khususnya pada pagi hari.[4] Pada hari Minggu, jalan raya di sekitar Tugu Pahlawan dibatasi untuk pengendara kendaraan bermotor dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day. Saat ini, Tugu Pahlawan telah menjadi ruang publik yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai macam kegiatan.

Referensi

[sunting]
  1. Vickers, A. (2008). A history of modern Indonesia (4. pr). Cambridge Univ. Press.
  2. Rusmiyati, et al. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. ISBN 978-979-8250-67-5.
  3. Jendela Dunia. (2024). Museum 10 November: Lokasi, Daya Tarik, Jam Buka, Tiket Masuk, dan Koleksinya. Kumparan.
  4. Ama, D. T. (2023). Dampak Penjualan Pakaian Bekas Terhadap Tingkat Pendapatan Pedaganag [sic] Di Pasar Pagi Tugu Pahlawan Kota Surabaya. Inisiatif: Jurnal Ekonomi, Akuntansi Dan Manajemen, 2(4), 225–235. https://doi.org/10.30640/inisiatif.v2i4.1423