Ulang Tahun Cindy si Pemarah
Premis
[sunting]Cindy dikenal sebagai anak yang ceria dan senang membantu. Tetapi suatu hari Cindy tiba-tiba berubah menjadi sosok pemarah dan sering mengomel. Mama Cindy mengetahui sebab dari perubahan Cindy dan memberitahukannya kepada Cindy.
Tokoh
[sunting]- Cindy
- Mama Cindy
- Husna
- Uti
- Fifi
- Arsya
Cerita Pendek
[sunting]Kemarahan pertama
[sunting]Semua orang di kelas 6B mengenal Cindy sebagai sosok yang senang membantu dan selalu ceria. Di kelas, Cindy selalu jadi salah satu siswa yang membuat suasana kelas menjadi lebih ramai. Selain itu, Cindy juga senang membantu teman-temannya yang kesusahan dalam pelajaran. Mata pelajaran kesukaan Cindy adalah Matematika. Jadi semua orang sering meminta bantuan Cindy jika mereka tidak mengerti tentang materi Matematika yang diajarkan Bu Guru.
Hari itu, jam istirahat akhirnya datang. Cindy merapikan alat tulisnya dan hendak menyimpannya ke dalam tas. Tetapi Cindy tiba-tiba mengerutkan dahi ketika menyadari kehilangan salah satu dari koleksi penghapus berbentuk bunga kesayangannya.
“Loh, dimana penghapusku yang berbentuk bunga mawar?” Cindy merasa heran sambil mencari-cari penghapus tersebut di mejanya.
Saat Cindy sibuk mencari, Uti dan Fifi datang menghampiri Cindy dengan wajah yang kebingungan karena soal Matematika yang diberi Bu Guru.
“Cin, nanti ajarin aku cara ngerjain soal Matematika tadi, ya!” ujar Uti.
“Iya Cin, ajarin aku cara jawab pertanyaan di ulangan kemaren juga dong!” Fifi menambahkan.
Tetapi karena sibuk mencari penghapusnya, Cindy tidak sempat membalas perkataan Uti dan Fifi. Sehingga Uti dan Fifi merasa diabaikan oleh Cindy.
“Cindy, kamu kok diem aja? Kamu nggak mau ajarin kita ya?” Uti bertanya setengah jahil. Tentu saja Cindy mau mengajari mereka seperti biasanya. Tapi hari itu Uti rasanya ingin menjahili Cindy. “Kalau kamu nggak mau, kita mau minta ajarin ke Tio aja deh.” Uti dan Fifi saling pandang dan terkikik geli. Tio adalah teman sekelas mereka yang juga pintar, tetapi sayangnya Tio selalu membuat Cindy sebal dengan sikapnya yang sombong.
Mendengar nama Tio, Cindy langsung menjadi kesal.
“Ya sudah, kalau kalian mau minta diajarin sama Tio, minta aja sana!” ujar Cindy. Mendengar itu, Uti dan Fifi langsung kebingungan. “Nggak usah minta ajarin sama aku lagi!”
Cindy kembali mencari penghapusnya, sementara Uti dan Fifi hanya terdiam dan menatap satu sama lain dengan heran karena bentakan Cindy. Tak lama, Husna pun datang menghampiri mereka. Husna adalah teman semeja Cindy.
“Cin, tadi aku pinjam penghapusmu. Maaf ya aku lupa balikin. Ini penghapusnya.” Husna menyerahkan sebuah penghapus kepada Cindy. Ternyata penghapus tersebut adalah penghapus yang daritadi dicari-cari oleh Cindy.
“Kok kamu nggak izin dulu sih Na? Aku daritadi kesusahan cari penghapus itu tau. Harusnya kamu minta izin dulu sebelum pakai!” Cindy langsung mengomel begitu melihat Husna menyerahkan penghapus bunga mawarnya.
Husna terkejut karena mendengar Cindy yang mengomel. “Tadi aku udah izin kok Cin… Tapi kamu sibuk ngerjain latihan… Mungkin karena itu kamu nggak denger aku minta izin…” ucap Husna dengan takut-takut. “Aku juga udah minta maaf…”
“Tapi kamu kan bisa langsung kasih balik. Bukannya disimpan dulu!”
Cindy langsung menyimpan penghapus tersebut kemudian memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas. Setelah itu Cindy tanpa bicara lagi pergi ke kantin meninggalkan Husna, Uti dan Fifi yang terheran-heran menyaksikan sikap Cindy tadi. Tidak biasanya Cindy marah-marah seperti itu. Cindy dikenal memiliki sikap yang ceria dan senang membantu. Ada apa dengan Cindy? Husna, Uti dan Fifi bertanya-tanya.
Kemarahan kedua
[sunting]Tidak hanya di sekolah, Cindy pun ternyata juga marah-marah ketika dia sudah di rumah. Apalagi saat dia melihat buku-buku bacaan koleksinya berserakan di lantai. Padahal sebelum pergi sekolah, Cindy yakin buku-buku itu tersusun dengan baik.
“Ih, ini pasti ulah Arsya!” keluh Cindy. Dia segera mencari Arsya, adiknya, yang sedang makan di meja makan bersama Mama.
Mama melihat Cindy datang dan menyambut Cindy dengan senyuman.
“Cindy, kamu baru pulang sekolah?” tanya Mama Cindy dengan lembut. Tetapi Cindy tidak menghiraukan mamanya dan malah langsung menghampiri Arsya. Cindy kembali mengomel.
“Arsya, kamu ya tadi yang baca buku-buku Kakak?” tanya Cindy.
Arsya, yang duduk di kelas satu Sekolah Dasar, baru bisa membaca. Jadi dia sedang senang-senangnya membaca buku-buku yang ada, terutama buku Cindy. Arsya begitu bersemangat sehingga dia ingin membaca semua buku yang ada di rak buku Cindy.
“Iya Kak, tadi Arsya baca buku Kakak. Soalnya Arsya suka sama gambar yang ada di dalam buku Kakak,” jawab Arsya dengan polos dan senang. Tetapi Cindy justru sebaliknya. Cindy merasa marah mendengar jawaban Arsya.
“Setelah dibaca bukunya dirapikan lagi, dong! Kamar Kakak jadi berantakan kan?!” omel Cindy. Mendengar itu, Mama Cindy terkejut. Tidak pernah anak perempuanya itu marah-marah seperti itu, apalagi ke adiknya.
“Cindy, Arsya tadi memang baca buku-buku kamu. Tapi Arsya makan dulu, baru setelah itu Arsya baca buku lagi. Jadi Arsya belum selesai, makanya belum dibereskan,” ujar Mama Cindy menjelaskan. Tetapi entah kenapa, walaupun sudah diberi penjelasan, Cindy tetap merasa kesal. Rasanya dia ingin marah terus karena semua hal tidak berjalan dengan baik.
“Tapi Ma, kamar aku jadi berantakan!” kata Cindy lagi.
“Nanti setelah Arsya selesai, Mama yang bantu bereskan ya.” Mama Cindy mencoba membujuk Cindy.
“Ah, nggak tau deh! Aku sebel!”
Cindy pergi meninggalkan Mama dan Arsya menuju kamarnya. Cindy menutup pintu lalu menguncinya. Dan Cindy tidak keluar dari kamarnya hingga malam hari. Membuat Mama Cindy menjadi khawatir.
Mama Cindy bingung, ada apa dengan Cindy? Kenapa dia sangat terlihat marah dan tidak seperti biasanya? Belum lagi, Mama Cindy harus membicarakan soal pesta ulang tahun Cindy yang ke-12 di hari Minggu. Tetapi bagaimana cara membicarakannya kalau Cindy saja tidak mau keluar kamar?
Mama Cindy pun mencoba memanggil Cindy dari balik pintu kamar. “Cindy, kamu belum makan malam lho… Ayo keluar dan makan. Setelah itu kita bicarakan soal pesta ulang tahun kamu. Mau ya?” Mama Cindy mencoba membujuk. Namun, di dalam kamar Cindy tetap bersikeras untuk tidak keluar kamar. Walaupun Mama Cindy sudah membujuknya berkali-kali, Cindy tetap tidak mau dengar. Alhasil, malam itu Mama Cindy menyerah dan membiarkan Cindy sendiri terlebih dahulu.
Besoknya, Cindy bangun agak siang. Kebetulan hari itu hari Sabtu dan libur. Jadi Cindy bebas bangun siang. Namun, walaupun begitu, Mama Cindy tidak selalu mengizinkan Cindy bangun terlalu siang. Seringnya Mama Cindy mengajak Cindy untuk jogging pagi agar menjadi lebih sehat. Tapi karena hari itu Cindy masih ngambek, Mama Cindy tidak mengajak Cindy dan hanya pergi bersama Arsya. Melihat itu, Cindy justru kembali marah.
“Mama kok nggak ngajak Cindy sih?” omel Cindy saat mamanya baru pulang.
“Loh, Mama tadi kan udah ajak Cindy. Tapi katanya kamu nggak mau ikut.” Mama Cindy terlihat bingung.
Cindy memajukan bibirnya, tanda dia sedang ngambek. Melihat itu, Mama Cindy mendekati Cindy dan mengajak Cindy bicara.
“Cindy, kamu kenapa marah-marah terus belakangan ini?” tanya mamanya. Cindy hanya menggeleng. Dia pun sebenarnya tidak tahu kenapa dia terus marah. “Ya sudah kalau kamu belum mau bahas. Oh iya, besok kamu kan ulang tahun. Kamu sudah undang teman-teman kamu belum? Besok kita mau mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan buat kamu dan teman-teman kamu lho.”
Cindy lantas teringat tentang ulang tahunnya. Oh iya! Gara-gara terus marah, dia jadi lupa hari spesial itu. Itu membuatnya menjadi sedikit lebih bersemangat dan tidak kesal lagi. “Oh iya Ma, Cindy sampai lupa. Oke, nanti Cindy coba telpon Husna, Uti dan Fifi supaya datang.”
Mama Cindy tersenyum lembut. “Iya, jangan lupa undang teman-teman yang lain juga, ya.”
Cindy mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya. Cindy mengirimkan pesan berisikan undangan agar teman-temannya datang ke acara ulang tahunnya besok. Ia mengirimnya kepada Husna, Uti, dan Fifi. Juga beberapa temannya di kelas. Setelah mengirim pesan tersebut, Cindy mendadak merasa senang. Dia tidak sabar menunggu pesta ulang tahunnya besok.
Sebab dari kemarahan Cindy
[sunting]Hari ulang tahun Cindy pun datang. Mama, Papa, Cindy dan Arsya sudah bersiap-siap sedari pagi. Mama memasak makanan dibantu Arsya yang sibuk memberi hiasan di atas cupcake, Papa mendekorasi rumah, sementara Cindy sibuk menghubungi teman-temannya yang sudah lebih dari tiga puluh menit telat dari waktu yang ditentukan.
“Duhh, kemana sih Uti dan Fifi? Kenapa belum datang? Husna juga!” omel Cindy. Melihat Cindy yang kembali terlihat marah-marah, Mama Cindy menghampirinya.
“Kenapa teman-teman kamu belum datang, Cindy?” tanya Mama.
“Nggak tau Ma. Padahal aku udah telpon, tapi nggak ada yang angkat.”
“Ya sudah, kita tunggu sebentar lagi. Pasti teman-teman kamu datang.” Cindy mengangguk lesu.
Namun nyatanya sampai dua jam setelahnya pun, teman-teman Cindy masih belum menampakkan batang hidung. Hal tersebut membuat Cindy jadi sedih. Kenapa teman-temannya tidak datang? Cindy kembali mengirim pesan kepada Husna, Uti dan Fifi. Hingga kemudian, Uti membalas pesan Cindy.
“Ma, Uti balas pesanku!”
Mama Cindy terlihat penasaran. “Apa kata Uti?”
Cindy membaca pesan dari Uti. Ekspresi wajahnya yang awalnya tampak berseri-seri perlahan berubah menjadi sedih. Mama Cindy menjadi bingung melihat perubahan ekspresi wajah Cindy.
“Kenapa Cindy? Uti bilang apa?” tanya Mama Cindy.
“Uti dan yang lain nggak datang, Ma… Katanya mereka takut kalau aku marah-marah lagi…”
Mama Cindy terkejut mendengarnya. “Memangnya Cindy pernah marah ke teman-teman?” tanya mamanya heran.
Cindy langsung mengingat kejadian penghapus kemarin. Saat dia memarahi Husna serta Uti dan Fifi yang berisik. Sebenarnya Cindy tidak semarah itu, tetapi waktu dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya dan berakhir mengomel.
Cindy mengangguk sedih. Mama Cindy pun mulai memahami keadaan apa yang menimpa Cindy dan teman-temannya. Mama Cindy menghampiri Cindy kemudian memeluk Cindy. Mama mengelus-elus punggung Cindy dengan lembut.
“Cindy, sebenarnya kamu kenapa? Mama pun juga merasa akhir-akhir ini kamu sering marah.”
Cindy menggeleng lesu. “Aku juga nggak tau, Ma. Rasanya aku pengen marah aja. Suasana hati Cindy nggak enak terus, Ma.”
“Oh… Sekarang Mama paham.”
Cindy penasaran. “Aku kenapa, Ma?”
“Sepertinya itu karena kamu sudah memasuki usia pubertas, Cindy. Jadinya kamu mengalami beberapa perubahan. Pasti Bu Guru yang mengajarkan mata pelajaran IPA sudah pernah membahas ini, kan?”
Cindy kemudian teringat kepada pelajaran IPA minggu lalu. Bu Guru membahas mengenai pubertas, yaitu masa perubahan seseorang dari anak-anak menjadi remaja. Bu Guru juga membahas apa saja perubahan-perubahan yang mulai terjadi selama masa pubertas pada anak berumur 10 hingga 12 tahun. Perubahan itu antara lain perubahan pada fisik seseorang, seperti tumbuhnya rambut.
“Tapi dari yang Cindy dengar, katanya perubahan itu cuma terjadi di tubuh, Ma. Terus apa hubungannya sama aku yang suka marah-marah?”
“Benar, pubertas memang menyebabkan perubahan fisik yang terlihat pada tubuh. Tapi itu juga menyebabkan perubahan hormon dalam tubuh yang berhubungan dengan emosi. Akibatnya, kita jadi sering berganti suasana hati dan jadi mudah merasa emosional. Marah adalah salah satu dari enam emosi dasar yang dimiliki manusia. Jadi, bisa jadi Cindy marah-marah karena pengaruh dari pubertas tersebut.”
Cindy menampilkan ekspresi yang sedikit takut. Melihat itu, Mama Cindy langsung menenangkan Cindy.
“Nggak apa-apa Cindy. Itu hal yang wajar kok. Itu karena kamu belum bisa mengendalikannya saja.”
“Terus gimana cara mengendalikannya, Ma? Aku nggak mau marah-marah terus. Gimana kalau teman-temanku jadi nggak mau temenan sama aku lagi?” wajah Cindy tampak sangat sedih. Mama Cindy memegang tangan Cindy agar ia merasa lebih tenang.
“Jangan khawatir, Cindy. Kamu bisa mengelola rasa marah kamu kok. Kalau kamu merasa marah, kamu bisa latihan pernapasan yang bertujuan untuk menenangkan diri. Selain itu, kamu bisa menyalurkan emosi-emosi kamu dengan melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti melukis atau menulis. Kamu suka melukis dan menulis, kan?”
Cindy mengangguk. “Aku suka, Ma…”
“Nah, sekarang kamu sudah tau kan alasan kamu marah-marah? Setelah ini, kalau kamu merasa hendak marah, kamu bisa melakukan latihan pernapasan dulu dengan menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Kamu lakukan beberapa kali sampai rasa marah yang terasa berkurang. Kalau sudah begitu, biasanya rasa marah akan mereda.”
Cindy menyimak mamanya dengan fokus dan mengangguk paham.
“Selain itu, kamu juga bisa berbagi dan cerita ke Mama kalau ada masalah yang menganggu kamu. Jangan malu-malu untuk cerita, ya? Pubertas adalah hal yang wajar. Semua anak-anak seumuran kamu pasti merasakannya. Cindy nggak perlu merasa malu. Oke?”
“Iya Ma! Sekarang Cindy udah paham! Oiya… Maafin Cindy karena kemarin sempat marah ke Mama, ya…”
Mama Cindy tersenyum lega. “Mama maafkan Cindy kok.”
Kemudian Cindy jadi teringat Arsya yang juga dia marahi kemarin. “Ma, aku mau minta maaf ke Arsya dulu kalau begitu. Besok aku juga akan minta maaf ke Husna, Uti dan Fifi. Makasih ya Ma!”
Mama Cindy mengangguk. Ia merasa lega karena akhirnya Cindy menemukan penyebab dari permasalahannya akhir-akhir ini. Dan Cindy pun juga merasa lega kerena pelan-pelan mulai paham dengan keadaannya sendiri.
TAMAT