Lompat ke isi

Undur Rundung Melalui Stema Roots

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Hasil Liputan Pameran Sekolah Anti Perundungan oleh Annisa Ariyani

[sunting]

Jadilah “squisi” ketika ditekan tetap kembali normal. Sama halnya dengan manusia, ketika hidup penuh dengan tekanan, orang itu akan tenang karena memiliki resiliensi tinggi. Itulah salah satu ungkapan yang disampaikan Wancik Ridwan Barari dalam seminar dan pameran karya Roots Stema Senin (15/11/21) di aula SMKN 1 Singosari. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 ini dibuka dengan pameran karya  siswa yang disajikan di depan ballroom SMKN 1 Singosari, sehingga beberapa tamu undangan yang masuk dipersilahkan untuk melihat dan menikmati beberapa hasil karya siswa. Adapun beberapa karya siswa yang ditampilkan seperti video karya poster dan quotes, video role play dan mini game, kotak perubahan, dan tabel perilaku positif hasil dari aksi nyata siswa dalam mencegah perundungan di sekolah.

Kegiatan yang bertujuan untuk mensosialisasi dan mencegah perundungan di sekolah melalui stema roots ini juga dihadiri oleh Bapak Arif Khamzah  selaku kepala cabang dinas pendidikan wilayah kab. Malang. Dalam sambutannya beliau banyak memberi informasi, pesan, dan saran terkait dengan karakteristik dan peran generasi Z dalam menghadapi tantangan masa depan. Bapak Arif menjelaskan ada tiga tipe generasi Z. Pertama,tipe klasifikasi.  Ada 5 klasifikasi yang didapatkan oleh hasil survey dari generasi Z  yakni 80% menggunakan smartphone tiap hari, 73% memandang brand teknologi penting bagi mereka, 65% masih menonton televise tetapi 70% melihat konten youtube lebih dari 2 jam tiap harinya dan 70% menggemari facebook, dan media social lainnya (twitter, whatsapp, telegram, line dll).

Kedua, tipe penyuka dunia maya atau social media. Generasi Z tidak bisa hidup tanpa internet, ponsel, atau ipod sebab mereka termasuk resch-savvy (cerdas teknologi), selalu berkomunikasi dengan menggunakan berbagai media social, dan otak mereka dipengaruhi oleh internet. Ketiga, tipe FOMO (fear of missing out) rasa ingin tahu tinggi. Generasi Z juga lebih suka menemukan jawaban atas pertanyaan di google dan youtube, tetapi kurang terampil berpikir kritis dan mengevaluasi sumber, mereka menggunakan sms dengan ucapan popular, seperti mengganti kata aku dengan Q, tempat menjadi t4. Bapak Arif juga memberi saran kepada generasi Z untuk menjauhi tindak kekerasan fisik maupun non fisik. Selain itu, generasi Z untuk senantiasa memiliki sikap MAMPU (Mau, Antusias, Mandiri, Positif, dan Ulet.

Pematerian terkait dengan perundungan juga dikuatkan oleh pendapat Bapak Wancik selaku pemateri utamanya. Beliau menjelaskan jika perilaku perundungan kerap kali terjadi di dunia pendidikan khususnya di sekolah. Beliau menggarisbawahi bahwa perilaku dikatakan masuk dalam kategori perundungan  jika memiliki 3 ciri yakni tindakan agresif yang disengaja, dilakukan secara berulang-ulang, dan terdapat ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan. Bullying juga dianggap sebagai tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah, dilakukan secara sengaja dan bertujuan untuk melukai korbannya secara fisik maupun emosional. Para pelaku bully dibagi menjadi 5 yakni yang melakukan bully, penonton, yang dibully, penonton pasif, dan pembela.

Dua jam di akhir acara Bapak Wancik menyampaikan jika kegiatan perundungan di sekolah dapat dicegah dan berkurang sebanyak 30% melalui program stema roots.  Program ini merupakan program pecahan dari roots Indonesia yang berfokus dalam pencegahan perundungan. ‘Roots’ sendiri telah dikembangkan oleh UNISEF Indonesia sejak tahun 2017-2020 bersama pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktik pendidikan dan perundungan anak. Melalui program roots diharapkan mampu memberdayakan siswa untuk menjadi siswa yang adaptif dan memiliki resiliensi yang tinggi dengan memusatkan peran pelajar di sekolah menjadi agen perubahan untuk menyebarkan pesan dan perilaku baik di lingkungan sekolah, khususnya teman sebaya. Melalui pendekatan Trust and care yang memiliki empat komponen. Pertama, tahu, kenal, dan pahami perkembangannya. Kedua, memahami perilaku tidak tepat anak dari sudut pandang yag tepat. Ketiga, menerapkan konsekuensi logis yang berfokus pada solusi. Keempat, memberikan penguatan dan dorongan positif ke anak.

Selain itu, lelaki lulusan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta ini juga memberikan cara alur penanganan kasus perundungan di sekolah. Pertama, siswa yang menyaksikan atau mengalami aksi perundungan antar siswa melaporkan aksi peundungan ke guru atau tenaga kependidikan atau pemerintah pusat. Kedua,  pihak sekolah dan lembaga layanan memantau dan menerima tindak lanjut kasus. Ketiga, guru dan tenaga kependidikan yang menyaksikan atau menerima laporan tentang aksi perundungan melakukan penanganan langsung dan segera melaporkan kasus perundungan yang terjadi ke pihak sekolah. Keempat, pihak sekolah mencatat dan mendokumentasikan, mengintervensi dan merujuk  kasus pelaporan ke lembaga lainnya. Kegiatan yang berakhir pukul 12.00 ini ditutup dengan aksi pembacaan deklarasi anti perundungan oleh agen perubahan stema Roots.