Upacara Tumpe: Jejak Tradisi yang Terus Hidup di Era Digital
Tampilan

Upacara Tumpe merupakan ritual penyerahan telur Maleo pertama dari Luwuk ke Pulau Banggai. Tumpe sendiri mempunyai arti "pertama". Burung Mua' Mua (Maleo) merupakan burung endemik Sulawesi yang hidup di kawasan pantai. Di Banggai berada di Bangkiang Kecamatan Batui. Upacara tumpe dilaksanakan oleh masyarakat kecamatan Batui (Kabupaten Banggai) dan masyarakat kota Banggai (Kabupaten Banggai Laut). Upacara Tumpe ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan september saat musim pertama bertelurnya burung Mua' Mua (Maleo).[1]
Prosesi Pelaksanaan Upacara Tumpe
[sunting]Prosesi atau kegiatan upacara adat ini dilakukan di akhir tahun dan akan terus menerus dilakukan. Adapun prosesi upacara adat malabot tumbe adalah sebagai berikut:
- Pertama, proses pengumpulan telur maleo oleh ketua adat Batui. Proses pengumpulan telur Burung Maleo dimulai dari perangkat adat Batui, baik Bosanyo maupun Dakanyo mengorganisir masyarakat adat dalam mengumpulkan telur-telur Burung Maleo.Kemudian telur-telur dikumpulkan di rumah Dakanyo untuk didoakan dan dilanjutkan prosesi penghantaran ke rumah Bosanyo. Doa yang diucapkan oleh pemimpin adat pada saat mengumpulkan telur Burung Maleo menggunakan Bahasa Saluan.
- Kedua, proses pengasapan dan penggantungan telur burung maleo. Telur yang telah dikumpulkan kemudian dibungkus dengan daun Lontar.
- Ketiga, mengantar telur ke pantai. Telur Burung Maleo yang telah dibungkus rapih tersebut, kemudian diantarkan dari rumah Bosanyo ke pantai menuju kapal untuk perjalanan ke Banggai.Awak kapal berjumlah tujuh orang sebagai pengantar, terdiri dari tiga orang perangkat adat dan empat orang pendayung dan jurumudi.Rombongan penghantar siap dilepas menuju Banggai pada pagihari.
- Keempat, proses penggantian pembungkus telur burung maleo. Rombongan melanjutkan perjalanan ke Tanjung Merah di pulau Labobo, Desa Mansal ean Kabupaten Banggai Laut.Di desa Mansalean, rombongan bermalam selama satu malam dan mengganti pembungkus telur Burung Maleo dengan daun Kombuno yang baru di rumah adat KusaliTolo. Daun pembungkus yang lama dihanyutkan sebagai ke laut sebagai petanda bahwa rombongan dari Batui dalam perjalanan menuju karaton Banggai.
- Kelima, proses Menghantarkan Telur Burung Maleo ke Banggai Lalongo. Dari Pulau Labobo,rombongan pengantar telur Burung Maleo memasuki Banggai Lalongo. Sesampainya di depan Banggai Lalongo, perahu diarahkan kembali ke Kota Tua/Kampung Jin di depan desa Tinakin, dan berputar sebanyak tiga kali. Setelah itu, barulah perahu diarahkan ke pelabuhan Banggai yang berhadapan dengan Keraton Batomundoan Banggai.
- Keenam, proses penjemputan telur Burung Maleo. Perangkat adat Banggai, telah menanti kedatangan rombongan penghantar telur Burung Maleo di Pelabuhan Banggai. Dalam prosesi Upacara Molabot Tumbe, Tomundu (Raja/Pemangku Adat Banggai) ,memberikan mandat kepada Jogugu, untuk memimpin penjemputan dan sekaligus menerima hantaran telur Burung Maleo dari Batui.
- Ketujuh, proses serah-terima telur pertama Burung Maleo. Rombongan yang telah diterima di pelabuhan Banggai oleh Jogugu, dikawal oleh pasukan Merah Putih yang diutus dari Keraton Banggai, bersama rombongan dari Batui, berjalan kaki menuju Keraton. Sepanjang perjalanan, pasukan Merah Putih sebagai pengiring Telur Burung Maleo, tidak boleh berbicara sampai telur sampai di Keraton Banggai. sesampainya di karaton banggai telur diserahkan kepada Tomundu. [2]
Nilai Karakter yang Terkandung dalam Upacara Tumpe
[sunting]- Religius. Dalam pelaksanaan mombowa tumpe, nilai religius terlihat dari prosesi yang dilakukan selalu diawali dengan kalimat istighfar, basmallah, dan juga hamdallah serta kalimat-kalimat tauhid yang lain.
- Kepatuhan. Dalam konteks ritual ini ada nilai kepatuhan yang dapat dilihat dari patuhnya para dakanyo dan ombuwa. Pada prosesi pengantaran telur dari rumah dakanyo setiap dakanyo harus patuh terhadap waktu turunya dari rumah.
- Rasa cinta dan kasih sayang. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana upaya para pemangku adat dalam melestarikan lingkungan agar burung maleo ini tidak punah.
- Tanggung jawab. Tercermin dari tanggungjawab yang dimiliki oleh setiap ombuwa untuk memastikan bahwa telur yang dikirim oleh dakanyo kepada raja banggai sampai dengan selamat.
- Kerjasama. Dapat dilihat pada bahu membahu antara tokoh adat dan masyarakat dalam melestarikan ritual mombowa tumpe.[3]
Referensi
[sunting]- ↑ Saadjad, F. 2018. Upacara Tumpe. Diakses pada 11 Februari 2025 dari https://budaya-indonesia.org/Upacara-Tumpe
- ↑ Karim, F. A., J, Marfuah, dan Asrianti. 2022. The Local Wisdom of ‘Malabot Tumbe’: A Community Ritual in Banggai District. Jurnal Kewarganegaran 6 (2): 5140-5145.
- ↑ Lamadang, K. P., M, Supriatna, Sapriyana, dan N, Supriatna. 2022. Nilai Karakter dalam Ritual Mombowa Tumpe pada Masyarakat Adat Batui Kabupaten Banggai. Seminar Nasional, Pascasarjana S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Jakarta.