Lompat ke isi

Walimah merah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Hari ini, hari paling bahagia bagi Arum. Bagaimana tidak, gadis cantik ini telah dinikahi oleh Tera, lelaki idaman baginya. Wajar, Tera menjadi banyak incaran banyak wanita di kalangannya. Namun, Tera memilih Arum sebagai tambatan hatinya.

Acara hari ini merupakan permintaan Arum. Tidak mau mewah-mewah dan terlihat simpel. Para tamu yang hadir mayoritas kenalan dari pihak wanita. Ada yang dari rekan kerja maupun saudara dekat dan jauh. Meski begitu, Arum merasa tidak enak karena tidak ada satu pun teman suaminya yang datang, begitu juga dengan orang tuanya. Ia percaya bahwa Tera sudah mengundangnya. Arum mencoba berpikir positif. Mungkin saja, banyak kesibukan di antara mereka.

Di malam hari, sebelum keduanya tidur, Arum memberanikan bertanya. Tera hanya menjawab, “Banyak dari mereka yang sibuk. Aku tidak apa-apa kok, Rum”. Arum merasa tidak enak saja kalau hanya dia yang bahagia. Entah sebuah spontanitas, Arum menanyakan “Kira-kira kapan akan diacarakan di tempatmu, Yang?”. Tera hanya menghela napas, sebelum ia terlelap tidur.

Tera juga menyadari hal itu. Ia melihat istrinya seperti ada yang kurang ketika dirinya belum bahagia. Dua hari setelah acara pernikahan, ia diam-diam menghubungi pihak keluarganya. Di malam harinya, sesaat sebelum tidur juga, pasutri baru ini berbincang-bincang sebentar. “Rum, besok siang, kita pulang ke tempatku, ya”

Arum kaget tak menyangka, “Kau yakin?”

“Aku sudah memberitahu mereka. Sepertinya, di sana sedang menyiapkan sesuatu pada saat pernikahan kita tempo hari” jelas Tera. Arum sangat senang. Ia hanya memeluk erat suaminya.

Esok paginya, Tera menyiapkan perlengkapan ‘mudik’nya. Begitu pula dengan Arum yang dibantu oleh Pak Jalu, asisten mendiang ayahnya. “Semua barangnya sudah ada di belakang, Non”

“Terima kasih, Pak” ia menyalami beliau, bersamaan dengan Tera yang mengeluarkan barang-barangnya.

Agak terik memang saat berangkat di siang hari. Tera tidak buru-buru mengendarai mobilnya. Bagi Arum, hal itu juga tidak apa-apa. Toh, menurutnya, yang penting selamat sampai tujuan.

Sepanjang perjalanan yang ditemani gedung-gedung besar, pohon-pohon rimbun dan lalu lalang kendaraan kecil, mereka berdua belum sampai. Baru ketika pemandangan sekitar menyerupai hutan dan pedalaman yang sangat pelosok, Tera membangunkan istrinya untuk siap-siap. “Kita sudah sampai”

Dari setangkap mata Arum, desa ini begitu kecil dari luar, namun sangat besar ketika memasukinya. Tidak ada mobil di sekitar rumah warganya. Hanya sepeda unta dan/atau satu-dua gerobak yang biasa ditarik sapi, terlihat di depan rumah. Arum terlihat bahagia karena pemandangan di sini terkesan asri dan masih bersih.

Semakin lama, mobil ini seperti mengarah ke pusat desa. Dan benar saja, Tera menghentikannya di salah satu rumah megah yang berada di tengah. Seseorang keluar menyambut keduanya.

“Ah, lihat siapa yang datang”. Kesan awal Arum melihat wanita ini adalah terpukau. Sangat cantik, putih mulus dan hanya terpaut satu-dua tahun lebih tua dari suaminya.

“Halo, Bu” Tera memilih memeluk ibunya sebelum menurunkan barang-barang dari mobil. Arum menyadari sesuatu.

“Akhirnya, menantu ibu datang juga” wanita ini mengisyaratkan Arum untuk mendekat “Maaf, ya. Kami tak bisa datang ke pernikahan kalian”

“Oh, iya, tidak apa-apa, Bu” jawab Arum dengan sopan sambil salim.

“Ayah di mana?” kata Tera dengan barang-barang bawaan di tangannya.

“Dia... belum datang. Kau harusnya tahu, kan?” balasnya ibunya “Biar si Mamang saja yang membawakan”. Tera hanya menggelengkan kepala.

Sang ibu melihat Arum yang juga mengeluarkan barangnya. “Biar saja, Nak”

“Tidak apa-apa, Bu. Hanya sedikit, kok” balas Arum. Ada tatapan bingung dari Tera. Ibunya tahu hal itu. “Kau butuh istirahat. Kamarmu masih sama seperti dulu”

“Ayo masuk. Tak enak jika kalian masih berada di sini. Nanti malam, kita makan bersama, ya” ujar si ibu. Keduanya hanya mengangguk tersenyum.

Malam hari, si Ibu masih menyiapkan masakan. Arum menyempatkan menawarkan bantuan sebelum mandi, namun si ibu hanya membalas, “Tidak, kau itu tamu, Nak. Biarkan saja ibu yang menyiapkan”

Tepat saat keduanya turun dan si Ibu meletakkan masakan terakhir, sang Ayah baru saja datang. Untuk yang ini, Arum tak perlu menebak kembali seperti di awal. Wajah sang Ayah terlihat banyak kerutan. Keringat derasnya sudah tak bisa ia sembunyikan di wajahnya.

“Ah, anggota baru, ya” senyum sang Ayah ramah. Tera tahu, ia tak mau terlihat capek. Arum hanya membungkuk sopan.

“Kau mau mandi dulu?” tanya si Ibu.

“Aku akan telat bergabung. Kalian bisa duluan” tak lupa, ia memberi kecupan manis ke Ibu sebelum masuk ke kamar.

Ada obrolan ringan antara Arum dengan si Ibu. Hanya sekadar pekerjaan, rumah dan perawatan diri. Saat mereka bertiga sudah menghabiskan setengah yang ada di piring masing-masing, sang Ayah ikut bergabung di meja makan. Oh, cepat, ya. Arum tidak mengira akan secepat itu.

“Jadi, ada cerita apa saja anak gadis Ayah ini?” sang Ayah memulai “Maaf, ya, saat itu kami tak bisa datang” nada bicaranya benar-benar lembut untuk seorang bapak-bapak. Pembicaraan berlanjut. Kembali dengan tema pekerjaan, keseharian keluarga Tera dan desa. Baik Tera maupun Arum tidak mau langsung membahas tentang acara syukuran pernikahan.

Namun, entah bagaimana sang Ayah tahu dari gelagat keduanya.

“Hmm..., ah, tentang acaranya...” dia tahu “Tidak dalam waktu dekat, sih. Paling lambat...” sambil melihat kalender di sisi kanan meja makan “...minggu depan. Bagaimana?” tawar sang Ayah.

Arum dan Tera saling lihat. Tera memberi kode menyerahkan keputusan kepada istrinya. Ia tak mungkin menyiapkan dalam waktu semalam-dua malam, apalagi untuk acara seperti ini. Arum membalas dengan anggukan, tanda setuju dengan sang Ayah.

“Baiklah. Seminggu dari sekarang, ya” dia terlihat sangat riang.

Besok paginya, sang Ayah sudah kembali bekerja. Si Ibu tetap di rumah dengan agenda tambahan, yaitu membantu persiapan acara. Sementara kedua pasangan baru ini ingin persiapan keliling. Keinginan istrinya.

Salah satu tujuan dari Arum adalah sebuah danau besar di sebelah timur desa. Cukup besar, terlebih lagi jika berjalan di sisi danau, akan sampai ke desa seberang. Waktu spesial yang sebenarnya tepat adalah saat mendekati matahari terbit. Pemandangan indah dari cahaya mentari dan kabut pagi membuat tempat ini cocok menjadi salah satu tempat foto terbaik.

Ada sekitar satu jam Arum dan Tera menghabiskan waktu berdua di sisi danau. Mereka benar-benar menikmati waktu tanpa ada gangguan.

Hanya saja, yang mereka belum tahu, di desa sedang terjadi keributan. Salah satu rumah di desa, tepatnya di dekat pintu masuk, terjadi pembunuhan mengenaskan. Satu keluarga digorok tepat di leher hingga kehabisan darah. Lebih sadisnya lagi, mereka diikat di kursi lalu dikumpulkan jadi satu di ruang keluarga. Beruntung, tidak ada anak kecil. Hanya saja, ini tetap hal yang tidak bisa dimaafkan.

“Kuburkan mereka dengan layak. Kita harus memantaskan kepergian mereka dengan baik” respons sang Ayah sebagai kepala desa. Ia membagi tugas kepala keluarga dan para pemuda desa untuk mempercepat prosesnya.

Begitu berita ini sampai ke Arum dan Tera, hanya Arum yang menunjukkan simpati. Dengan inisiatif, Tera mengajukan bantuan. Pembawa pesan juga menyampaikan kalau ia cukup saja menjaga istrinya. Kepala desa berkata bahwa Tera dan istri adalah tamu di sini. Ia tak mau merepotkan. Awalnya, Tera menerima saja usulan ini.

Namun, keadaan tidak berubah. Dua hari berikutnya, kejadian yang sama kembali terulang. Lebih parahnya lagi, jumlahnya bertambah dua kali lipat. Para warga mulai murka. Kepala desa tetap tenang, walau hatinya tidak. Instruksinya ditambah, meningkatkan keamanan desa, terutama di bagian sisi desa.

Ada juga warga yang berspekulasi kalau tamu dari Kepala desa yang membawa kesialan. Beliau hanya menepis, “Kalau kalian punya bukti, tunjukkan! Aku akan mengusir bagi yang mengumbar info yang salah!”. Kejadian ini tak mengundurkan semangat Kepala desa dan keluarga untuk mengadakan acara. Meski begitu, ada beberapa warga yang mengusulkan sampai kondisi menjadi tenteram.

Malam ke empat Arum dan Tera berada di sini. Semuanya sudah tertidur. Para warga yang meronda malam ini mulai lebih waspada. Banyak yang rela untuk begadang hingga fajar datang. Namun, sepertinya tetap percuma.

Pagi harinya, korban tetap berjatuhan. Bedanya, karena kebanyakan kepala keluarga berjaga, mayoritas korban adalah wanita dan pemuda yang tinggal. Murka para warga makin menjadi. Tak tahan dengan keadaan ini, mereka datang protes ke rumah Kepala desa.

Jawaban beliau tetap sama, kurang lebih. Daripada menjadi korban, mayoritas di antaranya memilih keluar sore ini. Baik Tera dan Arum yang sejak tadi membantu di dalam, menyempatkan melihat apa yang terjadi di depan rumah.

Di sela-sela istirahat, Arum memberanikan diri bertanya ke Tera. “Apa perlu... kita lanjutkan?”

“Aku tahu kau takut.... Tenang, ada aku di sini” Tera tahu, istrinya juga mendengar desas-desus buruk sejak mereka datang. Ia tak banyak membantu selain menenangkan Arum. Dua hari lagi, acara besar akan dimulai. Bukan deg-degan senang, tetapi risau yang datang.

Dari laporan yang ada, malam itu tidak terjadi apa-apa, menurut yang meronda. Yang tidak mereka tahu, korban tetap ada yang muncul. Si Mamang ditemukan tewas di gudang stok desa. Bedanya adalah luka yang diterimanya seperti luka perlawanan. Banyak luka kecil tersebar sebelum akhirnya tergantung terbalik di tengah gudang.

Kepala desa memberi instruksi baru, mengumpulkan semua orang di lapangan. Bukan tanpa maksud, ia percaya bahwa pelakunya masih ada di sini dan tidak berani melakukannya di saat ramai. Para warga membalas dengan “Bakar dia!”

Malam harinya, semua sedang berkumpul. Para pemuda terlihat bersemangat untuk menangkapnya. Ada yang was-was sekaligus khawatir bercampur takut.

Dari yang ada di lapangan, hanya Arum yang tak ikut. Sejak pagi, badannya merasa tak enak. Ketika Tera menawarkan untuk menemani, ia menolaknya. Arum membujuk Tera agar tetap mengikuti ayahnya. Ada perasaan aneh ketika Arum menolak untuk dipegang tangan kanannya. Suaminya tidak protes atau marah. Kekhawatirannya menggunung. Meski begitu, Tera tetap memilih berangkat.

Begitu sampai di lapangan, ia langsung terlihat oleh Kepala desa. Dengan cepat, ia langsung menghampiri anaknya. “Kenapa kau kemari?”

“Ini belum mulai, Yah?” Tera melihat-lihat yang berkumpul di lapangan.

“KENAPA KAU KEMARI?!” teriakkannya membuat semua warga menghentikan aktivitas.

“Ayah, kenapa—”

“Jika kau di sini, istrimu dalam bahaya” terangnya.

“Ia bilang tak apa. Aku hanya—”

“Justru itu. Aku punya firasat buruk” kata-kata ayahnya sangat lugas. Tera melihat ibunya sekilas yang juga berada di panggung. Isyarat wajahnya juga khawatir saat Tera tidak membawa istrinya.

Seketika, Tera berlari kembali. Jantungnya berdegup kencang. Sesampainya di rumah, ia langsung ke kamar. Betapa kagetnya saat ia tak menemukan Arum. Resah. Ia menyusuri semua ruang yang ada di rumah.

Di lapangan, Kepala desa memulai dengan pidato awal. Setelah itu, ia melanjutkan, “Malam ini, akan kita akhiri. Kita tidak salah! Kita berhak” tepat saat ini, semua api penerangan mati. Lima detik kemudian, hanya ada teriakan bergilir dari para warga. Tak ada yang tahu kenapa. Cahaya malam tidak membantu.

Satu per satu, api menyala kembali. Hanya Kepala desa dan istrinya yang masih berdiri. Sisanya? Tergeletak mengenaskan dengan kepala terpenggal. Pemandangan yang tak mudah langsung diterima.

Lima detik berikutnya, si Ibu terjatuh pingsan. Ada jarum kecil tertancap di leher belakangnya. Kepala desa memeriksa nadinya. Masih ada namun pelan. Ia meletakkan istrinya perlahan sebelum menyadari ada yang mengawasinya sejak tadi.

Ada seseorang, berdiri dengan tegap dan mulai berjalan perlahan menuju Kepala desa.

“Kau....” sang Ayah tidak jadi marah besar karena melihat siluet yang menghampirinya “...tak ku sangka, ya”

“Apa Anda sudah menyadari sejak awal?” Arum mengibaskan pisau yang penuh darah.

Tatapannya langsung mengarah ke pisau yang dipegang Arum. “Oh, begitu ya.... Pantas saja, aku seperti mengenalmu”

“Aku tak yakin... dengan para korbanmu sebelumnya” Arum telah bersiap.

“Aku sudah bertobat” sang Ayah hanya membuka tangan “Kuharap” ia tak sempat menghindari tebasannya.

“Katakan itu pada ayahku... yang kau bunuh” kata Arum dingin. Bekas lukanya tidak dalam, hanya menggores sepertiga dari lehernya. Sang Ayah hanya terduduk. “Mengapa kau tak melawan?!”

“Untuk apa?” ia berusaha menutup luka “Aku tidak dendam padamu”

Arum menghampirinya. “Kalau begitu, titip salam pada ayahku” wanita ini tanpa ampun menusuk jantungnya. Tak ada ekspresi pada raut wajah Arum. Tidak terlihat ia menyesal. Ia hanya menunggu diam.

Tidak terasa, hari akan menjelang fajar. Arum, dengan refleks, berlari ke dekat danau. Di sisi lain, Tera baru terbangun dan tanpa pikir panjang ia berlari menuju lapangan. Ia tak tahu kalau ada aroma bius, yang berada di kamar mereka, yang sudah dirancang Arum agar ia tak melihat aksi istrinya.

Begitu sampai di lapangan, Tera tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kedua orang tuanya ada di panggung, dengan keadaan yang berbeda. Ia masih tetap mencari Arum. Tidak ada di tumpukan mayat ini. Sebuah ide acak menggerakkan Tera menuju ke danau.

Saat sampai, sudah ada Arum yang berdiri di sana. Sejak tadi, ia masih menatap danau. Seperti sudah tahu, Arum menoleh ke belakang. Ada perasaan haru bercampur aduk. Mata Arum seperti berkaca-kaca.

Satu ide Tera yang terpikirkan. Ia langsung berlari dan memeluk istrinya. Tera tak berkata apa-apa. Begitu juga dengan Arum.

“Tenang, sudah selesai” ia berusaha menghibur Arum. Tak lupa, Tera mencium kening dan kepala istrinya.

Masih hanya suara angin dan beberapa burung yang lewat. “Belum” geleng Arum.

Kaki Tera terasa lemas. “Rum? Kau...” tak ada tenaga di diri Tera.

“Maaf” sebelum pingsan, ia menitipkan kecupan selamat tinggal di bibir suaminya. Tak seperti si Ibu, Arum mendudukkan suaminya menghadap ke danau. Tanpa ada kata-kata lagi, ia melangkah meninggalkan suaminya.

Terlihat ada asap besar. Seperti berasal dari arah lapangan. Dua detik setelahnya, sebuah mobil hitam menghampiri Arum. Begitu berhenti, ia langsung naik tanpa pikir lagi.

Begitu sudah melaju, Arum meletakkan pisau di dashboard mobil. Ia tak melihat ke arah desa itu lagi. Mobil ini sudah meninggalkan desa.

“Anda sudah berhasil, Non” kata Pak Jalu. Arum hanya mengangguk. “Saya yakin, Tuan pasti akan tenang di sana”

Jawaban Pak Jalu tak menenangkan hati Arum. Masih ada rasa gusar di hatinya. Ada perasaan salah dari misi yang ia emban ini. Namun, ia sudah berjanji sejak lama. Strategi yang sudah disusun secara matang dengan membuang semua logika demi misi ini.

Semua pertanyaan di kepalanya hanya bisa keluar satu jawaban. Tanpa sadar, Arum menangis. Seperti yang sudah lama tidak menangis. Arum menangis sekeras-kerasnya. Pak Jalu hanya mengeraskan musik agar tak ada yang mendengar.