Lompat ke isi

Warnasari/Cerita kedua

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Dewa Reksa

Di sebuah hutan, hiduplah seorang tukang pencari kayu bersama istri dan anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Hidup mereka sangat miskin hingga sering kali mereka tidak memiliki makanan untuk dimakan, bahkan untuk anak mereka sendiri pun tidak ada.

Suatu hari, ketika si tukang kayu sedang bekerja di hutan, si tukang kayu sedang bekerja, melepas semua pakaiannya yang kotor karena keringat, tiba-tiba muncul sosok bercahaya. Seorang Déwa Reksa yang mengenakan mahkota emas bertabur permata yang berkilauan. Dengan suara yang berwibawa, Déwa Reksa pun berkata:

"Aku adalah Déwa Reksa, pelindung para pemuda dan orang yang membutuhkan. Aku tahu bahwa hidupmu sangat miskin dan penuh penderitaan. Karena itu, sekarang anakmu akan kubawa ke tempatku dan akan kupelihara di sana."

Mendengar kata-kata itu, si tukang kayu sangat gembira. Anaknya pun segera dibawa oleh Déwa Reksa ke Sawarga Loka. Di sana, anak perempuan itu hidup bahagia, menikmati segala kemewahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia diberi berbagai buah-buahan yang harum dan lezat, semua hasil alam surga. Pakaiannya pun sangat indah, berhiaskan emas dan permata.

Ia juga bermain dengan anak-anak para dewa, merasakan kegembiraan tanpa batas di tempat yang penuh kebahagiaan. Setelah berusia empat belas tahun, Déwa Reksa kembali menemui gadis itu dan berkata:

"Nyai, aku akan pergi jauh. Sekarang, ini aku serahkan kepadamu gedung bertingkat tiga belas yang penuh dengan segala keindahan di Sawarga Loka ini. Kamu bebas menjelajahi semua ruang yang ada di dalamnya. Bukalah dua belas pintu pertama dengan hati-hati, karena di sana terdapat barang-barang indah yang mungkin ingin kamu lihat. Tapi ingat, pintu yang ketiga belas itu sangat berbahaya. Jangan sekali-kali membukanya, atau kamu akan celaka."

Gadis itu berjanji akan mengikuti semua perintah Déwa Reksa. Setelah itu, sang Déwa pergi. Setiap hari, gadis itu menghabiskan waktunya dengan membuka satu per satu gedung dan melihat barang-barang yang sangat indah.

Namun, rasa penasaran mulai tumbuh dalam dirinya hingga setelah dua belas pintu sudah dibuka dan dilihat semuanya, gadis itu terpesona oleh keindahan yang tak terbayangkan. Di dalam setiap gedung, semua barang bersinar, berkilauan, dan mewah, seakan seluruh keajaiban dunia terkumpul di sana.

Cahaya dari benda-benda itu berkilau begitu indah hingga membuat siapa pun yang melihatnya terpana. Anak-anak dewa ikut bergembira bersama gadis itu, tetapi di dalam hati gadis tersebut mulai tumbuh rasa penasaran yang semakin kuat.

Ia ingin tahu, apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pintu ketiga belas. Gadis itu akhirnya berkata kepada anak-anak dewa, “Dengarkan aku. Aku tidak akan masuk apalagi membuka pintu gedung itu. Aku hanya ingin melangkah di dekatnya dan melihat dari luar perlahan-lahan, tanpa ada yang tahu.”

Anak-anak dewa menjawab dengan cemas, “Jangan! Kalau kamu mendekat, kita semua bisa celaka. Lagi pula, siapa yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi?” Setelah mendengar peringatan dari anak-anak dewa, gadis itu hanya diam dan tidak bisa menjawab. Namun, rasa penasaran dalam dirinya semakin membara, tidak bisa ia kendalikan.

Ketika anak-anak dewa sudah pergi dan suasana menjadi sepi, gadis itu berpikir, "Ah, sekarang aku sendirian. Tidak ada yang melihatku. Ini adalah saat yang tepat untuk melihat apa yang ada di balik pintu ketiga belas." Dengan penuh semangat, ia mulai mencari kunci pintu itu.

Setelah menemukan kuncinya, gadis itu perlahan memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dan memutarnya dengan hati-hati. Namun, begitu kunci diputar, pintu itu terbuka sendiri dengan suara keras. Di balik pintu itu, ia melihat berbagai barang berkilauan dan mulia, seolah-olah lebih terang dari cahaya matahari yang sedang bersinar cerah.

Gadis itu tertegun, matanya membelalak takjub melihat keindahan yang luar biasa. Segala sesuatu di dalam sana berkilauan seperti permata, membuatnya bingung dan terpesona hingga ia tidak mampu bergerak atau berpaling dari pemandangan itu.

Mendengar suara tegas Déwa Reksa yang bertanya ulang, gadis itu semakin gemetar. Ia merasakan detak jantungnya semakin kencang karena rasa takut. Déwa Reksa, yang sudah curiga dari awal, kembali bertanya, “Apakah kamu benar-benar tidak membuka pintu itu?”

Untuk kedua kalinya, gadis itu menjawab, “Tidak!” Namun, Déwa Reksa tidak mudah percaya. Ia menatap tangan gadis itu yang sudah berubah menjadi emas, bukti bahwa ia telah menyentuh sesuatu di dalam ruangan terlarang. Déwa Reksa lalu bertanya untuk ketiga kalinya, “Apakah kamu berani bersumpah bahwa kamu tidak membukanya?” Gadis itu tetap bersikeras menjawab, “Tidak.”

Namun, Déwa Reksa kemudian menatap tangannya dan berkata, “Lihatlah, tanganmu sendiri sudah mengkhianatimu. Kamu telah menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak kamu sentuh. Bukankah sebelumnya kamu sudah berjanji akan mengikuti semua perintahku? Tapi sekarang, kamu malah berbohong dan melanggar janji itu.”

Dengan suara tegas dan penuh kekecewaan, Déwa Reksa melanjutkan, “Sekarang, kamu tidak bisa lagi tinggal di Sawarga Loka ini. Aku tidak akan membiarkanmu di sini lebih lama.” Mendengar kata-kata itu, gadis itu terdiam, tubuhnya semakin gemetar, dan air matanya mulai mengalir. Ia tahu bahwa tidak ada jalan kembali. Keputusan Déwa Reksa sudah final, ia harus meninggalkan surga yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.

Setelah dikeluarkan dari Sawarga Loka, gadis itu pingsan dan tidak sadarkan diri. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di tengah hutan yang lebat, penuh dengan suara binatang buas. Ia kaget dan berusaha meminta pertolongan, tetapi anehnya, ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun—mulutnya bisu.

Ia mencoba lari, tetapi kakinya tersandung tunggul-tunggul pohon yang menjulur ke mana-mana, membuatnya terjatuh berulang kali. Tidak ada tempat untuk berlindung, hanya ada sebuah tunggul pohon besar di dekatnya.

Saat malam tiba, dengan tubuh yang lelah dan putus asa, gadis itu merayap mendekati tunggul pohon tersebut dan beristirahat di sana. Tidak ada yang menemaninya, hanya dirinya sendiri yang berjuang melawan dinginnya malam. Ia membuat tempat tidur seadanya di bawah pohon besar itu, tanpa ada pelindung dari angin atau hujan kecuali batang pohon tersebut.

Dalam kesendiriannya, ia merasakan penderitaan yang amat besar. Ia teringat akan kehidupannya di Sawarga Loka, di mana segalanya serba cukup, tidak pernah kelaparan, dan ia bermain dengan anak-anak dewa dalam kebahagiaan. Sekarang, semua itu hanya menjadi kenangan pahit yang menyiksa hatinya.

Gadis itu merasa sangat lapar, tetapi di tengah hutan tidak ada makanan lain selain dedaunan dan pucuk-pucuk tanaman yang bisa ia temukan. Ia pun harus berkeliling mencari sisa-sisa dedaunan yang jatuh atau bisa dimakan. Setiap hari, makanannya hanyalah daun-daunan kering dan ranting yang berjatuhan.

Dalam penderitaannya, datanglah hujan angin yang lebat. Ia tidak memiliki tempat berteduh kecuali tumpukan dedaunan yang ia kumpulkan sebelumnya. Dengan tubuh yang gemetar kedinginan, ia merayap masuk ke dalam tumpukan dedaunan itu, tetapi pakaiannya sudah sobek-sobek, hampir tidak menutupi tubuhnya lagi.

Sisa-sisa kain yang ia kenakan mulai jatuh dari tubuhnya karena sudah terlalu rapuh. Ketika hujan reda dan matahari mulai terik, panasnya terasa membakar kulitnya yang tidak terlindungi. Ia pindah ke bawah pohon besar untuk berlindung dari sengatan matahari.

Tubuhnya telanjang, tidak ada lagi pakaian yang bisa melindunginya dari cuaca ekstrem. Rambutnya yang semakin panjang menjadi satu-satunya penutup tubuhnya, hingga bisa digunakan untuk menutupi sebagian dirinya. Namun, dalam keadaan seperti itu, ia hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa kekuatan dan kenangan indah yang dulu ia miliki di Sawarga Loka.

Hidup gadis itu terus dalam penderitaan sepanjang waktu, seolah-olah nasib malang tidak pernah mau meninggalkannya. Pada suatu hari, ketika hutan sedang hijau segar dengan dedaunan yang tumbuh subur, seorang raja datang ke hutan itu untuk berburu bersama para pengawalnya. Salah satu pengawal memberi tahu sang raja bahwa ada seekor rusa di dalam hutan tersebut.

Mendengar itu, raja turun dari kudanya sambil menghunus pedangnya dan berjalan masuk semakin dalam ke hutan. Saat semakin jauh, raja tiba-tiba melihat sosok gadis itu duduk di atas pohon buni, tubuhnya tersembunyi oleh rambut panjang yang sudah menutupi hampir seluruh badannya serta daun-daunan yang menempel. Raja terkejut dan berdiri terpaku sejenak. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk mendekati gadis itu.

Dengan hati-hati, ia bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu duduk sendirian di tengah hutan seperti ini?" Namun, gadis itu tetap diam dan tidak menjawab karena ia sudah menjadi bisu dan tidak mampu berbicara. Raja pun semakin penasaran dan mencoba bertanya lagi “Apakah kamu mau ikut ke negeriku?” Gadis itu hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.

Melihat hal itu, raja langsung menggendongnya dan membawa gadis itu naik ke kudanya, lalu membawanya pulang ke istana. Sesampainya di istana, gadis itu segera dipakaikan pakaian kerajaan yang indah dan bersih. Meskipun gadis itu tidak bisa berbicara, raja tetap menyayangi dan mencintainya karena kecantikan serta kelembutannya.

Setelah beberapa waktu, raja menikahi gadis tersebut dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Setahun setelah pernikahan mereka, gadis itu melahirkan seorang putra tampan yang menjadi kebanggaan kerajaan.

Namun, pada suatu malam, ketika raja sedang pergi keluar negeri, Déwa Reksa muncul di kamar tidurnya saat tengah malam. Ia berdiri di dekat tempat tidur gadis itu dan berbicara dengan suara yang tegas, “Jika sekarang kamu mau mengaku bahwa kamu telah membuka pintu ketiga belas di sawargaloka, aku akan mengampunimu.”

Déwa Reksa melanjutkan ucapannya, “Jika kamu mengaku telah membuka pintu ketiga belas di sawargaloka, aku akan mengembalikan kemampuanmu untuk berbicara. Tetapi jika kamu tetap tidak mau mengaku, aku akan membiarkanmu seperti ini dan membawa anakmu pergi bersamaku.”

Meskipun kata-kata Déwa Reksa begitu lembut dan menggoda, istri raja hanya duduk diam, tidak mampu menjawab. Dalam hatinya, ia tetap gigih meyakinkan dirinya bahwa ia tidak bersalah dan tidak pernah membuka pintu ketiga belas. Karena gadis itu tetap tidak mengaku, Déwa Reksa akhirnya mengambil anaknya dan membawanya pergi.

Keesokan paginya, istana gempar ketika mereka menyadari bahwa bayi tersebut hilang. Para pengawal, pelayan, dan semua penghuni istana mencari bayi itu, tetapi tidak ada yang berhasil menemukannya. Hal ini memicu gosip di antara para pelayan dan pengawal istana, mereka mulai bergosip bahwa istri raja adalah pemakan manusia. Mereka menuduhnya telah memakan anaknya sendiri sebagai bukti dari sifat jahat yang mereka duga.

Namun, raja tidak memercayai gosip tersebut. Karena cintanya yang besar kepada istrinya, ia tetap membelanya dan meyakini bahwa hilangnya anak mereka bukan kesalahan istrinya. Namun, di dalam hatinya, ia tetap merasa kehilangan yang dalam, dan hal itu membuat suasana istana semakin tegang. Setelah setahun berlalu, istri raja kembali melahirkan seorang putra. Namun, kejadian aneh itu terulang lagi.

Déwa Reksa muncul di tengah malam di dekat tempat tidurnya dan berbicara dengan nada yang sama seperti sebelumnya, “Apakah sekarang kamu sudah menyadari kesalahanmu dan mau mengakui bahwa kamu telah membuka pintu ketiga belas di sawargaloka? Jika kamu mengaku, aku akan mengembalikan kemampuanmu untuk berbicara dan mengembalikan anakmu.

Tetapi jika kamu tetap tidak mengaku, kamu akan terus bisu, dan anakmu yang sekarang juga akan kubawa pergi.” Istri raja kembali menggeleng, menegaskan bahwa ia tidak akan mengaku. Dalam hatinya, ia tetap percaya bahwa dirinya tidak bersalah.

Melihat itu, Déwa Reksa tidak ragu-ragu, ia mengambil bayi yang baru lahir itu dan membawanya pergi ke sawargaloka. Keesokan paginya, istana kembali geger. Bayi yang baru lahir itu hilang tanpa jejak, persis seperti kejadian sebelumnya. Semua penghuni istana kebingungan, tetapi mereka tidak menemukan siapa pun yang bertanggung jawab selain istri raja.

Para pengawal dan pejabat istana mulai berkumpul dan menuduh dengan terang-terangan. Mereka mendatangi raja sambil menunjuk istrinya dan berkata bahwa istri raja pasti ada hubungannya dengan hilangnya kedua bayi tersebut. Beberapa bahkan menyatakan bahwa ia adalah penyebab kutukan atau pelaku kejahatan.

Para pejabat istana terus menekan raja dengan tuduhan bahwa istrinya adalah "pemakan manusia" dan bahwa ia harus dihukum mati. Namun, raja tetap tidak mau percaya. Cintanya yang begitu besar kepada istrinya membuatnya melarang keras siapa pun berbicara buruk tentang istrinya.

Tidak lama setelah kejadian itu, istri raja kembali melahirkan seorang putra. Namun, pada malam yang sama, Déwa Reksa muncul untuk ketiga kalinya di dekat tempat tidurnya. Ia membangunkan istri raja dan berkata, “Bangunlah, ikuti aku.” Déwa Reksa memegang tangan istri raja dan menunjukkan dua anaknya yang telah diambil sebelumnya. Kedua anak itu tersenyum manis kepada ibunya, membuat hati sang ibu terasa sangat bahagia dan penuh haru.

Namun, Déwa Reksa kembali bertanya dengan nada yang lebih tegas, “Apakah kamu masih belum mengaku? Dengarkan aku. Jika kamu mau mengakui bahwa kamu telah membuka pintu ketiga belas di sawargaloka, aku akan mengembalikan kedua anakmu.”

Tapi seperti sebelumnya, istri raja tetap menggeleng dan berkata, “Tidak.” Ia tetap kukuh dengan keyakinannya bahwa ia tidak bersalah. Melihat itu, Déwa Reksa menghela napas dan berkata, “Jika itu pilihanmu, maka anakmu yang ketiga ini juga akan kubawa pergi.” Ia pun melepaskan tangan istri raja dan mengambil bayi yang baru lahir itu, lalu menghilang bersama ketiga anak tersebut ke sawargaloka.

Ketiga anaknya yang masih kecil itu telah diambil oleh Déwa Reksa dan tidak pernah kembali. Keesokan paginya, ketika orang-orang menemukan bahwa bayi yang baru lahir itu juga hilang, mereka kembali menuduh istri raja. Gosip semakin menjadi-jadi, semua orang di istana berbicara bahwa istri raja adalah pemakan manusia. Kali ini, mereka mendesak raja untuk segera menghukumnya mati.

Raja merasa sangat tertekan. Meskipun hatinya penuh cinta kepada istrinya, ia tidak bisa terus menentang desakan para pejabat istana dan rakyatnya. Akhirnya, ia setuju untuk membawa istrinya ke gedung pengadilan agar dihukum mati dengan cara yang biasa diterapkan di kerajaan itu—dibakar hidup-hidup.

Setelah keputusan hukuman dijatuhkan, istri raja dikembalikan ke kamarnya untuk menunggu eksekusi. Dalam ketakutannya, ia mencoba mencari tempat untuk bersembunyi agar terhindar dari hukuman, tetapi ia tidak menemukan tempat berlindung.

Tidak lama kemudian, para pelaksana hukuman datang membawa tumpukan besar kayu bakar ke tempat eksekusi. Suasana menjadi tegang, sementara istri raja hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan terjadi padanya.

Istri raja berdiri di atas tumpukan kayu, tubuhnya terikat rantai, sementara api mulai dinyalakan dari bawah. Kobaran api makin besar, panasnya terasa membakar wajahnya. Dalam kesakitan dan ketakutan, ia mulai menyadari sesuatu di dalam hatinya. "Apakah ini balasan dari kebohonganku dan ketidakmauanku mengaku?" pikirnya.

Dengan air mata yang mengalir deras, ia akhirnya berbicara pelan dalam hatinya, “Euh, Déwa Reksa... ya, benar, aku memang membuka pintu ketiga belas itu.” Saat ia mengucapkan pengakuan itu, tiba-tiba api dan asap yang berkobar mendadak lenyap begitu saja. Yang terdengar hanya suara keras "gebrakan" seperti ledakan kecil, diikuti kilauan cahaya terang.

Ternyata, di depannya sudah berdiri Déwa Reksa bersama ketiga anaknya. Dua dari mereka berdiri di sisinya, sementara bayi yang ketiga digendong oleh Déwa Reksa. Déwa Reksa menatap istri raja dan berkata, “Siapa yang menyesal? Siapa yang merasakan sakitnya akibat ketidakjujuran?” Namun, istri raja hanya menangis tanpa mampu menjawab apa-apa.

Setelah itu, Déwa Reksa menyerahkan kembali ketiga anaknya kepada istri raja. Ia juga memulihkan semua yang hilang—istri raja tidak lagi bisu, dan mereka sekeluarga diberikan keselamatan serta kebahagiaan seumur hidup.

Makna dari cerita ini: Jangan pernah berbohong, karena kebohongan hanya akan membawa penyesalan. Jangan melanggar larangan, karena hal itu akan mendatangkan kesulitan dan kesedihan. Orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi ujian akan menemukan kebahagiaan pada akhirnya.

Warnasari
 ← Cerita pertama Cerita kedua Cerita ketiga →