Lompat ke isi

Warnasari/Cerita keempat

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Pansakin (Cerita Keempat)

Ada seorang raja yang memiliki tujuh orang putri, semuanya cantik jelita. Namun, putri bungsunya yang bernama Pansakin adalah yang paling pintar di antara saudara-saudaranya. Saat ibu mereka meninggal, putri-putri itu masih sangat kecil, sehingga mereka tumbuh tanpa sosok ibu yang menjaga dan merawat mereka.

Setiap hari, putra-putra raja selalu memberikan penghormatan kepada ayah mereka, menjaga tradisi dan kewajiban sebagai anak-anak kerajaan. Namun, kehidupan di istana perlahan menunjukkan tantangan baru bagi Pansakin dan saudara-saudaranya. Raja sedang sibuk menghadapi urusan negara dan membicarakan hukum dengan patihnya. Namun, tidak lama kemudian, patih tersebut menghilang secara misterius, meninggalkan seorang istri yang menjadi janda dan seorang anak perempuan.

Setiap hari, ketika putri-putri raja sedang makan bersama di istana, janda patih dan putrinya sering datang ke dapur istana untuk meminta api. Mereka berbicara dengan kasar kepada para putri, seolah tidak menghormati mereka. Si janda patih sering berkata kepada anak-anak raja, “Biarkan saja perempuan itu mengambil api di rumahnya sendiri. Mengapa harus datang ke sini? Jika kita marah, mereka pasti akan celaka.”

Salah satu saudari putri menjawab dengan sabar, “Kenapa kamu selalu berbicara buruk tentang mereka? Biarkan saja mereka mengambil api di sini kalau memang butuh.” Janda patih itu tetap bersikeras, mengambil bara api tanpa sopan santun, bahkan jika tidak ada orang yang melihat atau menegurnya.

Janda patih yang licik itu mengambil segenggam pasir dan diam-diam menaburkannya ke dalam makanan yang disediakan untuk raja. Raja sangat menyayangi putri-putrinya, terutama setelah kematian ibunya. Namun, karena sering menemukan pasir dalam makanannya, raja mulai mencurigai ada sesuatu yang tidak beres dan mengira putri-putrinya ceroboh atau lalai. Meski begitu, karena sifat adilnya, raja tidak langsung marah kepada mereka. Namun, kejadian pasir dalam makanan itu terjadi hampir setiap hari, dan raja mulai merasa khawatir.

Pada suatu hari, raja memutuskan untuk menyelidiki sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Ia masuk ke dalam kamar yang dekat dengan dapur dan mengintip melalui celah dinding yang longgar. Dari sana, raja melihat putri-putrinya dengan rapi dan telaten sedang mempersiapkan makanan. Beras dimasukkan dengan hati-hati ke dalam wadah masak tanpa sedikit pun kesalahan, menunjukkan bahwa mereka bekerja dengan baik.

Setelah memastikan bahwa putri-putrinya bekerja dengan hati-hati dalam menyiapkan makanan, raja terus mengamati. Ia melihat salah satu putri sedang menunggu di dekat tungku setelah selesai mencuci beras dengan teliti. Tidak lama kemudian, janda patih muncul di dapur dengan alasan ingin meminta api.

Wajahnya terlihat dingin dan tidak ramah. Salah satu putri yang lebih muda lalu berkata dengan nada marah, "Kenapa bibi patih tidak mengambil api di rumah sendiri saja? Mengapa setiap hari harus datang ke sini untuk meminta api?" Ia kemudian memanggil kakaknya dan berkata, "Bibi patih itu jangan lagi diberi api! Biarkan saja dia membeli kayu bakar dan api sendiri!"

Namun, kakak tertuanya menjawab, "Sudahlah, biarkan saja dia mengambil kayu bakar dan api di sini. Toh, dia tidak pernah benar-benar menyusahkan kita." Tapi dalam hatinya, kakak tertua itu tetap merasa ada yang tidak beres. Ia berpikir bahwa janda patih memiliki niat jahat dan bisa mencelakai mereka kapan saja.

Raja yang mengintip dari balik dinding mulai berpikir dalam hati, Mengapa janda patih ini terus-menerus datang ke dapur dan meminta api setiap hari? Dan mengapa setiap kali ia datang, ada pasir yang masuk ke makanan? Kecurigaan raja semakin besar, dan ia bertekad untuk mengungkap kebenaran di balik kejadian ini.

Raja semakin terkejut melihat apa yang terjadi di dapur. Ia segera memerintahkan seorang penjaga untuk menangkap janda patih dan membawanya ke hadapannya. Setelah dibawa ke depan raja dan diinterogasi, janda patih itu mengakui perbuatannya. Ia berkata, "Saya melakukan ini karena ingin mendapatkan perhatian dan ganjaran dari Paduka. Bukannya dihukum, tetapi saya berharap mendapatkan penghargaan."

Dengan kepandaiannya berbicara dan kemampuannya menggunakan ilmu sihir, janda patih itu berhasil memikat hati raja. Dalam pandangan raja, ia tiba-tiba terlihat seperti bidadari dari surga. Raja yang terpesona langsung menikahinya dan mengangkatnya menjadi permaisuri di istana.

Cinta raja kepada istri barunya sangat besar, bahkan lebih dalam dari perasaan yang pernah ia miliki sebelumnya, termasuk kepada mendiang istrinya. Namun, istri baru raja memiliki niat jahat. Ia mulai merencanakan cara untuk menyingkirkan ketujuh putri raja dari istana agar mereka tidak menjadi penghalang baginya.

Karena keinginan istri baru raja untuk menguasai seluruh harta kerajaan dan memberikan bagian yang besar kepada anaknya, ia berusaha menyingkirkan ketujuh putri raja. Istri baru itu pun tinggal di istana seperti layaknya seorang putri, tetapi sikapnya terhadap putri-putri raja sangat berbeda dari luarnya yang terlihat sopan.

Janda patih yang kini menjadi permaisuri pura-pura bersikap baik di depan raja, seolah-olah berterima kasih kepada putri-putri itu. Namun, di balik itu semua, ia memperlakukan mereka dengan sangat buruk. Putri-putri raja tidak pernah disediakan makanan yang layak, kecuali roti keras dalam porsi kecil, dan mereka hanya diberi sedikit air untuk diminum. Putri-putri yang dulu hidup dalam kemewahan kini harus menanggung penderitaan yang luar biasa.

Sebaliknya, janda patih dan anaknya yang dulu tidak merasakan kemewahan, kini hidup nyaman di istana dengan segala kenikmatan. Setiap hari, putri-putri raja pergi ke makam ibu mereka sambil menangis dan mengadu. Mereka berkata, “Oh Ibu, apakah Ibu tidak melihat betapa menderitanya kami, putri-putri Ibu? Kami ingin makan, tetapi tidak pernah diberi oleh ibu tiri kami!”

Ketika putri-putri raja sedang duduk di makam ibunya sambil menangis, mereka melihat ada sebuah pohon koldi yang tumbuh di sana, penuh dengan buah yang matang dan segar. Karena lapar, mereka segera memetik buah-buah koldi itu dan memakannya, sebab makanan yang diberikan oleh ibu tiri mereka sangat sedikit. Setiap kali mereka kelaparan, mereka kembali ke makam ibunya dan memakan buah koldi tersebut.

Ibu tiri mereka mulai curiga dan berkata kepada anak perempuannya, “Ibu tidak mengerti kenapa putri-putri raja itu masih terlihat sehat dan cantik, padahal kita tidak pernah memberikan mereka makanan yang cukup. Malah, mereka terlihat lebih segar daripada kamu. Ini sangat aneh.”

Mendengar itu, anak perempuannya meminta izin kepada ibunya untuk mengintip dan mencari tahu dari mana putri-putri raja mendapatkan makanan, sehingga mereka tetap sehat dan tidak terlihat lemah meskipun terus disiksa. Ketika putri-putri raja pergi ke makam ibunya untuk memetik buah koldi, mereka tidak menyadari bahwa putri janda patih sedang mengintip mereka dari kejauhan.

Salah satu putri berkata kepada kakaknya, “Apakah kalian melihat putri janda patih itu sedang mengintip kita? Apakah sebaiknya kita segera pulang atau menyembunyikan buah koldi ini? Jika dia melaporkannya kepada ibunya, kita pasti akan celaka!” Namun, kakaknya menjawab, “Tidak, jangan khawatir. Anak itu tidak akan sejahat itu sampai melaporkan segalanya kepada ibunya. Lebih baik kita ajak dia dan tawarkan buah koldi ini. Siapa tahu dia juga ingin mencobanya.”

Mereka pun memanggil putri janda patih dan menawarkan satu buah koldi kepadanya. Setelah diberi, ia segera memakan buah itu sampai habis, lalu kembali ke istana. Sesampainya di rumah, putri janda patih itu langsung melaporkan kepada ibunya, “Sekarang aku mengerti kenapa putri-putri raja itu tetap sehat dan cantik meskipun tidak diberi makan. Mereka mendapatkan makanan dari buah koldi di makam ibu mereka.”

Setelah mendengar cerita dari putrinya, janda patih langsung menemui raja dan mengungkapkan keluhannya. Ia berpura-pura sakit kepala yang sangat parah. Raja yang sangat menyayanginya merasa iba dan segera bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?”

Istri raja menjawab dengan licik, “Ada satu obat yang bisa menyembuhkan sakit kepala ini. Di dekat makam istri Paduka, ada sebuah pohon koldi yang buahnya sangat berkhasiat. Saya ingin buah koldi itu dibawa ke sini, lalu dipotong-potong dan direbus bersama akar-akarnya.”

Raja yang tidak menyadari niat jahat istrinya, segera memerintahkan agar pohon koldi itu ditebang dan buah serta akarnya dibawa ke istana. Janda patih berencana menghancurkan sumber makanan dan harapan terakhir putri-putri raja, memastikan mereka jatuh ke dalam penderitaan yang lebih dalam.

Air panguluban harus dituang ke dalam kendi saya, tentu itu akan membuat saya merasa lebih baik. Setelah itu, raja memanggil seorang pembantu untuk memetik pohon koldi, dan disiapkan sesuai petunjuk sang istri. Cairan itu dituangkan ke dalam kendi saya dan sang raja berkata kepada istrinya: 'Saya sudah merasa jauh lebih baik, tidak ada yang terasa lagi.' Keesokan harinya, putri-putri itu seperti biasanya pergi ke tempat ibunya, tetapi pohon koldi sudah tidak ada lagi.

Tiba-tiba, mereka menangis dan berteriak. Di dekat tempat ibunya, ada sebuah kolam kecil. Setelah mereka berteriak, kolam itu dipenuhi sesuatu yang mirip susu, dan tak lama kemudian berubah menjadi cairan putih. Ketika putri-putri melihat keajaiban itu, mereka segera mendekati kolam dan merasa sangat puas.

Pada waktu yang telah lalu, setiap hari putra-putri tersebut pergi ke tempat ibunya berada dan selalu melihat kolam yang penuh dengan cairan putih itu. Suatu hari, sang ibu berkata kepada anaknya. Sang ibu berkata “kepada anaknya, katanya, "Saya sangat heran, pohon koldi yang ada di dekat tempat tinggal istri raja itu sudah saya cabut, tetapi putri-putri itu tidak tampak terganggu dan tidak ada yang rusak, makanan yang mereka buat tetap terasa enak seperti biasanya."

"Saya benar-benar bingung!" Anak itu menjawab, "Saya akan menyelidikinya lebih lanjut!" Keesokan harinya, saat putri-putri sedang memeriksa cairan putih itu, mereka melihat seorang anak mendekat. Anak itu, yang pertama kali datang, ternyata adalah anak dari ibu yang sebelumnya dipanggil. Anak tersebut berbicara kepada temannya, “Lihat, anak itu datang lagi. Mari kita sembunyikan di sisi kolam, supaya anak itu tidak terlihat."

Mari kita ceritakan yang sebenarnya kepada ibunya, dengan pengalaman yang kita hadapi beberapa waktu ke belakang, kita bisa mati! Teman-teman merasa ragu dengan niat buruknya, tetapi pembicaraan itu tetap diterima, anggur itu disajikan dalam cairan oleh anak patih tersebut. Kemudian, semua cerita itu disampaikan kembali kepada ibunya.

Setelah mendengar bahwa putri-putri itu sangat khawatir, sang istri raja menjadi sangat cemas, dan memerintahkan salah seorang pelayannya untuk menutupi tempat tinggal istri raja itu dengan batu. Karena hal ini, dia pun merasa tidak tenang, dan keesokan harinya, dia merasa sangat lemah, seolah-olah akan segera meninggal. Raja merasa sangat tertekan dan memeriksa keadaan istrinya, berkata: 'Apa yang bisa membuatmu sembuh?

"Bisakah kami menambah?" jawab sang istri, ia berkata: "Ada sesuatu yang bisa menyembuhkan saya, tetapi saya tahu bahwa dengan gamaprna (obat atau ramuan) saya tidak akan sembuh!" Raja calon suaminya menjawab: "Saya janji akan dilakukan, apa yang bisa menyembuhkan?"

Setelah itu, ia menunjukkan sesuatu: yang bisa menyembuhkan dirinya adalah darah dari tujuh anak laki-laki dari istri yang sedang dalam keadaan terdesak, dan mereka harus dibunuh. Darah mereka harus dioleskan ke dahi dan telapak tangannya, barulah ia bisa selamat dan tetap hidup.

Ketika raja mendengar hal itu, hatinya sangat sedih. Namun, karena sudah terlanjur berjanji, ia tetap mencari anak-anak itu meskipun dengan perasaan berat. Akhirnya, ia menemukan anak-anak tersebut di dekat makam ibunya, sedang berkumpul bersama. Raja merasa tidak tega untuk membunuh mereka. Ia lalu berkata kepada anak-anak itu, “Mari kita pergi ke hutan!”

Di sana, raja menyalakan api dan mulai memasak nasi, lalu anak-anaknya disuruh masuk ke dalam tenda. Karena dinginnya malam, tubuh anak-anak itu menjadi kedinginan. Raja melihat anak-anaknya dan merasa sangat iba, namun karena takut pada istrinya, ia meninggalkan mereka begitu saja. Dalam hati, raja berkata, "Lebih baik aku tinggalkan mereka di sini dan biarkan mereka kembali kepada ibunya."

Setelah itu, raja memburu seekor kijang, lalu pulang dan mengoleskan darah kijang itu ke dahi dan telapak tangan istrinya. Sang istri mengira bahwa darah itu adalah darah anak-anaknya. Sementara itu, anak-anak yang ditinggalkan akhirnya terbangun. Saat menyadari ayahnya sudah pergi dan mereka hanya berempat di dalam hutan, mereka merasa sangat ketakutan.

Mereka pun berteriak sekuat tenaga, berharap ayah mereka mendengar, tapi jaraknya terlalu jauh, sehingga suara mereka tak terdengar, seolah-olah hanya bergema di antara pepohonan. Pada hari itu juga, ada tujuh pemuda, anak raja, yang sedang berburu di hutan tersebut. Saat mereka hendak pulang dari perburuan menuju istana, salah satu dari mereka berkata kepada saudara-saudaranya, “Tunggu sebentar, aku mendengar ada suara orang memanggil. Apakah kalian tidak mendengarnya? Mari kita duduk sebentar dan cari tahu suara apa itu!”

Saudara-saudaranya pun setuju dan mengikuti adiknya masuk lebih dalam ke hutan untuk mendengarkan suara tersebut. Mereka pun mendengar suara para putri yang sedang berteriak meminta pertolongan. Ketika para putri melihat mereka, mereka sangat gembira. Para pemuda itu pun memeriksa keadaan para putri dan menawarkan untuk membawa mereka pulang ke istana. Ketujuh putri itu setuju dan dibawa oleh ketujuh pangeran tersebut, masing-masing digandeng oleh satu pangeran.

Pangeran tertua membawa putri tertua, dan begitu seterusnya, hingga pangeran yang paling bungsu, yang juga paling tampan, membawa Balna, putri yang paling cantik dan cerdas. Sesampainya mereka di kerajaan, diadakan pesta besar-besaran untuk merayakan pernikahan para pangeran tampan dengan para putri cantik.

Tidak lama setelah itu, Balna melahirkan seorang anak laki-laki, anak pertamanya. Paman-paman dan bibi-bibinya sangat menyayangi anak tersebut, seolah-olah mereka adalah kakek dan nenek kandungnya. Karena Balna adalah satu-satunya yang memiliki anak di antara mereka, semua perhatian tertuju pada anak itu, dan mereka memperlakukannya seperti anak sendiri.

Saat itu adalah masa penuh kebahagiaan dan keselamatan. Setiap hari diisi dengan kegembiraan dan keceriaan. Namun, pada suatu hari yang cerah, suami Balna berkata bahwa ia akan pergi berburu. Balna pun menunggu kepulangannya, namun waktu berlalu begitu lama tanpa kabar. Karena khawatir, salah satu dari keenam saudara suaminya akhirnya berkata bahwa mereka harus mencari tahu apa yang terjadi dan ke mana perginya sang pangeran.

“Mana suami Balna?” Mereka pun mulai mencari-cari, namun sang pangeran tak kunjung kembali. Ketujuh putri pun merasa sangat sedih dan bingung memikirkan nasib para suami mereka yang tidak kembali. Mereka tidak tahu harus berbuat apa dan merasa kehilangan harapan.

Suatu hari, ketika Balna sedang mengayun anaknya, sementara saudara-saudaranya sedang beristirahat di dalam kamar, tiba-tiba datang seorang pria berpakaian serba hitam ke halaman istana. Ia berkata bahwa dirinya adalah seorang pengemis miskin yang membutuhkan bantuan. Pelayan Balna kemudian keluar dan menegur pria itu sambil berkata, “Kau tidak diizinkan masuk ke dalam istana ini! Semua pangeran telah pergi, dan aku khawatir ini bisa membahayakan.

Para putri di sini sedang sendiri dan tidak bisa sembarangan menerima orang luar!” Namun, pria berpakaian hitam itu membalas, “Aku orang baik-baik. Kau harus mengizinkanku masuk ke dalam istana ini!” Akhirnya, pelayan yang kurang waspada itu mengizinkan pria tersebut masuk ke dalam istana, tanpa menyadari bahwa orang itu bukanlah pengemis biasa. Ternyata, pria tersebut adalah seorang dukun sakti bernama Pansakin.

Pansakin berjalan-jalan di dalam istana, mengamati segala hal yang indah di sekelilingnya, hingga akhirnya ia tiba di kamar Balna. Di sana, Balna sedang duduk di dekat ayunan anaknya. Saat Pansakin melihat Balna, ia terpesona oleh kecantikannya yang melebihi siapapun yang pernah ia lihat sebelumnya.

Pansakin pun langsung mengajak Balna untuk ikut dengannya dan berjanji akan menikahinya. Namun, Balna dengan tegas menolak dan berkata, “Aku sudah memiliki suami. Aku takut jika suamiku mengetahui ini, ia akan membunuhku. Lagipula, anakku masih kecil. Aku ingin menunggunya sampai dewasa dan cukup bijaksana. Jika nanti anakku sudah besar, ia akan kuutus untuk mencari ayahnya. Aku tidak akan meninggalkan anakku atau mengkhianati suamiku, karena Allah melarang hal itu.”

Tinggalkan anak ini dan menikahlah denganku!" kata Pansakin dengan nada memaksa. Namun, setelah mendengar jawaban tegas dari Balna yang menolak ajakannya, Pansakin menjadi sangat marah. Dengan kekuatan sihirnya, ia mengutuk Balna dan mengubahnya menjadi seekor anjing hitam kecil, lalu membawanya pergi. Saat membawa Balna yang sudah berubah wujud, Pansakin berkata dengan penuh amarah, "Kalau kau tidak mau secara baik-baik, aku akan memaksamu seperti ini!"

Balna yang telah menjadi anjing kecil tidak berdaya dan tidak bisa memberi tahu saudara-saudaranya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ketika Pansakin sampai di halaman istana, pelayan yang sebelumnya membukakan pintu bertanya, "Dari mana kau mendapatkan anjing sekecil dan sebagus ini?"

Pansakin menjawab santai, "Ada seorang putri yang menjualnya padaku." Pelayan itu pun tidak curiga dan tidak bertanya lebih lanjut. Pansakin kemudian pergi membawa Balna. Tak lama setelah itu, putri tertua mendengar suara gaduh di luar dan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Putri tertua pun menangis tersedu-sedu ketika melihat keponakannya sendirian tanpa ibunya. Ia sangat terkejut menyadari bahwa Balna telah diculik. Segera setelah itu, ia memeriksa pelayan yang terakhir kali melihat Balna. Setelah mendengar cerita dari pelayan tersebut, sang putri memerintahkan semua orang untuk mencari si dukun sakti Pansakin dan anjing hitam kecil yang sebenarnya adalah Balna. Namun, meskipun sudah dicari ke mana-mana, baik Pansakin maupun anjing itu tidak ditemukan.

Hal ini membuat keenam putri merasa sangat sedih. Mereka hanya bisa menangis meratapi nasib, kehilangan suami mereka, serta Balna yang kini hilang entah ke mana. Hari-hari mereka dipenuhi kesedihan sambil merawat anak Balna. Waktu pun berlalu hingga anak Balna berusia empat belas tahun. Pada suatu hari, paman-pamannya mulai menceritakan kisah tentang ibunya yang hilang.

Mereka juga memberitahukan tentang ayahnya yang tidak pernah kembali serta nasib para pangeran lainnya. Semua cerita itu diungkapkan agar sang anak tahu tentang masa lalu keluarganya dan kenyataan pahit yang mereka alami. Setelah mendengar cerita dari paman-pamannya, anak Balna merasa terpanggil untuk mencari ibunya.

Ia pun berkata dengan tegas, "Aku ingin pergi mencari mereka. Siapa tahu aku bisa menemukan ibu dan ayahku. Jika berhasil, aku akan membawa mereka pulang. Jika tidak, setidaknya aku telah berusaha." Mendengar tekad keponakannya, para paman merasa sangat sedih. Mereka bingung harus memberi izin atau tidak.

Salah satu pamannya berkata, "Nak, paman-pamanmu ini sudah kehilangan banyak orang yang kami cintai. Ibumu, ayahmu, dan saudara-saudara kami semua telah hilang. Jika kau juga pergi, bagaimana jika kami kehilanganmu juga? Bagaimana kami bisa menanggung kesedihan itu?"

Namun, anak Balna menjawab dengan penuh keyakinan, "Paman, jangan khawatir. Aku tidak akan pergi lama. Aku yakin aku bisa kembali, dan semoga saja aku dapat menemukan ibu dan ayahku. Aku harus mencobanya." Akhirnya, meski berat hati, para paman mengizinkannya berangkat. Ia pun memulai perjalanannya dengan penuh semangat.

Sebulan berlalu tanpa hasil. Ia berjalan tanpa henti, menembus hutan dan lembah, namun belum menemukan tanda-tanda keberadaan orang tuanya. Hingga pada suatu hari, setelah menempuh perjalanan sejauh seratus mil, ia merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Ia menemukan sebuah perkampungan kecil di tengah hutan. Di sanalah petualangannya akan membawa arah baru dalam pencarian orang tuanya.

Di tengah hutan yang penuh dengan batu-batu besar, karang-karang tajam, dan pepohonan yang lebat, anak Balna akhirnya tiba di sebuah tempat yang tampak aneh dan misterius. Di sana berdiri sebuah gedung besar yang tampak angker, dan tak jauh dari situ ada sebuah rumah kecil yang tampaknya milik penjaga kebun.

Saat ia sedang mengamati sekeliling, tiba-tiba seorang wanita, istri tukang kebun, keluar dari rumah kecil itu. Ia tampak terkejut melihat ada orang asing yang berani datang ke tempat tersebut. Dengan suara penuh kekhawatiran, ia bertanya, "Anak muda, siapa kamu? Berani sekali datang ke sini? Apakah kamu tidak tahu betapa berbahayanya tempat ini?" Anak Balna pun menjawab dengan jujur, "Aku anak seorang raja. Aku sedang mencari ayah, ibu, dan paman-pamanku yang telah hilang. Ibuku diculik oleh seorang dukun jahat dan aku ingin menyelamatkan mereka."

Mendengar itu, wanita tersebut tampak semakin khawatir. Ia pun berkata, "Nak, gedung besar itu adalah milik seorang dukun sakti yang sangat berkuasa. Ia memiliki kekuatan luar biasa. Siapa pun yang tidak menurut perintahnya akan disulap menjadi batu atau pohon. Semua batu dan pohon yang kamu lihat di sini dulunya adalah manusia yang hidup. Dukun itu bisa mengubah apapun sesuai keinginannya."

Ia menambahkan, "Tahun lalu, ada seorang anak raja yang juga datang kemari untuk mencari keluarganya. Namun, ia tidak pernah kembali. Kemungkinan besar, ia sudah menjadi salah satu batu atau pohon di sini." Wanita itu menatap anak Balna dengan penuh belas kasihan, menyadari bahaya besar yang sedang dihadapi pemuda itu.

Wanita tukang kebun melanjutkan ceritanya, “Tak hanya itu, enam saudara ayahmu yang datang kemari juga telah menjadi korban. Mereka semua disulap menjadi batu dan pepohonan karena melawan sang dukun. Bahkan, di dalam gedung besar itu, ada seorang putri cantik yang telah disekap selama dua belas tahun karena menolak menikah dengan dukun jahat itu.”

Mendengar hal itu, anak Balna pun tersadar bahwa tempat ini adalah kunci untuk menemukan seluruh keluarganya—ayah, ibu, dan paman-pamannya. Semua yang dicarinya ternyata berada di sini, baik yang masih hidup maupun yang telah menjadi batu dan pohon.

Dengan tekad yang kuat, ia berkata kepada istri tukang kebun, “Aku tidak bisa mundur sekarang. Aku harus menyelamatkan mereka semua.” Namun, wanita itu memperingatkan, “Anak muda, dukun itu sangat berbahaya. Jika dia tahu siapa kamu, dia akan segera mengubahmu menjadi batu seperti yang lain. Tapi, aku punya rencana. Aku akan menyamarkanmu sebagai seorang gadis. Dengan begitu, dia tidak akan mencurigaimu, dan kau bisa mencari kesempatan untuk menyelamatkan keluargamu.”

Anak Balna pun setuju. Wanita itu segera memberinya pakaian perempuan, melengkapinya dengan kerudung untuk menutupi wajahnya, dan mengajarinya bagaimana berperilaku agar terlihat seperti seorang gadis. Setelah penyamaran selesai, ia pun bersiap untuk melanjutkan misi berbahayanya, kini dengan harapan baru dan perlindungan dari sang istri tukang kebun.

Setelah penyamarannya selesai, anak Balna tinggal bersama istri tukang kebun yang merawatnya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah ia adalah anak kandungnya sendiri. Suatu hari, tidak lama setelah itu, sang dukun jahat berjalan-jalan di kebun. Saat matanya melihat anak Balna yang sedang duduk santai di tepi kebun, ia merasa tertarik.

Ia pun bertanya, “Hei, siapa kamu?” Anak Balna menjawab dengan suara tenang, “Aku anak tukang kebun.” Dukun itu memperhatikan lebih lama dan berkata, “Kamu anak yang lucu. Besok pagi, bawakan bunga untuk putri cantik yang ada di dalam gedung!”

Mendengar permintaan itu, anak Balna merasa sangat gembira. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan untuk bertemu ibunya yang kemungkinan besar adalah putri cantik yang telah disekap selama dua belas tahun di dalam gedung tersebut. Segera setelah dukun itu pergi, anak Balna berbicara dengan istri tukang kebun. Ia merencanakan bagaimana caranya bisa bertemu sang ibu dan memberi tahu siapa dirinya tanpa membahayakan nyawa siapapun.

Anak Balna teringat pada sebuah kenangan: saat ibunya menikah dahulu, ayahnya menghadiahkan sebuah liontin emas khusus untuk Balna. Liontin itu dulu dikenakan oleh Balna dan kemudian diberikan kepada anaknya saat ia masih bayi. Anak Balna yakin bahwa liontin tersebut bisa menjadi tanda pengenal yang membuktikan bahwa dirinya benar-benar anak Balna.

Kini, ia bersiap untuk memasuki gedung angker itu, membawa harapan untuk mempertemukan kembali dirinya dengan sang ibu. Liontin emas yang dulu dikenakan oleh Balna kemudian diperbesar oleh pamannya agar bisa dipakai oleh anak Balna sekarang. Istri tukang kebun pun memberi petunjuk penting kepada anak Balna. Ia berkata, “Jika kamu ingin ibumu mengenalimu, jatuhkan liontin ini di atas bunga yang paling ia sukai. Itu akan membuatnya menyadari bahwa kamu adalah anaknya.”

Anak Balna merasa cemas dan bersemangat sekaligus. Ia takut pada kekuatan sihir sang dukun, namun juga bahagia karena akhirnya memiliki cara untuk bertemu dengan ibunya. Ia mengikuti semua petunjuk dengan hati-hati. Setiap pagi, ia membawa bunga untuk diberikan kepada sang putri yang dikurung di dalam gedung besar itu. Sang dukun memang memiliki kebiasaan mengirimkan bunga kepada Balna, dan anak Balna memanfaatkan kesempatan ini.

Biasanya, sang dukun selalu berjaga dan mengawasi Balna dari pagi hingga malam. Namun, pada suatu hari, keberuntungan berpihak pada anak Balna. Tidak ada seorang pun yang berjaga di kamar Balna. Ia pun masuk dengan penyamaran sebagai gadis pembawa bunga dari kebun.

Saat itu, Balna sedang sendirian di kamarnya. Anak Balna perlahan mendekat, membawa setangkai bunga segar, dan tanpa sepengetahuan siapapun, ia menjatuhkan liontin emas ke tengah-tengah bunga tersebut—tepat seperti yang telah diajarkan oleh istri tukang kebun. Ini adalah momen penting yang diharapkan akan membuka mata Balna dan membuatnya mengenali anak yang telah lama terpisah darinya.

Putri Balna mengambil bunga yang diberikan oleh anaknya. Saat ia meraih bunga itu, liontin emas yang tersembunyi di dalamnya terjatuh dan mengenai gaunnya, kemudian memantul dan membentur dinding, mengeluarkan suara keras yang membuat Balna terkejut. “Apa itu tadi?” tanya Balna sambil memeriksa sumber suara. Ia pun menemukan liontin emas yang sangat dikenalnya—liontin pemberian suaminya, yang dulu ia kalungkan pada anaknya saat masih bayi. Saat itu juga, Balna langsung menyadari kebenarannya. “Ini... ini milik anakku!” serunya penuh emosi.

Ia menatap anak muda di depannya dan langsung menyadari bahwa dialah putra yang telah lama hilang. Penuh haru, Balna memeluk anaknya erat-erat, tak mampu membendung air mata kebahagiaan setelah bertahun-tahun berpisah. Mereka berdua larut dalam keharuan, merasakan pertemuan yang selama ini hanya menjadi harapan.

Anak Balna pun menceritakan seluruh perjalanannya, mulai dari bagaimana ia dibesarkan oleh pamannya hingga perjalanan panjangnya mencari kedua orang tuanya. Ia juga menceritakan bagaimana ia menyamar demi bisa bertemu ibunya. Balna, dengan suara pelan namun penuh tekad, berkata kepada anaknya, “Nak, Ibu sudah dua belas tahun terkurung di sini. Dukun itu mengunci Ibu dalam gedung ini karena Ibu menolak menikah dengannya. Tapi sekarang, mungkin inilah kesempatan kita untuk bebas.

Namun, kita harus berhati-hati. Ia sangat sakti dan tidak segan-segan mengubah siapa saja menjadi batu.” Ia memandang anaknya dengan penuh harap, “Apa kau punya rencana, Nak? Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat?”

Sang anak mengangguk pelan, menyadari bahwa perjuangannya belum selesai. Mereka kini harus mencari cara untuk mengalahkan sang dukun dan membebaskan semua keluarganya yang telah berubah menjadi batu. Putri Balna melanjutkan ceritanya dengan nada sedih, “Saat ibu pertama kali dibawa ke sini oleh dukun itu, ibu langsung dikutuk menjadi anjing kecil. Saat itu, ibu tidak bisa melakukan apa-apa. Baru setelah beberapa waktu, ibu dikembalikan ke wujud semula, tapi tetap dikurung di sini tanpa kebebasan.”

Anaknya yang cerdas dan sabar mencoba menenangkan ibunya. Ia berkata, “Ibu, jangan takut lagi. Sekarang kita harus berpikir bagaimana caranya membebaskan ayah, paman-pamanku yang sudah berubah menjadi batu dan pohon, dan tentu saja, menyelamatkan ibu sendiri dari kutukan ini. Aku yakin kita bisa.” Putri Balna pun mengangguk pelan, tapi ia masih tampak bingung. “Ibu sudah dua belas tahun di sini dan selama itu pula ibu tak pernah berbicara baik-baik kepada si Pansakin, dukun jahat itu. Tapi bagaimana mungkin kita bisa mengalahkannya? Ia terlalu kuat.”

Anaknya lalu berkata dengan yakin, “Kita harus berpura-pura. Ibu harus bersikap seolah-olah sudah menyerah. Katakan kepadanya bahwa Ibu sudah lama ingin bertemu ayah, dan karena sudah terlalu lama terpisah, Ibu akhirnya bersedia menikah dengannya jika dia membiarkan Ibu bertemu ayah sekali saja. Tapi Ibu harus berhati-hati. Cobalah memancing informasi tentang kelemahannya, apakah dia memiliki jimat atau benda pusaka yang membuatnya tak terkalahkan.”

Putri Balna mulai memahami rencana anaknya. Ia tahu bahwa ini satu-satunya cara untuk keluar dari situasi ini. Ia pun tersenyum tipis, “Baiklah, Nak. Ibu akan melakukan seperti yang kau katakan. Semoga ini berhasil.” Rencana besar mereka pun dimulai—sebuah tipu daya untuk menundukkan Pansakin, membebaskan keluarga mereka, dan mengakhiri kutukan yang telah berlangsung selama belasan tahun.

Putri Balna mengikuti saran anaknya dengan penuh tekad. Keesokan paginya, ia memberanikan diri mendatangi Pansakin, sang dukun sakti, dan mulai menjalankan rencana yang telah disusun. Dengan sikap tenang dan suara lembut, ia berkata, “Aku sudah lama merenung. Bertahun-tahun aku memusuhimu, tapi kini aku lelah. Jika memang takdirku harus bersamamu, aku tidak akan menolak lagi. Tapi sebelum itu, izinkan aku mengenalmu lebih dalam.

Aku ingin tahu apa yang membuatmu begitu kuat dan tak terkalahkan. Jika aku akan menjadi istrimu, aku ingin tahu segalanya tentangmu.” Pansakin terkejut mendengar perubahan sikap Balna, namun ia merasa senang dan tersanjung. Ia berpikir bahwa akhirnya putri Balna telah menyerah dan menerima lamarannya. Dengan rasa bangga, ia menjawab, “Aku ini bukan orang biasa. Kekuatan dan umur panjangku berasal dari sebuah jimat yang sangat sakti. Jimat itu membuatku tidak bisa dilukai atau dibunuh oleh siapapun.”

Balna pura-pura terkejut dan bertanya lagi dengan polos, “Oh, sungguh? Di mana jimat itu kau simpan? Aku hanya ingin memastikannya, agar aku tahu kau benar-benar aman.” Pansakin, yang mulai terbuai oleh kata-kata manis Balna, akhirnya berkata, “Jimat itu tersembunyi di tempat yang sangat rahasia. Tidak ada orang yang tahu selain aku. Itu sebabnya aku bisa mengendalikan orang lain, mengubah mereka menjadi batu, pohon, atau binatang, dan tak ada yang bisa melawanku.” Balna berusaha menyembunyikan rasa lega di wajahnya.

Ia tahu bahwa informasi ini adalah kunci untuk mengalahkan Pansakin. Dengan rencana yang hampir sempurna, kini tinggal selangkah lagi untuk membebaskan dirinya, anaknya, dan seluruh keluarganya dari kutukan sang dukun sakti. Putri Balna melanjutkan pembicaraan dengan Pansakin, berpura-pura semakin tertarik. “Kalau aku memang akan menjadi istrimu, aku harus tahu segalanya. Aku ingin bisa membantumu jika ada bahaya. Aku tidak ingin kehilanganmu nanti,” ujarnya, menambahkan lapisan kepura-puraan yang halus.

Pansakin, yang kini benar-benar terbuai, tersenyum puas. Ia pun mengungkapkan rahasianya tanpa curiga, “Baiklah, aku akan memberitahumu. Kekuatan dan umurku bergantung pada seekor burung kakatua yang tersembunyi jauh dari sini. Letaknya di sebuah negeri terpencil, kira-kira seratus ribu mil jauhnya. Negeri itu seperti hutan lebat, dan di tengahnya tumbuh sebuah pohon kawung besar.

Di antara daun-daunnya ada enam buah umbut besar berisi air. Nah, di bawah umbut itu ada sebuah sangkar kecil yang menyimpan burung kakatua itu. Selama burung itu hidup, aku pun tidak bisa mati. Tapi jika burung itu dibunuh, aku pun akan ikut mati.”

Setelah mendapatkan informasi penting itu, Balna segera memberitahu anaknya. Ia menceritakan semua yang dikatakan Pansakin, termasuk lokasi dan rahasia kekuatan sang dukun. Anaknya berpikir keras, lalu bertanya, “Ibu, jika aku berhasil mendapatkan burung kakatua itu dan membunuhnya, apakah ayah dan paman-pamanku yang telah menjadi batu dan pohon bisa hidup kembali?”

Ibunya menjawab sambil menahan haru, “Anakku, jangan khawatir. Saat burung itu mati, semua sihir Pansakin akan lenyap. Ayahmu, para pamanmu, bahkan aku, semua akan bebas dan kembali seperti semula.” Dengan semangat membara, sang anak memutuskan untuk memulai perjalanan berbahaya itu. Ia tahu bahwa membunuh burung kakatua adalah kunci untuk menyelamatkan keluarganya dan mengakhiri kekejaman Pansakin selamanya.

Namun, di lubuk hatinya, ia sadar bahwa perjalanan ini penuh risiko dan hanya keberanian serta kecerdasannya yang bisa membawanya menuju kemenangan. Ibu, mungkin saya bisa menolong!" ujar anaknya lagi. "Ibu, doakan saja agar dukun itu bersabar menunggu sampai saya datang sebelum perjanjian pernikahan ibu dengan dukun itu terlaksana."

Setelah itu, anaknya segera berangkat. Ia berjalan sangat jauh hingga akhirnya tiba di sebuah hutan. Di sana, ia merasa sangat lelah dan memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon. Saat tertidur, ia terbangun karena mendengar suara berisik. Ketika ia melihat sekeliling, ternyata ada seekor ular besar yang sedang merayap menuju sarang burung garuda yang berada di atas pohon itu. Di dalam sarang tersebut, terdapat dua anak burung garuda yang masih kecil.

Anak itu terkejut dan khawatir kalau ular itu akan memangsa anak burung garuda. Tanpa ragu, ia segera mencabut pedangnya dan membunuh ular tersebut. Tak lama setelah itu, terdengar suara kepakan sayap dari atas kepalanya. Ternyata yang datang adalah dua ekor burung garuda dewasa yang baru saja pulang dari mencari makanan untuk anak-anaknya. Ketika melihat bangkai ular dan anak muda yang telah membunuhnya, induk burung garuda pun berbicara kepada anak muda itu,

"Anak yang baik, setiap tahun anak-anak saya selalu dimangsa oleh ular ini. Tapi sekarang, berkat kamu, anak-anak saya bisa selamat. Saya sangat berterima kasih karena kamu telah membunuh ular ini. Sebagai balasannya, apa yang kamu inginkan? Saya akan membantumu, dan kedua anak saya bisa kamu bawa untuk menjadi pengawalmu."

Mendengar hal itu, anak muda tersebut sangat bahagia, merasa harapannya mulai terwujud. Ia pun menjelaskan maksud dan tujuannya. Kemudian, kedua burung garuda itu mengepakkan sayapnya yang besar. Anak muda itu duduk di antara sayap burung garuda, lalu mereka membawanya terbang jauh sekali, hingga akhirnya tiba di sebuah hutan yang dipenuhi pohon kawung.

Ternyata yang datang adalah dua ekor burung garuda dewasa yang baru saja kembali setelah mencari makanan untuk anak-anaknya. Ketika melihat bangkai ular dan anak muda yang telah membunuhnya, induk burung garuda berbicara kepadanya,

"Anak yang baik, setiap tahun anak-anak saya selalu dimangsa oleh ular itu. Tapi sekarang, berkatmu, mereka bisa selamat. Saya sangat berterima kasih karena kamu telah membunuh ular ini. Sebagai balasannya, apa yang kamu inginkan? Saya akan membantumu, dan kedua anak saya bisa kamu bawa untuk menjadi pengawalmu."

Mendengar hal itu, anak muda tersebut merasa sangat gembira, seolah harapannya mulai terwujud. Ia pun segera menjelaskan maksud dan tujuannya. Kemudian, kedua burung garuda mengepakkan sayapnya yang besar. Anak muda itu duduk di antara sayap burung garuda, lalu mereka membawanya terbang jauh sekali hingga akhirnya tiba di sebuah hutan yang dipenuhi dengan pohon kawung yang tumbuh rapat.

Di tengah tempat itu terdapat enam buah umit yang penuh dengan air. Pada saat itu, para jin yang bertugas menjaga tempat tersebut—berjumlah seribu jin—sedang tertidur lelap. Mereka berjaga agar tidak ada siapa pun yang bisa masuk ke sana.

Namun, burung garuda yang membawa anak muda itu tetap terbang menuju tempat tersebut. Sesampainya di sana, anak muda itu turun dari sayap burung garuda, lalu mengambil keenam umit tersebut. Ia menumpahkan air dari dalamnya dan membungkus burung kakatua yang ada di sana. Setelah itu, ia kembali naik ke punggung burung garuda dan segera terbang pergi.

Saat anak muda itu telah terbang tinggi, para jin yang bertugas menjaga tempat itu pun terbangun. Mereka tersadar bahwa sesuatu telah dicuri dan segera mencari pelakunya. Para jin menjadi sangat panik, menangis, dan berteriak-teriak karena kehilangan barang yang mereka jaga. Ada lagi kesulitan saya yang pasti harus memberi tahu dan meminta tolong kepadanya pribadi dan kepada anak-anak.

Tadinya anak-anak itu pulang sendiri, pergi saja, sampai tiba di dekat gedung tempat peramal itu, lalu dia melihat dan berbicara dengan burung kakak tua yang ada di dekat pantai, terlihat oleh peramal itu, kemudian dia mendekati anak-anak tersebut dan berkata: "Anak saya yang paling muda, lucu sekali itu kakak tua, dari mana dia punya burung kakak tua itu, hanya untuk saya!"

Anak itu menjawab: "Tidak akan saya berikan burung kakak tua ini, ini adalah sayang saya, sudah lebih dari setahun saya pelihara." Peramal itu berkata: "Jika memang itu milik Anda, tidak dimengerti sekali datang ke sini dan tidak dipermudah! Apakah Anda berniat untuk menjualnya?"

Anak itu menjawab: "Tuan, burung kakak tua ini tidak akan saya jual!" Peramal itu tampak sangat kesal dan bingung, terlihat sangat susah berbicara, silakan ambil barang apapun yang Anda inginkan, supaya burung kakak tua itu diberikan! Anak itu menjawab: "Sekarang permintaan saya, itu tujuh putra raja yang Anda jadikan sebagai tanaman itu, sekarang saya ingin mereka hidup kembali!"

Peramal itu berkata: "Permintaan Anda sangat mudah, berikan saja sekarang burung kakak tua itu!" Setelah itu, burung kakak tua itu diberikan kepada anak tersebut, bersama dengan keluarga dan saudara-saudaranya yang diberi kehidupan. Peramal itu, dengan wajah kesal, berkata lagi: "Berikan burung kakak tua itu kepada saya!"

Anak itu menjawab: "Jangan terlalu gaduh, keinginan saya adalah semua yang terkait dengan Anda harus hidup, sekarang harus dihidupkan semua!" Dari situ, anak itu pun menoleh, sambil berkata: "Berikan burung kakak tua itu kepada saya!" Tiba-tiba di kebun terdengar gemuruh, yang sebelumnya hanya batu-batu dan tanaman, sekarang ada raja, ada pembesar.

Dengan para penjaga, kuda, peralatan, dan berbagai teman-temannya. Kemudian peramal itu berteriak: "Berikan burung kakak tua saya!" Lalu anak itu mengambil burung kakak tua, yang sayap sebelahnya jatuh. Tiba-tiba, tangan kiri peramal itu terlepas dari tubuhnya.

Dia kembali berteriak dengan tangan kanan, "Berikan burung kakak tua saya!" Anak itu menarik sayap burung kakak tua yang sebelah kanan, dan tangan kanan peramal itu pun terlepas. Peramal itu kembali berteriak, "Berikan burung kakak tua saya!"

Anak itu kemudian menarik kaki burung kakak tua yang sebelah kiri, sehingga hanya tersisa kepala burung kakak tua itu, bersama dengan peramal itu. Namun, peramal itu masih saja menatap tajam dan berteriak meminta burung kakak tua tersebut. Kemudian anak itu berkata: "Nah, ini burung kakak tua milikmu!"

Sambil menganggukkan kepala dengan hormat, para tetua menyerahkan sesuatu kepada dukun. Namun, seketika itu juga, dukun tersebut langsung menangis keras lalu meninggal. Setelah itu, bola yang berada di dalam gedung dikeluarkan, dan mereka pun kembali ke negeri mereka bersama ibu, ayah, serta para paman mereka.

Dari sana, sang putri dan suaminya, serta enam orang pangeran lainnya, kembali dengan membawa pasukan pengawal dalam jumlah besar. Para raja dan para patih yang sebelumnya terkena sihir juga ikut serta, semuanya berniat mencari penyembuhan. Mereka merasa bahwa sang putri yang dulu telah berubah wujud, kini kembali seperti semula. Oleh karena itu, mereka semua bersedia mengabdi.

Mereka pun berangkat pulang dari tanah para dukun, membawa banyak harta benda. Para raja yang kembali berbaris dengan gagah, panji-panji mereka berkibar megah, bendera mereka berkedip-kedip ditiup angin. Sementara itu, pemimpin pasukan mereka tidak lain adalah putra dan putri dari sang putri yang kembali tersebut.

Ketika mereka tiba di kerajaan, keenam pangeran mulai goyah dalam menentukan siapa yang akan menjadi raja bersama istri mereka masing-masing. Setelah itu, perdebatan panjang pun terjadi. Ada yang mengusulkan agar Raja Eun diangkat menjadi raja. Sebagian lagi mengusulkan agar semua anak raja yang berjumlah tujuh itu dijadikan raja.

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Putri Balna saja yang dijadikan raja, karena dialah yang berhasil keluar dari pengaruh sihir. Sebagian lainnya mengusulkan agar Putra Balna yang menjadi raja, sebab dialah yang berhasil mendapatkan jimat dari dukun tua.

Perdebatan berlangsung hampir tiga bulan tanpa ada keputusan. Akhirnya, mereka sepakat bahwa pemilihan raja harus dilakukan dengan cara diundi. Siapa pun yang terpilih harus bersedia menjadi raja dan memimpin kerajaan dengan bijaksana, tanpa rasa iri dan dengki.

Setelah undian dilakukan, tiba-tiba yang terpilih adalah anak dari Nyi Putri Balna. Seketika terdengar suara tembakan senapan sebagai tanda kemenangan, diikuti dengan sorak sorai kegembiraan. Mahkota pun langsung dikenakan, dan anak itu resmi diangkat menjadi raja.

Diceritakan bahwa pemerintahan raja baru ini berjalan dengan baik dan tertib. Ia mampu memenangkan hati rakyat, serta membuat para orang tua dan sesepuh merasa tenteram. Saat mereka tiba di negeri mereka, suasana penuh dengan persiapan dan penyambutan.

Raja yang baru memerintah dengan bijaksana, membuat hati para bangsawan senang, serta ayah dan para pamannya dihormati sebagai penasihat utama. Sementara itu, diceritakan kembali tentang raja, ayah dari Putri Balna. Sejak ia membuang anak-anaknya ke hutan, ia tidak pernah berhenti menangis. Kesedihannya begitu dalam hingga penglihatannya mulai kabur. Ia pun tak lagi mengurus kerajaan.

Harta kekayaan kerajaan habis dikuras oleh istrinya dan anak dari patih yang menjadi panglima. Kerajaan jatuh miskin, dan rakyatnya tak lagi menghormatinya. Sang raja tidak lagi dipatuhi, bahkan oleh para pengikutnya sendiri. Istrinya tidak lagi menghormatinya sebagai seorang suami, memperlakukannya sesuka hati, tanpa ada yang bisa mencegahnya. Tidak ada lagi aturan yang membimbing pada kebaikan, justru semakin banyak kejahatan dan keburukan.

Kerajaan semakin kacau, banyak terjadi perampokan dan pencurian. Ladang dan sawah tidak lagi menghasilkan panen yang baik, hingga akhirnya rakyat pun mengalami kelaparan. Keadaan semakin memburuk, pemberontakan terjadi di mana-mana, dan banyak rakyat yang sengsara serta kehilangan harapan.

Diceritakan bahwa di suatu tempat, ada sebuah kerajaan yang lebih makmur dan sejahtera. Kerajaannya sangat kaya, berlimpah hasil panen, serta dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana. Banyak orang dari berbagai penjuru datang ke sana untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Mendengar hal itu, sang raja bersama istrinya dan putra panglima mereka memutuskan untuk pergi mengadu nasib di sana. Namun, mereka tidak memiliki harta sedikit pun, bahkan uang sepeser pun tidak mereka miliki. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa malam, akhirnya mereka tiba di perbatasan Kerajaan Balna.

Sang raja terkejut ketika melihat papan pengumuman di perbatasan yang berisi peraturan kerajaan. Tulisan itu berbunyi: "Inilah Kerajaan Balna, negeri yang terang benderang bagai cahaya matahari, tempat hukum ditegakkan dengan adil, tatanan yang tertata rapi, pemimpin yang bijaksana, perlindungan yang luas bagai payung, serta kekuatan yang tajam bagai pedang."

"Mengapa ada kerajaan yang memiliki nama yang sama dengan anakku?" pikir sang raja dengan penuh heran. Ia pun bertanya kepada seorang kakek tua yang ditemuinya di sana, "Kakek, kenapa kerajaan ini dinamakan Kerajaan Balna?" Sang kakek menjawab, "Saya tidak tahu pasti, tetapi menurut kabar yang beredar, kerajaan ini baru saja berdiri.

Dulunya tempat ini adalah negeri yang sudah tua dan hampir runtuh. Sekarang dipimpin oleh seorang raja yang masih sangat muda tetapi cerdas. Konon, raja muda itu adalah putra dan putri dari Balna, itulah sebabnya kerajaan ini diberi nama Kerajaan Balna!"

Mendengar penjelasan tersebut, raja tua itu langsung terdiam, hatinya bergetar, dan air matanya mulai mengalir deras. Ia tidak dapat menahan kesedihan yang meluap dalam dirinya. Namun, berbeda dengan istrinya—wajahnya langsung pucat pasi, tubuhnya gemetar ketakutan, dan ia bersikeras mengajak suaminya untuk segera kembali.

Saat mereka hendak kembali, para penjaga gerbang kerajaan tiba-tiba menghentikan mereka. Mereka tidak diperbolehkan keluar karena sudah ada peraturan kerajaan yang menyatakan bahwa siapa pun yang telah memasuki wilayah ini dengan niat mengadu nasib harus tetap tinggal dan menghadap penguasa.

Sesuai peraturan kerajaan, mereka yang datang ke negeri ini akan diberikan makanan, dan memang sudah tersedia beras dalam karung-karung di gudang. Namun, raja tua itu tidak diperbolehkan pergi begitu saja. Ia dipaksa untuk menghadap sang raja, meskipun oleh para pengawal, ia tidak dikenali sebagai seorang raja. Mereka hanya mengira dia sebagai kakek tua biasa dari desa.

Sementara itu, di dalam istana, raja muda tengah berkumpul bersama para keluarga kerajaan, termasuk ibu, ayah, dan para saudara mereka. Mereka semua duduk di istana dalam suasana yang penuh kebersamaan. Tiba-tiba, para penjaga gerbang masuk ke dalam membawa seorang kakek dan nenek yang datang untuk meminta bantuan. Begitu melihat mereka, Putri Balna dan saudara-saudaranya langsung mengenali ayah mereka.

Tanpa ragu, mereka berlari menghampiri dan memeluk ayah mereka sambil menangis tersedu-sedu. Tangisan haru pun menggema di seluruh ruangan, seakan hujan air mata turun saat itu. Setelah tangisan mereda, keluarga kerajaan mulai membantu mereka. Ada yang membawa mereka ke tempat lebih nyaman, ada yang menggantikan pakaian mereka dengan yang lebih layak dan bersih, serta ada yang menyiapkan hidangan untuk disantap bersama.

Saat itu, sang raja muda merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Hatinya penuh dengan sukacita melihat keluarganya kembali bersatu. Sementara itu, istri raja tua, yaitu ibu tiri dari Putri Balna, saat itu hatinya penuh dengan kegelisahan. Ia merasa takut luar biasa, lebih takut daripada kematian itu sendiri. Jiwanya terguncang, pikirannya dipenuhi ketakutan akan hukuman yang mungkin akan ia terima atas semua perbuatannya di masa lalu.

Namun, Putri Balna dan saudara-saudaranya sama sekali tidak berniat membalas dendam. Mereka memilih untuk memaafkan karena merasa kasihan terhadap ayah mereka yang sudah menanggung banyak penderitaan. Raja tua pun diberikan tempat tinggal di sebuah istana besar dan mewah.

Makanan dan kebutuhannya selalu dipenuhi dengan baik. Namun, berbeda dengan istri raja yang dulu kejam dan penuh tipu muslihat, semakin lama, semakin besar rasa malunya. Akhirnya, ia jatuh sakit dan meninggal begitu saja. Sementara itu, anaknya yang dulu berambisi menjadi penguasa, kini hanya menjadi gelandangan di pasar, hidup tanpa kehormatan.

Pesan dari kisah ini: Orang yang dipenuhi rasa dengki pada akhirnya akan mengalami penderitaan, meskipun awalnya mereka mungkin merasakan kebahagiaan. Orang yang cerdas dan jujur pada akhirnya akan meraih kebahagiaan, meskipun di awal harus melewati berbagai penderitaan.

Warnasari
 ← Cerita ketiga Cerita keempat