Lompat ke isi

Wastra Indonesia/Kain Sasirangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sejarah Singkat

[sunting]

Kain Sasirangan berasal dari Kalimantan Selatan dan merupakan bagian dari budaya suku Banjar. Nama Sasirangan itu sendiri diambil dari kata “menyirang”, yang memiliki arti menjulur. Pada saat pengerjaan kain Sasirangan dilakukan dengan cara menjelujur lalu diikat dengan tali rafia kemudian di celup. Motif kain Sasirangan diantaranya kulat kariki, hiris pundak, gigi haruan, naga belimbur, bayam raja bintang bahambur, tampuk manggis, kambang sakiki, daun jeruju, ular lidi, turum dayang, hiris gagatas, maupun ombak sinampur jarang. Sejak zaman dahulu motif ini telah digunakan dan menjadi bagian dari pakaian adat serta perlengkapan seremonial. Pada masa lampau, kain Sasirangan umumnya dikenakan oleh kalangan bangsawan dan juga tokoh masyarakat dalam berbagai upacara adat. Namun seiring berjalannya waktu, kain ini mulai digunakan lebih luas oleh masyarakat umum dan kini menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan keberlangsungannya.Sebagian masyarakat masih percaya akan kekuatan kain Sasirangan, terutama masyarakat yang memiliki darah keturunan Kerajaaan Banjar lama.

Filosofis Kain Sasirangan

[sunting]
Kain Sasirangan

Berbentuk seperti motif garis yang tersusun vertikal menjadi ciri khas kain Sasirangan. Motif kain Sasirangan beragam seperti motif geometris, flora dan fauna. Warna yang digunakan biasanya adalah kombinasi warna cerah dan kontras seperti merah, kuning, hijau, coklat dan biru. Keunikan motif kain Sasirangan berbeda dari kain tradisional lainnya di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain Sasirangan umumnya berasal dari serat alami seperti kapas atau sutra, yang kemudian ditenun dengan teknik khusus untuk menghasilkan motif geometrisnya yang khas.

Kain Sasirangan

Makna filosofis kain Sasirangan memiliki berbagai motif dengan makna filosofis mendalam. Misalnya, motif ombak sinapur karang melambangkan keteguhan hati, sementara motif hiris pundak menggambarkan kesucian. Warna-warna yang digunakan juga arti tersendiri, seperti hijau yang melambangkan kesuburan dan kehidupan.(1)

Fungsi kain Sasirangan

[sunting]

Kain Sasirangan memilik fungsi dalam kehidupan masyarakat suku Banjar, baik dalam aspek adat maupun kehidupan sehari-hari seperti digunakan dalam upacara pernikahan, ritual keagamaan, dan acara adat lainnya. Kain Sasirangan juga dijadikan taplak meja, hiasan dinding atau perlengkapan rumah tangga lainnya. Selain itu kain Sasirangan juga sebagai simbol kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Saat ini kain Sasirangan juga diadaptasi dalam desain busana modern, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat luas. Terutama generasi muda.

Untuk mempertahankan eksistensi kain Sasirangan di tengah modernisasi, berbagai upaya telah dilakukan, seperti mendorong generasi muda untuk mempelajari teknik pembuatannya, mengenalkan kain Sasirangan ke pasar yang lebih luas melalui pameran dan media digital serta memadukan motif tradisional dengan tren fashion modern agar lebih menarik bagi masyarakat masa kini.(2) Dengan adanya upaya pelestarian ini, diharapkan kain Sasirangan dapat terus dikenal dan digunakan oleh generasi mendatang, sehingga warisan budaya Kalimantan Selatan tetap terjaga.

Referensi

[sunting]

https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/kain-sasirangan/ diakses pada 10 Februari 2025 13.50

https://syamsudinnoor-airport.co.id/id/promo-rekomendasi/index/pancarkan-pesona-budaya-kalsel-dalam-balutan-kain-sasirangan diakses pada 10 Februari 2025 15.45