Lompat ke isi

Wastra Indonesia/Kain Tapis

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Kain Tapis merupakan warisan budaya masyarakat Lampung yang memiliki nilai estetika, simbolis, dan fungsional. Kain ini dibuat dengan teknik sulam benang emas atau perak di atas kain tenun dasar yang umumnya berwarna gelap. Selain berfungsi sebagai busana tradisional, kain Tapis juga memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Lampung. [1]

Jenis-Jenis Kain Tapis

[sunting]
Woman's sarong (tapis) from Sumatra, Indonesia, early 20th century II, HAA

Jenis kain Tapis sangat beragam dan penggunaannya disesuaikan dengan acara adat serta status sosial pemakainya. Dalam upacara perkawinan, beberapa jenis kain yang sering digunakan adalah Tapis Jung Sarat, yang dikenakan oleh pengantin wanita dan keluarga perempuan pengantin. Tapis Raja Tunggal dan Tapis Raja Medal dipakai oleh istri kerabat tertua dalam acara perkawinan dan pengambilan gelar adat. Selain itu, ada Tapis Laut Andak, Tapis Balak, dan Tapis Laut Linau, yang biasa dipakai oleh gadis penari (muli cangget) serta perempuan dari keluarga pengantin dalam acara adat. Sementara itu, Tapis Silung, Tapis Pucuk Rebung, Tapis Cucuk Andak, dan Tapis Cucuk Pinggir dikenakan oleh perempuan dari keluarga adat dalam berbagai ritual adat.[2]

Jenis kain Tapis juga mencerminkan status sosial seseorang dalam masyarakat adat. Tapis Tuho, Tapis Agheng, dan Tapis Inuh biasanya dikenakan oleh istri pemimpin adat. Sedangkan Tapis Dewosano, Tapis Kaca, Tapis Bintang, dan Tapis Bidak Cukkil digunakan dalam upacara perkawinan serta acara adat lainnya.

Makna Simbolis Kain Tapis

[sunting]

Secara simbolis, motif pada kain Tapis erat kaitannya dengan lingkungan dan filosofi kehidupan masyarakat Lampung. Salah satu motif yang paling khas adalah kapal, yang melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Kapal juga dianggap sebagai kendaraan roh menuju alam baka, sehingga sering digunakan dalam ritual keagamaan dan penghormatan kepada leluhur. Selain kapal, motif lain seperti pucuk rebung, bintang, dan flora-fauna juga memiliki makna mendalam yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan kehidupan.

Selain sebagai simbol perjalanan hidup, kain Tapis juga merepresentasikan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat Lampung menganggap kain Tapis bukan sekadar pakaian, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mengandung pesan moral dan spiritual. Oleh karena itu, setiap motif yang ada dalam kain Tapis memiliki filosofi yang mencerminkan kehidupan masyarakat Lampung, baik yang berasal dari kelompok Lampung Pesisir (Saibatin) maupun Lampung Pepadun.

Fungsi dan Penggunaan Kain Tapis

[sunting]
Black and red tapis

Kain Tapis memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Lampung, terutama dalam upacara adat seperti pernikahan, khitanan, dan pemberian gelar adat. Sebagai pakaian tradisional, kain ini tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga mencerminkan status sosial pemakainya. Selain itu, kain Tapis juga sering dijadikan mas kawin, hadiah dalam pernikahan, serta dekorasi untuk memperindah tempat berlangsungnya acara adat.

Selain sebagai simbol identitas budaya, kain Tapis digunakan dalam berbagai aktivitas adat yang memperkuat nilai-nilai kearifan lokal. Dalam tarian tradisional, kain ini menjadi busana utama para penari yang menggambarkan keanggunan perempuan Lampung. Beberapa jenis Tapis juga difungsikan sebagai alas kepala, pembungkus makanan, sapu tangan pengantin, serta penutup punggung mempelai. Keberadaannya yang terus dilestarikan menjadikan kain Tapis bukan hanya bagian dari pakaian adat, tetapi juga warisan budaya yang memperkaya tradisi masyarakat Lampung dan memperkenalkannya ke generasi mendatang.

Referensi

[sunting]
  1. Harja, J. (2018). PERANCANGAN TYPEFACE TAPIS TERINSPIRASI DARI KAIN TAPIS LAMPUNG. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Retrieved from https://digilib.isi.ac.id/4160/6/Jurnal_Juvicho%20Harja_1112127024.pdf.
  2. Dahlan, M. Halwi and et al. (2012). Tapis: kain tradisional masyarakat Lampung. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung, Bandung. https://repositori.kemdikbud.go.id/29859/.