Lompat ke isi

Wastra Indonesia/Sarung Samarinda

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sejarah dan Asal Usul

[sunting]
Huizen te Samarinda oleh KITLV 115442, Wikimedia Commons | CC BY-SA 4.0

Sarung Samarinda adalah salah satu produk khas yang paling dikenal dari Kota samarida, ibukota Kalimantan Timur. Di masanya produk ini bukan saja menjadi khazanah lokal tapi juga bagian dari produk antar wilayah yang cukup terkenal bahkan dalam perdagangan antar bangsa. Sarung Samarinda merupakan produk yang dihasilkan oleh perantau atau diaspora Bugis yang berasal dari Sulawesi Selatan. Dan sejak lama keterampilan bertenun adalah salah satu sumber penghasilan utama orang Bugis.[1] Keterampilan ini kemudian di bawa sebagai modal sosial dan salah satu sumber ekonomi bagi perantau Bugis ke salah satu bagian wilayah kerajaan Kutai kartanegara yang menjadi cikal bakal Kota samarinda.[2]

Pengrajin dan Proses Pembuatan

[sunting]
Samarinda sarong oleh Franco Pecchio, Wikimedia Commons | CC BY-SA 2.0

Sarung samarinda awalnya dibuat oleh diaspora bugis yang berasal dari Wajo. Berpusat di kelurahan Baqa, Kecamatan samarinda Seberang. Menurut data BPS saat ini hanya tercatat sekitar 30 orang yang aktif sebagai pengrajin sarung tenun Samarinda. Menurun jauh dari tahun - tahun sebelumnya yang mencapai 100 pengrajin. Menurunnya jumlah pengrajin disebabkan beberapa faktor seperti sulitnya mendapatkan bahan baku berupa benang impor dari Cina. Prospek usaha yang menurun karena munculnya sarung - sarung imitasi murah yang berasal dari Gresik. Untuk bahan baku sendiri, Sarung Samarinda menggunakan benang jenis sutera alam dan sutera impor yang disebut spoon silk. Sarung samarinda dibuat menggunakan alat tenun yang masih sederhana. Alat yang digunakan disebut gedogan termasuk ATBM atau alat tenun bukan mesin. Alat ini terbuat dari kayu yang murni digerakkan secara manual tanpa mesin. Sepenuhnya menggunakan energi manusia tanpa listrik dan bahan bakar fosil lainnya.

Sarung samarinda dibuat menggunakan alat tenun yang masih sederhana. Alat yang digunakan disebut gedogan termasuk ATBM atau alat tenun bukan mesin. Alat ini terbuat dari kayu yang murni digerakkan secara manual tanpa mesin. Sepenuhnya menggunakan energi manusia tanpa listrik dan bahan bakar fosil lainnya.

Sebelum ditenun untuk dibuat menjadi kain sarung. Pada tahap awal dilakukan proses pengolahan serat sutera yang terdiri dari tiga tahap yaitu pemasakan (degumming), pemutihan (bleaching) dan pencelupan (pewarnaan). Setelah bahan baku dinyatakan siap barulah proses pembuatan kain dimulai oleh pengrajin.

Ragam Corak dan motif

[sunting]
Kolase Sarung samarinda, oleh Abieomar, Wikimedia Commons | CC BY-SA 4.0

Secara Umum sarung Samarinda memiliki pola dasar kotak-kotak sebagai pakemnya, baik besar maupun kecil. sarung memiliki bagian watang (tubuh) dan kapalanna (tumpal). Walaupun pada perkembagannya motif maupun corak mengalami modifikasi dengan memasukkan unsur Kutai dan dayak. Tapi secara umum tetap mempertahankan pakem dari leluhur yang merupakan warisan turun menurun.

Beberapa jenis corak diantaranya, Anyam Palupuh disebut juga dengan corak Tabba, corak Assepulu Bolong, corak Coka Manippi, corak Rawa-Rawa Masak, corak Garanso, corak Burica, corak Siparape, corak Balo Kudara, corak So'bi, corak Pucuk, corak Billa Takkajo, Corak Bolo Triolo, Corak Sari Pengantin, Corak Kammumu (Hatta). Kemudian pada perkembangannya ada juga corak Kutai dan Dayak.[3]

Sarung samarinda oleh Sabjan Badio, Wikimedia Commons | CC BY-SA 4.0

Nilai dan Budaya

[sunting]

Sarung Samarinda adalah produk budaya yang memiliki nilai sakral dalam tradisi masyarakat Bugis. Dibuat oleh masyarakat asli kalimantan yang awalnya diaspora yang menetap di sisi Sungai Mahakam.Berasimilasi dan kemudian menjadi bagian dari masyarakat Samarinda.

Dahulunya Sarung Samarinda untuk motif-motif tertentu di gunakan eksklusif dikalangan bangsawan ditempat asalnya, atau perlengkapan adat yang digunakan pada ritual acara tertentu seperti acara pernikahan, naik ayun, bahkan ritual kematian. Tapi saat ini secara umum telah menjadi pakaian harian maupun perlengkapan ibadah. Sarung Samarinda saat ini menjadi identitas dan entitas budaya Samarinda. Dan bagian dari khazanah budaya nusantara.[4]

Referensi

[sunting]
  1. Christian Pelras (2016).Manusia Bugis.Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris., EFEO.
  2. Moh. Nur Ars dan Tim (1986). Sejarah kota Samarinda.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Sejarah dan Nilai tradisional
  3. Neni Puji Nur Rahmawati, S.Si. (2010). Sarung Tenun Samarinda. Jakarta: Direktorat Tradisi, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. https://repositori.kemdikbud.go.id/27424/
  4. DR. Priyanti Gunardi, Sarung Samarinda 2 : Sejarah Sarung Samarinda Bugis, https://www.suryadinlaoddang.com/2018/02/sarung-samarinda-2-sejarah-sarung.html (diakses pada tanggal 10 Februari 2025)