Wastra Indonesia/Tenun Troso Jepara
Sejarah Singkat
[sunting]
Jepara selain terkenal dengan seni ukir, ternyata juga memiliki kekayaan budaya berupa wastra kerajinan tenun. Kain Tenun Troso adalah warisan wastra tradisional Indonesia khas Jepara Jawa Tengah. Sejarah perkembangan Tenun Troso ini dibagi dalam beberapa fase, meliputi masa Mataram Islam, masa awal 1935-1970 dan era modern 2010-sekarang. Kerajinan Tenun Troso telah ada dan berkembang sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Berbagai referensi sejarah mengatakan bahwa kain ini pertama kali digunakan oleh Ki Senu dan Nyi Senu ketika bertemu tokoh ulama besar Mbah Datuk Guanardi Singorejo di Desa Troso [1], [2]. Pada masa berikutnya, masyarakat mulai mengenal kain tenun ini sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1935 dengan teknik tenun gedok yang masih sederhana. Kemudian, pada tahun 1943 muncul teknik tenun Pancal yang lebih maju [3]. Pada saat ini, kebanyakan masyarakat Troso masih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk mempercepat produksi dan menghasilkan berbagai variasi desain [4]. Kain Tenun Troso telah mengalami pasang-surut dalam sejarahnya, dikarenakan pengaruh berbagai faktor ekonomi dan sosial. Pada era 1970-1998, industri ini mengalami stagnasi karena inflasi yang mendorong naiknya harga bahan dan penurunan permintaan pasar. Industri kerajinan ini juga semakin terpuruk karena dampak krisis moneter tahun 1998. Mulai tahun 2010-an hingga hari ini, wastra asli Indonesia khas Jepara ini berkembang pesat seiring dengan semakin banyak berdirinya unit-unit usaha dan pelaku kreasi tenun baru dan ditunjang oleh inovasi motif dan warnanya [5]. Dengan berbagai inovasi dan kreativitas masyarakat Troso, kain tenun ini masih eksis dan menjadi salah satu identitas budaya Indonesia.
Tenun Troso Kearifan Lokal Khas Jepara
[sunting]
Tenun Troso merupakan teknik tenun gedok dan kemudian dalam kurun waktu yang cukup panjang, berkembang menjadi tenun ikat. Teknin ini oleh masyarakat Jepara dan sekitarnya lebih dikenal dengan sebutan Tenun Troso. Keunikan tenun Troso ini salah satunya adalah dalam hal pembuatannya. Pembuatan Tenun Troso ini masih menggunakan cara tradisional atau bukan menggunakan mesin. Motif-motif yang muncul pada Kain Troso mayoritas adalah motif geometris, motif non geometris (flora, fauna, dan makhluk hidup), dan kontemporer termasuk motif abstrak. Asal usul motif ini berkaitan dengan desa Troso yang dulunya dikenal dengan kota pelabuhan Kerajaan Mataram, maka pengaruh dan keragaman motif dari berbagai daerah di Nusantara pun turut andil [6].
Ciri khas visual tenun Troso ada pada motif-motif kainnya. Motif-motif tersebut merupakan pengaplikasian motif daerah di Indonesia bagian Timur. Hal tersebut dapat terjadi karena dahulu banyak masyarakat Troso yang merantau ke Bali dan kemudian pulang ke Desa Troso dengan membawa kain tenun motif khas Bali dan daerah-daerah di sekitarnya. Kemudian motif-motif tersebut oleh para pengrajin tenun dimodifikasi dan diterapkan pada kain tenun [7], [8]. Salah satu motif asli yang kemudian dijadikan identitas Tenun Troso adalah motif Nagasari. Nama Nagasari diambil dari nama makam sesepuh Desa Troso yaitu Nyi Senu dan Ki Senu.
Referensi
[sunting]- ↑ Triyono, J. (2021). Strategi Pengembangan Desa Wisata Tenun Ikat Troso Di Jepara, Jawa Tengah. Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah,14(2), 84-92
- ↑ Maghfuroh, A. (2021). Analisis Pengembangan Produk Tenun Ikat Troso Melalui Konsep Halal Fashion (Studi pada Produsen Tenun Cendana di Jepara), (Doctoral dissertation, IAIN Kudus).
- ↑ Muttaqiin, M. (2022).Rekonstruksi Strategi Pemasaran Kain Tenun Troso Dalam Meningkatkan Penjualan Di Era New Normal (Studi Kain Troso Pecangaan Jepara), (Doctoral dissertation, IAIN Kudus).
- ↑ Putri, L. N., & Syafii, S. (2024). Motif Kerajinan Tenun Troso Sebagai Ide Penciptaan Karya Gambar Dekoratif Dalam Pembelajaran Seni Rupa Bagi Siswa SMP Negeri 2 Pecangaan Jepara. Eduarts: Jurnal Pendidikan Seni, 13(3), 52-67.
- ↑ Alamsyah, A. (2014). Dinamika Perkembangan Industri Kerajinan Tenun Troso di Jepara. HUMANIKA, 20(2), 24-36.
- ↑ Labib, S. (2018). Studi Tentang Batik Motif Aksara Karya Titik Susanti di Bandengan Jepara, (Doctoral dissertation, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Surakarta).
- ↑ Azkiyyah, M. (2019). Perancangan Visual Book Sejarah dan Motif Hias Tenun Troso Jepara, (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta).
- ↑ , Maulidiyah, N. L., & Syafii, S. (2023). Motif Khas Tenun Ikat Troso Sebagai Sumber Pembelajaran Muatan Lokal Seni Rupa SMP di Kabupaten Jepara. Eduarts: Jurnal Pendidikan Seni, 12(1), 70-83.