Lompat ke isi

Wawacan Wulang Tani/Pupuh Asmarandana (2)

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
VII
Pupuh Asmarandana


  1. Nasihat dari petani, untuk sanak saudara, hendaknya semua rajin, menanam tanaman buah-buahan, supaya panjang ingatan, mengingat kesejahteraan cucu, agar tidak menderita.
  2. Hendaknya tajamkan hati, seperti kita saat ini, menikmati peninggalan orang tua, berupa buah-buahan, atau gula dari aren, peninggalan para leluhur, kini tinggal dinikmati.
  3. Bila kita tidak ingat, pada tanaman, nanti cucu mungkin hanya duduk-duduk, masak wajik tanpa gula, bila kurang ingatan, sekarang tidak menanam aren, tentu begitu akibatnya.
  4. Jangan terlalu dipikirkan, sebab lama terbuktinya. Sebab terasa pendek kalau hanya dipikirkan lelahnya saja. Harus sabar, hasilnya sudah tampak, untungnya terus sepanjang waktu.
  5. bukan urusan modal lagi, setiap tahun memetik buah, tinggal memetik untungannya. Mari bersabar, jika lahannya luas, sekitar sebau, tanam saja pepohonan.
  6. Jeruk paséh, jeruk bali, mangga cengkir budidayakan. Disusun yang rapi, supaya masing-masing sama jaraknya, agar hasil buahnya bagus. Contohnya yang sudah ada di Garut, masing-masing jaraknya setombak setengah.
  7. asilnya yang sudah terbukti, dicoba oleh yang sudah menanam, sepohon jeruk paséh, dapat delapan rupiah, tapi ambil yang kecilnya, paling sedikit tiga rupiah, tidak kurang.
  8. Mungkin bisa jadi kaya, bila banyak pepohonannya. Dalam lahan sebau, bisa muat dua ratus pohon. Kali tiga rupiah, per pohon jeruk, dengan jumlah dua ratus pohon.
  9. Totalnya enam ratus rupiah. Segitu harga paling sedikit. Sudah jelas untung besar. Makanya harus rajin menanam, semua tanaman. Tiap tahun, tanam enam-tujuh pohon.
  10. Untuk di distrik-distrik, bagus saat senja, teduh oleh kelapa dan pinang, pohon durian, pohon nangka, pohon bambu di belakang rumah, jangan kosong menanam aren, sebab bagus dinaungi pepohonan.
  11. Dan perbanyak pohon kopi, di bawah pepohonan besar. Jangan ada lahan yang terlantar. Dan harus dibuat lubang, untuk menampung sampah, kumpulkan nanti untuk pupuk, bila sampahnya sudah busuk.
  12. Pepohonan yang rapuh, harus dipupuk lembahnya, dan juga menurut ahli, harus bersih lingkungan desa, sebab menjadi penghalang, dari penyakit radang dan kudis, agar kolera tidak datang.
  13. Sering juga ada penyakit, karena lingkungan desa kotor, halaman lengket dan becek, hawanya masuk ke rumah, jadi penyebab penyakit, makanya yang harus diurus, kumpulkan sampah dan buang.
  14. Pinggir desa dibuat parit, untuk pembuangan air hujan, supaya tanah tidak becek, tentu akan makin nyaman, bila kampung ditata, dan harus menanam pohon waru, untuk menghadapi kesulitan.
  15. Bila tidak hati-hati, tentu diri akan ditimpa kesusahan, susah untuk makan, mencari kayu bakar sudah jarang, apalagi sudah dilarang, merusak kayu di gunung, sudah tampak jelas penderitaannya.
  16. Itu juga harus diingat, menanam pohon waru di pagar ladang, atau di lahan kosong, sebab gunung dilarang, dirusak kayunya, panjang ingatan para pemimpin, bersabar untuk masa depan.
  17. Seakan sudah terlihat, tentang maksudnya, oleh perhatian pemerintah, bila tidak dilarang, gunung tentu rusak, kayunya mungkin hancur, buktinya sudah terjadi.
  18. Pada zaman dahulu, banyak hutan bahkan ladang, sekarang semua gundul, andai tidak dilarang, tidak lama pun akan gundul, susah bagi anak cucu, tak akan bisa membuat rumah.
  19. Itu sebabnya harus ingat, menanam pohon waru jangan ditinggalkan, hitung-hitung untuk kayu bakar saja, malah basi jadi keuntungan. Bila menanam dengan serius, kayunya dijual ke warung, harganya bisa ditawar.
  20. Laku dua puluh duit, lima belas sen murahnya, menambah keuntungan juga. Dan supaya jangan menebang, pepohonan yang enak. Misal limus, nangka, serta durian. Itu mah yang dipanen buahnya.
  21. Ada sebuah dongeng, tentang seorang yang sengsara, setiap hari suka bermain, malas tak punya usaha, hanya meminta-minta, pada suatu waktu, ia bermain ke rumah seorang nahkoda.
  22. Si nahkoda mengerti, bahwa orang itu malas, setiap hari hanya bermain, tak punya kerjaan. Lalu oleh nahkoda, diberi biji duku, begini kata si nahkoda,
  23. Ini sekarang aku beri jimat biji duku. Segera tanam olehmu, nanti berbuah uang emas. Ini tanda tangan, kalau ucapan aku salah, pegang tanda tangan ini.
  24. Nanti serahkan padaku, bila sudah berbuah, seandainya ucapanku salah. Dari sana lalu diterima, oleh si orang miskin, dibawa pulang ke rumah, setelah sampai di rumahnya,
  25. meminjam cangkul dan linggis, biji duku lalu ditanam, sambil menanam mentimun. Diceritakan lama-kelamaan, pohon duku pun berbuah, tapi si miskin cemberut, dikiranya duku itu gagal,
  26. ucapan si nahkoda tak sesuai, tak berbuah uang emas, si miskin tetap saja, memetik buah duku dan dikarungi, langsung dibawa ke pasar, membawa lima-enam karung, dijual ke pedagang.
  27. Bertepatan dengan akhir musim, saat stok buah-buahan kosong, maka harganya jadi mahal harganya. Dibeli tunai saat itu juga. Dibayar dengan uang emas. Si miskin baru sadar. Percaya pada si nahkoda.
  28. Si miskin sudah menjadi kaya. Makin heran dalam pikirannya. Sudah terpikir oleh hati, orang yang menanam pepohonan, seakan menanam uang emas,malaur ngahurun balung, leuwih hadé pepelakan.