Wawacan Wulang Tani/Pupuh Asmarandana (2)
Tampilan
VII
Pupuh Asmarandana
Pupuh Asmarandana
- Nasihat dari petani, untuk sanak saudara, hendaknya semua rajin, menanam tanaman buah-buahan, supaya panjang ingatan, mengingat kesejahteraan cucu, agar tidak menderita.
- Hendaknya tajamkan hati, seperti kita saat ini, menikmati peninggalan orang tua, berupa buah-buahan, atau gula dari aren, peninggalan para leluhur, kini tinggal dinikmati.
- Bila kita tidak ingat, pada tanaman, nanti cucu mungkin hanya duduk-duduk, masak wajik tanpa gula, bila kurang ingatan, sekarang tidak menanam aren, tentu begitu akibatnya.
- Jangan terlalu dipikirkan, sebab lama terbuktinya. Sebab terasa pendek kalau hanya dipikirkan lelahnya saja. Harus sabar, hasilnya sudah tampak, untungnya terus sepanjang waktu.
- bukan urusan modal lagi, setiap tahun memetik buah, tinggal memetik untungannya. Mari bersabar, jika lahannya luas, sekitar sebau, tanam saja pepohonan.
- Jeruk paséh, jeruk bali, mangga cengkir budidayakan. Disusun yang rapi, supaya masing-masing sama jaraknya, agar hasil buahnya bagus. Contohnya yang sudah ada di Garut, masing-masing jaraknya setombak setengah.
- asilnya yang sudah terbukti, dicoba oleh yang sudah menanam, sepohon jeruk paséh, dapat delapan rupiah, tapi ambil yang kecilnya, paling sedikit tiga rupiah, tidak kurang.
- Mungkin bisa jadi kaya, bila banyak pepohonannya. Dalam lahan sebau, bisa muat dua ratus pohon. Kali tiga rupiah, per pohon jeruk, dengan jumlah dua ratus pohon.
- Totalnya enam ratus rupiah. Segitu harga paling sedikit. Sudah jelas untung besar. Makanya harus rajin menanam, semua tanaman. Tiap tahun, tanam enam-tujuh pohon.
- Untuk di distrik-distrik, bagus saat senja, teduh oleh kelapa dan pinang, pohon durian, pohon nangka, pohon bambu di belakang rumah, jangan kosong menanam aren, sebab bagus dinaungi pepohonan.
- Dan perbanyak pohon kopi, di bawah pepohonan besar. Jangan ada lahan yang terlantar. Dan harus dibuat lubang, untuk menampung sampah, kumpulkan nanti untuk pupuk, bila sampahnya sudah busuk.
- Pepohonan yang rapuh, harus dipupuk lembahnya, dan juga menurut ahli, harus bersih lingkungan desa, sebab menjadi penghalang, dari penyakit radang dan kudis, agar kolera tidak datang.
- Sering juga ada penyakit, karena lingkungan desa kotor, halaman lengket dan becek, hawanya masuk ke rumah, jadi penyebab penyakit, makanya yang harus diurus, kumpulkan sampah dan buang.
- Pinggir desa dibuat parit, untuk pembuangan air hujan, supaya tanah tidak becek, tentu akan makin nyaman, bila kampung ditata, dan harus menanam pohon waru, untuk menghadapi kesulitan.
- Bila tidak hati-hati, tentu diri akan ditimpa kesusahan, susah untuk makan, mencari kayu bakar sudah jarang, apalagi sudah dilarang, merusak kayu di gunung, sudah tampak jelas penderitaannya.
- Itu juga harus diingat, menanam pohon waru di pagar ladang, atau di lahan kosong, sebab gunung dilarang, dirusak kayunya, panjang ingatan para pemimpin, bersabar untuk masa depan.
- Seakan sudah terlihat, tentang maksudnya, oleh perhatian pemerintah, bila tidak dilarang, gunung tentu rusak, kayunya mungkin hancur, buktinya sudah terjadi.
- Pada zaman dahulu, banyak hutan bahkan ladang, sekarang semua gundul, andai tidak dilarang, tidak lama pun akan gundul, susah bagi anak cucu, tak akan bisa membuat rumah.
- Itu sebabnya harus ingat, menanam pohon waru jangan ditinggalkan, hitung-hitung untuk kayu bakar saja, malah basi jadi keuntungan. Bila menanam dengan serius, kayunya dijual ke warung, harganya bisa ditawar.
- Laku dua puluh duit, lima belas sen murahnya, menambah keuntungan juga. Dan supaya jangan menebang, pepohonan yang enak. Misal limus, nangka, serta durian. Itu mah yang dipanen buahnya.
- Ada sebuah dongeng, tentang seorang yang sengsara, setiap hari suka bermain, malas tak punya usaha, hanya meminta-minta, pada suatu waktu, ia bermain ke rumah seorang nahkoda.
- Si nahkoda mengerti, bahwa orang itu malas, setiap hari hanya bermain, tak punya kerjaan. Lalu oleh nahkoda, diberi biji duku, begini kata si nahkoda,
- Ini sekarang aku beri jimat biji duku. Segera tanam olehmu, nanti berbuah uang emas. Ini tanda tangan, kalau ucapan aku salah, pegang tanda tangan ini.
- Nanti serahkan padaku, bila sudah berbuah, seandainya ucapanku salah. Dari sana lalu diterima, oleh si orang miskin, dibawa pulang ke rumah, setelah sampai di rumahnya,
- meminjam cangkul dan linggis, biji duku lalu ditanam, sambil menanam mentimun. Diceritakan lama-kelamaan, pohon duku pun berbuah, tapi si miskin cemberut, dikiranya duku itu gagal,
- ucapan si nahkoda tak sesuai, tak berbuah uang emas, si miskin tetap saja, memetik buah duku dan dikarungi, langsung dibawa ke pasar, membawa lima-enam karung, dijual ke pedagang.
- Bertepatan dengan akhir musim, saat stok buah-buahan kosong, maka harganya jadi mahal harganya. Dibeli tunai saat itu juga. Dibayar dengan uang emas. Si miskin baru sadar. Percaya pada si nahkoda.
- Si miskin sudah menjadi kaya. Makin heran dalam pikirannya. Sudah terpikir oleh hati, orang yang menanam pepohonan, seakan menanam uang emas,malaur ngahurun balung, leuwih hadé pepelakan.