Lompat ke isi

Wawacan Wulang Tani/Pupuh Magatru

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
VI
Pupuh Magatru
  1. Pengajaran disambung dengan tembang magatru. Mulai dari awal lagi. Sebab beda yang akan diceritakan. Mulai dari nomor satu. Sekarang yang akan dijealskan,
  2. Tanam-tanaman orang yang keburu butuh, yang cepat-cepat hasil, diharap-harap segera, supaya sepésér satu duit, tidak lelah menunggu.
  3. Nomor satu tentang Ubi Dangdeur. Dahan dipakai untuk bibit. Ditanam di teanah yang sudah dicangkul, dipotong hingga bersih, menanamnya ditancapkan.
  4. Ditanam di kebun-kebun supaya rapi. Jaraknya masing-masing dua kati, bila sudah jadi dirawat. Dirawat supaya dapat hasilnya. Harus dikored dan disiangi.
  5. ditimbun enam tujuh bulan sudah bisa panen. Sudah saatnya digali. Umbinya sedapur, dapat lima sampai enam buah. Lalu dipotong-potong untuk dijual.
  6. Dua-tiga puluh potong itu sabaru, kadang kurang kadang lebih. Harganya tidak tentu, tergantung harga pada umumnya. Begitu kata pemborong.
  7. Yang seperti itu ada dua jenis. Bedanya sedikit. Rasanya pulen dan lembut. Gurih sari rasa manis. Dari rupanya sebanding/sama.
  8. Yang disebut sampeu oleh orang Garut. disalin sedikit, dari kata bakunya kasapeu (casava). Bibitnya beda lagi. Menurut penjelasan yang beredar.
  9. Itu tanda perhatian yang agung, kasihnya kepada yang kecil, mendatangkan dari yang jauh, pemerintah rela rugi, Sebab memakai ongkos.
  10. Kehendak tuan pemerintah yang agung, supaya hamba-hamba, semakin menjadi untung, tidak kekurangan rezeki, pelayanannya semakin ikhlas.
  11. Sudah jelas kita wajib menjunjung, sebagai balasan kasih. Tanda menjunjung itu, setia pada panggilan, hati benar tidak menyimpang.
  12. Nomor dua yaitu ubi kamayung. Umbi dipakai untuk bibit. ditanam di tanah gembur. Tiap lubang diisi satu bibit. Jarak mantar lubangnya bebas.
  13. Lamanya sampai bisa dipanen, sekitar enam bulan, umbinya dari sedapur, sampai belasan buah. Jika ingin hasil bagus harus dibersihkan (ngoyos).
  14. Harga pasaran untuk dua-tiga umbi sekitar seduit. Beli dari orang pinggir. Begitu alurnya zaman dahulu, cara menanam ubi. Tidak sama diganti-ganti.
  15. Nomor tiga yaitu ubi manis. pengaturannya seperti tadi, seperti kamayung, cuman umbinya tidak sama. Ubi manis umbinya montok.
  16. Adapun harga sahulu umumnya, satu lima duit. Segitu juga berani berebut. Sekarang ganti lagi yaitu bengkuang,
  17. nomor empat itu menanamnya demikian, baru sekali hujan, segera cangkul ladangnya, lalu buat galengan, barisan dibuat agak longgar.
  18. Lalu lubangi dalam batas dua-tiga, jarak antar lubangnya satu kaki. merawatnya harus baik, supaya umbinya besar, kalau banyak rumputnya segera bersihkan.
  19. Bengkuang itu berumur sembilan-sepuluh bulan baru berbuah. umbinya dalam satu dapur ada enam-tujuh umbi, bila diborong langsung di kebun.
  20. Dilelangkan seratusnya tiga baru. Musim kemarau laku. Menanamnya hasil semusim. Kalau tahun menanam berganti, ganti lagi yang akan dijelaskan.
  21. Nomor tujuh yaiut ubi jahe. Cara menanamnya sama seperti tadi, seperti ubi kamayung. Cara menanam dan memanen, serta pemeliharaannya begitu juga.
  22. Nomor sembilan yaitu ubi buah. Ditanam di tanah yang sudah digemburkan. Masing-masing diberi jarak dua-tiga kaki. Yang dipakai untuk benih adalah bibit buah.
  23. Dapat hasil masing-masing dapur hanya belasan buah. Harga tiap sepuluhnya seduit, atau kadang-kadang lebih, tergantung musim dan tempat.
  24. Nomor sepuluh yaitu kacang turus, ditanamnya di sawah kering. dikeprék dan dicangkul. buahnya dipakai untuk bibit. Tanah dilubangi lalu ditancap-tancapkan.
  25. Satu lubang isinya dua-tiga bibit. Masing-masing diberi jarak sekitar sekaki, dua bulan sudah panen. Atau lebih sedikit, Begitu pengalaman di Panembong.
  26. Hasil kacang dari bibit sepuluh kali lipat. Tiap bibit secangkir, tentu dapat sepuluh cangkir. Tetapi kadang lebih. Harganya secanting seduit.
  27. Nomor sebelas yaitu kacang buncis, kacang bulu, kacang jerami dan peujit, kacang herang, serta kacang peda. Sama saja caranya sepadan.
  28. Oleh petani sekarang penjelasannya. Yang ditanam bijinya, di lahan yang gembur. Harus dikeprék sampai bersih. Ratakan supaya rapi.
  29. Di tanah yang semi padat, tanah merah bercampur pasir. Cara mengerjakannya harus pada awal hujan pertama, harus segera berkebun.
  30. Tanah dilubangi lalu benihnya diatur. Diberi jarak antar lubang satu kaki. Enam-tujuh bulan sudah muncul tunas (cukul). Disaeur sampai ngajungkiring. Kalau kotor segera bersihkan.
  31. Hasil umbi dari masing-masing dapur, bila bibit secangkir, biasanya dapat sepuluh, kadang-kadang lebih. Harganya seduit secomplong.
  32. Nomor empat belas yaitu kacang jepun. yang ditanam bijinya, sama seperti yang sudah disebut sebelumnya. Cara memanennya sama, seperti yang telah diceritakan di atas.
  33. Semua macam kacang hasilnya begitu, kacang cindé, kacang rawit, kacang gedong, kacang rangu, kacang gabrig, kacang uci, kacang gamet, kacang jogo.
  34. Isi Wulang Tani sampai di sini, masih banyak perkara, tanaman yang lainnya, namun penulis kesulitan, karena belum mendapatkan contoh.
  35. Belum menemukan petunjuk pengetahuan, gampang mangké panderi, seja sumusul di pungkur, nungtut kumaha pamanggih, seja nyanggakeun carios,
  36. Meskipun semua yang sudah disebut di atas, belum tentu sesuai, hanya nasihat guru. Tetapi sekarang penulis sedang mencoba berkebun.