Wawacan Wulang Tani/Pupuh Magatru
Tampilan
VI
Pupuh Magatru
Pupuh Magatru
- Pengajaran disambung dengan tembang magatru. Mulai dari awal lagi. Sebab beda yang akan diceritakan. Mulai dari nomor satu. Sekarang yang akan dijealskan,
- Tanam-tanaman orang yang keburu butuh, yang cepat-cepat hasil, diharap-harap segera, supaya sepésér satu duit, tidak lelah menunggu.
- Nomor satu tentang Ubi Dangdeur. Dahan dipakai untuk bibit. Ditanam di teanah yang sudah dicangkul, dipotong hingga bersih, menanamnya ditancapkan.
- Ditanam di kebun-kebun supaya rapi. Jaraknya masing-masing dua kati, bila sudah jadi dirawat. Dirawat supaya dapat hasilnya. Harus dikored dan disiangi.
- ditimbun enam tujuh bulan sudah bisa panen. Sudah saatnya digali. Umbinya sedapur, dapat lima sampai enam buah. Lalu dipotong-potong untuk dijual.
- Dua-tiga puluh potong itu sabaru, kadang kurang kadang lebih. Harganya tidak tentu, tergantung harga pada umumnya. Begitu kata pemborong.
- Yang seperti itu ada dua jenis. Bedanya sedikit. Rasanya pulen dan lembut. Gurih sari rasa manis. Dari rupanya sebanding/sama.
- Yang disebut sampeu oleh orang Garut. disalin sedikit, dari kata bakunya kasapeu (casava). Bibitnya beda lagi. Menurut penjelasan yang beredar.
- Itu tanda perhatian yang agung, kasihnya kepada yang kecil, mendatangkan dari yang jauh, pemerintah rela rugi, Sebab memakai ongkos.
- Kehendak tuan pemerintah yang agung, supaya hamba-hamba, semakin menjadi untung, tidak kekurangan rezeki, pelayanannya semakin ikhlas.
- Sudah jelas kita wajib menjunjung, sebagai balasan kasih. Tanda menjunjung itu, setia pada panggilan, hati benar tidak menyimpang.
- Nomor dua yaitu ubi kamayung. Umbi dipakai untuk bibit. ditanam di tanah gembur. Tiap lubang diisi satu bibit. Jarak mantar lubangnya bebas.
- Lamanya sampai bisa dipanen, sekitar enam bulan, umbinya dari sedapur, sampai belasan buah. Jika ingin hasil bagus harus dibersihkan (ngoyos).
- Harga pasaran untuk dua-tiga umbi sekitar seduit. Beli dari orang pinggir. Begitu alurnya zaman dahulu, cara menanam ubi. Tidak sama diganti-ganti.
- Nomor tiga yaitu ubi manis. pengaturannya seperti tadi, seperti kamayung, cuman umbinya tidak sama. Ubi manis umbinya montok.
- Adapun harga sahulu umumnya, satu lima duit. Segitu juga berani berebut. Sekarang ganti lagi yaitu bengkuang,
- nomor empat itu menanamnya demikian, baru sekali hujan, segera cangkul ladangnya, lalu buat galengan, barisan dibuat agak longgar.
- Lalu lubangi dalam batas dua-tiga, jarak antar lubangnya satu kaki. merawatnya harus baik, supaya umbinya besar, kalau banyak rumputnya segera bersihkan.
- Bengkuang itu berumur sembilan-sepuluh bulan baru berbuah. umbinya dalam satu dapur ada enam-tujuh umbi, bila diborong langsung di kebun.
- Dilelangkan seratusnya tiga baru. Musim kemarau laku. Menanamnya hasil semusim. Kalau tahun menanam berganti, ganti lagi yang akan dijelaskan.
- Nomor tujuh yaiut ubi jahe. Cara menanamnya sama seperti tadi, seperti ubi kamayung. Cara menanam dan memanen, serta pemeliharaannya begitu juga.
- Nomor sembilan yaitu ubi buah. Ditanam di tanah yang sudah digemburkan. Masing-masing diberi jarak dua-tiga kaki. Yang dipakai untuk benih adalah bibit buah.
- Dapat hasil masing-masing dapur hanya belasan buah. Harga tiap sepuluhnya seduit, atau kadang-kadang lebih, tergantung musim dan tempat.
- Nomor sepuluh yaitu kacang turus, ditanamnya di sawah kering. dikeprék dan dicangkul. buahnya dipakai untuk bibit. Tanah dilubangi lalu ditancap-tancapkan.
- Satu lubang isinya dua-tiga bibit. Masing-masing diberi jarak sekitar sekaki, dua bulan sudah panen. Atau lebih sedikit, Begitu pengalaman di Panembong.
- Hasil kacang dari bibit sepuluh kali lipat. Tiap bibit secangkir, tentu dapat sepuluh cangkir. Tetapi kadang lebih. Harganya secanting seduit.
- Nomor sebelas yaitu kacang buncis, kacang bulu, kacang jerami dan peujit, kacang herang, serta kacang peda. Sama saja caranya sepadan.
- Oleh petani sekarang penjelasannya. Yang ditanam bijinya, di lahan yang gembur. Harus dikeprék sampai bersih. Ratakan supaya rapi.
- Di tanah yang semi padat, tanah merah bercampur pasir. Cara mengerjakannya harus pada awal hujan pertama, harus segera berkebun.
- Tanah dilubangi lalu benihnya diatur. Diberi jarak antar lubang satu kaki. Enam-tujuh bulan sudah muncul tunas (cukul). Disaeur sampai ngajungkiring. Kalau kotor segera bersihkan.
- Hasil umbi dari masing-masing dapur, bila bibit secangkir, biasanya dapat sepuluh, kadang-kadang lebih. Harganya seduit secomplong.
- Nomor empat belas yaitu kacang jepun. yang ditanam bijinya, sama seperti yang sudah disebut sebelumnya. Cara memanennya sama, seperti yang telah diceritakan di atas.
- Semua macam kacang hasilnya begitu, kacang cindé, kacang rawit, kacang gedong, kacang rangu, kacang gabrig, kacang uci, kacang gamet, kacang jogo.
- Isi Wulang Tani sampai di sini, masih banyak perkara, tanaman yang lainnya, namun penulis kesulitan, karena belum mendapatkan contoh.
- Belum menemukan petunjuk pengetahuan, gampang mangké panderi, seja sumusul di pungkur, nungtut kumaha pamanggih, seja nyanggakeun carios,
- Meskipun semua yang sudah disebut di atas, belum tentu sesuai, hanya nasihat guru. Tetapi sekarang penulis sedang mencoba berkebun.