Lompat ke isi

Wawacan Wulang Tani/Pupuh Pangkur

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

III
Pangkur.

  1. ꧄ Nomer kesembilan belas, jika hendak menanam salak harus biji, memilih jangan yang tiga, melainkan yang tunggal, hasil memilih bijinya lalu disemai, itu yang tidak pernah gagal, kalau yang dua biji.
  2. ꧄ Sering menjadi salak bunga, ditanamnya jaraknya empat kaki, persegi harus segitu, sampai berbuah, batas empat atau lima tahun, sedangkan untuk harga buah, biasanya dua seduit.
  3. ꧄ Kedua puluh perkara, pelajaran jika hendak menanam huni, bijinya yang dipilih, kalau di tempat panas, sudah berbuah dalam batas empat-lima tahun, kalau di tempat dingin, tujuh tahun keluar pentil.
  4. ꧄ Adapun harga buah, yang asam secangkirnya seduit, biasanya di pasar Garut, sedangkan huni manis, secangkir empat duit pun laku, digunakan sebagai kelir pohon, pasal dua puluh satu.
  5. ꧄ Menanam asam caranya, sama saja seperti menanam huni, umurnya delapan tahun, sampai berbuah, harga buah satu duwit dapat sepuluh, pohonnya akan seukuran sarangka, atau landeyan keris.
  6. ꧄ Pasal dua puluh dua, pelajaran jika menanam calingcing, bijinya yang dipilih, sama seperti belimbing itu, pasal dua puluh tiga yang diceritakan, cara menanam ceremai, dengan cangkok atau biji.
  7. ꧄ Jika menanam dari biji, tiga tahun baru bisa berbuah, jika dari cangkok dua tahun, kalau besar cabangnya, yang ditanam setahun pun sudah dipanen, di Garut harga buahnya, dalam satu penganan satu duit.
  8. ꧄ Pasal dua puluh empat, menanam petai yang ditanam dari biji, dalam batas tujuh tahun, mulai berbuah, jika menanam dari cangkok hanya lima tahun, sudah penuh berbuahnya, harga satu papan satu duit.
  9. ꧄ Dua papan harganya, satu duit pada saat musim sedang, begitu yang umum di Garut, dari satu pohon petai, dikumpulkan hasil kebunnya bisa sepuluh, bahkan belasan rupiah, untungnya para petani.
  10. ꧄ Dan petai yang sama, ada tiga jenis petai gunjaéh pettir, hanya saja harganya tidak sama, sebab beda rasanya, berganti lagi pasal dua puluh lima diceritakan, menanam jengkol diceritakan, yang ditanam dari biji.
  11. ꧄ Empat tahun sudah berbuah, harga jengkol dua puluh tiga satu duit, saat musim mahal hanya sepuluh, keadaannya di Limbangan, ganti lagi pasal yang kedua puluh enam, menanam limus caranya, yang ditanamkan dari biji.
  12. ꧄ Belasan tahun umurnya, jika ditanam di tempat yang sejuk, dari mulai disemai, sampai berbuah, harga buah yang dihasilkan biasanya bagus, pohonnya kalau sudah besar, dipakai kayunya yang berkualitas.
  13. ꧄ Pasal kedua puluh tujuh, cara menanam cangkudu bibit biji, mula-mula harus disemai, di tanah yang subur, dan jangan terlalu sering menyemai, batasnya umur dua bulan, memindahkannya bibit.
  14. ꧄ Begitu pula menanamnya, di tanah subur yang bercampur dengan pasir, supaya pohonnya mulus, montok banyak akarnya, jika mulus pada umur dua tahun, tentu sudah keluar buah, buahnya enak dibelah.
  15. ꧄ Daunnya enak direbus, sama sekali tidak terbuang sedikit pun, umur empat lima tahun, sedang dalam ukuran akarnya, harus hati-hati agar tidak rusak akar halus, karena yang paling bagus, yaitu akar yang kecil.
  16. ꧄ Adapun tentang cabangnya, sebaiknya tiga kaki persegi, di tanah yang subur, jika akar tanahnya, dua kaki setengah yang sudah umum, dalam tiga ratus pohon, satu pikul pasti jadi.
  17. ꧄ Jumlah dalam sebaunya, dua puluh enam pikul tentunya jadi, harga di dalam satu pikul, lima puluh rupiah, jumlah harga dalam dua puluh enam pikul, dalam sebau leluasannya, seribu tiga ratus rupiah.
  18. ꧄ Jadi setahun hasilnya, tiga ratus bahkan bisa lebih, dari luas sebau, jika dijual per pohon, satu pohonnya pasti laku dua baru, dan jika untuk mengolahnya, sesudahnya dapat digali.
  19. ꧄ Lalu dijemur akarnya, dikeluarkan dan diletakkan di wadah yang terbuat dari tampir, setelah sudah kering, harus lalu ditumbuk sehalusnya, yaitu ditumbuk di lesung, sudah halus, lalu dimasukkan ke wadah lalu ditakar sekali.
  20. ꧄ Jika baik hasil galiannya, dua puluh tujuh tahun tidak berkurang hasil, tidak mudah sekali habis, setiap tahun bertambah baik, semakin tua akar mayang semakin bagus, batang pohonnya dijual, untuk kayu bakar pasti laris.
  21. ꧄ Pasal kedua puluh delapan, menanam muncang bibitnya harus biji, umurnya hanya tujuh tahun, sampai berbuahnya, menjualnya setiap uang hanya sepuluh, harga di pasar timbangannya, yang menjualnya orang sisi.
  22. ꧄ Meskipun tidak berbuah, tidak sia-sia pohonnya juga berharga, ditawar untuk kayu bakar, asapnya juga lumayan, yang besar batangnya digunakan untuk lesung, ataupun untuk rimbagan, demikian kata para petani.
  23. ꧄ Pasal kedua puluh sembilan, jika menanam tangkil sama halnya, seperti muncang yang disebutkan, begitu pula harganya, hanya pohonnya lumayan bila sudah besar, digunakan untuk tali kuda, katanya sering membuat licin.
  24. ꧄ Dan pasal ketiga puluh, harus pergi ke hutan mencari bibit, melihat kongkowak kawung, di kebun menanam, satu tombak persegi lubang ke belakang, habis itu untuk disadap, dua puluh tahun berbuah.
  25. ꧄ Disadap untuk diambil lahangnya, ditampung di lodong lalu disaring diteteskan, setelah sedang dituangkan, di cetak untuk membuat gula aren, ketika mencetak harus kering lalu dibungkus, satu bungkus delapan cetakan, harga pasti empat duit.
  26. ꧄ Atau menjual lahangnya, ditampung di lodong dua sorok satu duit, muat dua-tiga baru, harga satu lodong lahang, jika tidak segera menetes harus begitu, satu lodong dari satu pohon, lahang hingga penuh dalam semalam.
  27. ꧄ Jika dibuat gula, mendapat lima bungkus, yang sudah biasa, kadang sering untung, lalu papag ijuknya, harga ijuk seratusnya lima baru, tetapi di tempat murah, cerita dari yang sering membeli.
  28. ꧄ Setelah itu pucuknya, lalu dipotong bersama golongannya sekali, dijual ketika sudah tinggi, ke pasar sangat laris, empat lidi satu duit yang sudah tinggi, satu tali satu pucuk dapat, lidinya dijual kembali.
  29. ꧄ Sarérang memakai galagar, caruluknya dibuat manisan, hatinya dibuat sagu, pohon yang sudah besar, lalu ditebang sangat baik untuk kayu bakar, sering masuk bahan rumah, yang dilakukan juga untuk lumbung.
  30. ꧄ Diambil ijuknya, supaya menjadi ikat yang baik untuk tali pancing, tetapi jangan sampai tenggelam, dapat merusak kawungnya, jika kawung masih muda belum habis, menyebabkan tidak banyak lahangnya, begitu lubangnya setiap hari.
  31. ꧄ Kawung ada dua jenis, yang lambat, yang cepat tidak sama, kawung lambat yang diceritakan, kawung yang besar itu, suka belasan tangan sedalam dua taun, begitu menurut juru tani.
  32. ꧄ Sedangkan kawung genjah, yang pohonnya kecil, disebut oleh orang gunung, sebagai kawung saeran, batasnya empat-lima tangan yang sudah umum, serta cepat tumbuhnya, sehingga kurang hasil.