Lompat ke isi

Wisata Religi: Makam Para Tokoh di Makassar–Gowa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Makassar dan Gowa dikenal sebagai kawasan yang kaya akan destinasi wisata religi, terutama tempat-tempat ibadah seperti Masjid Terapung Amirul Mukminin, Masjid 99 Kubah Asmaul Husna, Klenteng Xian Ma, Pura Giri Nata, hingga Gereja Katedral Makassar. Namun, selain tempat ibadah aktif, wilayah ini juga menyimpan warisan spiritual dan sejarah dalam bentuk makam para tokoh penting.

Makam bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan juga jejak sejarah, pusat ziarah, dan ruang refleksi budaya. Dalam modul ini, kita akan menelusuri empat makam utama yang memiliki nilai religius, historis, dan simbolik di Makassar–Gowa. Materi ini menjadi bagian dari pengantar pelatihan Wikibuku agar peserta dapat memahami dan menulis ulang artikel sejarah lokal secara bermakna dan akurat.

1. Makam Arung Palakka

Makam Arung Palakka merupakan bagian dari kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di Kampung Bontobiraeng, Gowa. Di sinilah La Tenritatta’ Arung Palakka—Raja Bone ke-14 (1667–1696)—dimakamkan setelah wafat pada 6 April 1698. Selain makamnya, kompleks ini juga memuat sekitar 20 makam tua lainnya, termasuk makam Sultan Gowa ke-20, Sultan Ismail, yang wafat pada 1 April 1724.

Makam Arung Palakka

Yang menarik, meski Arung Palakka berasal dari Bone, ia memilih dimakamkan di wilayah Kerajaan Gowa. Hal ini sesuai wasiat pribadinya, dan mencerminkan hubungan kekerabatan dengan keluarga Sultan Hasanuddin melalui pernikahannya, sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi politik pasca-Perang Makassar. Penempatan makam di Gowa juga dipercaya sebagai bentuk strategi keamanan, termasuk kemungkinan pertimbangan dari pihak Belanda.[1]

Kompleks ini memiliki susunan makam yang tertata dari timur ke barat dan terdiri atas empat tipe jirat:

  1. Cungkup kubah – seperti makam Arung Palakka dan istrinya, dengan nisan tipe balok polos dan menhir.
  2. Punden berundak – lima teras dari batu andesit.
  3. Teras berundak – dua atau tiga tingkat dengan nisan balok berpelipit dan pipih bertangkai.
  4. Peti batu – susunan balok andesit menyerupai peti, dengan nisan polos, pipih, atau silindrik.[2]

Makam ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga ruang kontemplasi spiritual bagi peziarah maupun peneliti sejarah lokal.

Alamat: Jl. Bonto Biraeng, Katangka, Kec. Somba Opu, Kab. Gowa, Sulawesi  90221

2. Makam Syekh Yusuf

Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama besar dan pejuang spiritual asal Gowa yang berjasa dalam penyebaran Islam, tidak hanya di Sulawesi tetapi juga hingga ke Nusantara dan Afrika Selatan. Ia wafat pada 23 Mei 1699 saat berada di Kaap, Afrika Selatan. Jenazahnya kemudian dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Lakiung, Gowa, pada 6 April 1705.

Makam ini kini menjadi salah satu pusat ziarah penting dan situs sejarah yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh Syekh Yusuf dalam dunia keislaman, politik, dan perlawanan terhadap kolonialisme. Lokasinya mudah diakses dan sering menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah.

Alamat: Jl. Bonto Biraeng, Lakiung, Kec. Somba Opu, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan 90221

Daftar Pustaka

[sunting]
  1. https://www.aljunaidiyahbiru.sch.id/alasan-pemakaman-arung-palakka-di-bontobiraeng
  2. https://smartcity.gowakab.go.id/wisata_sejarah/makam-arung-palakka/4