Wikibuku:Bak pasir

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Buk Ashabul Yamin: Pasal 1

Ikhtilaf YES vs Iftiraq NO

السَّلاَمُ َعَلَيْكُمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pemirsa yang insha allah dirahmati oleh allah swt, الْحَمْدُ لِلَّهِ pada kesempatan kali ini kita masih diberi nikmat sehingga kita masih dapat menuntut ilmu yang bermanfaat guna menjadi penebar rahmatan lil 'alamin dimuka bumi allah swt.

"Ilmu mu adalah Agamamu, Guru mu adalah Pemimpinmu" Seperti halnya seorang anak yang baru lahir, semua itu fitrahnya adalah muslim, akan menjadi ahlul bid'ah-kah?, khawarij-kah? majusi-kah? nasrani atau yahudi kah? itu semua tergantung pada ayah ibu mu, lingkungan mu dan apa yang kau pegang menjadi ilmu mu. ILMU apa yang dipelajari kita (atau para ayah ibu), dan SIAPA yang mengajari kita (atau para ayah ibu) itulah cikal bakal yang akan menjadi Agama yang kita yakini.

Maka itu, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap individu dari sejak lahir hingga akhir hayat. Jangan sampai agama yang kita yakini sekarang ini merupakan agama warisan yang menjadi ritual ceremonial belaka, tidak berakar pada keimanan yang tinggi. Padahal keimanan yang tinggi bukan milik para ustadz, bukan milik syekh. Keimanan itu hak semua manusia, bisa jadi keimanan yang tinggi dimiliki oleh seorang penjual sayur, dan juga belum pasti seorang guru agama memiliki iman yang kokoh. Tapi bagaimana mungkin seorang penjual sayur memiliki iman yang kokoh tanpa adanya ilmu dan belajar, pun bagaiman seorang guru agama memiliki keimanan yang kuat, kalau hanya berfikir (melayang dalam awan-awan ilmu) tanpa pernah mau ditempa masalah, tanpa pernah mau mengamalkan suatu ibadah. Itulah sayangnya tidak semua manusia mau mencari ilmu. Sedangkan ilmu tidak akan berguna sedikit pun, kalau tidak bertambah keimanan dan ketaqwaannya pada seseorang. Disamping itu, keimanan dan ketaqwaan seseorang tidak datang serta merta tanpa pengetahuan antara berbedaan yang haq dan yang bathil.

Karena itu, mencari ilmu adalah menjadi kewajiban yang tiada akhirnya bagi setiap muslim yang bertaqwa, dan dalam pencarian ilmu tersebut, sering kali terjadi perbedaan pendapat, namun tidak sekali dibenarkan melakukan perceraian atas perbedaan pendapat tersebut. Mari kita cermati dalam kajian kali ini "Ikhtilaf YES vs Iftiraq NO" atau Berbeda, Boleh saja! Namun Bercerai, Tidak akan sedikitpun!

Ikhtilaf memiliki beberapa makna yang saling berdekatan, diantaranya ; tidak sepaham atau tidak sama. Jadi ikhtilaf itu adalah perbedaan jalan, perbedaan pendapat atau perbedaan manhaj yang ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang dengan yang lainnya.

Kaidah-Kaidah Untuk Memahami Ikhtilaf [Perselisihan Pendapat] Pertama adalah:

Ikhtilaf merupakan Perkara Yang Kauni (Sunnatullah), Sedangkan Mencegahnya Merupakan Perkara Yang Syar'i. Sekali lagi kami ingin perTEGAS bahwa "mencegah ikhtilaf" merupakan perkara yang syar'i.

Namun dengan kehendak dan hikmah-Nya yang tepat, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menakdirkan ummat ini berpecah belah sebagaimana halnya (kaum) ahli kitab sebelumnya telah berpecah belah. Seperti dari dalil-dalil yang diantaranya adalah  :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman."Artinya : Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa beselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu, Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka" [Hud : 118-119]!

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan" [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan lainnya]

Dalam suatu riwayat :"Mereka semua di neraka kecuali satu millah, para shahabat bertanya : "siapakah dia ya Rasulullah ?" beliau menjawab : "(yaitu) orang-orang yang berada diatas jalanku dan shahabatku"

Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda."Artinya : Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?". Beliau menjawab : "Siapa lagi ?" [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]

Meskipun perpecahan ini terjadi sesuai dengan sunatullah yang kauni, namun (sebenarnya) Allah melarang terjadinya perpecahan ini dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya, dan memerintahkan supaya berpegang teguh pada jalan Firqatun Naajiyah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan), dan memberikan tanda-tanda pada golongan ini sehingga orang yang ikhlas hatinya dalam mencari kebenaran tidak akan tersesat (salah pilih).

Diantaranya yang paling menonjol ialah tentang fenomena munculnya iftiraq (penyimpangan) dari manhaj yang haq. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang tasyabbuh (menyerupai umat-umat terdahulu), dengan firman-Nya."Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang JELAS kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat" [Ali Imran : 105]

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang umat ini menyerupai umat-umat yang telah lewat dalam iftiraq (perpecahan) dan ikhtilaf (perselisihan) mereka dan dalam meninggalkan amar ma'ruf serta nahi mungkar, setelah hujjah tegak atas mereka" [Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim I/390]

Allah berfirman."Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka" [Ar-Ruum : 31-32]

Dari beberapa redaksi di atas kita dapat mengambil pelajaran yang diantaranya : pertama, menyerupai hal~hal yang seperti mereka (contoh: merayakan tahun baru, memukul alat tertentu untuk memanggil ibadah) dan hal-hal lain yang menyerupai tata cara mereka adalah suatu perkara yang dilarang. kedua, memperdalam perselisihan dan perbedaan yang akhirnya dapat memecah belah ummat islam adalah pekerjaan yang "menyerupai" yang dikerjakan umat diluar islam.

Ada sebagian orang yang meragukan keabsahan hadist iftiraq (perpecahan) ini, akan tetapi orang yang betul-betul memperhatikan jalur-jalur periwayatannya akan memastikan keabsahannya, terutama karena di sana terdapat hadits-hadits shahih yang masyhur yang menerangkan tentang keserupaan umat ini dengan umat-umat sebelumnya.

Seperti telah dijelaskan dalam Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Manaan, Dengan sikap seperti itulah, masing-masing mereka menghukumi bahwa kelompoknyalah yang benar, sedangkan kelompok lain berada dalam kebathilan. Disini terdapat peringatan bagi kaum muslimin agar tidak bercerai berai dan berpecah belah menjadi firqah-firqah, dimana masing-masing firqah bersikap fanatik terhadap apa yang ada pada mereka, baik berupa kebenaran maupun kebatilan. Sehingga (dengan perpecahan ini -pent) jadilah kaum muslimin bertasyabbuh (serupa) dengan orang-orang musyrik dalam hal perpecahan. Padahal dien (agama) ini satu, rasulnya satu, sesembahannya satu, kebanyakan persoalan dien (agama) pun telah ijma diantara para ulama dan para imam, dan ukhuwah Imaniyah juga telah diikat oleh Alllah dengan sesempurna-sempurnanya ikatan, kenapa semua itu di sia-siakan ? Malahan dibangun perpecahan diantara kaum muslimin, dibangun masalah-masalah yang samar atau (dia bangun persoalan-persoalan) furu' khilafiyah, yang (atas dasar itu kemudian) sebagian kaum Muslimin menganggap sesat sebagian lainnya, dan masing-masing menganggap dirinyalah yang istimewa dibanding yang lain. tidak lain ini merupakan godaan setan yang terbesar, dan merupakan tujuan setan paling utama untuk memperdaya kaum muslimin?".

Kaidah-Kaidah Untuk Memahami Ikhtilaf [Perselisihan Pendapat] yang Kedua :

Tidak Semua Ikhtilaf merupakan Iftiraq Dan itu ada karena Ikhtilaf merupakan lafazh yang masih umum, mencakup beberapa macam (makna), satu diantaranya adalah iftiraq. Iftiraq menurut bahasa berasal dari kata mufaraqah yang artinya perpecahan dan perpisahan. Sedangkan menurut istilah para ulama' iftiraq adalah keluar dari Sunnah dan Jama'ah pada salah satu ushul (pokok) dari perkara-perkara ushul yang mendasar, baik dalam aqidah ataupun amaliyah. Sangat disayangkan, ada sebagian thalabatul ilmi (penuntut ilmu syar'i) yang menghukum pada beberapa masalah ikhtilaf yang diperbolehkan sebagai iftiraq. Ini adalah kesalahan yang FATAL. Penyebabnya adalah ketidaktahuan mereka tentang prinsip-prinsip iftiraq, kapan dan bagaimana bisa terjadi iftiraq ? Demikian juga (penyebabnya adalah -pent) ketidaktahuan mereka tentang masalah yang diperbolehkan ikhtilaf dan masalah yang tidak diperbolehkan ikhtilaf.

Keterangan berikut ini akan membuat perbedaan antara ikhtilaf yang diperbolehkan dengan iftiraq menjadi jelas.

[a]. Iftiraq tidak akan terjadi kecuali pada ushul kubra kulliyah (pokok-pokok yang besar dan mendasar) yang tidak ada peluang untuk diperselisihkan. Pokok-pokok yang telah jelas berdasarkan nash qathi atau ijma' atau telah jelas sebagai manhaj ilmiah Ahlus sunnah wal Jama'ah yang tidak lagi diperselisihkan (oleh Ahlus Sunnah) mengenainya. Berdasarkan hal itu, maka seorang muslim tidak boleh dicela sebagai yang termasuk firqah binasa (sesat) kecuali jika perbuatan bid'ah-nya pada masalah-masalah berikut :26 Februari 2014 07.10 (UTC)~Pada masalah yang bersifat mendasar dalam agama, atau pada salah satu kaidah syari'ah, atau pada pokok syari'ah, baik secara total atau dalam banyak bagian-bagiannya, dimana ia terbiasa bersikap menentang terhadap banyak persoalan syari'ah.Syaikhul Islam pernah ditanya tentang batasan bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu), beliau menjawab : "Bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu) adalah bid'ah yang PENYIMPANGANNYA dari Al-Qur'an dan Sunnah masyhur dikalangan ahli sunnah, seperti bid'ah-nya Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji'ah ...." [Majmu Fatawa XXXV/41

[b]. Ikhtilaf (perselisihan pendapat) yang diperbolehkan itu bersumber dari ijtihad dan niat yang baik, dan orang yang salah akan diberi pahala apabila ia mencari kebenaran. Sementara Iftiraq (perpecahan) tidak terjadi dari kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran dan niat yang baik, dia timbul dari mengikuti hawa nafsu.

[c]. Iftiraq berkaitan erat dengan ancaman Allah, dan semua iftiraq menyimpang serta binasa, adapun ikhtilaf yang diperbolehkan tidaklah seperti itu betapapun hebat ikhtilaf yang terjadi diantara kaum muslimin. [Perbedaan diantara keduanya telah dijelaskan oleh Syaikh Nashr Al-Aql dalam muhadharah (ceramah) yang sangat berharga "Mafhumul Iftiraq* kemudian muhadharah itu dicetak dalam bentuk buku]



26 Februari 2014 07.10 (UTC)26 Februari 2014 07.10 (UTC)26 Februari 2014 07.10 (UTC)26 Februari 2014 07.10 (UTC)26 Februari 2014 07.10 (UTC)~~ Kaidah-Kaidah Untuk Memahami Ikhtilaf [Perselisihan Pendapat] yang Ketiga:

Kebenaran Itu Hanya Satu, Tidak Terbilang. Walaupun dalam perkara-perkara praktis. Ini adalah perkara yang jelas. Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa semua mujtahid (orang yang pantas untuk berijtihad -pent) itu benar. Ini adalah bualan belaka yang tidak perlu dijelaskan. Sekalipun demikian, kami akan bawakan dalil atas kebathilannya yang sebenarnya banyak, (namun kami sebutkan satu) diantaranya. 26 Februari 2014 07.10 (UTC)~"Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya" [An-Nisa' : 82] Kandungan ayat itu sangat jelas. Dengan demikian, setiap hal yang padanya terjadi ikhtilaf tadhadh (perselisihan pendapat kontrakdiktif), maka KEBENARAN yang ada padanya hanya SATU, karena apapun yang berasal dari ALLAH, dan tidak akan ditemukan ikhtilaf padanya. Akal yang sehat pasti sesuai (sepakat) dengan dalil naql yang sharih dalam menolak ikhtilaf padanya.


(Misalnya) dikatakan kepada Zaid (hanya contoh) : "Jika anda melakukan pekerjaan ini maka anda mendapat pahala dan berada di syurga, tetapi pada saat yang sama anda mendapat dosa dan berada di neraka. (Ini jelas tidak mungkin). Dan tidak mungkin pula terjadi, dengan satu pekerjaan seseorang berbuat maksiat, sementara pada saat yang sama, dalam pekerjaan yang sama dia juga berbuat ta'at kepada Allah"

_________ Fote Noote. [1] Diantaranya Quthb Ash-Shufiyah Asy-Sya'rani dalam kitabnya "Mizan". [2] Lihat pembahasan yang bagus tentang kaidah ini dalam Kitab Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, karya Ibnu Hazm V/68, dan juga Kitab Jami' Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibnu Abdil Barr : Bab Dzikri Ad-Dalil fi Aqwal As-Salaf 'ala Anna Al-Ikhtilaf Khatha' wa Shawab.