Lompat ke isi

Aku Si Lato-Lato

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Aku Si Lato-Lato adalah sebuah cerpen anak yang ditulis oleh Elsa Mulyani

Sinopsis[sunting]

Aku si lato-Lato, permainan yang sedang digemari semua kalangan baik anak-anak maupun orang dewasa. Keberadaanku bisa dibilang primadona, karna aku mampu mengalihkan dunia. Sayangnya, dibalik itu semua ternyata aku memiliki sisi negatif yang juga bisa membahayakan penggunanya.

Lakon[sunting]

  1. Pemeran utama dalam Cerpen ini
    Lato-Lato
  2. Handphone

Cerita Pendek[sunting]

Kesombongan[sunting]

“Lato-Lato… Lato-Lato… Lato-Lato…”

Teriak para pedagang di pinggir jalan.

***


Siapa yang tidak kenal aku! Aku adalah sebuah permainan yang sedang digemari, tidak hanya anak-anak bahkan orang dewasa pun menggemariku, meski bentukku hanya bulatan dua ditambah dengan tali kecil sebagai pengikatnya. Yap, itulah aku si Lato-Lato.

Sebenarnya keberadaanku sudah sedari dulu, bahkan tercatat dalam sejarah permainan yang sangat digemari di dunia tahun 1960an dan yang paling membahagiakan, aku kembali eksis menjadi permainan yang sangat digemari saat ini. Jangan ditanya apa kelebihanku, karena aku memiliki daya tarik yaitu mengeluarkan bunyi tek.. tek… tek… Aku patut sombong bukan?


“Nal, pekan depan jadi ikutan lomba Lato-Lato gak?” Tanya Ikmal

“Jadi dong, lihat nikh aku sudah mahir memainkannya.” Jawab Zaenal sambil terus memainkan Lato-Lato berwarna biru muda di tangannya.


Kalian dengar kan percakapan kedua bocah tadi? Aku si Lato-Lato ternyata  tidak hanya digemari bahkan aku juga sudah dijadikan kompetisi bergengsi. Permainan mana coba yang bisa seperti aku ini. Haha… Aku ini juga seperti makanan yang memiliki banyak varian, mulai dari bulatan besar, sedang, serta kecil yang bisa dimainkan oleh semua golongan. Hingga suatu ketika di pojokan meja aku menemui sesuatu yang sedang menangis.

“Hik… Hik…Hik…” suara tangisan terdengar.

Aku sekejap tercenung dibuatnya, lalu mulai tersadar ketika kudapati yang menangis adalah sebuah Handphone bermerk buah apel.


“Eh HP kenapa kamu menangis?” tanyaku sok akrab dengan memanggil nama singkatnya.

“Ini semua gara-gara kamu!” tunjuknya padaku sambil menatap penuh amarah.

“Ga-ga-ra- gara aku?” tanyaku memastikan.

“Iya gara-gara kamu keberadaanku sekarang jadi tidak dianggap, padahal sebelum kamu ada, akulah kegemaran semua orang!” jawabnya berapi-api.

“Baguslah, memang kamu tidak berguna. Hahaha…” tawaku sambil mengejek


             Setelah perbincanganku dengan Handphone tadi, tidak ada rasa bersalah pada diriku, bahkan aku bisa menyimpulkan ternyata keberadaanku mampu mengalihkan dunia setiap orang, semua mata tertuju padaku mengalahkan pamornya Handphone bermerk sekalipun. Hebat bukan?

             Sekelas Handphone saja aku kalahkan, apalagi hanya mainan-mainan seperti mobil-mobilan, boneka, robot, dan mainan lainnya. Aku patut bangga dengan diriku. Ya, aku lah si Lato-Lato. Haha…

Sadar[sunting]

Berita Terkini:

Seorang bocah SD dikabarkan mengalami kebutaan setalah terkena Lato-Lato yang sedang dimainkannya. Setelah sebelumnya Lato-Lato mengenai mata bocah tersebut dan menyebabkan bola matanya pecah.”

“Warga di Wakanda banyak yang mengeluh terganggu dengan suara Lato-Lato yang dimainkan tidak kenal waktu dan sampai mengganggu istirahat pada malam hari.”

             Oh no!!! Aku si Lato-Lato muncul di berita yang tidak menyenangkan? Baru saja aku menyombongkan diri atas keberadaanku yang mampu mengalihkan dunia, namun aku juga ternyata pembawa malapeta bagi pengguna. Bagaimana ini bisa terjadi? Untuk beberapa saat aku menepi, menyelami diri dan menafakuri yang telah terjadi.

             Sekarang aku sadar bahwa aku terlalu sombong dengan keberadaanku yang sangat digemari, padahal aku juga memiliki kekurangan yang dapat membahayakan. Bentukku yang bulat juga keras bisa menghatam siapapun yang ada di dekatku bahkan hatamannya bisa mematikan dan membuat cedera tubuh penggunanya. Tidak hanya itu, ternyata suara yang kukeluarkan juga membuat tidak nyaman dan mengganggu aktivitas. Kuakui segala yang berlebihan itu memang tidak baik.

    “Hahaha… lama-lama kamu akan ditinggalkan juga, wahai Lato-Lato.” ejek Handphone yang tempo hari aku temui sedang menangis.


           Aku hanya menatap Handphone dengan penuh penyesalan, karena pernah mengejek dengan mengatakan kalau ia tidak berguna, banyak ditinggalkan karena semua orang beralih sibuk memainkanku. Tidak ada yang abadi di dunia ini, apalagi aku yang hanya sebuah mainan yang memiliki masa dimana aku digemari, dan kemudian mengalami keredupan karena ditinggal penggunanya dan mungkin digantikan dengan mainan baru. Sungguh aku sadar bahwa aku hanyalah sebuah Lato-Lato yang tidak sempurna.


TAMAT