Amuk Sang Angin

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Merupakan bagian dari kumpulan cerpen Rintik gerimis di jendela oleh Anta Samsara

Salah satu lukisan Joseph Stannard (1797–1830), A Fresh Breeze.

Angin dan bumi kini tiada berkawan lagi. Rumah-rumah dan gubuk-gubuk hancur diamuk puting beliung. Orang-orang bertanya ada apakah gerangan. Mengapakah tabiat alam berubah menjadi begitu kasar dan mengerikan sehingga mengganggu ketenangan mereka yang seharusnya mereka alami pada malam ini.

Akan tetapi buku-buku lusuh pinjaman dari perpustakaan sekolah anak-anak mereka mengajarkan bahwa alam selalu begitu, kadang tenang, ramah, menyenangkan, lalu berubah menjadi angkara yang penuh dengan amarah, mengamuk, mengobrak-ngabrik, menghancurkan segala. Tsunami, taifun, dan tornado hanyalah tiga di antaranya. Lainnya, untuk menyebut dua saja, volkano dan gempa bumi, adalah penghancur maha dahsyat yang kerap kali meniadakan sejarah dan peradaban manusia.

Aku pergi ke tanah lapang bersama manusia-manusia yang bahkan tak sempat melindungi diri mereka dengan tudung padahal hujan lebat sekali tercurah, bersama angin yang meliukkan pohon-pohon, dan menumbangkan beberapa di antaranya. Sudah menjadi fitrah, manusia tak ingat jika bahagia dan menjerit meminta pertolongan Tuhan jika ditimpa bahala; itulah yang kami lakukan pada saat ini, menjerit, istigfar, mengingat-ingat dosa, dan memohon agar Sang Ilah menghentikan petaka yang datang. “Tiada kekuatan selain Engkau, Ya, Allah. Engkaulah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih,” kataku berdoa dalam lubuk hati.

Orang-orang berkerumun di lapangan sepakbola yang kelak akan digusur untuk menjadi mal itu dengan berbagai zikir dan istigfar. Mereka meminta dan menjerit dalam hati karena mereka baru saja menyadari betapa Allah sangat besar kuasanya untuk menimpakan apa saja jika Ia berkehendak.

Angin begitu hebatnya bertiup sehingga aku berkata dalam hati, “Inilah akhir hidupku, mungkin takkan dapat lagi aku mencari uang untuk anak-anakku, yang dua masih sekolah dan yang terakhir masih berusia empat tahun. Istriku yang di kampung takkan pernah lagi kembali ke pangkuanku, karena aku memang akan pupus dari muka bumi. Rumahku akan berganti dari rumah petak menjadi pusara yang tertutup dengan tanah.”

Lalu terlintas dalam benakku,”Mungkin sekali aku akan dikuburkan secara massal bersama banyak orang lain. Tak ada nisan bertulisan di tempat kepalaku terbujur, yang ada hanyalah satu pahatan untuk semua pada keramik yang kusam yang berbunyi: Korban Puting Beliung Tanah Tinggi: 13 April 2011”.

Aku memeluk anakku erat-erat dengan kedua belah tanganku. Tak ada seorang pun dari anakku itu yang mengenakan jaket untuk melindungi mereka dari angin dan bias rencik hujan yang begitu deras. Anakku yang paling kecil menangis keras-keras dan berseru, “Ayah...! Ayah...! Aku takut ....!” Ia menjerit dan mendekap kakiku erat-erat. Aku menjangkau badannya dan mengaisnya di pinggangku, mendekapnya ke badanku. Ia meraung-raung. Tak ada lagi rumah tersisa di daerah tempat kami tinggal, yang ada hanyalah puing-puing yang berserakan dan itu pun masih terseret-seret kena amuk angin yang tak mau tahu akan doa yang kami panjatkan.

Angin terlampau keras bagi tubuh kami sehingga kami hampir terbawa olehnya. Kami pun berjongkok dengan menutupi wajah kami yang basah kena simbah air hujan. Orang-orang makin histeris karena hidup mereka telah lantis. Hanya dalam hitungan menit.

Kulihat langit, rembulan tak berkutik menghadapi awan-awan yang demikian pekat dan lekat dengan uap air. Angin semakin menjadi-jadi, di langit dan di bumi ia berlari lesat melabrak apa saja yang ada. Anakku mulai menjerit, “Ibu... Ibu ..., aku ingin ke Ibu ....”

Anakku yang nomor dua menggigil karena udara menjadi dingin bukan kepalang. Anakku yang sulung menegadahkan tangannya dan berdoa dengan bisik yang tak dapat kudengar dengan jelas karena suara angin yang berderau-derau di telingaku. Tetanggaku yang sudah lupa dengan auratnya menangis sesenggukan sambil menjerit, “Ya, Gusti! Kula Nyuwun Pangampura![1]

Di kejauhan nampak Bang Asim menguak-nguak papan-papan rumahnya yang roboh. Kiranya ia mencari sepupunya yang tertimpa dinding rumahnya. Ia berhasil menemukan, akan tetapi sebuah lembaran seng terbawa angin, dan kayu yang ada di pinggirannya menghantam pelipisnya, Bang Asim pun nampak tak bergerak lagi. Tak ada dari kami seorang pun yang mencoba menolongnya, karena angin masih terlampau keras dan semua harus berpikir akan keselamatan dirinya dibandingkan orang lain.

Malam semakin dalu dan kami semua masih menunggu akan datangnya ampunan Tuhan. Malam itu, di tanah lapang yang basah, kami berserah diri pada kuasa-Nya. Kami memang berbeda raga, dan selama ini terkadang kami bertikai karena perkara sepele. Namun malam itu, kami menyatukan hati untuk memohon kasih-Nya ....

“Bang Pur, cobalah kau pergi ke tempat pemeriksaan di sana, cek kondisimu,” kata Yadi kepadaku.

“Tidak usah, aku baik-baik saja,” jawabku sambil merasakan demam yang membuat semua badanku terasa dingin.

Yadi memegang dahiku. “Apa kau tak rasakan badanmu itu, panas begini.”

“Tidak, aku tidak apa-apa,” kataku lagi-lagi menampik.

“Janganlah seperti Bang Asim itu ..., dia meninggal karena menolak makan dan minum ...,” lanjutnya. “Janganlah kejadian buruk membuat kita patah semangat untuk hidup,” ia meneruskan. “Kehilangan sepupu seperti Bang Asim itu jangan membuat kita enggan meneruskan hidup.”

Aku berkata dalam hati, Asim terguncang dan bersedih sebab uang tabungan hasil berdagangnya takkan mungkin dikembalikan oleh sepupunya itu, sebab ia sudah meninggal.

Yadi rupanya bosan menggumbuki aku, lalu ia pergi sambil berkata, “Periksa Bang! Mumpung gratis!”

Aku tak peduli padanya. Ia melihat lagi kepadaku di sudut jalan. Tapi aku tak peduli.

Tempat pengungsian ini telah menjadi terlampau kumuh untuk ditinggali oleh anak-anakku. Sampah berserakan di mana-mana. Dan air yang tergenang mungkin bisa menyebabkan nyamuk malaria atau demam berdarah bersarang di dalamnya. Jumlah relawan terlampau sedikit. Tak ada yang dari luar negeri, karena ini adalah bencana lokal, dan bukan bencana nasional, apalagi internasional.

Burung alap-alap tampak berputar-putar di atas sana. Apakah mereka mencium bau kematian dari tempat ini? Pohon-pohon yang tumbang telah ditetak dengan kapak dan disingkirkan dari jalanan. Beberapa keluarga memanfaatkan kayunya untuk membangun rumah mereka yang baru.

Terlihat, anak keduaku berjalan di kejauhan di antara tenda penampungan yang berbaris-baris, ia bersama seseorang yang kukenal dalam pekerjaanku. Aku menggigil sambil menghela napas. Ia lagi. Apakah akan kulanjutkan pekerjaanku itu? Setelah semua ini...?

Darahku tiba-tiba berdesir, setelah istriku meninggalkanku karena pekerjaan ini, dan kini puting-beliung ini. Aku semestinya sadar dan bertaubat.

Tapi mereka semakin dekat. Apakah yang akan kukatakan kepadanya?, kataku kepada diri sendiri.

Jantungku berdetak keras karena ingatan akan Tuhan bertikai dengan suara akan kebutuhan perut anak-anakku. Aku hanya lulusan SMP, apa lagi yang bisa kukerjakan selain pekerjaanku itu?

Aku tak dapat memutuskan dan tubuhku terasa lemah lunglai karena pertikaian dalam batin yang tak dapat kudamaikan. Mereka hampir tiba di depanku.

Aku berdoa, “Ya, Allah, kuatkanlah imanku untuk menahan godaan dunia.”

Ia nampak tersenyum dari jarak sekitar dua puluh langkah dariku, dan kukira aku dapat melihat syaitan pada senyumannya itu.

Anakku berseru ketika telah cukup dekat, “Ayah, ini Wak Ayi ke sini, ingin memberi Ayah pekerjaan.”

Di tengah lunglainya tenagaku, ada satu suara yang bangkit dan mulai menguasai hatiku. Aku harus mulai menjadi manusia yang lurus mulai saat ini. Aku tak ingin menjadi manusia yang degil terhadap Allah lagi. Aku akan mulai menata hidupku sehingga anak-anakku punya contoh yang baik. Aku akan menolak pekerjaan itu. Aku harus tegas terhadapnya!

“Pur, bagaimana kabarmu? Kata anakmu kau demam?”

Aku tak menjawab sepatah kata.

“Jika kau ingin berobat, aku bisa mengantarmu. Bayar tak masalah, biar kutanggung.”

Aku tak menjawab.

“Pur, janganlah bermuram durja. Tak baik untuk kesehatanmu. Aku tahu rumahmu itu, walaupun sederhana, kaubangun dengan susah-payah. Tapi sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kita bangun lagi rumah yang baru. Lagipula kau harus memikirkan anak-anakmu, mereka sudah mulai besar-besar dan mulai butuh biaya banyak.”

Aku berusaha mengatupkan mulutku serapat-rapatnya agar tak menimpali apa yang ia sampaikan. Tapi kemudian:

“Anakmu sungguh pintar-pintar. Sayang jika mereka sampai putus sekolah. Kau pasti menyimpan harapan yang besar terhadap mereka. Kau pastinya sangat menyayangi mereka, bukan?” katanya membujuk.

Aku hanya diam sambil menatap sekilas matanya yang penuh siasat.

"Ini uang untukmu. Kutunggu kau di tempat biasa. Komputer untuk merekap togel kita tak hancur oleh angin puting beliung. Tak ada dinding atau atap yang menghancurkannya. Datanglah kau ke rumahku sekitar tiga hari lagi, setelah kau baikan.”

Aku tercenung menggenggam amplop yang tebal. Tanganku gemetar.

“Ingat, Pur. Kau mesti jaga kesehatan, agar bisa kerja lagi denganku.”

Ia berlalu dan berkata sekali lagi, “Ingat, tiga hari mendatang kau datang ke rumahku. Jangan lupa!”

Ia pergi dan aku menatapnya hingga ia menghilang di kejauhan. Badanku menggigil. Kurasa demamku semakin tinggi. Dapat kurasakan malaikat dan Iblis bertikai dalam hatiku. Timbul keinginan untuk memanggil Wak Ayi untuk mengembalikan uangnya. Tapi suaraku tersekat di tenggorokan.

Aku terhenyak sejenak. Aku menatap anakku yang paling kecil yang sedang tertidur. Kemudian inilah yang kukatakan kepada anakku yang nomor dua, yang tadi mengantarkan Wak Ayi, “Nak, marilah kita antar adikmu itu ke ahli jiwa anak-anak. Ia nampaknya terguncang karena peristiwa angin puting beliung lima hari yang lalu itu. Dan... mungkin juga... kita dapat menjemput ibumu di Yogya esok hari untuk datang dan sekadar memangkunya. Juga panggilah kakakmu, suruh ia beli makanan di warung yang sudah buka untuk makan kita siang ini, karena bantuan dari sukarelawan itu hanya mi instan yang membuatku tak bertambah baik”

Aku memberinya selembar lima puluh ribu. Dan ia berlari ke arah kakaknya yang sedang bermain di air payau, sambil merajuk agar dibelikan coklat kesukaannya.

Aku merapatkan kain sarungku, karena udara yang masih mendung terasa sangat dingin di tubuhku. Jaketku yang kupakai juga rupanya tak lagi mampu menahan hawa yang tidak bersahabat ini. Aku rebahan dalam tenda di samping anakku yang sedang terlelap dengan masih menggenggam botol susunya. Aku mencium kening anakku dan berkata lirih, “Nak, semoga jika kau besar tak meniru kekonyolan ayahmu ini.”

Angin berhembus mendayu, udara dingin menyelusup lewat sela-sela pakaianku; membuatku makin merapatkan kain sarungku. Azan asar dari musala darurat berkumandang.

Dan dapat kurasakan, tubuhku semakin menggigil saja.

Catatan kaki[sunting]

  1. Jawa: “Ya, Tuhan. Aku mohon ampunan.”