Analisis/Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Produksi[sunting]

Cerita ini awalnya terbit sebagai cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat di Medan pada tahun 1938. Lalu, M. Syarkawi mencetak cerita ini dalam bentuk buku. Cetakan pertama tahun 1939, cetakan kedua tahun 1949. Cetakan seterusnya diurus oleh Balai Pustaka pada 1951. Kemudian, selanjutnya Balai Pustaka menyerahkan buku ini kepada Penerbit Nusantara sejak cetakan kedelapan (Maret 1961). Novel ini terbit di Kuala Lumpur pada tahun 1963. Setelah itu, dilanjutkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada cetakan ke-11, tahun 1976.

Kronologi[sunting]

Arc 1 : Makassar[sunting]

  1. Deskripsi latar : Makassar (Tepi pantai, Pulau Laya-Laya, orang Mandar, kota Mengkasar, lapangan Karibosi, Gunung Lompobatang, Gunung Barakaraeng, Pelabuhan Makassar, Kampung Baru, Kampung Mariso)
  2. Zainuddin, 19 tahun, mengingat pesan ayahnya yang sudah wafat. Ayahnya dulu pernah menjelaskan bahwa dia adalah orang Minang bukan orang Makassar. Ayahnya suka mendendangkan pantun dan lagu minang kepadanya, sambil menceritakan panorama alam yang ada di kampung halamannya.
  3. Flashback : Backstory ayah Zainuddin
    1. Tiga puluh tahun yang lalu, di Batipuh, Sapuluh Koto, Padang Panjang, ayah Zainuddin (bergelar "Pandekar Sutan"), adalah keponakan Datuk Mantari Labih (datuk adalah tokoh pimpinan adat di Minangkabau). Karena ia tidak memiliki saudara perempuan, maka menurut adat Minang, harta warisan ibunya dikelola oleh dia bersama-sama dengan pamannya (paman dalam bahasa Minang disebut dengan "mamak") : Datuk Mantari Labih.
    2. Datuk suka menghabiskan harta warisan Sutan. Sedangkan Sutan sendiri dilarang untuk menggunakan harta warisan itu. Sutan ingin menggadaikan harta warisan itu untuk modal pernikahannya, namun tetap saja ditolak oleh Datuk. Padahal, harta warisan Sutan dijual oleh Datuk untuk biaya pernikahan anaknya sendiri.
    3. Saat pertemuan di "rumah besar" (rumah gadang) bersama dengan para mamak-mamak yang lain, Sutan berusaha untuk memprotes"kezaliman" yang dilakukan Datuk kepadanya. Datuk pun naik darah. Sambil melompat, Datuk mengeluarkan kerisnya untuk menyerang Sutan. Namun, Sutan diberi julukan "Sutan Pendekar" bukan tanpa alasan. Sutan berhasil menancapkan belatinya ke lambung kiri Datuk lebih dulu, mengenai jantungnya.
    4. Seisi rumah ribut, banyak orang berusaha untuk menyerang Sutan, namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Sutan.
    5. Pekik perempuan semakin menjadi-jadi karena banyaknya korban yang berjatuhan. "Amuk-amuk!" teriak orang kampung. Kentongan berbunyi. Penghulu kepala (kepala daerah) lekas diberi tahu. Penghulu suku pun tahu juga.
    6. Beberapa jam kemudian, Pendekar Sutan ditangkap. Datuk Mantari Labih akhirnya meninggal setelah beberapa jam ditikam.
    7. Landraad (pengadilan negeri zaman Hindia Belanda) melakukan sidang di Padang Panjang. Sutan mengaku terus terang atas kesalahannya, dia dihukum buang selama 15 tahun. Saat itu, usia Sutan baru sekitar 20 tahun.
    8. Sutan dibuang ke Pembuangan Cilacap. Saat itu, Cilacap terkenal sebagai pembuangan orang dari Sumatra.
    9. Dari Cilacap, dia dibawa orang ke Tanah Bugis. Saat itu, terjadi peperangan Bone. Serdadu-serdadu Jawa perlu membawa "orang-orang rantai" (narapidana) yang gagah berani untuk memenangkan perang itu.
    10. Sutan telah menyaksikan sendiri kejatuhan Bone, menyaksikan ketika Kerajaan Goa takluk, menyaksikan kapal Zeven Provincien menembakkan meriamnya ke Pelabuhan Pare-pare.

Istilah Arkais[sunting]

Istilah arkais[1] merupakan istilah-istilah kuno dalam Bahasa Indonesia yang sudah jarang digunakan pada saat ini. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1938.[2] Bahasa Indonesia pada saat itu cukup berbeda dengan Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang. Oleh sebab itu, kita akan banyak menemui istilah-istilah arkais yang digunakan pada novel ini.

Peraduan[sunting]

Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya.

Peraduan adalah istilah arkais untuk tempat tidur / tempat peristirahatan.[3]

Islam[sunting]

Meskipun genrenya percintaan, novel ini ditulis oleh seorang ulama tafsir Al Quran asal Minangkabau : Prof. Dr. Hamka. Oleh sebab itu, novel ini kental dengan unsur Islam.

Matahari dan perintah alam gaib[sunting]

Matahari telah hampir masuk ke dalam peraduannya. Dengan amat perlahan, menurutkan perintah dari alam gaib.

Matahari mengikuti perintah dari alam gaib, sesuai dengan Al Quran (Surat Yasin, ayat 38).[4] Pada ayat itu dijelaskan bahwa pergerakan matahari merupakan salah satu ketetapan (perintah) Allah.

(Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.


Makassar[sunting]

Latar tempat dalam novel ini terbagi menjadi tiga lokasi utama : Makassar, Minangkabau dan Tanah Jawa. Bagian pertama dari novel ini mengisahkan kehidupan masa kecil Zainuddin selama tinggal di Makassar, sekaligus flashback bagaimana ayahnya yang orang Minang bisa sampai menetap di Makassar.

Nyanyian[sunting]

Ke pantai kedengaran suara nyanyian Iloho Gading atau Sio Sayang yang dinyanyikan oleh anak-anak perahu orang Mandar itu, ditingkah oleh suara geseran rebab dan kecapi.

Lagu Iloho Gading tidak dapat ditemukan lagi di Google. Namun, Sio Sayang ada di youtube. Apakah lagu Sio Sayang yang sekarang ada di youtube itu sama dengan lagu yang Hamka maksud pada tahun 1938?

Pulau Laya-Laya[sunting]

Dia seakan-akan penjaga yang teguh, seakan-akan stasiun dari setan dan hantu-hantu penghuni Pulau Laya-Laya yang penuh dengan kegaiban itu.

Ejaan lama Makassar[sunting]

Di waktu senja demikian, kota Mengkasar kelihatan hidup.

Fort Rotterdam[sunting]

... di dekat benteng Kompeni. Di benteng itulah, kira-kira 90 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro kehabisan hari tuanya sebagai buangan politik.

Lapangan Karibosi[sunting]

Sebelah timur adalah tanah lapang Karibosi yang luas dan dipandang suci oleh penduduk Mengkasar. Menurut takhayul orang tua-tua, bilamana hari akan kiamat, Kara Eng Data akan pulang kembali, di tanah lapang Karibosi akan tumbuh tujuh batang beringin dan berdiri tujuh buah istana, persemayaman tujuh orang raja-raja, pengiring dari Kara Eng Data.

Gunung[sunting]

Jauh di darat kelihatan berdiri dengan teguhnya Gunung Lompo Batang dan Bawa Kara Eng yang hijau nampak dari jauh.

Pelabuhan Makassar[sunting]

Kelihatan pula anggar baru, anggar dari pelabuhan yang ketiga di Indonesia, sesudah Tanjung Perak dan Tanjung Priok.

Kampung[sunting]

Di tepi pantai, di antara Kampung Baru dan Kampung Mariso

Bantimurung[sunting]

Jika disebut orang keindahan Bantimurung di Maros, di negerinya ada pula air mancur yang lebih tinggi.


Minangkabau[sunting]

Latar tempat bagian kedua pada novel ini, setelah Makassar, sebelum Tanah Jawa

Gunung[sunting]

Di kampungnya pun ada dua gunung yang bertuah pula, ialah Gunung Merapi dan Singgalang. Di Gunung Merapi ada talang perindu, di Singgalang ada naga hitam di dalam telaga di puncaknya.

Lagu serantih[sunting]

Masih terasa-rasa di pikirannya keindahan lagu serantih yang kerap kali dilagukan ayahnya tengah malam.

Hamka menyebutkan kembali mengenai "lagu serantih" ini dalam bukunya yang lain : Fakta dan Khayal Tuanku Rao.[5]

Lagu Serantih disebut lagu Baruh.

Kata "Baruh" disini merujuk pada daerah Barus, di Sumatra.

Ada pantun-pantun ayahnya yang telah hafal olehnya lantaran dinyanyikan dengan nyanyi serantih yang merdu itu.

Dapat disimpulkan bahwa serantih bukanlah "lagu" yang mengandung nada dan lirik, melainkan hanya "pola nada" yang biasa digunakan untuk melafalkan suatu pantun. Mirip dengan konsep "Pupuh" dalam kebudayaan Sunda.

Batipuh[sunting]

Suatu kejadian di suatu negeri kecil dalam wilayah Batipuh, Sapuluh Koto, Padang Panjang.

Gelar[sunting]

Seorang anak muda bergelar Pandekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih.

Referensi[sunting]

  1. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/arkais
  2. Prof. Dr. Hamka (1938) (dalam bahasa id, ms, min). Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Wikidata Q3472067. ISBN 978-979-418-055-6. OCLC 246136296. 
  3. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/peraduan
  4. https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-36-ya%20sin/ayat-38
  5. https://books.google.co.id/books?id=dIXgDwAAQBAJ&pg=PA230&lpg=PA230&dq=lagu+serantih&source=bl&ots=XwBxOt1Jxo&sig=ACfU3U3JSpLQbi5TppIT770aHL6Jesykew&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiG_5jT_5TyAhW-qksFHZdvCvUQ6AEwCXoECAgQAw#v=onepage&q=lagu%20serantih&f=false