Antologi Cerpen Jurnalis Kaltim Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya/Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Aku Membunuhnya Karena Aku Sangat Mencintainya
(2010) 
oleh Akhmad Zailani


                                                                  I

KATA orang menunggu adalah suatu pekerjaan yang membosankan, terkadang memang begitu. Tapi kali ini, bagiku menunggu tidaklah begitu membosankan. Aku sedang menunggu bis di Terminal Sungai Kunjang, Samarinda. Aku menunggu ditemani oleh pacarku. Hal itulah yang tidak membosankan bagiku. Biarlah bis berangkatnya lebih lama. Agak siang sedikit juga tak apa. Aku tak tergesa-gesa. Waktu masih panjang. Aku masih ingin bercakap-cakap.

Sebagai seorang mahasiswa aku harus mengadakan penelitian sebagai bahan untuk menulis sebuah skripsi. Skripsi merupakan salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan. Sesuai dengan judul penelitianku yang telah disetujui oleh pembimbingku, yaitu Pengaruh Pemberian Artemia Flake dengan Frekuensi dan Persentase yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benur Udang Windu (Panaeus Monodon Faricius), maka aku harus ke Balai Benih Udang Manggar di Balikpapan.

Sebelumnya aku survey duluan ke sana. Aku juga sudah mempersiapkan alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk penelitian tersebut. Timbangan dengan ketelitian yang cermat juga telah aku temukan tempatnya ; di sebuah laboratorium rumah sakit Balikpapan. Aku merasa lega. Di laboratorium itu aku bisa menimbang udang dan dosis pakan yang diinginkan. Dan di rumah sakit itu juga aku bisa bertemu dengan seorang dokter yang walaupun sudah bersuami tapi masih bersemangat. Dengan bodynya yang tinggi langsing dan kaki indah yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ah, aku jadi ngelantur terlalu jauh.
Maaf.

Aku melempar pandanganku ke bis yang hampir penuh. Banyak juga orang yang akan berpergian ke Balikpapan. Aku kembali menatap pacarku : “ hati-hati selama aku ngak ada”.

”Kamu juga, jangan lupa telpon,” balasnya.

Aku meraih ranselku, lalu melangkah masuk ke dalam bis. Duduk di ujung, dekat jendela yang terbuka tentu merupakan tempat yang nyaman. Ransel aku letakkan.

Seorang penjual karcis menyodorkan karcis kepadaku. Karcisnya aku tukar dengan uang. Bis mulai bergerak dan dari balik jendela kaca; pacarku melambaikan tangan.

Bis bergerak melewati Jembatan Mahakam. Dengusnya kian terasa, aku diam. Melamun dengan pandangan keluar bis.

Kursi di sampingku kosong. Sedangkan kursi di deretan kiri duduk sepasang suami istri. Mereka hanya sesekali bercerita. Selebihnya sang suami membaca koran terbitan hari ini.

Pagi tadi aku pun sempat membaca ManuntunG tentang beberapa peristiwa yang cukup menarik. Penggunaan obat-obat daftar G di kalangan remaja. Pembunuhan atau pemerkosaan juga mewarnai tiap hari halaman surat kabar. Atau tentang hal-hal yang kesimpulannya ketidakpuasan terhadap hal-hal yang mendasar. Tentang penggusuran dan lain sebagainya. Itulah cerita. Dan seandainya tak ada berita yang menarik atau dibuat agar menarik apa bisa laku surat kabar, yang begitu membutuhkan berita. Itulah hidup. Ada warna-warninya. Ada hitam putihnya. Ada buruk baiknya. Kalau tidak begitu bukankah tidak menarik?

Bis berhenti di Sungai Keledang. Seorang wanita yang aku taksir sekitar dua puluh tahunan naik dan masuk ke dalam bis. Cukup menarik dan manis. Rok span yang pendek seolah-olah memperlihatkan kaki-kakinya yang putih mulus. Sekali lagi aku menaksir, tingginya sekitar seratus enam puluh lima cm. Lumayan tinggi bukan? Untuk wanita pada umumnya.
Dia meletakkan kopernya. Kernet bis membantu (dengan senang hati tentunya) mengangkatkan karung goni miliknya. Tampaknya tidak begitu berat.
“ Yang itu biar diletakkan dibelakang aja,”ujarnya.

Kernet itu pun meletakkan karung goni dekat kursi deretan kursi di belakang. Tak sempat bertanya-tanya pula kernet itu apa isi karung goni. Yang dilakukan hanyalah; sehabis meletakkan karung goni itu lantas dia kembali duduk di kursi deretan paling belakang. Kembali dia tidur-tiduran ayam lagi.

Dan lewat kaca spion sang sopir melihat keadaannya sudah beres, bis pun digerakkanya lagi. Wanita yang berspan pendek itu pun tanpa berbasa-basi telah meletakkan pantatnya di kursi tepat di sampingku.

Sempat-sempatnya pula mata coklatku meliriknya. Memang manis, gumam hatiku.

Beberapa saat sunyi menggangguku. Aku ingin bercakap-cakap dengannya. Tapi rasa maluku menghambat. Sunyi tanpa bicara, padahal duduk bersebelahan adalah suatu hal yang canggung bagiku tanpa basa-basi. Aku kembali meliriknya. Sedikit saja. Pas kebetulan juga dia melirik ke arahku.

Dia tersenyum, otomatis aku pun jadi ikut tersenyum. Cihui, hatiku jadi berdebar-debar. Lantas hening kembali. Aku kembali dengan aktivitasku, membuang pandangan keluar jendela. Melamun-lamun sebentar dengan khayalan yang terbang ke awan.

Di luar jendela pohon-pohon berlarian. Dan dengus bis masih terdengar. Kalau pun suara bis tidak terdengar, sudah pasti bis itu mesinnya tidak berbunyi dong hehehe.

Wanita manis (rinciannya aku tambahkan ; kulit putih mulus ada bulu-bulu halus di tangannya) yang duduk di bangku sampingku meraih minuman kotak yang di belinya dari pedagang asongan. Ditusukkannya sedotannya ke atas kotak yang ada tandanya, lantas bibirnya yang tipis ( bak jeruk nipis) mulai menyedot teh dalam kotak.” Mau?” dia menawariku. Ada satu teh kotak lagi. Sebenarnya inginlah aku memilih teh kotak yang diisapnya. Sebenarnya ‘bekas’ sedotannya itulah yang aku inginkan. Tidak untuk teh kotaknya. Aku belum haus. Tapi akhirnya aku raih juga teh kotak yang masih ‘perawan’ itu dengan ‘terpaksa’.

Lumayan gratis. Dan bila gratis pasti ‘enak’.

“Pulang kampung?”dia bertanya padaku.

“Ah, nggak. Aku mau penelitian di Manggar. Kalau kamu?”aku balik bertanya.

“Aku ingin pulang. Lama sudah disini (Samarinda, maksudnya), ” wanita manis itu tersenyum.”Aku kangen sama Balikpapan..,” suaranya.

Penumpang yang duduk pada kursi di depan kami menolehkan kepalanya ke belakang. Sebentar, lantas meluruskan kembali kepalanya. Bis masih berlari. Sebentar-sebentar menanjak.Sebentar-sebentar menurun. Dan sebentar-sebentar menikung. Kami, aku dan wanita itu terus mengobrol. Enak juga mengobrol dengannya. Baru kenal sudah begitu terbuka bicaranya. Kami bicara tentang apa saja. Sesekali mataku memperhatikannya. Indah memang.

“Lama penelitiannya?”suaranya bertanya.

“Lama juga. Memang kenapa? Boleh main ke rumah nanti? Itu juga kalo nggak ada yang marah…”., aku mulai nakal.

“Boleh”, dia kembali tersenyum. “Kamu juga apakah nggak ada yang marah?”.

Aku hanya tersenyum.

“Pertanyaan yang tak diinginkan. Tidak enak juga bila berbohong. Bisa saja aku menjawabnya begini :”Ah, siapa yang marah. Orang jelek kayak aku ini mana ada yang mau.”.

“Kamu kuliah dimana sih?” tanya wanita itu.

“Di Unmul Fakultas Pertanian. Kalau kamu?”.

“Aku kuli…ah,”dia tertawa. “Eh, kita belum tahu nama kita masing-masing. Namaku Selvi. Boleh jabat tangan kan?” dia mengulurkan tangan kanannya. Agresif juga nih cewek. Kalah aku. Lembut juga tangannya.

“Boleh lama nih megangnya,” candaku. Mengimbangi keagresifannya?

“Boleh Selvi tersenyum lagi. “Sampai Balikpapan juga boleh. O, ya nama kamu belum disebutin…” tapi dia menarik tangannya..

”Namaku Jay”.

“jay …hmm lumayanlah.Jay … sebenarnya aku sudah menikah,”dia menatapku.

Tapi aku tertawa.

“Benar Jay. Aku sudah menikah, walaupun belum punya anak”.

“Lantas suamimu mana? kenapa nggak ikut?”.

“Ikut…,”Selvi tertawa. “Kami sudah berpisah…”. Lantas dia berbicara panjang lebar tentang dirinya dan kehidupan rumah tangganya. “Aku sudah membunuhnya…aku sudah membunuhnya…,”suaranya pelan. “Aku sudah membunuhnya Jay, karena dia membawa perempuan ke rumah kami. Saat itu aku pulang ke Balikpapan, Jay. Seminggu aku berada di Balikpapan. Ketika aku pulang ke Samarinda tidak memberitahu suamiku. Saat aku tiba di rumah suasananya sunyi. Mungkin suamiku belum pulang, pikirku. Tapi ketika pintu aku buka ternyata tidak di kunci. Aku lantas masuk. Saat aku mau masuk kamar, telingaku mendengar suara suamiku dan suara seorang perempuan. Mereka tertawa-tawa. Darahku langsung saja mendidih. Rupanya selama aku ke Balikpapan, suamiku asik push-up terus hahaha, “

Sejenak selvi tertawa sinis. “Aku tidak jadi masuk kamar dan malam itu juga aku langsung ke rumah keluargaku di Kampung Jawa. Mereka nampaknya nggak tahu aku telah melihat perbuatan mereka “.

Selvi kembali diam sejenak. Di sedotnya sisa minuman kotaknya.

Kuperhatikan dia, ada rasa kasihanku padanya. Dia butuh teman. Yang ingin kulakukan adalah menampung segala tumpahan emosinya. Sebagai pendengar yang baik itulah yang kulakukan.

“Dua hari kemudian baru aku pulang. Perempuan itu tak ada. Suamiku menyambutku wajar saja. Dia menyangka aku tidak mengetahui perbuatannya,”Selvi kembali melanjutkan ceritanya.

“Ah, kami memang kawin muda. Dan aku sangat mencintai suamiku. Aku ingin dia tetap milikku. Aku tak ingin ada perempuan lain yang merampasnya. Aku mencintainya. Pada suatu malam, saat suamiku tidur nyenyak, aku menancapkan sebuah pisau ke dadanya lalu aku potong-potong tubuhnya. Sadis memang. Tapi karena aku begitu mencintainya. Dia hanyalah milikku! Tidak untuk perempuan lain.”.

Oh. Kamu…kamu membunuhnya karena kamu mencintainya?” suaraku seperti bergetar.

“Iya. Di dalam karung goni itulah mayatnya,” suara Selvi terdengar seperti berbisik lantas dia tersenyum sinis.

Oh Tuhan, ingin rasanya aku pingsan saja.

“Aku ingin membuang mayat itu di pertengahan kilometer Samarinda-Balikpapan … dan menyimpan hatinya yang telah diawetkan di dalam toples,” suara Selvi lagi.

                                                                 ***


                                                                  II

BIS masih kosong. Aku sedang menunggu bis di Terminal Batu Ampar-Balikpapan. Aku sudah selesai dengan penelitianku tentang larva udang windu. Cukup melelahkan juga. Berpanas-panas matahari di pantai selama tiga bulan tentulah cukup menghitamkan kulitku. Aku kini lega dan ingin cepat pulang.

Bis masih belum penuh. Aku belum mau masuk ke dalamnya. Terlalu pagi memang aku datang. Biarlah. Aku ingin melamun-lamun di sana sambil menatap kesibukan-kesibukan di Terminal Bis Batu Ampar.

Aku berpikir-pikir dan mengingat-ingat tak ada lagi sesuatu apa pun yang tertinggal. Sesuatu apapun. Juga mengenai Selvi!

Sejak perkenalanku dengannya di bis dulu sampai akhir penelitianku, Selvi selalu dekat denganku. Dia menemaniku selama penelitian di Manggar. Kami selalu bersama-sama. Sewaktu aku harus menimbang larva udang windu, yang kecilnya seperti rambut itu pun (yang jaraknya berkilo-kilo dari lokasi penelitian) dia mau saja ikut bersamaku. Dia butuh teman. Dia ternyata menyukaiku. Selvi mencintaiku! Itulah yang akhirnya …. aku takuti!

Bis hampir penuh. Dan mau berangkat. Mesinnya sudah terdengar. Aku melangkah. Ranselku yang dulu masih tetap menemaniku. Cuma ada tambahan : ada sebuah karung goni yang aku bawa dari Balikpapan! Dan juga sebuah toples!.

Sebuah karung goni sudah aku buang di pertengahan kilometer Balikpapan-Samarinda. Ketika bis mampir sebentar.

Aku rasa kamu sudah tahu isinya… cuma hatinya yang aku bawa. Iya hati!. Benar-benar hati milik Selvi telah aku awetkan dalam toples.

Bis sudah bergerak menuju ke Samarinda. Aku melamun-lamun sendiri. Sendirian. Tidak ada Selvi.

Angin menerpa-nerpa wajahku. Aku ingin segera tiba di Samarinda.

Aku berencana bila tiba nanti, hal pertama yang aku lakukan adalah : Aku ingin membeli satu buah toples lagi. Satu toples lagi? Iya satu toples lagi. Tempat untuk menyimpan hati pacarku. Karena aku sangat mencintai pacarku.

                                                                  ***