Antologi Cerpen Jurnalis Kaltim Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya/Darah dan Air Mata

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Darah dan Air Mata
(2010) 
oleh Mukhransyah

HANYA satu kesimpulan yang kuperoleh tiap kali menatap tanah di atas bukit kecil itu, tidak ada sesuatu yang ganjil. Tanah itu sama seperti tanah-tanah kebun lainnya, yang digarap orang-orang untuk menanam ubi, jagung atau sayur-sayuran. Yang membuatnya berbeda justru lantaran tanah itu sudah lama ditelantarkan. Rumput ilalang dan semak - semak tampak memenuhi permukaannya.

Sejak ayah meninggal dunia entah mengapa ibu tak berniat menanaminya lagi. Padahal apabila ibu mengolahnya menjadi ladang singkong saja itu sudah akan dapat mencukupi kebutuhan pangan kami yang morat-marit selama zaman revolusi ini. Memang sukar untuk anak sekecilku menebak hati ibu. Aku sendiri tanpa alasan yang jelas, dilarang keras oleh ibu bermain di bukit yang tak terlalu jauh dari rumahku itu, sementara anak-anak lain tak pernah dilarang orang tuanya.

Menurutku, juga teman-temanku, memang sangatlah menyenangkan bila berada di atas bukit, kami bisa melihat jalan dan rumah penduduk dari ketinggian. Dari ucapan seorang teman kadang terlintas di benakku anggapan tanah itu mengandung kekuatan gaib sehingga ibu tak berani menanaminya. Tanah keramat. Tetapi setelah kupikir, mengapa anak-anak tidak mengalami kejadian buruk saat bermain di sana. Lagi pula kata yang satu ini kelewat asing dalam keluargaku.

Aku tidak pernah diajar menganggap suatu benda mati menyimpan kekuatan gaib. Kesangsianku ini pernah kupertanyakan kepada nenek, sebelum beliau meninggal sekitar setahun yang lalu, tetapi nenek tidak pernah bercerita apa-apa kecuali berkata, “ tanah itu tanah bapakmu, Ri.”

Sejak mula akupun sudah tahu tanah itu tanah bapak, tanah peninggalan bapak. Tapi begitu melihat wajah nenek yang murung, aku jadi bungkam, tidak lagi berani mengusut perihal tanah di bukit itu.

Membayangkan tanah itu aku jadi teringat orang gila di pasar yang dikucilkan seluruh orang kampung. Namanya atau orang orang menyebutnya Pak Nippon. Konon menurut cerita orang-orang, ketika Jepang berkuasa, Pak Nippon mempunyai kedudukan yang tinggi. Omongannya sangat berpengaruh pada orang-orang Jepang. Sayangnya omongannya itu hanya dipergunakan untuk memperoleh kedudukan yang sangat tinggi. Dengan mengorbankan orang lain, ia menjilat perwira-perwira Jepang. Sudah banyak orang yang ditangkap dan disiksa tentara Jepang, bahkan ada yang mati dipancung, akibat pengaduan Pak Nippon. Istri dan anaknya pun sudah tidak mampu menghalangi keserakahannya itu. Istri dan anaknya lalu pergi meninggalkannya ke pulau lain. Tinggallah Pak Nippon sendiri di tengah orang - orang yang membenci dan memusuhinya. Walau begitu orang-orang tak berani berbuat macam-macam terhadapnya lantaran takut pada tentara Jepang. Kehidupan Pak Nippon mulai berubah ketika sekutu mulai memasuki kawasan Asia Tenggara.

Menurut kabar angin, Pak Nippon telah mengganggu wanita simpanan seorang perwira Jepang, ia lalu dihukum berat. Disekap dalam penjara bawah tanah. Diberi makan hanya sehari, itupun berupa seekor tikus yang dipanggang setengah matang. Hampir tiap hari diterimanya pukulan-pukulan tentara Jepang. Sampai pasukan sekutu berhasil menguasai kampung dan mengusir Jepang dari Tanah Air, ia baru bisa terbebaskan. Namun akibat perlakuan kejam Jepang itu telah membuatnya mengalami goncangan jiwa yang berat, hingga hilang ingatan. Orang-orang tidak memperdulikannya. Membiarkannya saja menggelandang di sana sini. Perbuatannya dahulu tidak dapat terampuni di hati orang kampung. Termasuk keluarganya sendiri.

SINAR mentari yang berhasil menyingkirkan awan tebal menerpa dan menyentakkan kesadaranku. Hari telah menunjukkan kematangannya, aku harus segera pulang, sebelum ibu lebih dulu pulang dari menyiangi sawah. Aku sadar keterlambatanku akan menyebabkan ibu mencari-cariku. Dan bila ibu tahu aku tidak menuruti nasehatnya lagi untuk tidak bermain di tanah bukit ini, sebuah mala petaka bakal terjadi. Terbayang di benakku wajah ibu yang menantiku dengan sorot mata berang, lantas mulut ibu komat-kamit memarahiku. Namun selalu kuanggap sepi, karena esoknya kemungkinan besar aku akan mengulanginya kembali, tanpa pernah mau mengikuti nasihat ibu.

“ Dari mana saja kau, Hari ?” sambut ibu.

Aku hanya diam menunduk. Tidak berani menatap wajah ibu.

“ Dari kebun itu lagi? Ibu kan sudah bilang berkali-kali jangan main-main ke kebun itu lagi. Kamu bisa tidak mengikuti nasehat ibu!” Dan sebuah jeweran di kuping pun akhirnya kuterima dengan meringis pasrah.

Ibu lalu menggiringku masuk sambil terus memarahiku.

Sementara aku mulai memikirkan hal lain. Tentang gulai kambing lezat yang tadi pagi Bambang temanku ceritakan. Uh, betapa sedapnya terdengar kata itu, apalagi rasanya.

Omelan ibu tiba-tiba berhenti oleh suara orang di depan rumah. Ibu bergegas menuju pintu depan. Aku turut membuntutinya.

Dua orang laki-laki tampak berdiri di depan pintu. Aku mengenal satu di antara dua laki-laki itu. Dia adalah paman Sobri, adik bungsu ayahku. Sudah sekitar tiga tahun kami tak bertemu, sejak kemerdekaan diproklamasikan. Kabar terakhir yang kudengar Paman Sobri sekarang menjadi tentara republik. Ia ikut bergerilya dengan pejuang-pejuang lainnya menyerang tentara Belanda yang menduduki kota kami. Tetapi saat ini ia tidak mengenakan pakaian tentaranya, ia hanya mengenakan pakaian rakyat biasa seperti juga temannya.

Aku sangat senang dapat melihat paman kembali. Dahulu di zaman Jepang, sewaktu ayah masih hidup, paman tinggal bersama kami. Ia membantu ayah berladang. Tugas sampingannya adalah menjaga dan menemaniku. Sewaktu usiaku masih lima tahun aku sering diajaknya melihat kerbaukerbau mandi di kali. Tak heran bila aku merasa selain ayah, lelaki yang aku sukai dan dapat kujadikan sebagai pengganti ayah adalah pamanku ini.

“Bocah ganteng, sudah besar kau sekarang!” Paman Sobri mengusap-usap kepalaku.

Aku tersenyum bersama tarikan ingus di hidung.

“ Duduklah dulu,Dik Sobri, biar kubuatkan air minum dulu.”

“ Ah, nggak usah Mbakyu, kami cuma sebentar. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan kepada mbakyu,” ujar paman sambil duduk memangkuku.

Ibu mengenyitkan alis, menganggap kunjungan paman sangat serius. Ibu lalu segera duduk bersama kami.

“ Mbakyu mungkin sudah mendengar pertempuran dua hari yang lalu di pinggiran kota,” lanjut teman paman dengan suara pelan.

Dalam bentrokan fisik itu banyak anggota pasukan kami yang terluka parah. Kami sangat membutuhkan tenaga yang bisa merawat luka parah pejuang. Aku ingat mbakyu pernah jadi juru rawat rumah sakit ketika kedudukan Belanda dulu. Jadi aku pikir mungkin mbakyu dapat membantu kami. Mbakyu tentunya tahu banyak mengenai pengobatan. Kami harap mbak bersedia membantu kami,” pinta teman paman.

Ibu diam merenung.

“Kami tidak memaksa mbak untuk turut berjuang bersama kami, ini tergantung kerelaan mbak sendiri. Kami bakal menghadapi bahaya besar bila turut bersama kami. Tapi itulah pejuang,” kata paman.

“Bukan, bukan itu yang aku kuatirkan,adalah sangat menyenangkan bagiku bila dapat membantu perjuangan kalian. Aku hanya tidak tahu bagaimana dengan Hari,” Ibu menatapku dengan sorot mata sayu.

Aku balas menatapnya dengan penuh keluguhan seorang bocah. Dari mata ibu, sejak itu aku mengerti betapa ibu teramat menyayangiku.

“ Hari kan bisa tinggal sementara dengan Kang Tata?” sahut Paman.

Kurasa ibu bukannya tidak tahu bila aku bisa dititipkan dengan Paman Tata. Kurasa paman juga mengerti akan hal itu. Ibu masih terdiam. Aku tak bisa membaca apa yang tengah berkecamuk dalam hati ibu.

“ Bagaimana, Mbak?” desak paman.

Ibu menganguk.” Baiklah.”

“ Kami tidak memaksa lho, Mbak. Aku kira Mbak cukup tahu bahwa perjuangan kita teramat berat. Kita harus bersembunyi terus di atas gunung, di tengah hutan. Setiap saat pertempuran bisa saja terjadi. Entah sampai kapan.”

“ Aku Tahu.”

“ Aku tak ingin tinggal bersama Paman Tata,” rengekku tiba-tiba.“Aku ingin tetap bersama ibu.”

“ Hari mengertilah, ibu harus ikut membantu para pejuang. Lagi pula ini hanya sementara waktu, sebentar juga ibu kembali.

“ Sampai kapan,Bu?”

“ Hanya sebentar. Ya?”

Aku tak bersuara. Aku takut mengecewakan paman atas sikapku tadi. Aku hanya sungguh-sungguh tak ingin berpisah dengan ibu.

“Baik,” paman dan temannya bangkit.” Kalau begitu kami permisi dulu, mbak kami ingin mengamati daerah sekitar sini dahulu. Setelah pertemuan dua hari yang lalu Belanda tampaknya mulai waspada. Nanti kami jemput mbak kembali, saat senja kita akan masuk hutan.

Sebelum pergi paman mengusap kepalaku lagi. “Paman pergi dulu ya, bocah ganteng. Paman harus terus berjuang merebut kemerdekaan bangsa kita. Kamu tahu apa itu kemerdekaan?”

“ Merdeka!” teriakku begitu paman berbalik pergi.

Paman berbalik kembali ke arahku dan mengangkat tangan kanannya yang mengepal.

Ibu telah masuk ke dalam, mungkin ingin berkemas. Aku terus memperhatikan kepergian paman. Mereka berdua tampak sangat hati-hati berjalan, seperti takut dilihat orang. Sebenarnya kampungku ini cukup jauh dari pinggir kota yang sepenuhnya dikuasai Belanda, namun sejak pertempuran dua hari yang lalu mobil patroli Belanda jadi sering berkeliaran di jalan-jalan kampungku. Kadang mereka melakukan konsolidasi ke rumah- rumah penduduk.

Ah, betapa aku sangat benci suasana perang seperti ini. Aku sungguh tak mengerti mengapa manusia harus memiliki hasrat besar untuk berkuasa.

Ketika kutanyakan kepada orang-orang tua mereka hanya menjawab,”kau masih kecil kelak kau juga akan mengerti.” Apakah orang-orang yang kerjanya bertani itu juga mengerti mengapa harus ada perang? Apakah mereka tidak begitu tolol menganggap mengerti perang hanya sebatas sebuah pertempuran?

Mungkin cuma ibu yang berkata lain padaku, itu pun masih sukar dicerna otak anak berusia delapan tahun sepertiku: ”Itulah manusia, Hari. Itulah manusia. Kadang manusia sendiri sulit mengenal dirinya sendiri. Perang adalah satu usaha manusia mempertahankan keyakinannya masingmasing, tetapi perlu kau ingat, perjuangan yang sesungguhnya adalah dengan mempertahankan keyakinan akan kebenaran.


  • SEBELUM pergi menuju ke rumah Paman Tata, aku dan ibu berbelok menuju makam ayah di sudut kampung. Sejak dari rumah, ibu tampak tak banyak bicara. Aku yang berada di sisi ibu berusaha mengimbangi langkah ibu yang bergegas.

“ Bu, aku tidak mau tinggal bersama paman. Aku ingin tetap bersama ibu saja”. Aku masih saja merayu ibu pada kesempatan itu. Sebenarnya aku ingin mengatakan baiknya ibu tak usah pergi saja, tapi aku takut ibu akan kecewa padaku. Aku mencemaskan ibu, hanya ibu yang kumiliki saat ini. Mengingat ayah aku jadi takut kehilangan ibu.

“ Hari, ibu senang kau jadi laki-laki pemberani seperti ayahmu. Tapi perjuangan ini bukan untukmu. Dan kau jangan ingin selalu bergantung ibu. Kau harus belajar hidup sendiri, karena nantinya bila kau sudah besar kau juga akan hidup sendiri.” Tiba di makam ayah ibu langsung duduk. Lalu mulut ibu bergumam lirih.
Aku tak begitu jelas menangkap suara ibu. Selama berziarah aku terkenang saat ayah masih hidup.

Setelah dari makam ayah, kami melanjutkan menuju rumah Paman Tata. Kali ini banyak menasehatiku setelah nanti ditinggal di rumah paman. Aku yang bergayut di lengan ibu tak berkata-kata. Kalaupun ada mungkin cuma satu yang akan kukatakan,”

Aku ingin tetap bersama ibu.” Walau begitu di dalam hati aku berjanji akan mematuhi nasihat ibu.

Paman dan Bibi yang tengah duduk di beranda menyambut kami dengan hangat begitu kami tiba.

Ibu lalu menceritakan kedatangan Paman Sobri dan perjuangan laskar republik yang membutuhkan bantuan ibu kepada paman dan bibi. Kemudian ibu meminta paman untuk menjaga aku selama ibu pergi. Sejak datang aku hanya berdiam diri dengan wajah sendu.
Karena hari sudah mulai petang, ibu pamit untuk pulang. Ibu takut Paman Sobri sudah menunggu. Sebelum pergi ibu memelukku erat. Kurasakan pelukan ibu itu dengan sepenuh hati. Saat ibu menciumku
kulihat matanya berkaca-kaca, tapi air matanya tak sampai jatuh.

“ Bu, aku ingin ikut,” kataku lirih.

Kusadari ucapanku hanyalah sia-sia. Mataku telah basah. Ibu berbalik dan melangkah pergi.

Saat ibu menghilang dari pekarangan aku berlari ke jalan. “ Ibu………!!!” aku menjerit sekeras yang aku mampu kepada sesosok perempuan yang melangkah tanpa ragu itu.


  • TINGGAL di rumah Paman Tata cukup menyenangkan. Segala kebutuhanku dapat terpenuhi. Dalam suasana perang begini

paman masih mempunyai persediaan pangan yang cukup. Mungkin ini karena anak-anak paman sudah besar-besar dan berpenghasilan sendiri.

Dua dari tiga anak paman telah menikah dan meninggalkan rumah itu. Setiap minggu mereka membantu keperluan keluarga paman. Sedang anak paman yang bungsu berusia delapan belas tahun. Seorang perempuan bernama Yuniar. Kak Yuniar inilah yang teramat baik padaku, ia selalu menghiburku. Sebelum tidur ia bercerita untukku, tentang apa saja. Aku suka padanya.

Hari demi hari kampung kami semakin tidak aman. Setiap saat ada saja patroli Belanda yang datang dan menembaki penduduk yang dicurigai dengan seenaknya. Belanda mensinyalir banyaknya tentara gerilya yang berasal dari kampung ini.

Suatu kali terdengar dentuman keras di sekitar lereng gunung. Suatu ketakutan bercampur kengerian menyergap diriku. Apakah ibu berada di sana? Aku segera menghambur ke luar rumah dan berteriak memanggil ibu. Paman mengejar dan menangkapku.

Beberapa bulan kemudian suasana berangsur-angsur membaik. Menurut paman Belanda sudah mengakui kedaulatan Indonesia dan berjanji akan meninggalkan Bumi Pertiwi. Aku sangat bahagia perangberakhir. Orang-orang pun mulai berani berkeliaran di jalan-jalan lagi. Bahkan ada yang berani berteriak. “Usir bule-bule keparat dari tanah air!” dengan suara lantang, tanpa kuatir akan serdadu.

Tapi kutunggu-tunggu ibu belum juga pulang. Padahal pemuda-pemuda kampung yang turut berjuang telah banyak yang pulang. Aku kian cemas dan takut.


Pagi itu aku sedang duduk di beranda ketika Paman Sobri datang. Aku bergegas menghampirinya. Dia tersenyum melihatku dan mengangkatku di pundaknya yang kokoh.

“ Paman, ibu di mana?” inilah pertanyaanku yang pertama padanya.

Setelah semua duduk , siap mendengarkan, Paman Sobri baru berkata,” Ibumu telah gugur sebagai pahlawan, Ri.”

Mendengar itu hati dan jiwaku langsung runtuh.

“ Ibumu adalah wanita pemberani. Demi kemerdekaan bangsa ibumu rela masuk hutan dan turut bergerilya bersama kami. Semula tujuan kami memang hanya ingin ibumu merawat pejuang yang terluka. Tapi lama kelamaan setelah pasukan berkurang, ibumu ingin turut mengangkat senjata. Kami tidak mampu menghalangi semangat ibumu yang berapi-api itu. Suatu kali terjadi pertempuran besar-besaran dengan pasukan Belanda. Dalam pertempuran itu banyak anggota pasukan kami yang terluka dan tewas. Salah satu yang gugur adalah ibumu.”

Perang memang tidak hanya pertempuran. Aku merasa akibatnya sangat parah. Perang telah merenggut ibu dariku. Kubiarkan air mataku tercurah habis. Tumpah dengan derasnya.

“Tak usah kau bersedih,” Paman Tata mencoba menghiburkan.” Perjuangan bukan untuk ditangisi. Kau beruntung, kita yang hidup sekarang beruntung dapat mencicipi kemerdekaan, sementara banyak para pejuang yang mewujudkan kemerdekaan dengan taruhan nyawa justru tidak dapat merasakannya. Kemerdekaan adalah untuk kita, selanjutnya adalah tugas kita untuk memberi makna pada kemerdekaan itu.”

“ Dahulu bapakmu pun begitu,” Paman Tata menambah.” Bapakmulah yang menanamkan arti perjuangan pada ibumu. Kau tahu tanah warisan keluarga. Saat itu Jepang ingin menguasainya untuk dijadikan pos pengawasan. Tapi Bapakmu dengan gagah berani menolak memberikannya. Bahkan sampai diiming-iming kedudukan Bapakmu tetap menolak. Gagal cara halus Jepang mulai melakukan kekerasan. Suatu kali terjadi pertikaian yang menyebabkan bapakmu tewas. Di atas bukit itulah napas terakhir bapakmu. Berhasil atau tidak apa yang dicitacitakan orangtuamu kau patut berbangga, karena orangtuamu berani memperjuangkan sesuatu yang diyakininya adalah kebenaran. Kau tentunya tak ingin menyuramkan perjuangan dengan terus bersedih. Ayah dan Ibumu mati sebagai pahlawan. Pahlawan di hati kita. Di hati bangsa.”

Aku menatap wajah Paman Sobri. Aku tak dapat merumuskan kata ' bangga' itu. Aku hanya tahu saat ini aku tengah merasakan kehilangan yang teramat sangat.

Paman Sobri menepuk-nepuk pundakku lemah. Suatu hari aku akan mengerti dan merasakan sendiri apa itu perjuangan dan kebanggaan.


  • Samarinda, 2 Pebruari 1993