Lompat ke isi

Antologi Cerpen Jurnalis Kaltim Aku Membunuhnya Karena Aku Mencintainya/Rumah Kuning

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Rumah Kuning
oleh Try Lestari Soemariyono

TIDAK ada yang istimewa sesungguhnya dari bangunan itu. Semuanya serba sederhana. Satu yang paling menonjol, hanya warna catnya yang menantang, kuning terang. Selebihnya, semua biasa.

Seperti warna kuning, yang konon adalah warna cemburu, penghuninya selalu berganti-ganti setiap tiga atau empat bulan sekali. Hidup sendiri, menunggu seseorang dengan kecemburuan yang mendalam. Silih berganti.

Rumah kuning itu adalah rumah kontrakan dari Bu Kadar, tetanggaku yang berpredikat janda. Entah kenapa, mereka yang ngontrak, selalu isteri kedua yang dinikahi siri. Posisi rumah itu tepat berhadapan dengan rumahku. Cukup strategis untuk menyiumpan isteri kedua atau ketiga, karena lingkungan kami jauh dari keramaian.

“ Kita memiliki tetangga baru lagi, Rat,” Mas Deny membisikiku suatu sore saat aku baru tiba dari kantor. Aku keheranan, sebab suamiku itu tak pernah peduli selama ini siapa tetangga kami. Tetangga kamipun jarang memperkenalkan diri. Pintu rumah itu selalu tertutup rapat, kapanpun. Seperti tak ada kehidupan. Kecuali jika ada suara mobil yang menderu, pintu itu terbuka sesaat, untuk kemudian tertutup lagi.

“ Kami masih ingat Adisti,kan?”

Aku mengangguk

“Dialah penghuni rumah kuning itu”

Jantungku langsung berdegup. Adisti? Aku ingat nama itu. Sahabatku semasa kuliah, mantan pacar Mas Deny suamiku.

“Tadi pagi ia pindah”

“ Ia ke sini?”

“Ya” Mas Deny mengangguk.

Kuhirup jus tomat. Serasa dingin mengaliri kerongkonganku. Tetapi…, hei, dadaku terasa mulai memanas. Cemburu? God! Rasanya tidak. Lalu?

“ Rat, dia agak kurusan.” Mas Deny berucap pelan. Aku menangkap nada simpati kutatap mata suamiku. Biasa saja.

“ Istri simpanan juga? Aku berusaha tak terpengaruh pada perasaanku.

“ Aku tak tahu.” Mas Deny mengangkat bahu.” Mandi dulu, kamu kelihatan lelah.”

Tanpa komentar, aku menuruti saran mas Deny. Seharian ini aku memang lelah. Banyak yang harus kukerjakan, demi kemajuan perusahaan. Seusai mandi, aku memang lebih segar, tetapi tidak dengan pikiranku. Kuoles lipstik pink ke bibir mungilku. Kubiarkan rambut cokelatku tergerai Sret… Sret …, parfum menyentuh bagian telingaku dan pergelangan tanganku. Aku tak ingin kelihatan lusuh, apabila tetangga baruku adalah adisti!

                                                                   *

Ting … tong

Bel rumahku menjerit. Bik Maimun membukakan pintu, dan seorang wanita bergaun kuning, berdiri di depan pintu. Adisti.

“ Malam, Rat” Adisti menyapaku. Senyumnya mengambang manis. “ Apa kabar?”

“Baik,” aku menjawab.

Kami berpelukan sesaat. Tujuh tahun tak bertemu, sesungguhnya aku begitu kangen pada sahabatku ini. Ia memang kelihatan lebih kurus, tetapi makin cantik.

“Ayo rezki tak boleh ditolak. Aku dan Mas Deny kebetulan mau makan malam, kamu harus makan bersama kami,” kugandeng tangannya menuju ruang makan. Ia sedikit ragu, tetapi akhirnya mengikuti langkahku.

Sesaat ia melihat sungkan ketika menjumpai mas Deny di ruang makan, tetapi menjadi hangat ketika menjabat tangan Alia, putri tunggalku. Lima belas menit kemudian, sifatnya normal, seperti tujuh tahun yang lalu, penuh canda dan riang. Sifat inilah yang bisa membujuk kependiamanku menjadi lumer, dan bisa bersosialisasi dengan siapapun. Pengaruh Adisti begitu kuat terhadapku. Ia sosok wanita yang smart, dalam sikap maupun pikiran. Aku memang megaguminya. Ia populer di kampus dengan segudang prestasi akademik dan wajah orientalnya yang menyenangkan.

“ Ratna sayang, aku akan menikah bulan depan,” Adisti , membisikiku suatu senja ketika aku akan sholat magrib di kamar kostku. Senyumnya mengembang menagkap raut keheranan diwajahku. Menikah? Diusia muda dan kuliah belum kelar?

“Sholatlah dulu. Engkau pasti berprasangka aku kebobolan, kan? Adisti tertawa. “ Aku masih perawan, Non.”

Ketika lengking cacing tak lagi bergema, sebagai tanda bahwa senja telah terlewati, kusodorkan segelas teh hangat pada Adisti.

“ Siapa lelaki beruntung itu, Adis?” aku bertanya tak sabar.

“Ia lelaki sederhana yang pernah kuliah di ISI Jogjakarta. Aku baru mengenalnya dua minggu.”

“ Dua minggu? Kamu tak bercerita padaku?” aku ,e,belalak. “ Secepat itu mau menikah?”

“ Dia baik, Rat. Ia mencintaiku lulus, dan aku mencintainya amat sangat. Aku mengenalnya ketika nonton pameran lukisan di taman Budaya, kamu masih ingat?”

“Seniman gondrong itu?” aku makin terbelalak.

“ Ingatanmu sangat bagus. Yap, deny Asmara.”

Aku terdiam. God, cinta seperti apa itu?

“Itu namanya cinta kilat, Dis. Perkawinan itu tidak hanya untuk satu dan dua bulan saja, tetapi seumur hidup. Bagaimana dengan mama? Papa? Keluarga lainnya? Dua minggu Dis, terlalu singkat dan sinting untuk mengambil satu keputusan yang penting.” Aku menatapnya galak.

“Aku tak peduli. Aku mencintainya.Titik.”

Dua minggu kemudian, tak ada janur melengkung dan tenda biru di rumah Adisti.Yang ada justru karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa atas kematian Tante Ine, Ibunda Adisti. Serangan jantung telah menghentikan nafas wanita baik itu. Permohonan restu untuk pernikahan, tak pernah ada.

Dan Adisti menghilang. Sebulan kemudian aku mendapat phone darinya. Ia di Belanda. Opanya memang ada di sana. Dan setelah itu kami tak pernah lagi berhubungan. Ketika aku telah menyandang gelar sarjana ekonomi dan akan menikah dengan Mas Deny, aku minta izin dan restu pada Adisti melalui Mbak Mery kakak satu-satunya dari sahabat tersayangku itu.

“ Kamu pagar makan tanaman, Rat. Aku benci padamu.” Adisti menelpon menjelang pernikahanku. Tangisnya mengalun pilu. Mas Deny membisu. Akupun demikian.

Maafkan aku, Dis.
Dan hari ini kami kembali bertemu setelah hampir tujuh tahun berpisah.

                                                                        *

Sisa kemarahan tak ada lagi pada Adisti.

Bibir merahnya banyak menyunggingkan senyum, tetapi juga menyimpan misteri dari kepergiannya selama ini. Hari ini aku ingin semuanya menjadi jelas. Dari bibir Adisti sendiri, bukan dari Mas Deny suamiku. Tentang Tante Ine yang meninggal tiba-tiba, Om Hendry yang murung, Mbak Mery yang gelisah, pernikahan yang tak pernah ada, dan Adisti yang kabur keluar negeri. Oh!

Percayakan engkau pada takdir, Ratna?” Adisti menatapku dalam.

“Tentu saja” Aku menjawab menggenggam tangannya.

Kebisuan meyergap kami. Helaan nafas terdengar, ditingkahi denting jam pukul dua belas malam. Mas Deny sejak pukul sebelas tadi sudah masuk kamar, mengeloni Alia yang agak cerewet malam ini. Aku dan Adisti masih melepas kangen, menumpahkannya dalam bingkai waktu tujuh tahun perpisahan kami.

“Dulu aku marah pada papa. Marah pada keadaan, marah pada Tuhan.., dan takdir yang ditentukannya. Takdir yang disuratkan padaku, begitu berat. Aku tidak boleh menikah dengan orang yang kucinta, yang kusayang, yang begitu mengerti aku.” Adisti memulai membuka kisah yang belum aku ketahui.

“Keterus terangan papa, menyebabkan mama meninggal secara tiba-tiba, juga membuatku marah. Kejujuran yang memang harus diakui papa, menyebabakan takdir yang digoreskan, harus kujalani. Aku mesti berpisah dari Mas deny, pria yang kucinta yang semestinya menjalani hidup denganku. Engkau tahu, Rat? Tak pernah ada restu dari papa. Mas deny adalah anak kandung papa, dari wanita lain. Pengakuan yang mengejutkan mama, mbak Mery dan aku. Mama yang merasa dikhianati, dan aku yang sedarah dengan Mas Deny…” Adisti mulai terbata.

“Tidak ada satupun wanita yang rela ketika suaminya mencintai wanita lain dan menghadirkan seorang anak dari percintaannya yang lain pula. Demikian juga dengan mama. Jantung mama tak kuat menerima itu semua, apabila papa diakui mama sebagai suami yang paling setia.” Mata Adisti membasah.

“Aku marah pada papa. Pada Tante Minarsih, ibu Mas Deny. Mengapa mengambil cinta dari kami. Ia tak berhak…” Adisti terisak. Aku diam, merengkuh bahunya. Kubiarkan ia sesenggukan. Barangkali dengan demikin, ia bisa sedikit lebih lega.

“ Tetapi takdir harus kujalani lagi, Rat. Kalau akau dulu menghardik Tante Minasih dengan perkataan keji, merebut suami orang tanpa perasaan, sekarang aku tahu.., bahwa ketika cinta menyapa dan mengisi relung hati seseorang, tiada satupun bisa menolak. Rat, aku menikah dengan Mas Erlangga, yang telah memiliki istri yang baik dan anak yang baik pula.., aku menjadi istri kedua seperti halnya Tante Minasih. Di luar logikaku. Ia pria biasa yang tidak kaya. Jabatannya biasa juga. Tetapi aku mencintainya, dan ia mencintaiku..”

Aku tetap diam. Mencoba berkompromi dengan perasaanku. Begitu dahsyatkah sebuah cinta? Mempermainkan kehidupan seseorang dengan dalih takdir? Betapa maha berkuasanya cinta, memporakporandakan rasa tanpa logika. Mengubah seorang Adisti yang benci akan perkawinan dibawah tangan, justru menjalaninya. Ah!

                                                                        *

Rumah kuning itu ditakdirkan untuk menampung penghuninya yang menjadi istri kedua atau simpanan. Menyimpulkan warna kecemburuan. Menyimpan banyak kisah yang direkam oleh dindingnya yang kuning. Pagarnya yang kuning. Atapnya yang kuning. Merangkumnya dalam satu permainan, bahwa penghuninya adalah wanita-wanita yang siap cintanya dibagi.

Tiga bulan kemudian, aku kembali kedatangan tetangga baru. Adisti telah pindah dan mengikuti suaminya ke Brunai.

Ketika pagi menjelang dan aku bersiap menuju kantor bersama Mas Deny, kulihat Pak Sinaga, bosku di kantor memasuki mobilnya dianatar wanita muda sexy berkulit putih. Dan aku tahu, itu adalah wanita simpanannya yang dinikahinya empat minggu yang lalu.

Rumah kuning itu kembali menjadi saksi bisu. Percintaan, kegelisahan dan kecemburuan, menyatu dalam satu kisah, tersimpan dalam pintu yang selalu tertutup rapat, berwarna kuning.

                                                                        *