Bahasa Roh

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Jump to navigation Jump to search

DOKTRIN BAHASA ROH MENURUT PAULUS DALAM I KORINTUS 12 - 14

Ditulis Oleh : Leo Siribere, untuk Tugas Mata Kuliah Teologia Paulus, 08 Agustus 2013

Pendahuluan[sunting]

Latar Belakang Masalah[sunting]

Di tengah-tengah perkembangan gereja abad modern ini, terdapat banyak perbedaan-perbedaan doktrin yang belum terpecahkan. Salah satu yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah mengenai perbedaan pandangan dan praktek bahasa roh. Dari semua karunia roh yang tercatat dalam Perjanjian Baru, karunia inilah yang paling banyak menimbulkan pertentangan pendapat yang berakibat timbulnya perpecahan yang tajam ditengah-tengah umat Kristen Perdebatan-perdebatan seputar bahasa roh yang hingga saat ini masih diperdebatkan antara lain adalah :

1. Adanya pandangan yang mengatakan bahwa yang terjadi dalam peristiwa Pentakosta bukanlah mujizat perkataan (bahasa lidah) melainkan mujizat pendengaran. Pandangan ini mengatakan bahwa orang-orang yang hadir yang berasal dari berbagai bangsa mengalami mujizat dapat mendengar perkataan para Rasul dalam bahasa mereka masing-masing. Pendapat ini telah mendapat bantahan dari tokoh Kristen Gregorius[1] yang mengatakan bahwa apa yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul 2 ayat 4 menunjukkan peristiwa dimana para Rasul telah berbahasa roh sebelum orang-orang banyak datang berkerumun. Baru beberapa saat kemudian, setelah turun bunyi, yakni setelah orang banyak mendengar suara-suara yang ribut, barulah orang banyak itu berkumpul dan menyaksikan para Rasul berbahasa roh. Pada saat itu para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa lain, bukan dalam bahasa mereka sendiri.

2. Apakah bahasa roh masih ada hingga kini ? Perdebatan ini dipicu oleh adanya pandangan yang mengatakan bahwa karunia bahasa roh sudah berhenti dan tidak diperlukan di dalam gereja. Pandangan ini memakai dasar Alkitab pada 1 Korintus 13:8-10 yang menyatakan bahwa Kasih tidak berkesudahan; …..bahasa roh akan berhenti; ……. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Menurut Peter Wagner, tokoh yang mendukung pernyataan di atas antara lain adalah Merrill Unger, John Walvoord dan John Mac Arthur. Namun pandangan ini ditentang oleh beberapa pemimpin seperti pendeta Jack Hayford dari Church on The Way, bahkan Michael Griffiths menyatakan bahwa pendapat yang mengatakan karunia-karunia Roh tertentu hanya berlaku pada zaman rasul-rasul, sudah sangat mirip dengan liberalisme[2]

3. Apakah bahasa roh itu hanya sekadar karunia roh atau suatu tanda dibaptis Roh Kudus ? Adanya pandangan yang mengatakan bahwa karunia berbahasa roh adalah merupakan tanda yang mutlak harus dimiliki oleh orang yang telah mengalami baptisan Roh Kudus, mengakibatkan ada yang menyimpulkan bahwa semua orang harus memiliki karunia bahasa lidah, jika tidak, maka orang tersebut dianggap belum dibaptis oleh Roh Kudus meski orang tersebut sudah bertobat. Kelompok ini berpendapat bahwa bahasa roh sangat penting karena dapat memberi kekuatan di dalam pelayanan dan kehidupan rohani seseorang. Bagi yang menentang pandangan di atas, beranggapan bahwa seseorang yang sudah bertobat sudah pasti menerima Roh Kudus, karena tanpa Roh Kudus tidak mungkin seseorang bisa mengalami pertobatan. Bahasa roh dianggap sebagai karunia yang tidak harus dimiliki oleh semua orang, karunia ini dianggap sebagai karunia yang tidak terlalu penting terutama kalau tidak disertai penafsiran karena tidak dapat membangun kerohanian orang lain.

Topik mengenai karunia bahasa roh adalah merupakan topik yang sangat berkaitan erat dengan Roh Kudus, sehingga sangat disayangkan jika perbedaan pandangan mengenai topik ini, justru menimbulkan perpecahan di dalam tubuh Kristus. Padahal menurut Billy Graham, Roh Kudus tidak pernah bertujuan menjadikan gereja terpisah-pisah, melainkan untuk mempersatukan gereja menjadi satu di dalam tubuh Kristus[3]. Beliau juga berkata, “jika karunia bahasa roh disalahgunakan dan dijadikan alat untuk memecah belah, maka ada sesuatu yang tidak beres, yaitu Dosa telah memasuki tubuh Kristus”[4]

Sejarah Singkat Dan Latar Belakang Surat I Korintus[sunting]

SEJARAH[sunting]

Praktek bahasa roh sudah ada sejak zaman para Rasul yaitu sejak peristiwa Pentakosta yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul 2. Dalam peristiwa ini para Rasul berkata-kata dalam berbagai bahasa, dan orang banyak dari berbagai rumpun bangsa terheran-heran karena mereka mendengar perkataan para Rasul dalam bahasa asal mereka. Dalam dua peristiwa berikutnya karunia bahasa roh juga terjadi pada orang-orang percaya yang bukan keturunan Yahudi, yaitu peristiwa yang terjadi di Kaisarea, di rumah seorang perwira pasukan Italia bernama Kornelius dalam Kisah Para Rasul 10 dan peristiwa yang terjadi di Efesus dalam Kisah Para Rasul 19. Pengalaman berbahasa roh yang terdapat di dalam kitab Kisah Para Rasul inilah yang menjadi dasar munculnya gerakan yang mengutamakan Roh Kudus yang saat ini dikenal dengan aliran Pentakosta dan kemudian Kharismatik. Kelompok ini meyakini bahwa bahasa roh sebagai sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh seseorang yang telah mengalami baptisan Roh Kudus.

Dalam perkembangannya, semangat kelompok Pentakosta dan Kharismatik semakin banyak menarik petobat-petobat baru dan orang-orang Kristen yang haus dan lapar akan kebenaran. Perkembangan kelompok ini menjadikan karunia bahasa roh menjadi karunia yang paling kontroversial di antara semua karunia roh yang ada, bahkan berdampak menimbulkan perdebatan dan perpecahan. Alkitab mencatat bahwa pada zaman para Rasul fenomena bahasa roh ini juga pernah menjadi perdebatan ditengah-tengah jemaat Korintus, penyebabnya adalah sikap yang meninggikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh sedemikian rupa sehingga karunia-karunia roh lainnya dan orang-orang yang tidak memiliki karunia bahasa roh diremehkan. Hidup mereka yang mengutamakan karunia bahasa roh, namun tidak disertai dengan kehidupan rohani yang benar telah mendorong Paulus melalui suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus ini untuk mengajar mereka tentang bahasa roh dan aplikasinya ditengah-tengah jemaat. Untuk menghindari perpecahan seperti yang terjadi di Korintus ini, tentu saja pengajaran mengenai bahasa roh yang dikemukakan Rasul Paulus di atas juga perlu untuk dimengerti dan diaplikasikan ditengah-tengah jemaat pada masa kini.

Latar Belakang Surat I Korintus[sunting]

[5]

a)Latar belakang

Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Bersama dengan Priskila dan Akwila (1Kor 16:19) dan rombongan rasulinya sendiri (Kis 18:5), Paulus mendirikan jemaat Korintus itu selama delapan belas bulan pelayanannya di Korintus pada masa perjalanan misinya yang kedua (Kis 18:1-17). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasulinya melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi.

b)Tujuan

1)Untuk membetulkan masalah yang serius dalam jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius.

2)Untuk memberikan bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat.

c)Ciri-ciri Khas

1.Surat ini paling berpusat pada persoalan dibandingkan dengan kitab lain dalam PB. Dalam menangani berbagai masalah dan perkara di Korintus, Paulus memberikan prinsip rohani yang jelas dan kekal (lih. Garis Besar), di mana setiap prinsip itu dapat diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh jemaat (mis. 1Kor 1:10; 1Kor 6:17,20; 1Kor 7:7; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:31-32; 1Kor 14:1-10; 1Kor 15:22-23).

2.Secara menyeluruh ditekankan kesatuan jemaat lokal sebagai tubuh Kristus, suatu fokus yang ada dalam pembahasan tentang perpecahan, Perjamuan Kudus, dan karunia-karunia rohani.

3.Surat ini berisi pengajaran PB yang paling luas mengenai berbagai pokok penting seperti pembujangan, perkawinan dan nikah ulang pasal 7; 1Kor 7:1-40); Perjamuan Kudus (1Kor 10:16-21; 1Kor 11:17-34); berkata-kata dengan bahasa Roh, nubuat, dan karunia rohani dalam perhimpunan bersama (pasal 12, 14; 1Kor 12:1-31; 1Kor 14:1-40); kasih agape (pasal 13; 1Kor 13:1-13); dan kebangkitan tubuh pasal 15; 1Kor 15:1-58).

4.Surat ini memberikan hikmat yang tak ternilai untuk pengawasan para gembala sidang berhubungan dengan disiplin gereja (pasal 5; 1Kor 5:1-13).

5.Surat ini menekankan adanya kemungkinan untuk undur dari iman oleh mereka yang berkanjang dalam perilaku yang tidak benar dan tidak berpegang kepada Kristus dengan sungguh-sungguh (1Kor 6:9-10; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:5-12,20-21; 1Kor 15:1-2).

Doktrin Bahasa Roh Menurut Paulus Dalam I Korintus 12 Dan 14[sunting]

Definisi[sunting]

Dalam Perjanjian Baru, bahasa roh berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “glossa” yang berarti lidah, organ tubuh yang digunakan untuk berbicara, dan kata kerja “laleo” yang berarti berbicara, berkata, mengeluarkan suara dari mulut. Kedua kata Yunani ini diartikan menjadi “glossolalia” yang artinya bahasa lidah. Jadi, penggunaan istilah “bahasa roh” kurang tepat untuk digunakan secara luas. Namun demikian dalam penulisan makalah ini, penulis tetap menggunakan istilah bahasa roh atau bahasa lidah dimana dalam penggunaan istilah ini maksud penulis adalah untuk menunjuk kepada istilah yang sama dengan pengertian “Glossolalia”.

Istilah “bahasa lidah”, “bahasa asing”, “bahasa roh”, dalam Perjanjian Baru menggunakan kata yang sama yaitu “γλωσσα – glossa”, “lidah”. Markus 16:17 menulis “γλωσσαις λαλησουσιν καιναις ; glossais lalesousin kainais [6]“berbicara dengan lidah yang baru”; Kisah Para Rasul 2:4 menulis “lalein heterais glossais”, “berbicara dengan lidah yang lain”. Mulai Kisah Para Rasul 10:45 dan seterusnya tidak ada lagi kata “heteros” (yang lain) maupun “kainos” (yang baru), melainkan kata kerja λαλεω - laleo, "berbicara" dan “γλωσσα - glossa” "lidah”. Jadi, baik dalam Kisah Para Rasul maupun surat Korintus menggunakan kata dan ungkapan yang sama yang dewasa ini dikenal dengan “γλωσσολαλια – glossolalia.[7]

Uraian di atas sejalan dengan pernyataan Paul Enns dalam bukunya The Moody Handbook of Theology jilid 1, antara lain mengatakan bahwa, bahasa lidah di Kisah Para Rasul dan Korintus adalah sama. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa bahasa lidah di Korintus berbeda dengan yang ada di Kisah Para Rasul[8]. Artinya, ketika kita berbicara mengenai bahasa roh yang ada di dalam kitab Kisah Para Rasul, kita tidak bisa mengabaikan kitab 1 Korintus, begitu juga sebaliknya. Hal ini penting, karena ada yang mengangap bahwa bahasa roh yang ada di dalam kitab Kisah Para Rasul berbeda atau terpisah dengan yang ada di dalam kitab 1 Korintus. Tujuannya untuk membedakan bahasa roh sebagai tanda dan bahasa roh sebagai karunia. Namun uraian di atas menjelaskan bahwa keduanya adalah sama, tidak dapat dibedakan. Peter Wagner mendefinisikan bahasa roh sebagai kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam tubuh Kristus[9] :

a.Untuk berbicara kepada Allah dalam suatu bahasa yang tidak pernah mereka pelajari.

b.Untuk menerima dan menyampaikan suatu pesan langsung dari Allah kepada umat-Nya melalui suatu ucapan yang diurapi.

Reinhard Bonke mendefinisikan bahasa roh sebagai “Bahasa sorgawi dan duniawi, yang diucapkan hanya oleh orang percaya seperti yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mereka ucapkan”[10].

Dari uraian-uraian mengenai definisi bahasa roh yang dikemukakan di atas, ada tiga hal penting yang dapat kita tarik sebagai kesimpulan mengenai bahasa roh yaitu sebagai berikut :

a.Bahasa roh tidak diberikan kepada semua orang percaya

b.Bahasa roh bersumber dari Roh Kudus. Baik Reinhard Bonke maupun Peter Wagner sama-sama sepakat bahwa bahasa roh itu adalah merupakan suatu kemampuan supranatural yang diperoleh orang percaya sebagai pemberian ilahi (karunia roh), bukan sesuatu bahasa yang bisa dipelajari.

c.Bahasa roh adalah bahasa yang dipergunakan untuk berbicara kepada Allah dan untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia.

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka definisi bahasa roh dapat kita ringkaskan sebagai berikut : “Bahasa roh adalah merupakan karunia roh yang diberikan menurut kehendak Roh Kudus kepada beberapa orang percaya untuk memperlengkapi mereka dalam menjalankan tugas dan fungsinya di dalam tubuh Kristus sesuai dengan panggilannya”.

Bahasa Roh Menurut I Korintus 12 - 14[sunting]

Kitab 1 Korintus 12-14 ini seluruhnya merupakan satu kesatuan yang isinya khusus membahas mengenai karunia-karunia roh. Munculnya surat Paulus kepada jemaat Korintus ini adalah karena Paulus mendapat kabar bahwa pola kehidupan jemaat di Korintus telah mengikuti kehidupan dunawi yang meniru gaya kehidupan orang-orang kafir. Padahal jemaat ini sangat meninggikan karunia bahasa roh melebih karunia lainnnya. Bagi Rasul Paulus, ini adalah kenyataan yang sangat bertolak belakang dimana kehadiran suatu karunia rohani tidak diikuti dengan kehidupan rohani yang memadai, sehingga perlu diluruskan.

Bagian kitab ini berkaitan erat dengan kitab Kisah Para Rasul yang isinya menceritakan suatu fakta yang terjadi pada masa peralihan dari Perjanjian Lama masuk kedalam Perjanjian Baru. Karunia roh yang ada di dalam pasal 14 adalah penjabaran dari pasal 12, sedangkan pasal 13 merupakan pasal yang menunjukkan Kasih sebagai dasar utama dari setiap karunia roh.

a. Bahasa Roh Menurut Kitab 1 Korintus 12 : Di dalam bagian kitab 1 Korintus 12 ini, Rasul Paulus memberikan beberapa prinsip yang harus diketahui mengenai bahasa roh, yaitu :

1. Setiap orang yang memiliki karunia bahasa roh, hidupnya tidak bertentangan dengan kehendak Allah atau Firman Allah (ayat 3). Tanda berbahasa roh itu menjadi tidak penting jika orang yang berbahasa roh tidak menunjukkan kualitas kehidupan rohani.

2. Semua karunia roh dan karya-karyanya adalah bersumber dari Allah (ayat 4-6). Karunia Bahasa roh dan hasil dari karunia tersebut adalah merupakan pemberian atau pekerjaan Roh Kudus, bukan karena upaya atau jasa manusia, jadi tidak boleh digunakan untuk meninggikan diri atau menjadikannya untuk menujukkan posisi kerohanian seseorang. Juga tidak boleh memaksakan orang lain untuk memilikinya.

3. Karunia roh diberikan kepada masing-masing orang percaya secara khusus sesuai dengan kehendakNya. Kehendak Allah atas setiap orang percaya sebagai anggota tubuh Kristus adalah agar setiap anggota itu menjalankan tugas dan fungsi masing-masing sebagaimana yang telah ditetapkanNya menurut panggilan masing-masing.

  • Dalam ayat 11 ini dikatakan bahwa “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya”. Kalimat huruf cetak miring pada ayat tersebut menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak memberikan tiap orang karunia yang sama. Mengenai hal ini juga ditekankan di dalam ayat sebelumnya (8-10) dimana alkitab mencatat ada 4 kali pengulangan kalimat “kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk…kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk….. Ini merupakan petunjuk yang dapat menjelaskan bahwa Roh Kudus memberikan karunia yang berbeda-beda kepada setiap orang. Kata “menurut yang dikehendakiNya” menunjukkan bahwa dalam hal pemberian karunia roh, itu adalah merupakan kedaulatan Allah, sehingga kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk mendapatkannya, karena Tuhan pasti akan memberikan kepada siapa Dia mau memberikannya.
  • Dalam ayat 29-30 Paulus mengajukan pertanyaan “Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Kata “mereka” yang dikemukakan oleh Paulus disini adalah menunjuk kepada jemaat sebagai anggota tubuh Kristus, yang terdapat pada ayat sebelumya. Bila dikaitkan dengan konteks satu tubuh banyak anggota, maka jawaban atas pertanyaan Paulus itu adalah “Tidak”.
  • Dalam definisi yang dikemukakan oleh Peter Wagner mengenai bahasa roh, dikatakan bahwa bahasa roh sebagai kemampuan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada beberapa anggota dalam tubuh Kristus. Ia berkata bahasa roh itu diberikan kepada beberapa orang saja, tidak kepada semua anggota tubuh Kristus. Beliau memberikan definisi ini karena meyakini bahwa karunia roh diberikan sesuai dengan panggilan masing-masing orang percaya. Karunia roh diberikan kepada kita tergantung dari panggilan yang kita miliki, bukan sebaliknya, karunia roh diberikan lalu panggilannya menyesuaikan. Penegasan lain yang menyatakan bahwa kepada orang percaya diberikan karunia-karunia yang berlainan terdapat dalam kitab Roma 12:6a yang berkata : “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.” Donald Bridge & David Phypers menjelaskan bahwa berdasarkan kitab 1 Korintus 12:10 dan 30, Paulus secara jelas menyatakan bahwa berkata-kata dalam bahasa roh adalah karunia yang diberikan kepada beberapa orang saja dan tidak kepada yang lain-lainnya.[11]

4. Karunia roh bertujuan untuk membangun komunitas jemaat Tuhan/bersama di dalam satu tubuh Kristus (ayat 7, 12-30). Hal ini juga berlaku untuk karunia bahasa roh, harus berguna bagi jemaat lainnya. Manfred T. Brauch mengatakan bahwa “Prinsip yang utama dan pokok untuk tindakan Kristen adalah prinsip kemajuan rohani. Semua kehidupan dan tindakan Kristen seharusnya diiatur oleh pertanyaan: Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah hal ini menimbulkan keselamatan dan/atau pertumbuhan iman mereka?”.[12]

b. Bahasa Roh Menurut Kitab 1 Korintus 13 : Pada pasal ini, rasul Paulus lebih banyak berbicara mengenai pentingnya kasih. Kesimpulan dari pasal ini adalah Kasih lebih utama dari segala karunia-karunia roh termasuk didalamnya karunia bahasa roh. Karunia yang kecil dan besar suatu hari akan lenyap (ayat 8-10) tetapi kasih itu abadi. Kasih secara murni ditujukan kepada orang lain, karean itu Paulus sangat menganjurkan jemaat-jemaat di Korintus untuk mengejar kasih lebih dari yang lain, sebab jika seseorang telah memiliki kasih, maka akan mendorong orang itu untuk mengejar atau menggunakan karunia-karunia yang dapat membangun orang lain.

c. Bahasa Roh Menurut Kitab 1 Korintus 14 : Di dalam bagian ini, Paulus menyampaikan kepada jemaat di Korintus sebuah pengajaran tentang penggunaan karunia bahasa roh. Pengajaran ini tentu juga berlaku buat gereja masa kini. Pengajaran tentang penggunaan bahasa roh menurut pasal ini adalah sebagai berikut :

1. Dalam setiap penggunaan karunia-karunia roh, harus dilandasi oleh kasih (ayat 1) Ayat pertama dalam pasal 14 ini Paulus mengingatkan pentingnya Kasih sebagaimana yang dijelaskannya dalam pasal 13 bahwa tanpa adanya kasih maka semua karunia roh termasuk karunia bahasa roh tentu akan sia-sia.

2. Berbahasa roh ditengah-tengah jemaat hanya dianjurkan jika ada yang dapat menafsirkannya.

  • Tanpa penafsiran, maka karunia bahasa roh hanya digunakan secara pribadi untuk berkomunikasi dengan Allah, melalui doa, pujian dan ucapan syukur (ayat 2, 13-17, 27-28).
  • Tanpa penafsiran, maka karunia ini menjadi tidak lebih penting dari karunia bernubuat, karena karunia bahasa roh tanpa penafsiran hanya dapat membangun diri sendiri (ayat 4) sedangkan karunia nubuat dapat membangun iman dan kehidupan rohani jemaat serta mendorong jemaat untuk setia di dalam Kristus (ayat 5, 12, 16-17, 19-26).
  • Bahasa manusia yang dimengerti dan dapat mengajar orang lain lebih berguna dari pada bahasa roh yang tidak dimengerti dan tidak berpengaruh apa-apa bagi orang lain (ayat 6, 18-19)

3. Bahasa roh harus digunakan secara sopan dan teratur (ayat 33, 40). Disini Paulus mengingatkan agar penggunaan karunia bahasa roh berjalan dengan tertib, tidak boleh dilakukan dalam keadaan ekstasi atau lepas kendali (ayat 27-28). Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa bahasa roh adalah merupakan salah satu bukti manifestasi Roh Kudus namun itu bukanlah satu-satunya. Manifestasi Roh Kudus tidak selalu ditandai dengan berbahasa roh, karena bahasa roh itu hanyalah salah satu dari karunia-karunia Roh Kudus.

Penutup[sunting]

Kesimpulan[sunting]

Berdasarkan hasil kajian teori dan teologis mengenai bahasa roh dan implikasinya terhadap jemaat, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Bahasa roh adalah merupakan karunia roh yang diberikan menurut kehendak Roh Kudus kepada beberapa orang percaya untuk menjalankan tugas dan fungsinya di dalam tubuh Kristus sesuai dengan panggilannya.

2. Bahasa roh adalah merupakan salah satu bukti manifestasi Roh Kudus namun itu bukanlah satu-satunya. Manifestasi Roh Kudus tidak selalu ditandai dengan berbahasa roh, karena bahasa roh itu hanyalah salah satu dari karunia-karunia Roh Kudus.

3. Munculnya bahasa roh yang terjadi dalam kitab Kisah Para Rasul tidak dapat dijadikan acuan bahwa baptisan atau kepenuhan Roh Kudus selalu diikuti dengan tanda Bahasa Roh, karena alkitab mencatat bahwa tidak semua orang yang dibaptis atau dipenuhi Roh Kudus berbahasa Roh.

4. Pengertian baptisan Roh Kudus berbeda dengan pengertian kepenuhan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus terjadi satu kali untuk selamanya yaitu pada saat pertobatan, sedangkan dipenuhi Roh Kudus dapat terjadi beberapa kali setelah pertobatan.

5. Baptisan Roh Kudus bertujuan membawa kita kepada persekutuan kedalam tubuh Kristus sedangkan Kepenuhan Roh Kudus untuk membawa kita kepada kesucian hidup.

6. Pola yang terdapat di dalam pengalaman orang-orang yang tercatat di dalam Kisah Para Rasul, yang menjelaskan adanya senjang waktu antara pertobatan dan baptisan Roh Kudus, tidak dapat dijadikan acuan yang berlaku secara normatif di segala zaman.

7. Setiap penggunaan bahasa roh harus memuliakan Tuhan.

Saran[sunting]

Dari uraian kesimpulan di atas penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Firman Allah mengajarkan bahwa setiap kita diberi karunia yang berbeda-beda sesuai panggilan, berarti dalam hidup kita sudah ada panggilan dan sudah ada karunia. Karena itu, sebelum kita lebih jauh tenggelam dalam paradigma harus memiliki bahasa roh dan mengejar karunia bahasa roh lebih dari karunia lainnya, adalah lebih baik bila kita meminta tuntunan Tuhan agar Dia menunjukkan panggilan dan karunia apa yang sudah Tuhan taruh atas hidup kita.

2. Karunia bahasa roh adalah pemberian Roh Kudus yang diberikan secara khusus menurut kehendakNya, karena itu kita harus menyadari bahwa kita tidak boleh memaksakan supaya orang lain memilikinya, karena itu adalah merupakan otoritas Tuhan.

3. Setiap praktek bahasa roh yang berasal dari Roh Kudus pastilah sejalan dengan Firman Allah. Oleh karena Firman Allah berkata bahwa untuk berbahasa roh kita harus menjaga ketertiban agar tidak kacau maka kitapun harus tertib, salah satu indikatornya yang dikemukakan Rasul Paulus adalah jangan gunakan tanpa disertai penafsiran.

4. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu setiap kita yang memiliki karunia bahasa roh, harus mengingat bahwa karunia itu harus dapat membangun jemaat secara langsung dengan menyampaikan apa yang kita dapatkan dari Tuhan melalui karunia bahasa roh, dan secara tidak langsung melalui kesaksian hidup kita. Semakin sering berbahasa roh, hidup kita harus semakin menjadi garam dan terang bukan bagi diri kita sendiri tetapi bagi dunia. Semakin berbahasa roh, hidup kita menjadi semakin memancarkan cahaya kemuliaan Kristus.

Catatan kaki[sunting]

  1. W. G. Putman, BA, BD, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), hal. 133
  2. C. Peter Wagner, Manfaat Karunia Roh, (Malang: Gandum Mas, 2005), hal.83-85.
  3. Billy Graham, Roh Kudus, Kuasa Allah dalam Hidup Anda, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2002), hal. 4.
  4. Ibid., hal. 275.
  5. Donald C. Stamps, MA, M.Div (Ed), Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang : Gandum Mas, 2008), hal. 1877-1878
  6. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th, Perjanjian Baru Interlinear Yunani – Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK), (Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hal. 290
  7. Karunia Bahasa Roh, (2013), Diakses dari situs http://www.sarapanpagi.org
  8. Paul Enns, The Moody Handbook of Theology, Jilid 1, (Malang : Literatur SAAT, 2006), hal. 336.
  9. C. Peter Wagner. Op. Cit., hal. 237-238.
  10. Reinhard Bonke, Mighty Manifestations, ( Surabaya : Majesty Books Publisher, 2006), hal. 243.
  11. Donald Bridge & David Phypers, Karunia-Karunia Roh dan Jemaat, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999), hal. 143.
  12. Manfred T. Brauch, Ucapan Paulus Yang Sulit, (Malang : Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1997), hal. 156.