Lompat ke isi

Bibir No 27

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bibir No 27

Dicky Zulkarnain

Minggu, 31 Mei 2015


BERMULA dari iklan singkat di forum ‘Reparasi Modifikasi’ yang berbunyi;

“Dicari bibir yang unik untuk dijadikan sebuah karya seni,” Syafa iseng-iseng mengirimkan foto bibirnya ke alamat surat elektronik yang tertera. Ia mendapatkan balasan dan diminta datang ke studio seniman pemasang iklan itu. Dua hari setelah mendapat balasan, Syafa menjejakkan kaki di halaman studio, di kawasan selatan Jakarta.

Butuh 15 menit hingga akhirnya pintu di hadapan Syafa terbuka. Pria kurus dengan rambut kusut sebahu muncul dari balik pintu.

“Halo, saya Arte,” kata pria itu sambil tersenyum. “Silakan masuk.”

Suasana studio cukup sejuk. Ada pendingin ruangan di dinding sebelah kiri. Di bawahnya berderet kanvas, papan gabus, tripleks, dan tiang-tiang besi. Di sudut lain ada beberapa pahatan kayu dan foto berbingkai. Semuanya menunjukkan objek yang sama, yakni bibir.

Ada pahatan kayu berbentuk bibir kecokelatan yang penuh guratan. Sebuah lukisan dengan deretan kaleng bergambar bibir dan sebuah foto hitam-putih bergambar bibir berlumur cairan pekat.

“Beberapa sudah dipajang di galeri. Tadinya ingin buat 26 karya saja. Tiba-tiba ingin membuat karya lagi,” ujar Arte sambil meletakkkan baki berisi poci dan cangkir pada meja di dekat jendela. “Kita masih harus menunggu teman saya datang.”

“MissPrettyHurts?” “Bukan. Teman ini yang nanti akan membantu saya.”

Akun MissPrettyHurts ialah salah satu teman bicara Syafa di forum ‘Reparasi Modifikasi.’ Sudah berbulanbulan akun itu tidak aktif. Ketika akun itu muncul lagi dengan iklan tawaran menjadi model, Syafa pikir dengan mengikutinya bisa membuatnya bertemu dengan MissPrettyHurts.

“Kenapa kamu terobsesi dengan bibir?” tanya Syafa sambil duduk di sofa di hadapan Arte.

“Bibir itu sensual dan penuh misteri.”

Tiba-tiba terdengar suara bel. Seorang laki-laki botak kemudian melangkah masuk.

“Ini teman saya, Aksara. Dia yang akan bantu saya,” pria itu tersenyum pada Syafa.

“Boleh langsung dimulai? Maaf, saya tidak bisa lama-lama,” ungkap Aksara yang dijawab oleh anggukan Arte. Pria botak itu langsung sibuk mengeluarkan beberapa benda dari tas punggungnya. Pulpen, spidol, tumpukan kertas transparan, sarung tangan, botol-botol kecil, dan sebuah alat yang berujung runcing.

“Mas Aksara mau bikin apa?”

“Tato. Karya saya yang ke-27 itu tato. Saya buat gambarnya, nanti Aksara yang menatonya.” Arte menjawab pertanyaan Syafa, karena Aksara sedang fokus menyiapkan alat-alatnya.

“Mas Arte mau bikin tato dari bibir saya?”

“Jangan banyak bergerak. Saya akan buat sketsa bibirmu,” kata Arte yang kemudian asyik menggores-gores kertas gambar.

Syafa heran mengetahui ada orang yang terinspirasi dengan bibirnya yang aneh. Bibir bagian bawahnya begitu tebal dan lebar. Sangat berbeda dengan bibir atas yang tipis. Bagian wajah inilah yang menjadi alasannya bergabung dengan forum ‘Reparasi Modifikasi’ di dunia maya. Forum itu memiliki dua puluh dua orang anggota. Kebanyakan dari mereka mengaku perempuan. Sisanya ialah misteri.

Forum ‘Reparasi Modifikasi’ adalah ruang untuk berkeluh-kesah, dari soal mata juling, lubang hidung kebesaran, atau kulit bersisik. Setiap anggotanya mengusung prinsip, yaitu lebih baik memberikan solusi daripada mengasihani. Setelah seseorang berbicara tentang masalah yang dihadapi, anggota lain memberikan saran yang diyakini bermanfaat. Dari alamat dokter estetika, bentuk organ referensi, hingga tips-tips cerdik merias diri.

“Apa ada orang lain yang terinspirasi dengan bibirmu?” “Tidak ada.”

Waktu masih di sekolah, ia selalu diolok-olok oleh beberapa teman laki-laki. “Pada zaman dahulu, ada bibir raksasa yang memakan warga satu desa, bibir itu lalu mengalami reinkarnasi menjadi bibir Syafa,” begitu bunyi salah satu lelucon yang mereka buat. Saat kuliah, ia pernah punya kekasih yang lebih suka memeluk dan mengusap-usap kepalanya saja. Dalam satu setengah tahun masa pacaran, pria itu hanya mencium bibirnya tidak lebih dari sepuluh kali. Mungkin ia jijik dengan bibirku, begitu pikir Syafa setelah pria itu meninggalkannya.

Arte tiba-tiba melepaskan kemejanya, lalu memberikan kertas tipis berisi gambarnya kepada Aksara. Pria botak itu tidak banyak bicara, tapi selalu bergerak sigap. Ia lalu membersihkan punggung Arte dengan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan cairan dari sebuah botol kecil. Kertas tipis itu ditempelkan pada punggung sang seniman. Sebuah alat menyerupai roll-on dari deodoran digunakannya untuk menggosok kertas. Kemudian terdengarlah suara desing mesin pembuat tato.

“Menurut kamu, siapa wanita yang punya bibir bagus?”

“Marilyn Monroe. Bibirnya benar-benar seksi!”

Syafa selalu punya beberapa gambar terbaik aktris favorit itu di telepon selulernya. Seminggu lagi, ia bisa mewujudkan impian untuk memiliki bentuk bibir idaman. Tabungannya sudah cukup. Ia sudah membuat janji dengan salah satu dokter bedah kosmetik terbaik di Jakarta, berkat referensi beberapa kawan di forum ‘Reparasi Modifikasi.’

“Kenapa Mas Arte tidak membuat tato dari bibir istrinya?”

“Istri saya meninggal tahun lalu. Saya buat pameran ini untuk mengenangnya.”

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Syafa berusaha menyibukkan diri dengan mencicipi biskuit sambil mengamati suasana studio. Arte hanya menunduk, berusaha menahan sakit akibat goresan mesin tato yang dikendalikan Aksara.

“Kalau bisa mengulang waktu, tentu saya memilih bibir istri saya. Dia cantik, tapi tidak pernah menyadarinya. Selalu ingin menjadi lebih baik,” ucap Arte memecah keheningan.

“Maksudnya?”

“Istri saya meninggal karena gangguan jantung akibat dosis silikon cair berlebihan. Ia jatuh setelah proses penyuntikan.”

Istri Arte memiliki kecanduan untuk memperbaiki segala sesuatu pada tubuhnya. Beberapa dokter sudah pernah didatanginya. Berbagai program sudah dicobanya, dari botox, filler, bedah kosmetik, hingga suntik kolagen. Arte tidak bisa berbuat banyak. Istrinya memiliki bisnis sendiri dan berasal dari keluarga kaya yang bisa menjaminnya untuk terus menekuni profesi seniman.

“Ibuku dulu selalu bilang, aku anak bungsu paling jelek. Katanya, hidupku tidak akan sebahagia dua kakak perempuanku yang cantik. Biarkan aku mencari kebahagiaan dari tangan-tangan dokter estetika,” begitu dulu istrinya pernah berkata.

“Sudah selesai, Arte. Tapi jangan bergerak, saya mau membersihkannya.” Aksara kembali bersuara setelah ia mematikan mesin tato. Syafa yang penasaran beranjak bangkit untuk mengamati lebih dekat. Rangkaian garis berwarna hitam yang membentuk bibir terlihat di bagian atas punggung Arte. Tampak serupa dengan miliknya. Kombinasi tak seimbang antara bibir atas yang tipis dan bibir bawah yang tebal dan lebar. Di bagian bawah tertulis `No. 27'. Setelah selesai menempelkan perban, Aksara membereskan barangbarangnya kembali. “Aku duluan ya, Te. Kita ketemu lagi di pembukaan pameranmu.” Kini, hanya ada Syafa dan Arte di dalam studio itu.

“Kenapa akhirnya membuat karya ke-27?” tanya Syafa pada Arte yang sedang mengancingkan bajunya.

“Tiba-tiba tercetus begitu di otak saya.”

Seniman itu memilih untuk merahasiakan alasan sesungguhnya. Sekitar delapan bulan lalu, saat membereskan laptop istrinya, ia menemukan surat elektronik terkait dengan forum ‘Reparasi Modifikasi.’ Setelah menjelajahi forum itu, ia baru menyadari bahwa selama ini ia tidak mengenal istrinya sendiri. Membaca beberapa tulisan istrinya yang penuh kebencian terhadap dirinya sendiri, membuat Arte merasa terluka.

“Mas Arte kenal dengan pemilik akun MissPrettyHurts?”

“Akun itu milik istri saya,” jawaban Arte membuat Syafa terdiam. Ia kaget menyadari bahwa teman bicaranya di forum sudah tiada.

Tiga bulan lalu, Arte bermimpi tentang istrinya. Ia melihatnya sedang tertidur di sebuah ruangan seperti kamar rumah sakit, dan seorang laki-laki berjas putih menggores-gores wajah istrinya dengan pisau.

Setelah terbangun, ia merasa harus melakukan sesuatu agar tidak ada lagi yang bernasib sama dengan istrinya. Ketika ia membuka forum ‘Reparasi Modifikasi,’ ia menemukan posting terbaru berisi pembicaraan seorang anggota bernama SexyLips, yang berniat hendak melakukan bedah kosmetik. Ia tak menyangka, salah satu akun yang gemar berkomunikasi dengan istrinya itu akan tertarik dengan iklan yang diunggahnya.

“Pembukaan pameran tanggal 27 di Galeri Art Space. Kamu datang ya,” ucap Arte sambil melirik ke arah Syafa.

Syafa tidak menjawab. Tanggal pembukaan pameran Arte bersamaan dengan jadwal rencana bedah kosmetiknya. Untuk mendapatkan janji dokter estetika ternama itu, ia harus menunggu tiga bulan.

“Kenapa membuat tato? Tidak bisa hilang, lo.”

“Ya, tidak bisa hilang. Seperti sakit yang saya rasakan setelah kehilangan istri.”

Mereka kembali terdiam. Tak lama, Syafa beranjak bangkit. Arte meminta Syafa untuk mengirimkan nomor rekeningnya lewat SMS dan berjanji akan segera mentransfer pembayaran jasa model.

“Bagaimana rasanya bibirmu ada di punggung pria?

“Ada yang pernah melakukan hal gila seperti ini?”

“Ini pertama kali,” Syafa yakin betul bahwa pipinya sekarang merona merah.

Keduanya saling memandang. Perlahan-lahan Arte mendekatkan wajahnya ke arah Syafa. Wanita itu diam saja. Bibir keduanya saling bertemu. Setelah usai, Syafa pamit sambil menutup pintu. Seulas senyum mengiringi langkah ringan Syafa. Ia berjanji pada diri sendiri, tindakan pertama yang akan dilakukannya esok setiba di kantor ialah menelepon klinik dokter estetika.

2015