Lompat ke isi

Buku Saku Farmakoterapi/Diabetes Melitus

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Klasifikasi

[sunting]

Klasifikasi diabetes melitus mengalami perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu. Dahulu diabetes diklasifikasikan berdasarkan waktu munculnya. Diabetes yang muncul sejak masa kanak-kanak disebut “juvenile diabetes”, sedangkan yang baru muncul setelah seseorang berumur di atas 45 tahun disebut sebagai “adult diabetes”.

Namun klasifikasi ini sudah tidak layak dipertahankan lagi, sebab banyak sekali kasus-kasus diabetes yang muncul pada usia 20-39 tahun, yang menimbulkan kebingungan untuk mengklasifikasikannya.

Pada tahun 1968, Asosiasi Diabetes Amerika (American Diabetes Association, ADA) mengajukan rekomendasi mengenai standarisasi uji toleransi glukosa dan mengajukan istilah-istilah Pre-diabetes, Suspected Diabetes, Chemical atau Latent Diabetes dan Overt Diabetes untuk pengklasifikasiannya.

Asosiasi Diabetes Inggris (British Diabetes Association, BDA) mengajukan istilah yang berbeda, yaitu Potential Diabetes, Latent Diabetes, Asymptomatic atau Sub-clinical Diabetes, dan Clinical Diabetes.

WHO pun telah beberapa kali mengajukan klasifikasi diabetes melitus. Pada tahun 1965 WHO mengajukan beberapa istilah dalam pengklasifikasian diabetes, antara lain Childhood Diabetics, Young Diabetics, Adult Diabetics dan Elderly Diabetics.

Pada tahun 1980 WHO mengemukakan klasifikasi baru diabetes melitus memperkuat rekomendasi National Diabetes Data Group pada tahun 1979 yang mengajukan 2 tipe utama diabetes melitus, yaitu:

  • Insulin- Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) disebut juga Diabetes Melitus Tipe 1
  • Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang disebut juga Diabetes Melitus Tipe 2.

Pada tahun 1985 WHO mengajukan revisi klasifikasi dan tidak lagi menggunakan terminologi DM Tipe 1 dan 2, namun tetap mempertahankan istilah “Insulin-Dependent Diabetes Mellitus” (IDDM) dan “Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus” (NIDDM), walaupun ternyata dalam publikasi-publikasi WHO selanjutnya istilah DM Tipe 1 dan 2 tetap muncul.

Disamping dua tipe utama diabetes melitus tersebut, pada klasifikasi tahun 1980 dan 1985 WHO juga menyebutkan 3 kelompok diabetes lain yaitu Diabetes Tipe Lain, Toleransi Glukosa Terganggu (Impaired Glucose Tolerance, IGT) dan Diabetes Melitus Gestasional (GDM). Pada revisi klasifikasi tahun 1985 WHO juga memperkenalkan satu tipe diabetes yang disebut Diabetes Melitus terkait Malnutrisi (Malnutrition-related Diabetes Mellitus, MRDM).

Klasifkasi ini akhirnya juga dianggap kurang tepat dan membingungkan sebab banyak kasus NIDDM (Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus) yang ternyata juga memerlukan terapi insulin.

Saat ini terdapat kecenderungan untuk melakukan pengklasifikasian lebih berdasarkan etiologi penyakitnya. Klasifikasi Diabetes Melitus berdasarkan etiologinya.

Diagnosis

[sunting]

Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Keluhan lain yang mungkin disampaikan penderita antara lain badan terasa lemah, sering kesemutan, gatal-gatal, mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, dan pruritus vulvae pada wanita.

Apabila ada keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl juga dapat digunakan sebagai patokan diagnosis DM. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Untuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah abnormal tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM. Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu kali lagi kadar gula darah sewaktu yang abnormal tinggi (>200 mg/dL) pada hari lain, kadar glukosa darah puasa yang abnormal tinggi (>126 mg/dL), atau dari hasil uji toleransi glukosa oral didapatkan kadar glukosa darah paska pembebanan >200 mg/dL.

Untuk menegakkan diagnosis DM Tipe 1, perlu dilakukan konfirmasi dengan hasil uji toleransi glukosa oral. Kurva toleransi glukosa penderita DM Tipe 1 menunjukkan pola yang berbeda dengan orang normal sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar berikut.

Faktor Risiko

[sunting]

Setiap orang yang memiliki satu atau lebih faktor risiko diabetes selayaknya waspada akan kemungkinan dirinya mengidap diabetes.

Para petugas kesehatan, dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya pun sepatutnya memberi perhatian kepada orang-orang seperti ini, dan menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui kadar glukosa darahnya agar tidak terlambat memberikan bantuan penanganan. Karena makin cepat kondisi diabetes melitus diketahui dan ditangani, makin mudah untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.

Beberapa faktor risiko untuk diabetes melitus, terutama untuk DM Tipe 2:

Riwayat

  • Riwayat diabetes dalam keluarga
  • Riwayat Diabetes Gestasional
  • Riwayat melahirkan bayi dengan berat badan >4 kg
  • Riwayat kista ovarium (Polycystic ovary syndrome)
  • Riwayat IFG (Impaired fasting Glucose) atau IGT (Impaired glucose tolerance)

Obesitas

  • >120% berat badan ideal

Umur

  • 20-59 tahun : 8,7%
  • > 65 tahun : 18%

Etnik/Ras

Hipertensi

  • >140/90mmHg

Hiperlipidemia

  • Kadar HDL rendah <35mg/dl
  • Kadar lipid darah tinggi >250 mg/dL

Faktor-faktor Lain

  • Kurang olah raga
  • Pola makan rendah serat

Pelayanan Kefarmasian

[sunting]

Penatalaksanaan diabetes yang berhasil membutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan yang menanganinya, antara lain dokter, apoteker, dan ahli gizi.

Pentingnya peran apoteker dalam keberhasilan pengelolaan diabetes ini menjadi lebih bermakna karena penderita diabetes umumnya merupakan pelanggan tetap apotik, sehingga frekuensi pertemuan penderita diabetes dengan apoteker di apotik menjadi tinggi. Peluang ini harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para apoteker dalam rangka memberikan pelayanan kefarmasian yang profesional.

Selain itu, tingkat pengetahuan kesehatan masyarakat umumnya masih perlu ditingkatkan, sehingga perhatian, pendampingan dan konseling yang intensif dari para tenaga kesehatan sangat diharapkan.

Dalam penatalakasanaan diabetes, apoteker tidak hanya dapat terlibat dalam berbagai aspek farmakoterapi atau yang berhubungan dengan obat semata, tetapi lebih luas lagi dapat terlibat dalam berbagai tahap dan aspek pengelolaan diabetes, mulai dari skrining diabetes sampai dengan pencegahan dan penanganan komplikasi.

Kebanyakan pasien dengan diabetes tidak mendapatkan perawatan optimal, seringkali kadar gula tidak terkontrol dengan baik. Masalah ini memberikan kesempatan kepada apoteker untuk memberikan kontribusinya dalam perawatan pasien dengan diabetes.

Menurut The National Community Pharmacists Association’s National Institute for Pharmacist Care Outcome di USA, kontribusi apoteker berfokus pada pencegahan dan perbaikan penyakit, termasuk:

  • mengidentifikasi dan menilai kesehatan pasien
  • memonitor
  • mengevaluasi
  • memberikan pendidikan dan konseling
  • melakukan intervensi
  • menyelesaikan terapi yang berhubungan dengan obat untuk meningkatkan pelayanan ke pasien dan kesehatan secara keseluruhan.

Kontribusi apoteker ini pada intinya adalah penatalaksanaan penyakit, berarti mencakup terapi obat dan non-obat.

Mengidentifikasi dan menilai kesehatan pasien

[sunting]

Apoteker dapat mengidentifikasi pasien-pasien yang tidak menyadari kalau mereka menderita diabetes. Identifikasi mentargetkan pasien-pasien dengan risiko tinggi, termasuk:

  • pasien obese
  • pasien > 40 tahun
  • pasien dengan tekanan darah tinggi atau dislipidemia
  • pasien dengan sejarah keluarga diabetes
  • pasien yang mempunyai sejarah diabetes gestasional atau melahirkan anak dengan berat badan > 4,5 kg.

Pasien-pasien ini dapat diidentifikasi pada saat mereka mengambil obat di apotik/rumah sakit. Apoteker dapat menyarankan pasien untuk memeriksakan kadar gula darahnya.

Menilai status kesehatan pasien dengan diabetes dan membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang merupakan suatu tantangan bagi apoteker, terutama di farmasi komunitas dimana akses ke data laboratorium terbatas. Berdasarkan ADA disarankan untuk menilai keperluan pasien dan meyakinkan agar perawatan standar terpenuhi.

Merujuk pasien

[sunting]

Salah satu peran apoteker yang tidak kalah penting adalah merujuk pasien kepada tim perawatan diabetes lainnya seperti bagian gizi, poliklinik mata, pediatris, gigi dan lainnya bila diperlukan. Depresi juga sering dijumpai pada pasien diabetes, sehingga dapat dirujuk ke bagian penyakit jiwa bila diperlukan.

Memantau penatalaksanaan diabetes

[sunting]

Pemantauan terhadap kondisi penderita dapat dilakukan apoteker pada saat pertemuan konsultasi rutin atau pada saat penderita menebus obat, atau dengan melakukan hubungan telepon. Pemantauan kondisi penderita sangat diperlukan untuk menyesuaikan jenis dan dosis terapi.

Apoteker harus mendorong penderita untuk melaporkan keluhan ataupun gangguan kesehatan yang dirasakannya sesegera mungkin. Apoteker harus bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya dalam penyesuaian dosis obat hipoglikemik oral.

Kebanyakan morbiditas dan mortalitas pada pasien diabetes disebabkan karena komplikasi, antara lain komplikasi makrovaskular. Hasil penelitian menunjukkan, penurunan kadar gula saja dapat tidak dapat menurunkan komplikasi makrovaskular.

Oleh karena itu ada area lain dari diabetes yang harus diperhatikan untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas secara keseluruhan, antara lain:

  • Tekanan darah (target < 130/80 mm Hg)
  • LDL kolesterol (target < 100 mg/dl)
  • Penggunaan aspirin untuk pasien DM dengan hipertensi dan risiko jantung
  • Pemeriksaan mata, kaki, gigi (1x/tahun)
  • Vaksinasi influenza dan pneumokokal

Penjelasan diberikan kepada pasien mengenai target dan diharapkan pasien mengerti mengapa monitoring memegang peranan penting dalam terapi pencegahan.

Menjaga dan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap jadwal terapi

[sunting]

Salah satu faktor utama kegagalan sebuah terapi adalah ketidakpatuhan terhadap terapi. Apoteker dapat memainkan penting dalam membantu pasien mengikuti terapi. Untuk melakukan hal ini secara efektif, apoteker harus mengerti faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan menyebabkan ketidakpatuhan pasien terhadap terapi, antara lain:

Regimen yang kompleks

[sunting]

Studi menunjukkan kepatuhan paling tinggi terjadi bila obat oral diminum 1x sehari. Paes dkk (1997) melaporkan kepatuhan terhadap obat berkurang dari 79% menjadi 38% bila obat yang 1x sehari diganti menjadi 3x sehari. Dan kepatuhan akan semakin menurun bila pasien mengkonsumsi beberapa obat sekaligus.

Kurang pengetahuan pasien terhadap penyakitnya

[sunting]

Pasien akan patuh meminum obatnya bila mereka menyadari bahwa diabetes adalah penyakit yang serius dengan konsekuensi yang serius pula, dan konsekuensi akan berkurang dengan partisipasi aktif dari pasien. Sayangnya, kebanyakan pasien dengan diabetes meremehkan bahaya akibat tidak mengontrol penyakitnya atau menyadari bahaya penyakit tetapi merasa tidak berdaya untuk mencegahnya.

Kurang keyakinan pasien terhadap terapi/obat

[sunting]

Pasien akan lebih patuh meminum obatnya apabila mereka menyadari bahwa obat yang diminum benar-benar dapat membantu mengatasi penyakitnya. Sebagian besar pasien sangat kurang menyadari hal-hal berikut:

  • Kebingungan tentang petunjuk cara minum obat
  • Biaya pengobatan yang cukup tinggi bagi pasien
  • Ada gangguan psikologi terutama depresi
  • Ada gangguan kognitif
  • Kurangnya dukungan sosial dari keluarga atau kerabat

Mencermati hal-hal tersebut, maka salah satu upaya penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi adalah konseling dan pemberian informasi yang lengkap dan akurat tentang terapi tersebut.

Dalam hal ini, farmasis/apoteker berada di posisi kunci untuk memberi penjelasan umum maupun khusus tentang terapi yang dijalani pasien, baik farmakoterapi maupun nonfarmakoterapi.

Untuk membantu meyakinkan bahwa pasien menjalankan terapi dengan baik, farmasis/apoteker dapat mengajukan pertanyan-pertanyaan ketika pasien datang berkonsultasi atau menebus obat, antara lain:

  • Kapan Anda terakhir kali melakukan pemeriksaan kadar gula darah Anda, dan bagaimana hasilnya?
  • Obat diabetes apa yang Anda gunakan secara rutin? Bagaimana dosisnya? Apakah Anda mengalami kesulitan memenuhi dosis tersebut? Bagaimana Anda menyimpan obat-obat diabetes Anda di rumah?
  • Apakah Anda menggunakan insulin? Apa merek insulin yang Anda gunakan? Apakah Anda mengalami kesulitan dalam menggunakan insulin sesuai dosis yang disarankan dokter? Bagaimana Anda menyimpan insulin di rumah?
  • Apakah Anda mengkonsumsi obat-obat lain atau suplemen makanan tertentu selain obat diabetes yang diresepkan dokter? Misalnya obat hipertensi, obat sakit kepala, sakit gigi, obat batuk, obat penenang, obat tidur, obat antiinfeksi dan lain sebagainya. Apakah Anda mendapatkan obat tersebut dengan resep dokter atau membeli bebas? Apakah Anda menggunakannya secara rutin, sering atau sesekali saja?
  • Apakah Anda melakukan diet sesuai dengan saran dokter atau ahli gizi Anda?
  • Apakah Anda berolah raga secara teratur? Apa olah raga rutin yang Anda lakukan?
  • Apakah Anda memiliki keluhan-keluhan pada kulit, kaki, mulut dan gigi, mata, telinga atau keluhan lainnya? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sesuai

Bagaimana apoteker dapat membantu ?

Ada 6 langkah yang dapat dilakukan:

  1. Libatkan pasien; ciptakan suasana dimana pasien menyadari kalau Anda tertarik dan peduli dan bersedia untuk membantu menangani masalah yang berhubungan dengan obat.
  2. Spesifik; dapatkan rincian spesifik bila pasien mendiskusikan masalah obatnya. Misalnya, bila pasien meloncati jadwal minum obatnya, tanyakan apakah ini terjadi pada waktu tertentu setiap harinya atau untuk obat-obat tertentu saja.
  3. Identifikasi hambatan utama yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam minum obatnya seperti disebutkan diatas:
  • Apakah pasien mengerti cara meminum obatnya?
  • Apakah regimen obat terlalu kompleks?
  • Apakah pasien mengerti keuntungan utama dari obatnya?
  • Apakah pasien mengerti kalau obat dapat membantu walaupun pasien tidak merasakan keuntungannya?
  • Apakah biaya menjadi masalah?
  • Apakah pasien depresi?

4. Simpulkan; dengan menyimpulkan masalah pasien, Apoteker dapat membantu apakah pasien memerlukan perubahan sikap dan bagaimana melaksanakannya.

5. Memecahkan masalah; saran-saran berikut dapat dicoba:

  • Meminum obat Anda sesuai dengan yang diresepkan adalah sangat penting supaya diabetes Anda terkontrol.
  • Untuk mendapatkan hasil optimal, jadwal meminum obat harus dipatuhi
  • Bila Anda memikirkan untuk berhenti meminum salah satu obat, atau khawatir mengenai efek sampingnya, bicarakan dulu dengan dokter.
  • Bila anda khawatir dengan biaya obat Anda, mungkin ada alternatif yang lebih murah yang sama keefektifannya. Beritahu dokter, jangan malu.
  • Bila regimen obat Anda terlalu susah, menjadi beban, atau membingungkan; tanyakan ke dokter atau Apoteker apakah ada alternatif lain yang lebih sederhana
  • Jumlah obat yang Anda minum bukanlah pertanda betapa sehat atau tidak sehatnya Anda. Lebih baik Anda diskusi dengan dokter atau Apoteker tentang target pengobatan seharusnya (misalnya target kadar gula, tekanan darah, kadar kolesetrol dsb)
  • Bila Anda merasa depresi atau tertekan dengan ruwetnya penanganan diabetes Anda, bicarakan dengan dokter atau apoteker.

6. Akhiri pertemuan, tanyakan langkah apa yang akan dilakukan pasien setelah diskusi dengan apoteker.

Membantu penderita mencegah dan mengatasi komplikasi ringan

[sunting]

Mencegah dan mengatasi komplikasi diabetik adalah salah satu hal penting dalam pengelolaan diabetes. Informasi mengenai komplikasi yang mungkin muncul menyertai diabetes sangat penting disampaikan kepada penderita dan keluarganya agar dapat melakukan antisipasi seperlunya.

Disamping itu, apoteker juga dapat terlibat langsung dalam tindakan-tindakan pencegahan dan pengendalian komplikasi yang muncul.

Menjawab pertanyaan penderita dan keluarga mengenai DM

[sunting]

Seorang apoteker dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penderita dan keluarganya tentang segala hal menyangkut diabetes dan pengelolaannya, sesuai dengan kompetensinya, misalnya tentang:

  • penyebab penyakit (DM tipe 1 dan DM Tipe 2)
  • bagaimana gejala-gejala yang harus diwaspadai
  • berbagai pemeriksaan diagnostik yang harus dilakukan
  • hal-hal apa yang harus dihindari untuk mencegah atau memperlambat perkembangan penyakit
  • terapi obat dan efek samping obat
  • komplikasi dan pencegahannya
  • perawatan kaki, kulit, mulut dan gigi dan lain sebagainya.

Memberikan Pendidikan dan Konseling

[sunting]

Tujuan pendidikan kepada pasien adalah untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam pengobatannya. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang tidak pernah mendapat pendidikan mengenai diabetes, risiko untuk komplikasi major meningkat 4 kali lipat.

Berikut ini adalah materi inti untuk pendidikan yang komprehensif yang dapat diberikan kepada pasien diabetes (Sumber: 2017 National Standard for diabetes self-management education, Diabetes Care 2017)

  • Patofisiologi diabetes dan pilihan pengobatan
  • Makan yang sehat
  • Aktivitas fisik
  • Penggunaan obat
  • Memonitor dan menggunakan patient-generated health data (PGHD)
  • Mencegah, mendeteksi, dan mengobati komplikasi-komplikasi akut dan kronis
  • Cara sehat mengatasi masalah dan kekhawatiran psikososial
  • Menyesuaikan sendiri perawatan dalam kehidupan sehari-hari (problem solving)

Pendidikan kepada pasien dapat diberikan dalam 3 tahap:

Tahap I

Segera dilaksanakan setelah pasien didiagnosa dengan DM sehingga dapat membantu mengatasi kebingungan, syok, terkejut dan lain sebagainya. Apoteker berusaha membantu pasien memahami dan menerima diagnosis.

Tahap II

Memberikan informasi yang lebih dalam, dengan berfokus pada masalah yang telah teridentifikasi sewaktu menilai pasien (misalnya peripheral neuropathy) dan hal-hal lain yang mungkin dapat diantisipasi ( misalnya mengatasi reaksi hipoglikemi). Kegunaan dan cara minum obat yang benar (misalnya obat hipoglikemik oral, obat antidislipidemia, obat antihipertensi, aspirin) harus dijelaskan.

Tahap III

Memberikan pendidikan berkelanjutan untuk menekankan konsep, meningkatkan dan menjaga motivasi, dan berupaya agar pasien dapat mengurus dirinya dan peduli terhadap kesehatannya.

Catatan: diperlukan pendekatan tim ahli kesehatan dalam pendidikan kepada pasien diabetes.

Pengetahuan yang diperoleh apoteker dari etiologi, patofisiologi, terapi obat dan non-obat untuk diabetes dapat digunanakan untuk pendidikan kepada pasien dengan bahasa yang disesuaikan untuk awam.

Konseling dalam penatalaksanaan diabetes sangat penting sebab diabetes merupakan penyakit yang sangat erat hubungannya dengan gaya hidup. Konseling diberikan kepada penderita untuk mendapatkan hasil penatalaksanaan diabetes yang maksimal.

Keberhasilan penatalaksanaan diabetes sangat bergantung pada kerja sama penderita dan keluarganya dengan petugas kesehatan. Kepatuhan penderita terhadap program penatalaksanaan sangat bergantung pada tingkat pemahamannya tentang penyakit tersebut.

Penderita DM yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang DM umumnya dapat mengendalikan perilakunya sehingga dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Secara umum, tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan memberikan penyuluhan atau konseling kepada penderita diabetes dan keluarganya antara lain:

  • Agar penderita DM memiliki harapan hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang optimal. Kualitas hidup sudah merupakan keniscayaan. Seseorang yang dapat bertahan hidup tetapi dengan kualitas hidup yang rendah, akan menggangggu kebahagiaan dan ketenangan keluarga.
  • Untuk membantu penderita DM agar dapat merawat dirinya sendiri, sehingga komplikasi yang mungkin timbul dapat diminimalkan, selain itu juga agar jumlah hari sakit dapat ditekan.
  • Agar penderita DM dapat berfungsi dan berperan optimal dalam masyarakat
  • Agar penderita DM dapat lebih produktif dan bermanfaat
  • Untuk menekan biaya perawatan, baik yang dikeluarkan secara pribadi, keluarga ataupun negara.

Segala informasi yang dianggap perlu untuk meningkatkan kepatuhan dan kerjasama penderita dan keluarganya terhadap program penatalaksanaan diabetes dapat disampaikan dalam konseling. Namun dalam penyampaiannya harus mempertimbangkan kondisi penderita, baik kondisi pengetahuan, kondisi fisik, maupun kondisi psikologisnya.

Untuk penderita yang mendapat resep dokter dapat diberikan konseling secara lebih terstruktur dengan tiga pertanyaan utama sebagai berikut:

  1. Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan Anda?
  2. Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat Anda?
  3. Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan Anda?

Pengembangan Tiga Pertanyaan Utama

  • Apa yang dikatakan dokter tentang peruntukan/kegunaan pengobatan Anda?
  • Persoalan apa yang harus dibantu?
  • Apa yang harus dilakukan?
  • Persoalan apa yang menyebabkan anda ke dokter?
  • Bagaimana yang dikatakan dokter tentang cara pakai obat Anda?
  • Berapa kali menurut dokter anda harus menggunakan obat tersebut?
  • Berapa banyak Anda harus menggunakannya?
  • Berapa lama Anda terus menggunakannya?
  • Apa yang dikatakan dokter bila Anda kelewatan satu dosis?
  • Bagaimana Anda harus menyimpan obatnya?
  • Apa artinya ‘tiga kali sehari’ bagi Anda?
  • Apa yang dikatakan dokter tentang harapan terhadap pengobatan Anda?
  • Pengaruh apa yang Anda harapkan tampak?
  • Bagaimana Anda tahu bahwa obatnya bekerja?
  • Pengaruh buruk apa yang dikatakan dokter kepada Anda untuk diwaspadai?
  • Perhatian apa yang harus Anda berikan selama dalam pengobatan ini?
  • Apa yang dikatakan dokter apabila Anda merasa makin parah/buruk?
  • Bagaimana Anda bisa tahu bila obatnya tidak bekerja?

Pertanyaan Tunjukkan dan Katakan

  • Obat yang Anda gunakan ditujukan untuk apa?
  • Bagaimana Anda menggunakannya?
  • Gangguan atau penyakit apa yang sedang Anda alami?

Jika Anda menemukan seseorang yang baru saja mengetahui dirinya mengidap diabetes, maka bantulah ia untuk dapat mengelola diabetesnya dengan baik. Ada beberapa prinsip yang dapat diikuti untuk hal ini, yaitu:

  • Bantu penderita untuk mendapatkan pemeriksaan yang diperlukan untuk mengetahui tipe diabetes yang diderita
  • Bantu penderita untuk mendapatkan perawatan rutin yang diperlukan
  • Ajarkan penderita untuk dapat mengontrol kondisi diabetesnya dengan baik
  • Ajarkan penderita untuk dapat memonitor kadar gula darah secara rutin dan teratur
  • Tingkatkan kepatuhan penderita terhadap terapi yang dijalani dengan memberikan informasi yang jelas tentang terapi yang dijalaninya dan akibat yang dapat timbul jika terapi tidak dijalankan dengan baik
  • Bantu penderita untuk mengantisipasi dan mencegah timbulnya masalah kesehatan jangka panjang yang disebabkan oleh keadaan diabetes atau efek samping terapi yang dilakukan
  • Bantu penderita untuk mengatasi masalah atau komplikasi yang timbul.

Mintalah penderita untuk segera memberi tahu anggota keluarga atau orang yang berada di sekitarnya pada saat itu apabila penderita mulai merasakan tanda-tanda awal serangan hipoglikemia, dan bila gejala makin berat segera laporkan pada dokter atau apoteker di apotik terdekat untuk segera mendapat pertolongan.

Referensi

[sunting]

Artikel ini dikembangkan dari Binfar Kemenkes, 2005, Pharmaceutical care diabetes mellitus, dan diupdate dengan perkembangan terkini.

Pelatihan PC DM, ACPE

Sterrett J, Croom M, Phillips CM, Shrader S. 2012. Incorporating a diabetes certificate program in a pharmacy curriculum. Am J Pharm Educ. 76(5):89.