Cinta Bersemi di Rumah Santri/Tangis di Kaki Merapi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tangis di Kaki Merapi
(2012) 
oleh Sulistya Hadi

Menatap ganasnya bencanamu
Dikaki gunung meratapi dengan tangisan kesedihan
Awan melayang membumbung tinggi dilangit biru
Harta benda musnah terbawa panasnya api
Dikaki Merapi kini hangus kering dan hampa

Ditanahku menatap langit
Awan hitam dan debu putih mengiringi lariku
Saudaraku berlarian menghindari kekejamanmu
Mengapa pikiranku tak seperti yang kuharapkan
Iringan tangis saudaraku menghanyutkan air mataku

Lahar panasmu menyapu rumah saudara-saudaraku
Ya Allah Ya Robbi
Awan panas menghangatkan raga nan terbakar
Merapiku jangan engkau luluh lantahkan seluruh tanahku
Dan juga ciptaan Tuhan yang kami cintai

Jangan engkau marah kepada kami yang mencintaimu
Jangan engkau murka dengan dayamu yang maha dahsyatnya
Irisan canda dan tawa hilang dalam sekejap mata
Di kaki Merapi tanah panas membara bagai tanah neraka
Pepohonan yang dulu hijau nan asri kini layu dan mati

Mungkin ini takdir Illahi
Mungkin ini suratan
Mungkin ini jalan kehidupan
Hanya air mata rintihan dari dalam hati
Ya Allah maafkanlah segala dosa-dosa kami

Lindungilah kami dalam pelukan cahaya-Mu
Disetiap kutapakkan kaki-kaki kecilku
Disetiap kumelihat saudaraku mati dihari itu
Pita hitam menyelimuti hati lagi sanubariku
Bagai mawar pupus terjatuh dari tangkai pohonnya

Kota istimewa yang kucintai menjadi kota mati nan pilu
Bila ku bisa hentikan waktu yang berputar
Kukepakkan sayap tuk menolong ciptaan Tuhanku
Banyak saudaraku kehilangan rumahnya
Muntahan panas menghangatkan tanah kaki Merapi

Banyak orang kembali kepelukkan hangat tangan-Nya
Di kaki Merapi jujur hatiku tak kuasa tuk menahan derita
Letih memaksa langkah kakiku tuk berhenti ditengah jalan
Tuk menghindari pertikaian alam
Tuk menghindari karma dan hukum alam

Apakah Engkau marah kepada kami
Apakah negeri yang kucintai ini tiada berguna lagi
Hatiku terpaku saat menatap layar kaca
Yang kini kotaku berselimut duka dan lara
Yang dulu dikata indah bertabur bunga dan wibawa

Aku panjatkan sekuntum mawar hitam dibibirku
Tuk Merapiku yang kucintai
Kini hanya satu kata yang dapat kuucapkan
Yang kupersembahkan doaku untuk Jogja