Dongeng Ibu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Dongeng Ibu
oleh Fanny Chotimah

Semasa kecil, ada satu dongeng ibu yang menjadi kesukaan saya. Kisah seorang anak perempuan yatim piatu miskin yang berteman dengan seekor ikan. Ikan ini diperolehnya dari seorang nelayan. Suatu ketika saat sedang membawa segelas beras, anak yatim itu bertemu dengan nelayan yang membawa seekor ikan kecil. Sang nelayan meminta menukarkan segelas beras dengan ikan yang dibawanya. Nelayan itu berkata, istri dan anaknya belum makan, ikan kecil itu tidak akan mengenyangkan perut satu keluarga. Tokoh utama dalam dongeng Ibu merasa kasihan dan segera menukarkan berasnya. Bukannya dimakan, ikan kecil itu dipeliharanya sebagai teman. Dia menyanyi untuk sang ikan dan berbagi makanan dari jatahnya yang sedikit itu. Maka ikan itu tumbuh besar setiap hari, semakin besar hingga kemudian pada akhir hayatnya, di makam sang ikan tumbuh pohon emas. Ikan itu memberikan kekayaan melimpah. Nyaris setiap malam, di antara udara dingin Priangan, ibu mendongengkan kisah ini untuk saya. Saya sudah hapal dongeng itu namun tetap saja meminta ibu menceritakannya. Ada dua alasan: pertama, suara ibu yang sejuk menentramkan hati akan membawa mimpi indah pada tidur saya. Alasan kedua, dongeng itu memberikan ruang imajinasi, seolah diri saya menjelma tokoh utama.

Masa berganti dan kini saya menjadi ibu bagi anak-anak saya dan tinggal di kota yang memiliki sebuah tempat bernama Taman Sriwedari. Konon dulunya taman milik Raja, beralih menjadi Kebun Binatang dan kini pusat kesenian rakyat. Ada sebuah joglo di mana para gelandangan biasa tidur menghabiskan malam. Juga kucing-kucing tak bertuan berkeliaran. Di sanalah saya bertemu Mbah Kucing, perempuan tua yang merawat kucing-kucing liar dan memberinya makan. Dia mengais-ngais sampah mencari sisa makanan untuknya dan kucing-kucing. Jika gelandangan lain berebutan makanan dengan kucing, Mbah Kucing dengan senang hati makan bersama kucing-kucing itu. Kalau dulu kisah anak perempuan dan ikannya menjadi dongeng Ibu untuk menggambarkan kebaikan yang perlu dilakukan dalam hidup pada saya, kini Mbah Kucing dan kucingnya menjadi tokoh utama dalam cerita saya untuk anak-anak, tidak lagi sebagai dongeng melainkan kisah sebenarnya tentang makna berbagi dalam kehidupan.
Apakah hanya orang “baik” yang bisa berbuat baik? Ada sebuah cerita teman saya namanya Asep, ia pertama kali merantau ke Jakarta, modal nekad dengan duit pas-pasan. Ia menggunakan bis dari kota asalnya. Sampai terminal Kampung Rambutan, seorang preman menodongnya. Ia dengan pasrah memberikan dompetnya. Namun, tak berapa lama preman itu mendatanginya lagi dan mengembalikan dompetnya. Asep dengan lugu bertanya mengapa dikembalikan?
“Gue kasihan sama loe, duit loe tinggal lima rebu!” jawab sang preman. Ternyata seorang preman pun masih memiliki rasa belas kasihan dan sedikit “kebaikan”, meskipun baik dalam tanda petik.
Kebaikan lain yang saya alami sendiri, ialah seorang tukang ojek pernah dengan baik hati tak meminta bayaran saat saya menggunakan jasanya. Alasannya karena searah dan ia kebetulan akan pulang. Begitu pun seorang tukang becak, hari itu saya memang sedang dalam kondisi sakit dan baru saja periksa dokter. Mungkin dalam pikiran tukang becak itu, membantu orang sakit merupakan sebuah ibadah.
Saya tersentak dengan kebaikan-kebaikan mereka seperti dongeng ibu tentang anak perempuan miskin yang dalam keterbatasannya sanggup berbagi. Mbah Kucing yang gelandangan, abang preman yang memiliki sedikit belas kasih, tukang ojek dan tukang becak, mereka semua bukan jenis manusia dalam kondisi mapan secara ekonomi maupun status sosial. Mereka bekerja keras dengan segala kondisi yang tak menguntungkan. Namun dalam kesederhanaannya mereka mengingatkan saya yang terkadang lupa berbagi, atau lebih berpikir untuk melakukan hal besar bagi dunia dan meremehkan segala hal sederhana yang seolah tak penting. Kita tak pernah tahu, mungkin bagi kita tindakan kita tak berarti apa-apa. Namun bagi orang lain sangatlah berarti. Dari dongeng ibu dan peristiwa yang saya alami, membuat saya percaya jika kebaikan sederhana akan tumbuh seperti ikan kecil yang setiap harinya akan tumbuh besar. Dan seperti sungai yang terus mengalir, di mana para ikan-ikan kecil hidup dan tumbuh besar, demikian pula kebaikan akan terus mengalir dari satu pihak kepada pihak lain membentuk anak-anak sungai yang tak berhenti mengalir. (*)