Dunia di Luar Waktu: Sebuah Kepingan Kisah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sebuah kepingan kisah yang mencakup perjalanan jiwa yang sangat panjang untuk menemukan bahwa Tuhan Yang Satu adalah sebuah energi yang sangat murni, yang tak dapat diserupakan dengan semua makhluknya.

Ditulis oleh Anta Samsara..

Catatan:

  • Novel ini adalah sebuah dwilogi, jika ada pengubahan pada bagian novelnya maka akan diumumkan pada halaman ini. Maka mohon menjadikan halaman ini sebagai halaman utama dari novel dimaksud, sementara indeks dari keseluruhan karya Anta Samsara pada Wikibuku Bahasa Indonesia dapat dibaca pada halaman ini.
  • Salah satu tokoh utama dalam draft novel ini bernama San[j]aya, yang merupakan penghormatan terhadap novel dan tokoh novel dalam karya Aan Merdeka Permana Silalatu Gunung Salak (Sunda: Bunga Api Gunung Salak; 1999).

Kita tak bisa terus-menerus hidup laksana bayi, tak pernah punya prasangka hanya karena pemikiran kita tak pernah menjalani segala; yang membuat kita enggan melalui semua untuk kemudian menyusun logika. Kita harus menempuh kemudahan dan kesukaran, kegirangan dan kemurungan, untuk menafsir secara dewasa. Betapa membinasakan pun kesimpulannya. Karena setidaknya, kita, sebagai makhluk fana, telah mencoba.

Bab pertama - Bagaimana Semuanya Berawal[sunting]

Ketika masih anak-anak aku sedang menunggu berangkat sekolah; aku tak ingat waktu itu tahun berapa atau aku tengah duduk di kelas berapa. Tapi saat itu pasti ketika aku masih SD, karena aku sedang menanti mobil jemputan datang.

Karena pada saat itu menyaksikan televisi adalah satu-satunya hal menarik yang dapat disaksikan di media massa, maka aku berdiri di depan televisi. Aku bahkan tak ingat apakah aku sempat duduk ketika menyaksikannya.

Seperti kebiasaan pada setiap pagi di masa itu, televisi menayangkan film kartun. Tapi film kartun yang ditayangkan pada pagi itu sangat berbeda dari biasanya, bahkan jika menayangkan film kartun adalah sebuah kebiasaan.

Layar televisi menayangkan adegan film di mana ada sebuah negeri yang sangat indah dan ramah, demikian ramah negerinya itu, sehingga jika matahari terbit jika penduduknya belum bangun, maka matahari tersebut akan kembali tenggelam dan menunda terbitnya.

Penduduk negeri itu sangat menikmati negerinya, karena setiap sudutnya adalah keindahan yang tiada terperi. Tidak ada satu orang pun yang tidak berbahagia, kecuali satu orang, yang adalah seorang ilmuwan, yang menemukan fakta bahwa mereka tidak berada pada negeri yang nyata, negeri mereka hanyalah suatu negeri yang berada dalam mimpi.

Temuan itu segera tersebar-luas sebagai bencana bagi dunia mereka, artinya keindahan negeri yang mereka hadapi selama ini hanyalah sebuah mimpi, orang-orangnya hanyalah makhluk dalam mimpi, dan alam raya yang sehari-hari mereka lihat dan rasakan adalah juga sebuah mimpi.

Dewan Negeri segera mengumpulkan semua orang penting dalam sebuah pertemuan paling penting dalam sejarah negeri itu, bagaimanapun sejarah didefinisikan untuk negeri mereka tersebut.

Dalam pertemuan tersebut orang-orang menangis sesegukan, betapa pilu hati mereka karena mereka semua adalah tidak riil. Tapi satu orang segera berteriak lantang menyerukan satu pemikiran yang adalah sebuah solusi bagi mereka semua: Jika ingin dunia mereka berakhir ketika siapapun-yang-tidur-dan-memimpikan-dunia-mereka terbangun harus diajak ke dalam dunia mereka. Mereka harus membuat suatu misi yang sulit yang menentukan takdir dunia mereka, bahwa jika ingin mereka menikmati keindahan nan abadi tanpa akhir, maka sang pemimpi harus ditarik agar sama-sama menjadi penghuni dunia mimpi mereka juga.

Itu adalah suatu film yang sangat mengagetkan dunia kanak-kanakku, tapi segera saya menjadi lupa dengan keasyikan bersekolah dan bermain dengan apapun yang kemudian berkelebat dalam pikiranku, bahkan jika di masa kanak-kanak itu dunia sosial tidak terlalu membuatku menjadi seorang yang terlibat begitu intens, karena nilai sebuah film tentang mimpi itu tergantikan dengan apapun yang menjadi dunia khayaliku yang menjajahku hingga masa dewasa.

Tapi ingatan mengenai film kartun itu menyeruak kembali ketika aku ingin meneruskan lanjutan psikomemoarku yang pertama Gelombang Lautan Jiwa, karena kusadari bahwa film itu mungkin bukan tentang mimpi, bukan mengenai delusi, bahkan ia tidak bercerita mengenai dunia khayali. Film kartun itu bercerita tentang kenyataan Semesta yang kita semua tengah tinggali. Film itu adalah kita semua. Bahkan jika kita tidak pernah tahu apa makna sebenarnya dari kata kita. Dengan demikian novel ini bukanlah lagi psikomemoar saya pribadi seperti apa yang telah dituliskan dalam Gelombang Lautan Jiwa, meskipun salah satu bagian, bab "Aku dan Jayabaya" diambil dari buku tersebut. Novel ini adalah psikomemoar kita semua, psikomemoar setiap manusia di Bumi.

Anda akan menemukan, dan pasti Anda akan menemukan hal-hal yang tidak tertuliskan dalam novel ini, entah karena kesengajaan ataupun karena memang saya tidak tahu mengenai hal itu. Itu justru bagian pentingnya, yang tidak Anda temukan dalam novel ini carilah dan tuliskan dalam kehidupan Anda.

Untuk itulah tujuan novel ini dibuat. Selamat membaca!

Bab kedua - Aku dan Jayabaya (1135 - 2012)[sunting]

Jangan heran dan jangan terpana.

Itulah putra sulung Batara Indra, yang kuasa mengusir kekuatan jahat....

Tiada bisa dibohongi, karena bisa menyusup ke dalam hati.

Timbalah ilmu dari kedalaman pengetahuan raja tanpa mahkota itu, jangan sampai terlambat.

(Jangka Jayabaya)

Mei 1998 adalah saat yang menggetarkan. Gedung-gedung hancur. 1000 orang terpanggang. Perkosaan massal. Dollar melambung. Sang tiran turun dari kekuasaan dan rakyat tak punya apa-apa selain harapan akan berakhirnya sebuah penantian panjang.

Aku menyaksikan semuanya dari kejauhan. Aku waktu itu sedang berada di rumah orang tuaku di Sumedang. Mengikuti semuanya dari layar kaca. Sebuah kesaksian yang berjarak. Ketika Soeharto lengser, aku sedang di rumah guruku yang sudah beberapa hari tidak datang ke sekolah karena terserang sakit mata.

Guruku waktu itu banyak bercerita soal masa lalu, masa ketika kami belum lahir. Masa di awal tampuk kekuasaan Soeharto, saat satu-dua orang mencoba mengkritik kekuasaan namun dilibas habis hingga tak ada lagi yang mampu bicara lantang.

Aku menerima ijazah dari SMU-ku satu bulan kemudian. Ayah-ibuku yang tak bisa membiayai aku untuk meneruskan sekolah, kutinggalkan berdua karena aku mencari kerja di rumah kakak ketigaku di Bekasi. Seperti yang kita tahu, Bekasi adalah kota yang dekat dengan Jakarta, maka bulu kudukku pun sering meremang jika melihat puing-puing gedung yang aku lewati ketika melakukan perjalanan. Barulah kusadari ternyata dalam diri manusia ada dua kekuatan besar yang saling bertentangan: mencipta dan menghancurkan.

Bayangan akan gedung-gedung yang menghitam tak jua lekang dari ingatanku selama bertahun-tahun. Kiranya hal itu menjadi semacam bayangan visual yang kerapkali meneror ketika aku sendiri. Bangsa sedang menyentuh titik nadir tepat di saat aku sedang membentuk diriku. Hitam. Terbakar. Kerusuhan. Apa yang bisa kupetik dari semua itu?

Aku menjadi semakin penyendiri di lingkungan baruku di Bekasi. Kawanku hanya radio dan majalah serta koran yang dibeli oleh Ayah. Aku gagal untuk bersosialisasi dengan lingkunganku. Aku tak lagi punya tenaga untuk melawan sifat asosialku. Akibatnya aku punya semangat yang semakin ganjil, yakni menyendiri setiap hari.

Pada suatu hari, aku membaca sebuah artikel di majalah yang dibeli oleh Ayah. Artikel yang mungkin tidak akurat namun mempengaruhiku sepanjang waktu di kala itu. Artikel itu berisi pertemuan antara Prabu Jayabaya dengan seorang begawan. Di waktu Sang Prabu Jayabaya sedang berbincang-bincang dengan patihnya, pembantu sang begawan menyuguhkan persembahan kepada Sang Prabu. Prabu Jayabaya terkejut melihat persembahan itu. Persembahan itu menyinggung perasaan Sang Prabu. Prabu Jayabaya menyuruh para pengawal dan patihnya untuk mencari dan membunuh sang begawan. Para pengawal berlarian mengejar, namun sang begawan nampaknya telah pergi jauh.

Sang patih bertanya, mengapakah Sang Prabu begitu berang? Prabu Jayabaya menjawab bahwa sang begawan telah bertindak kurang ajar. Persembahan itu adalah seloka dari suatu kurun waktu di masa depan. Masa setelah melalui zaman terbalik, yang salah dipuja, yang benar dicerca. Lalu muncullah seorang yang pinandita. Persembahan itu menyiratkan bahwa suatu hari kekuasaan Tanah Jawa akan jatuh ke tangan kalangan brahmana dan tidak akan lagi dikuasai oleh kasta ksatria. Kasta ksatria hanya akan jadi kasta kedua.

Aku terdiam dan termangu, dalam gelombang suara yang menyerbu turut datang perasaan yang aneh. Bahwa akulah yang dimaksud oleh Prabu Jayabaya dalam artikel tadi. Aku adalah sang Ratu Adil yang akan datang, Sang Satria Piningit. Aku merasa bahwa gangguan jiwaku adalah satu keburukan yang menjadi pertanda bahwa akulah yang dimaksud dalam ramalan itu. Dalam sebuah acara televisi Permadi, paranormal kondang Indonesia berkata bahwa sekarang ini Sang Satria sedang dalam keadaan penuh dengan kehinaan. Cocok sekali dengan keadaan diriku.

Aku merasa bahwa derita jiwaku hanyalah pengajaran dari Tuhan agar aku siap memimpin Indonesia di suatu saat kelak. Kehinaan akan berubah menjadi kemuliaan. Seperti intan dalam tanah berlumpur yang kemudian menjadi binar permata perhiasan. Kejatuhan yang membawa kepada pencerahan. Tak salah lagi, aku adalah Satria Piningit, yang akan menjadi Mesias bagi bangsa Indonesia. Semakin hari perasaan itu kian kuat.

Bahkan aku punya tafsiran sendiri tentang kata piningit. Kebanyakan orang menafsirkan kata piningit sebagai tersembunyi atau yang disembunyikan (hidden), dalam artian identitasnya ditutupi oleh Tuhan, tak mungkin diketahui oleh orang yang paling sakti sekalipun. Namun aku menafsirkannya sebagai “autistik” sesuai dari kata dasar dari kata tersebut yaitu pingit. Ini cocok sekali dengan masa kecilku yang cenderung tertutup.

Namun nampaknya antipsikotik telah membuatku mulai meragukan akan keyakinan itu. Aku mulai kerap didera keraguan yang membuatku bisa berlama-lama merenungkannya. Diriku jadi seperti pendulum yang berayun di antara dua sisi. Satu sisi adalah kenyataan dan di sisi lain adalah bukan kenyataan. Kadang-kadang perasaan itu begitu kuatnya sehingga menampik semua realitas. Namun di kali lain aku menyadari bahwa semua itu hanyalah pikiran yang datang sebagai subsidi silang dari keadaanku yang sedang akut. Di satu waktu aku adalah Satria Piningit dan di sisi lain aku adalah bukan Satria Piningit. Aku tak dapat membedakan lagi yang mana diriku yang sebenarnya. Memikirkan hal itu membuatku jatuh dalam kelelahan dan membikinku untuk beralih saja melihat kenyataan lain dalam hidup ini, yang tak memicu wahamku untuk timbul.

Bagaimanapun, aku tak dapat menguasai diriku sepenuhnya. Aku masih penasaran dengan keyakinanku tersebut. Ayah seringkali membaca majalah keparanormalan yang banyak menampilkan hal itu. Aku ikut terpengaruh oleh bacaan yang kupinjam dari Ayah. Namun waktu itu aku tak pernah mendiskusikan keyakinanku kepada siapa pun juga. Aku teringat ketika kecil aku pernah pula mengalami keyakinan semacam itu. Aku merasa bahwa aku adalah pusat semesta. Aku merasa bahwa Tuhan menciptakan dunia karena aku. Aku adalah makhluk terpenting di jagat raya ini. Tak ada yang berkedudukan setara denganku. Aku pada waktu itu selalu membayangkan planet-planet berputar mengitariku yang jadi poros segala pergerakan di semesta ini.

Aku dan Tuhan, punya hubungan khusus, hubungan yang tak pernah dan tak akan disamai oleh yang lain. Bagaimanapun, pengajaran agama Islam seringkali membuatku untuk mengkritik diriku. Karena dalam agama Islam, manusia terpenting adalah Nabi Muhammad. Anehnya, aku tak pernah merasa bersalah atas semua itu. Saat itu aku berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar dalam diriku. Seseorang boleh saja punya pemikiran semacam itu.

Setelah belasan tahun berlalu, perasaan kebesaran semacam itu muncul lagi. Namun kali ini merupakan bagian dari skizofreniaku. Dengan demikian dalam perjalanan derita jiwaku, satu saat aku terpuruk dan terperosok dalam kecurigaan dan halusinasi, dan kali lain aku melangit, merasa menjadi manusia terhebat di Tanah Indonesia.

Aku masih mengalami waham itu, kawan. Jika dalam edisi perdana buku ini aku mengatakan telah pulih dari semua itu, aku salah. Bersama dengan keadaan Indonesia yang tak pernah berhenti diluluh-lantakkan oleh ulah pejabat dan malapetaka alam, waham itu menguat lagi. Aku memang mencintai bangsa ini karena kehormatan bangsa ini memang harus dipertahankan. Tapi jika orang lain mencintai bangsanya dengan alasan sama sekali di luar delusi, maka aku tidak begitu. Waham yang kumiliki, tak dapat dibantah lagi, telah memperkuat kecintaanku akan bangsa dan negeri ini. Dan terkadang aku menganggap bahwa urusan mengenai bangsa ini adalah urusan pribadiku juga. Dengan kata lain, delusilah yang membuatku menganggap bahwa tak ada jarak antara aku dan Indonesia. Aku dan Indonesia adalah dua entitas yang hanya berbeda wujud.

Dalam kepalaku seringkali muncul kilasan-kilasan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Aku seringkali mendiskusikannya dengan kawan-kawanku yang sama-sama mengalami skizofrenia, karena aku tahu psikiater tak punya banyak waktu untuk membahasnya secara mendetail. Lagipula aku merasa lebih nyaman dan cocok jika hal itu dibicarakan dengan sesama yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Bahkan di saat-saat terakhir aku mengedit buku terbitan pertamaku ini, di tahun 2012, aku kerapkali dihadang pemikiran, mungkinkah waham adalah visi akan masa depan yang diberitahukan oleh alam lain? Mungkinkah itu bukanlah sebuah waham akan tetapi merupakan sesuatu yang coba diberitahukan oleh makhluk adikodrati?

Aku lelah memikirkannya, dan bagiku, adalah lebih baik jika aku pergi ke luar dan berjalan-jalan melihat dunia yang kasat mata, dunia sehari-hari yang tak diragukan kenyataannya. Seringkali melihat Metro Mini yang hampir menyerempet Bajaj, atau pengemis yang tertatih-tatih di lampu merah tanpa ada yang memberi sepeser pun, jauh lebih bisa menyadarkanku akan realitas daripada berita-berita di televisi yang membuatku berpikir melayang jauh meninggalkan pijakanku akan realitas sehari-hari.

"Aku bukan siapa-siapa, kataku dalam hati, aku hanyalah seorang dengan skizofrenia, tidak lebih." Itulah yang kukatakan dalam hatiku, setiap kali waham itu muncul.

Bab ketiga - Laut, Langit, Halilintar (1521-1535)[sunting]

Kurasa aku salah memilih guru, karena apa yang ada di hadapanku adalah sebuah petaka, bukan saja bagi alam tapi juga untuk diriku sendiri. Aku tak mengerti mengapa Guru memerintahkan hal yang demikian aneh. Seorang muda harus menuruti gurunya untuk menentang amuk Batara Indra?  

Aku terperangah dengan apa yang kusaksikan. Badai angin pusar menghisap lautan. Petir menyambar-nyambar. Angin demikian kerasnya sehingga aku berpegangan erat-erat pada pohon yang berada agak jauh dari bibir pantai. Bajuku basah kuyup oleh karena hujan angin menyiram tubuhku dengan demikian hebatnya. Awan-awan di langit dan air laut terhisap oleh belalai berpusar di tengah laut yang menyedot dengan demikian kuat, sehingga tak ada yang lolos darinya. Dan percayakah engkau akan kata-kata guruku dalam suratnya: “Engkau harus masuk ke dalam lingkaran yang menguasai, agar mendapat petunjuk dari para dewa.”

Guruku tidak pernah memberitahukan bahwa akan ada badai yang demikian hebatnya, dan ia sama sekali tak pernah berkata bahwa yang dimaksud dengan lingkaran adalah lingkaran badai. Ia hanya berkata bahwa aku harus menunggu di hari ini, Selasa Kliwon tepat 40 hari setelah kematiannya; di sini, kurang lebih 5000 tumbak dari pelabuhan di Sunda Kelapa.

Kukira guruku telah kehilangan akalnya, aku hanyalah seorang muda yang ingin menuntut ilmu kanuragan, tidak lebih. Tapi baru menguasai jurus dasar guru telah sakit keras, dan yang ia katakan di ujung sakitnya adalah aku harus ke sini dan menuju lingkaran: lingkaran yang kemudian kusadari sebagai lingkaran kematian.

Aku bukanlah orang laut, aku berasal dari kaki Gunung Suda. Aku sama sekali tak pernah berenang atau berperahu di laut. Menyentuh airnya pun tidak. Jadi mengapakah aku diperintahkannya untuk masuk ke lingkaran yang demikian rupa?

“Kau tak dapat menentang suratan dari para dewa,” itu sambung guruku dalam pesannya di ujung hidupnya. Ia berbicara dengan lirih, menandakan bahwa itu adalah hal yang benar-benar serius baginya. Aku mendengar dengan seksama.

“Jika Sang Lingkaran telah datang dan engkau enggan, maka ia-lah yang akan menggenggammu.” Tidak! Aku tak mau mati konyol! Hentikan badai itu! “Kau akan segera tahu bahwa aku bukanlah gurumu yang sebenarnya. Aku hanyalah orang yang mengarahkanmu kepada Sang Lingkaran.” Aku mulai tercenung dan hatiku berhenti berkecamuk. “Pergilah, sambutlah Sang Lingkaran jika engkau ingin mendapatkan ilmu yang sejati.” Aku teringat akan wajah guruku yang sangat tenang saat berkata seperti itu. Aku ingat sungging senyumnya yang teduh, garis-garis di wajahnya yang membentuk dengan khas saat ia bicara. Ia kemudian menggenggam tanganku, mendekatkan ke dadanya. Dan tanpa kurasa air mataku berlinang waktu itu, karena kutahu, itulah ujung usia guruku.

Aku masih berpegangan, angin kuat yang menderu-deru hampir membuat peganganku lepas. Guruku adalah orang baik! Guruku orang bijak! Ia tak mungkin berdusta! Karena itu aku harus menuruti perintahnya!

Aku melepaskan peganganku, angin dahsyat membuat aku hampir terpeleset jatuh. Dengan setapak demi setapak aku melangkahkan kaki menuju bibir pantai. Pakaianku berkibaran dengan cepat. Seliparku entah lepas di mana. Aku terus melangkah ke bibir pantai. Terus mendekat.

Dan ketika benar-benar ada di bibir pantai, angin yang demikian kerasnya, yang tak dapat lagi ditahan dengan kakiku yang sudah demikian goyah melawan kekuatan Batara Indra, membuatku tergelabur ke dalam air laut. Aku memang sudah siap, tapi tetap saja napasku jadi tersengal-sengal, aku masuk ke dalam arus hisap air yang demikian dahsyat. Kurasa aku mulai menyadari bahwa hatiku tak setetap di kala mulai menuntut ilmu pada guruku itu. Aku merasa bahwa guruku berdusta. Guruku hanyalah ingin muridnya mati beberapa saat setelah ia sendiri wafat. Ia tak ingin ajarannya jatuh kepada orang yang sembarangan, termasuk aku. Dalam beberapa kejap itu dalam pikiranku mulai berkelebatan kebaikan-kebaikan guruku, bahwa aku dengan tulus diangkatnya sebagai murid setelah kampungku diserang dan dibakar habis oleh para perombak yang datang.

Guruku pendusta! Tidak Mungkin! Ia berbohong! ... Tidak....!

Air memenuhi seluruh tubuh dan kepalaku, aku mulai tak bisa berpikir. Air mulai memasuki jantungku, rabuku, dan lambungku. Aku sama sekali tak bisa bernapas dan merasakan tubuhku lagi. Dan kusadari saat itu bahwa dunia ini hanyalah kekelaman belaka.

Kau. Aku. Ada di dalamnya.  

Bab keempat - Kota Kemenangan yang Terbakar (1998)[sunting]

Aku tak dapat bernapas, dan sepertinya ada berlimpah-limpah cairan dari dalam dadaku yang menekan-mendesak untuk keluar. Aku muntah air laut. Asin memenuhi lidahku hingga mulutku sangat payau rasanya. Kepalaku pening, dan telingaku basah lecap dipenuhi air, aku tak dapat mendengar dengan baik. Dan dalam pikiranku saat itu seluruh dunia adalah air.

Aku bersimpuh di tanah dan terbatuk-batuk. Rabuku mencoba mengeluarkan sisa air yang tersisa dalam rongga nafasku. Dunia berputar-putar, lalu aku jatuh tersungkur, masih dalam keadaan terbatuk-batuk. Aku kemudian terbaring telentang, tapi masih saja ada sisa air dalam paru-paruku. Aku muntah dan kali ini hal itu membuat lidahku terasa getir. Sisa makanan sebelum aku berlayar keluar semua dari dalam lambungku.

Aku berbaring menjatuhkan diri terlentang dengan denyut dalam dada yang kencang. Nafasku tersengal-sengal. Dalam beberapa saat aku tetap berbaring. Semuanya terasa sangat kalut dalam hatiku. Hingga akhirnya secara perlahan-lahan, berangsur-angsur, nafasku mulai membaik. Aku kini mulai dapat memandang langit yang ada di atasku walaupun penglihatanku masih terasa pening rasanya. Ternyata tak ada lagi badai di sana. Hanya ada sekumpulan burung yang tampak tak tenang dan terbang kian kemari. Awan tersempal di sana-sini. Namun aku mencium sesuatu yang terbakar. Sepertinya ada yang terpanggang.

Dengan matanya yang masih nanar ia memandang ke sekeliling. Nampaknya telah ada banyak perahu yang meninggalkan tempat itu, telah ada terlalu banyak jejak di pantai yang tak tergapai gelombang yang menandakan adanya garit-jejak perahu yang diseret ke lautan. Banyak yang telah pergi dari sini.

Dengan mengandalkan kekuatan kedua tangannya ia coba bangkit dan berdiri. Nampaknya ada sesuatu yang gaduh di arah lebih ke pedalaman. Maka ia pun dengan langkah yang masih gontai berjalan ke arah sana untuk mencari tahu.

Asap membubung hitam. Beberapa rumah, dan, nampaknya,kedai, terbakar menguarkan bau aroma arang yang luluh dalam api.

Apakah yang telah terjadi? Sanaya berjalan terus ke arah Selatan untuk mencari tahu. Orang-orang nampaknya telah pergi, entah menjauh atau mencari yang baru. Ia hanya melihat beberapa orang yang mencoba mengais rumahnya, barangkali untuk mencoba menemukan yang hilang.

Tapi nampaknya Sanaya terlalu takut untuk bertanya. Di manakah ia saat itu? Mengapakah tiba-tiba ia terdampar di sini setelah digulung badai lautan?

Ia berdiri di tepi persimpangan, sambil memandang ke berbagai arah. Bingung akan ke mana hendak meneruskan langkah. Lambungnya kembali muncul dengan aroma asin laut yang sempat tertelan. Ia kembali muntah tanpa isi, yang ia muntahkan hanyalah air asin.

Hanya di kejauhan, ia melihat beberapa orang coba mengatasi keadaan. Namun Sanaya belum jua tahu ia ada di mana. Dalam benak terbetik tiba-tiba keinginan untuk bertanya pada yang sedang mengais puing. Tapi rasa takut dan terasingnya kembali muncul. Kadang takut dan terasingnya itu muncul berganti-ganti mengatasi rasa penasarannya. Tapi ia belum juga bergerak untuk bertanya. Nampaknya sesuatu yang sangat buruk telah datang pada kota tepian pantai itu. Mungkin gerombolan perompak yang muncul dari lautan di Utara. Sama seperti dukuhnya yang diserang tiba-tiba ketika ia masih kanak-kanak. Atau mungkin juga ada perang dengan penguasa dari wilayah lain. Perang yang mirip dengan perlayanya kakeknya ketika menjadi tetua kampung ketika ia beranjak remaja.

Dunia penuh dengan derita. Derita yang menghapus derita. Sehingga lupa pada derita karena mengalami derita yang lainnya.

Bab kelima - Angin Bukanlah Kehampaan[sunting]

Tak ada kata di antara kami. Hanya ada keheningan yang begitu dalam, yang seolah-olah menenggelamkan perasaan kami. Bahkan langit pun diam dan menahan renyai gerimisnya saat kami berhadap-hadapan.  

Matari beranjak ke ufuk barat, awan pirau menggantung di kejauhan. Angin memuput pepohonan, daun-daun renta berguguran ke tanah. Aku menghaturkan sembah di hadapan abu guruku. Guru berbicara tanpa suara. Ia berbicara melalui kenangan. Melalui surat peninggalannya.

Sanaya, tidakkah kau ingat saat kau masih kecil dan kau bertanya, di manakah para dewa bersemayam? Aku tidak menjawab bahwa para dewa bersemayam di Kahyangan, tapi aku menjawab bahwa para dewa bersemayam dalam hatimu. Ia tidak di atas sana, tapi ia dekat bersama orang yang berbuat kebajikan.  

Dan kau bertanya lagi, apakah dengan demikian orang-orang jahat itu tak punya dewa dalam hati mereka? Dan aku menjawab bahwa tiap orang punya dewa dalam hatinya, hanya saja mungkin dewa dalam hatinya terpalit jelaga hitam sehingga ia tidak lagi berkuasa di dalam hati orang jahat itu. Dan sebelum bertanya lebih lanjut, aku meneruskan, bahwa dengan merenung dan menahan semua angkara yang berasal dari dalam diri, seorang manusia bisa menjadi orang yang budi dan perilakunya sesuai dengan ajaran dewa.  

Lalu kau berkata bahwa engkau hanya ingin jadi dewa, karena dapat menyelamatkan orang baik maupun orang jahat. Aku terbahak. Dan kukatakan kepadamu, manusia takkan dapat menjadi dewa, tapi bisa menjadi manusia yang berbatin dewa. Dewa dalam wujud manusia.

Saat kau lebih dewasa, kau membaca Kitab Sunda dan mengetahui bahwa bahkan raja diraja pun tak dapat mewujudkan semua keinginannya, dan wafat dalam dukalara. Prabu Hayam Wuruk tak dapat memiliki Sang Putri Dyah Pitaloka dari Kerajaan Sunda yang cantik, yang lebih memilih untuk bunuh diri di Medan Bubat daripada menyerahkan dirinya untuk Majapahit. Sang Mahapatihnya tak mampu menaklukkan kekuasaan Kerajaan Sunda di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah membaca kitab itu kau menyadari kebenaran ajaran Hindu-Buddha, bahwa keinginanlah yang sebenarnya membuat manusia menderita.

Sanaya diam, dan membuka lembaran lontar kedua.

Lingga dan Yoni, kekayaan dan kuasa, bukanlah hal utama dalam kehidupan di marcapada ini. Tujuan utama dari kehidupan ini adalah menyemaikan benih ketentraman dan kedamaian sehingga tiap orang dapat hidup tanpa rasa khawatir akan kedurjanaan dunia ini. Mengakhiri lingkaran penderitaan adalah tujuan utama kehidupan di jagat ini. Tidakkah kau tahu, bahwa begitu banyak manusia yang tertaklukkan oleh nafsunya, dan akhirnya mati dalam keadaan sengsara?

Jadilah Sang Brahmana Kelana, yang senantiasa memetik sesuatu dari pengembaraan di dunia ini. Jadilah Air Mengalir yang senantiasa dibutuhkan oleh makhluk-makhluk di sekitarmu, yang bahkan dicari oleh manusia dan hewan yang datang dari jauh. Jadilah Sang Perenung Agung yang senantiasa memikirkan tanda keagungan para dewata.

Kau adalah murid yang baik. Yang bakti kepada guru dan darma. Janganlah takluk kepada segala kesenangan menipu, yang membuatmu tak pernah lepas dari lingkaran siksa dunia.

Setelah aku wafat, temuilah seorang pertapa yang tinggal di Alas Kayon[ alas artinya ‘hutan.’], yang dapat dicapai dengan menyusuri Sungai pembatas antara Suku Sunda dan Jawa. Turutilah segala perintahnya, sebagaimana engkau menuruti perintahku. Karena ia adalah penggantiku.

Kau melepasku pergi, dan aku melepasmu pergi. Selamat menempuh perjalanan yang baru, sebagaimana aku akan menempuh perjalananku juga. Semoga kau mendapatkan pengalaman yang baru pula, yang membuatmu menjadi murid kehidupan yang tetap cemerlang.

                                                                                                Gurumu,

                                                                                                Ki Hémi

Candi kecil tempat abu guruku itu terletak di atas bukit, dengan atap yang terbuat dari ilalang. Aku dan guruku tinggal di tepi hutan, dan jauh dari pemukiman penduduk. Pemukiman terdekat, yang bernama Lembur Situ[ lembur artinya ‘kampung.’], terdapat dalam jarak sekitar seperempat hari perjalanan. Pondok kami terletak di atas pohon untuk menghindari binatang buas. Guruku memelihara seorang yang tuna rungu, yang bernama Usé, sebagai pembantunya untuk urusan sehari-hari. Sehingga aku dapat lebih berkonsentrasi untuk menyerap pelajaran.

Aku menyimpan surat terakhir dari guruku dalam uncang[ kantung tempat pakaian yang terbuat dari kain]. Lalu aku menghaturkan salam berupa sembah kepada Usé, yang akan tetap setia di hutan itu untuk merawat abu guruku. Aku pamit. Namun ketika tiba di tempat yang agak jauh, aku sekali lagi melihat ke candi guruku, untuk yang terakhir kalinya.

“Lihatlah! Itu tempat yang kautuju!” Sanaya tersentak. Ia baru tersadar ternyata ada orang di belakangnya, yang sedang mengayuh rakit yang ia tumpangi dengan galah panjangnya, yang dihujamkan ke dasar sungai.  

“Lihatlah! Kita telah dekat,” orang itu mengulangi. Seolah tahu bahwa Sanaya tadi tidak begitu memperhatikan kata-katanya.

“Baiklah, menepilah di sini,” Sanaya menimpali agar sang pengayuh rakit itu merapat ke bantaran sungai.

Sanaya melompat dengan sigap saat rakit itu belum menyentuh tanah pinggiran sungai. Dari tepian ia melemparkan uang sepicis, lebih dari yang ia janjikan sewaktu berangkat.  

Sang pengayuh berkata, “Ini terlalu besar untukku.”  

Sanaya menjawab, “Ambillah semuanya, sebagai tanda permohonanku agar perjalananku menemui berkah dari para dewa.”  

Sang pengayuh menghaturkan sembah, sebagai tanda terima kasih.

.......................................................................................................................................

Kau tidak akan menjadi murid Ki Wana lagi. Tapi kau akan menjadi murid Sang Kalatidha...

Bab keenam - Menempuh Jalan Kosong[sunting]

Gerimis menderas, siram airnya membasahi kaca. Pohon, awan, kata, dan diri, meliuk tertiup angin. Namun mataku tak dapat lagi menangis, karena apapun yang akan kutemui telah kupersiapkan diri ini sejak lama. Adakah artinya sebuah hidup yang dijalani dan diupayakan jika kemudian ia berulang-ulang harus menemui apa yang telah tertulis?

Bab ketujuh - Suatu Malam di Bawah Lampu Bohlam[sunting]

Ruanganku tanpa manusia, hanya ada ranjang-ranjang dengan seprainya yang berwarna putih akrilik yang terpalit jelaga asam arang sehingga berlarik-larik. Beberapa larit sinar mentari menerobos melalui celah tingkap-tingkap persegi panjang dan terbias ke seluruh ruang karena debu, sang pembaur cahaya. Tak ada suara televisi atau tiktok bola tenis meja. Hanya ada suaranya yang memberi aba-aba hitungan seperti deret ukur yang berulang-ulang: satu-dua-tiga-empat, satu-dua-tiga-empat-. Mereka ada di luar sana. Di tanah lapang. Berolahraga.

Aku sendiri di sini. Terbangun dalam sunyi hati. Tanpa kawan. Tanpa keluarga. Tanpa apa-apa. Aku hanya punya derita yang aku tak tahu harus kubagi dengan siapa. Karena di sini tak ada yang sanggup untuk mengerti. Aku hanyalah daun yang telah meranggas dan terjatuh ke tanah. Sesaat lagi makhluk pengurai akan mencerna diriku dalam tubuh mereka. Maka aku pun akan kembali menjadi tanah. Aku yakin hujan takkan jatuh di atasku. Maka aku akan jadi tanah cengkar dan hambar yang tanpa guna.  

Aku berjalan ke kamar kecil, aku terhuyung-huyung, seolah-olah habis meminum topi miring tiga botol. Aku ambruk di muka lemari. Aku mencoba bangkit. Kutopang badanku dengan tanganku. Susah-payah aku berusaha bangkit. Aku berhasil. Kali ini aku berpegangan ke dinding. Karena aku tak dapat merayap bagai manusia lancah, aku hanya berjalan di pinggir ruangan. Akhirnya aku sampai juga ke kamar mandi.  

Kuambil gayung dan kuguyur kepalaku dengan air yang masih dingin karena udara pagi. Kutahu satu tidak cukup, maka kutambah dengan enam gayung lagi. Aku bergeletak di lantai. Baju dan celanaku basah kuyup. Aku menggigil kedinginan. Aku terdiam dan tersedu sendirian. Aku berteriak lantang-lantang meluapkan kekesalanku. Berputarlah kembali pikiranku kepada dunia yang dulu. Lirih dan lara. Dunia yang pergi dan tak mungkin kembali.  

Dunia yang datang dan menghilang bagai berlalunya waktu.  

*  *  *

Pagi-pagi Ayah sudah bangun. Memberi makan kucing-kucing di ruang tengah dan menuju ke ruang keluarga untuk membaca koran-koran yang tergeletak semenjak setengah enam lewat sepuluh tadi. Angin-angin di ruang itu memberitahukan kepadanya bahwa cuaca sedang mendung. Awan-awan hitam menggantung dan ia membaca tak ada berita-berita yang dapat membuat suasana hatinya membaik. Hanya ada rampok-rampok yang menjarah uang rakyat laksana anai-anai yang membuat kayu menjadi keropos. Dan perlu diberi garis bawah: bahwa itu semua tersirat dan tidak tersurat. Tiada berita yang menyebutkannya secara eksplisit.

Ibu sudah bangun pula dan sedang memasak di dapur. Adik masih tidur di kamarnya. Sedangkan aku sedang mendengarkan realitas yang tak terjamah oleh keluargaku. Tercatat baik-baik dalam komputerku: hari itu adalah hari Senin, tanggal 3 Januari tahun 2000. Dan kuulangi lagi, pukul setengah enam lewat sepuluh.

Bab ketujuh - Ia Tiada[sunting]

Angin benar-benar tanpa bunyi awal bulan itu. Kala itu adalah kala yang lain. Desember yang berbeda dengan Desember yang lain. Desember yang bukan Desember. Saat yang tak pernah ada bandingnya dengan saat yang lain. Terpaan anginnya telah meliukkan pepohonan dan pucuk-pucuk kawat. Tapi tak ada satu pun yang berbunyi. Burung-burung terbang tanpa hempas kepak sayap. Cakar-cakarnya menelisik pucuk-pucuk dedaunan. Tapi tak ada suara sedikit pun. Belalang dan uir-uir berlompatan dari dahan rumputan, tanpa mengeluarkan derik sedikitpun. Seolah-olah Semesta merayakan sesuatu tanpa adanya sesuatu. Yang tersisa hanya satu: senyap.

Tak ada yang benar-benar tahu apa yang dilarikan oleh angin ke Utara. Tak ada yang tahu. Hingga matari telah naik agak tinggi dan semua pikiran tersibak saja maka semuanya menjadi jelas terlihat dalam pandangan mata. Meskipun semuanya terjadi dalam sepi.

Tidak ada yang pernah tahu ke mana ia dibawa. Atau pergi. Atau menghilang. Yang pasti tak ada lagi siapa-siapa di sana. Yang ada hanya satu: Ia tidak di situ lagi.

Sejak hari mulai terang ia tak dapat berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia tak punya kata-kata untuk sesuatu yang demikian penting. Yang demikian meluluh-lantakkan. Baginya saat ini, tidak ada apapun yang dapat menggambarkan perasaannya, semuanya kelabu, bagaikan awan yang tak pernah jelas akan diterjemahkan ke dalam kosakata apa. Rasa yang tak lagi punya nama baginya. Rasa yang tak ada gunanya lagi untuk diungkapkan meskipun suatu hari nanti ia mampu menggambarkannya dengan sesuatu hal. Ia tak punya kata-kata, bahkan ketika sesuatu itu demikian awal terasa dalam dirinya.

Semuanya hanya ada hening. Hening yang terlalu penuh. Hening yang terlalu pukal untuk diutarakan dengan ucap manusia.

Ia tahu apa yang akan diucapkan oleh Oerwa ketika pintu ruang itu berkereket terbuka, tapi ia kira ia takkan menanggapinya lagi. Karena sudah tiada guna. Telah terlalu banyak yang dilalui untuk sampai ke saat itu. Saat tanpa kata-kata; darinya, tentangnya.

“Ia telah pergi,” katanya seolah keadaan tidak dipermaklumi oleh keduanya. Ia tak perlu keterangan soal itu. Ia tak membutuhkannya. Karena ia sudah tahu sejak lama. Lama sebelum saat itu datang. Lama sebelum ia di situ.

“Kita sudah tak sanggup lagi menanggung penderitaannya.” Sasmita menjawab dalam diam. Ia bahkan tidak berusaha mengatur napasnya menghadapi sulitnya perbincangan itu. Ingin sekali rasanya ia menyingkat semua kemarahannya selama masa yang panjang sekali kepada ayahnya itu. Tapi kemudian kata-katanya reda kerena berpikir, untuk apa. Ia tahu saat itu pasti terjadi.

“Ia kuserahkan”, lanjut Oerwa. “Kau tak mampu, dan aku tak mampu, maka ia kuserahkan.” Ayahnya itu mencari pancar mata anak di depannya, tapi Sasmita terlalu bergumpal dengan pikir untuk mengangkat muka dan sorot matanya.

Dan pada titik itu hatinya menggumpal kian keruh. Ia telah sangat penuh dengan semuanya. Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil tongkatnya dan membanting pintu, dengan seketika keluar. Ia tak peduli lagi jika pintu itu langsung rebah ke tanah setelah ia banting begitu keras.

Ia naiki bukit itu. Bukit yang takkan ada gunanya lagi; yang takkan ada manfaatnya untuk menampung segala apa. Ia tahu sejak beberapa hari rumput dan lalang telah bertunas di tepi setapak yang ia lalui. Tapi ia dengan sengaja tidak menyianginya. Karena ia tahu, saat ini sudah dekat. Takkan ada gunanya lagi. Biarlah apapun jadi mulai saat itu, entah rumputan, ilalang, perdu dan semak, sarang lebah, ataupun cabang-ranting dari pohonan. Ia tak peduli lagi. Namun perasaan ketika pertama kali datang ke tempat ini ia rasakan terkuak lagi. Ia tahu, tapi tetap ia datang juga ke tempat itu. Ia tahu, tapi tetap ia tunggu saat itu juga. Ia tiba-tiba saja kehilangan semua makna; untuk apa ia tahu, untuk apa ia menunggu; untuk apa ia menanti datang segalanya.

Ia muncul ke puncak bukit itu bagaikan matari yang kehilangan arti. Semuanya menunggu. Menunggu sejak lama ia naik ke puncak bukit itu; tapi entah untuk apa. Bersama langkah naik kakinya menapak setapak, pandang matanya naik pula perlahan menyapu keseluruhan puncak bukit itu, kian lama kian jelas dataran puncaknya itu; yang ia dapati adalah kekosongan. Sebuah kehampaan. Karena ia tak lagi berada di atas sana.

Ia telah tiada.

Bab Kedelapan - Malaikat di Dalam Masjid (2007)[sunting]

Di pusara ayahku, ikut terkubur pula harapanku. Entah hingga kapan. Tanpa uang pensiun Ayah aku tak lagi punya uang untuk melanjutkan pendidikanku. Seringkali aku menyalahkan nasibku yang begitu buruk. Hatiku muram, pikiranku tertekan. Aku enggan berbicara dengan siapa pun termasuk dengan kakak-kakakku. Dokterku di RSCM mulai memberikan antidepresan Kalxetin (Fluoxetin). Untungnya pemerintah masih berbaik hati, program Askeskin memungkinkanku untuk mendapatkan obat mahal itu secara cuma-cuma.

Aku menggunakan Diazepam melebihi daripada yang diresepkan. Dokter meresepkan 5 mg untukku, tapi obat itu seringkali kuminum hingga 10 mg per malam, agar aku lelap tertidur, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk lari dari kenyataan; dengan mengembara di dunia mimpi.

Kiranya tak ada yang memahami bahwa aku sangat kehilangan Ayah. Sama sekali tak ada yang mengerti bahwa bersama dengan wafatnya Ayah, lenyap pula pendukung moril dan finansial bagi proyek perkamusanku. Aku tak lagi mampu membeli kamus-kamus dengan isi yang menakjubkan. Juga tak ada lagi diskusi yang menggairahkan tentang buku-buku yang baru saja kami baca. Setelah terbukti tak mampu bekerja secara purna-waktu, dunia kepenulisan adalah harapanku satu-satunya. Kini, harapan itu sirna bersama dengan kepak sayap malaikat Izrail yang mencabut nyawa Ayah.


* * *


Pagi hari, awal tahun 2007. Aku tidak tidur semalaman. Bukan karena banyak nyamuk dan bukan pula karena udara dingin yang turun bersama hujan deras. Aku gelisah. Sudah seminggu aku tak minum antidepresan, karena seorang dokter menolak untuk meresepkannya. Katanya, Risperidone pun akan memicu serotonin. Aku tak lagi memerlukan antidepresan karena sang antipsikotik sudah sekalian menanganinya.

Namun aku gelisah, tak dapat duduk dengan tenang. Aku memandang ke luar jendela, hujan masih saja deras, angin berderau-derau. Aku merebahkan diri dan mencoba mengusir resah. Tapi tak berhasil. Aku mondar-mandir di ruangan atas. Aku semakin gundah.

Aku berpikir, memutar otak. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba metodeku yang dulu, yaitu dengan cara beritikaf di mesjid. Aku menyandang tas berisi baju dan Quran, turun ke bawah, keluar dan mengambil sepeda. Lalu dalam hujan aku menuju Mesjid Al-Hidayah. Jalanan begitu sepi, mungkin karena hujan bulan Januari ini, yang turun dengan begitu derasnya. Aku tak memakai jaket, aku lupa karena saking gelisahnya.

Di samping SD Panunggangan aku berbelok ke kanan, lurus, lalu belok kiri. Maka tibalah aku di mesjid Al-Hidayah. Aku tak terima. Aku tak ikhlas. Aku memikirkannya semalaman hingga tak bisa tidur. Aku berdoa agar diberikan petunjuk, agar hatiku menjadi tentram. Namun hingga pagi tiba aku masih resah-gelisah, menunggu jawaban.

Di dalam mesjid, kutukar pakaianku yang basah kuyup dengan pakaian yang ada di tasku. Aku berwudu, lalu salat tahiyatul masjid dilanjutkan dengan salat duha. Selesai salat aku merenung, kenapa dunia selalu tak adil padaku. Aku berbuat kebaikan, tapi balasannya adalah keburukan. Apakah semua ini karena aku berpenyakit iwa?

Mesjid itu kosong. Dalam kosongnya, Tuhan dan diriku terasa begitu dekat. Atmosfer spiritual mesjid yang agung menyelusup lewat pori-poriku, menjalari darahku, lalu berdiam di dalam hatiku. Aku takkan lagi menunggu jawaban, akan kucari sendiri jawaban itu dalam terjemah dan Tafsir Al-Hikmah yang ada di dalam mesjid itu. Aku membuka Quran itu halaman demi halaman. Aku membaca ayat per ayat, tapi tetap tak kutemukan jawabannya.

Aku larut dalam kebingungan. Aku tak kunjung menemukan ayat yang kucari. Dengan pikiran yang gelisah dan bingung aku masih membuka-buka Quran itu. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku dengan berkata, “Aku utusan Tuhanmu.” Aku melihat ke arah sumber suara itu dan aku terlonjak. Aku hampir-hampir tak percaya pada apa yang kusaksikan. Malaikat yang bertubuh putih, melayang di udara mengisi kekosongan ruangan mesjid. Ia bersayap. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Kakinya melayang jauh di atas lantai mesjid.

Ia berkata lagi,”Buka Surat 20 ayat 112. Baca artinya.” Suaranya jelas terpantul dari sudut ke sudut.

Lalu ia lenyap di udara begitu saja. Tak berbekas. Tak ada sisa.

Aku kaget setengah mati. Dengan tangan gemetar kubuka ayat yang dimaksudkannya. Beginilah bunyi ayat itu menurut terjemah Al-Hikmah:

Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya.

Aku mencatatnya. Perasaan takut menyelubungi hatiku. Aku tak pernah mengira akan bertemu makhluk selain manusia di mesjid itu. Kukembalikan Quran Al-Hikmah ke lemarinya, kusandang tasku, lalu kuambil sepeda dan pulang cepat-cepat dengan menerobos hujan yang belum juga reda. Tanganku yang masih tremor membuatku sulit untuk mengendalikan setang sepeda.

Ketika aku tiba aku langsung duduk di ruang atas. Mengendalikan napasku yang terengah-engah. Setelah sedikit lebih tenang aku mencoba berpikir akan apa yang baru saja terjadi. Apakah itu petunjuk dari Tuhan? Dari jin? Atau hanya halusinasi?

Ini bukan pertama kalinya aku melihat makhluk lain. Aku pernah melihat pocong dan hantu yang bersliweran lewat di depanku. Petunjuk tadi memang berguna namun kupikir itu hanyalah halusinasi. Tindakan pertama yang kulakukan adalah menaikkan dosis Risperidone-ku menjadi 3 mg.

Esok aku akan melaporkan kejadian itu kepada dokterku di RSCM.

TAMAT

Bersambung ke novel Kalatresna: Ketika Cinta Bersemayam.

Catatan Akhir[sunting]