Farmakologi/Diuretik

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Diuretik adalah obat lini pertama untuk kebanyakan pasien dengan hipertensi. Diuretik adalah salah obat yang direkomendasikan jika diperlukan terapi kombinasi untuk mengontrol tekanan darah.

Diuretik sangat efektif menurunkan tekanan darah bila dikombinasi dengan kebanyakan obat antihipertensi lain. Kebanyakan obat antihipertensi menimbulkan retensi natrium dan air; masalah ini diatasi dengan pemberian diuretik bersamaan.

Ada empat subkelas diuretik digunakan untuk mengobati hipertensi yaitu:

  • Tiazid
  • Loop
  • Agen penahan kalium
  • Antagonis aldosteron

Tiazid[sunting]

Diuretik tiazid adalah jenis diuretik utama untuk kebanyakan pasien dengan hipertensi. Pada pasien dengan fungsi ginjal cukup (±GFR> 30 ml/menit), tiazid paling efektif untuk menurunkan tekanan darah. Bila fungsi ginjal berkurang, diuretik yang lebih kuat diperlukan untuk mengatasi peningkatan retensi natrium dan air.

Perbedaan farmakokinetik yang penting dalam golongan tiazid adalah waktu paruh dan lama efek diuretiknya. Hubungan perbedaan ini secara klinis tidak diketahui karena waktu paruh dari kebanyakan obat antihipertensi tidak berhubungan dengan lama kerja hipotensinya. Lagi pula, diuretik dapat menurunkan tekanan darah terutama dengan mekanisme ekstra-renal.

Diuretik loop[sunting]

Contoh obat diuretik loop adalah furosemid. Ulasan tentang furosemid dibahas di “Furosemid: penggunaan, efek samping, dan interaksi obat“. Furosemid 2x perhari dapat digunakan. Jadwal minum diuretik harus pagi hari untuk yang 1x perhari, pagi dan sore untuk yang 2x perhari untuk meminimalkan diuresis pada malam hari. Dengan penggunaan secara kronis, diuretik tiazid, diuretik penahan kalium, dan antagonis aldosteron jarang menyebabkan diuresis yang nyata.

Diuretik penahan kalium[sunting]

Diuretik penahan kalium adalah obat antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek aditif bila dikombinasi dengan golongan tiazid atau loop. Selanjutnya diuretik ini dapat menggantikan kalium dan magnesium yang hilang akibat pemakaian diuretik lain.

Antagonis aldosteron (spironolakton)[sunting]

Antagonis aldosteron (spironolakton) dapat dianggap lebih poten dengan mula kerja yang lambat (sampai dengan 6 minggu untuk spironolakton). Tetapi, JNC 7 melihatnya sebagai kelas yang independen karena bukti mendukung indikasi khusus.

Efek samping diuretik tiazid termasuk hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia, hiperurisemia, hiperglisemia, hiperlipidemia, dan disfungsi seksual. Studi jangka pendek menunjukkan bahwa indapamide tidak mempengaruhi lemak atau glukosa atau disfungsi seksual.

Semua efek samping diatas berhubungan dengan dosis. Kebanyakan efek samping ini teridentifikasi dengan pemberian tiazid dosis tinggi (misalnya HCT 100 mg/hari). Guideline sekarang menyarankan dosis HCT atau klortalidone 12.5 – 25 mg/hari, dimana efek samping metabolik akan sangat berkurang.

Diuretik loop dapat menyebabkan efek samping yang sama, walau efek pada lemak serum dan glukosa tidak begitu bermakna, dan kadang-kadang dapat terjadi hipokalsemia.

Diuretik penahan kalium dapat menyebabkan hiperkalemia, terutama pada pasien dengan penyakit ginjal kronis atau diabetes dan pada pasien yang menerima ACE Inhibitor, ARB, NSAID, atau suplemen kalium.

Referensi[sunting]

Depkes RI, 2006, Pharmaceutical care untuk penyakit hipertensi, Ditjen bina kefarmasian dan alat kesehatan, Departemen kesehatan.