Farmakologi/Masalah Terkait Obat

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Masalah terkait obat (drug related problem, DRP) merupakan keadaan terjadinya ketidaksesuaian dalam pencapaian tujuan terapi sebagai akibat pemberian obat. Aktivitas untuk meminimalkannya merupakan bagian dari proses pelayanan kefarmasian (Hepler, 2003).

Masalah terkait obat tersebut secara lebih rinci menurut Cipolle, Strand dan Morley (1998) dapat dijabarkan sebagai berikut:

Adanya indikasi penyakit yang tidak tertangani[sunting]

Suatu penyakit bisa mengalami komplikasi yang tidak diharapkan, oleh karena itu perlu mencermati apakah ada indikasi penyakit yang tidak diobati. Adanya indikasi penyakit yang tidak tertangani ini dapat disebabkan oleh:

  • Penderita mengalami gangguan medis baru yang memerlukan terapi obat
  • Penderita memiliki penyakit kronis lain yang memerlukan keberlanjutan terapi obat
  • Penderita mengalami gangguan medis yang memerlukan kombinasi farmakoterapi untuk menjaga efek sinergi/potensiasi obat
  • Penderita berpotensi untuk mengalami risiko gangguan penyakit baru yang dapat dicegah dengan penggunaan terapi obat profilaktik atau premedikasi

Pemberian obat tanpa indikasi[sunting]

Pemberian obat tanpa indikasi disamping merugikan penderita secara finansial juga dapat merugikan penderita dengan kemungkinan munculnya efek yang tidak dikehendaki. Pemberian obat tanpa indikasi ini dapat disebabkan oleh:

  • penderita menggunakan obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit pada saat ini
  • penyakit penderita terkait dengan penyalahgunaan obat, alkohol atau merokok
  • kondisi medis penderita lebih baik ditangani dengan terapi non obat
  • penderita memperoleh polifarmasi untuk kondisi yang indikasinya cukup mendapat terapi obat tunggal
  • penderita memperoleh terapi obat untuk mengatasi efek obat yang tidak dikehendaki yang disebabkan oleh obat lain yang seharusnya dapat diganti dengan obat yang lebih sedikit efek sampingnya.

Pemilihan obat tidak tepat/salah obat[sunting]

Pemilihan obat yang tidak tepat dapat mengakibatkan tujuan terapi tidak tercapai sehingga penderita dirugikan. Pemilihan obat yang tidak tepat dapat disebabkan oleh:

  • Penderita memiliki masalah kesehatan, tetapi obat yang digunakan tidak efektif
  • Penderita alergi dengan obat yang diberikan
  • Penderita menerima obat tetapi bukan yang paling efektif untuk indikasi yang diobati
  • Obat yang digunakan berkontraindikasi, misalnya penggunaan obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea harus hati-hati atau dihindari pada penderita lanjut usia, wanita hamil, penderita dengan gangguan fungsi hati, atau gangguan fungsi ginjal yang parah.
  • Obat yang digunakan efektif tetapi bukan yang paling aman
  • Penderita resisten dengan obat yang digunakan
  • Penderita menolak terapi obat yang diberikan, misalnya pemilihan bentuk sediaan yang kurang tepat
  • Penderita menerima kombinasi produk obat yang tidak perlu, misalnya polifarmasi sesama obat hipoglikemik oral yang bekerja pada titik tangkap kerja yang sama dan diberikan pada saat yang bersamaan.

Dosis obat sub terapeutik[sunting]

Pemberian obat dengan dosis sub terapeutik mengakibatkan ketidakefektifan terapi obat. Hal ini dapat disebabkan oleh:

  • Dosis yang digunakan terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang dikehendaki
  • Konsentrasi obat dalam plasma penderita berada di bawah rentang terapi yang dikehendaki
  • Saat profilaksis tidak tepat bagi penderita
  • Obat, dosis, rute, formulasi tidak sesuai
  • Fleksibilitas dosis dan interval tidak sesuai
  • Terapi obat dialihkan terutama untuk uji klinis

Dosis obat berlebih (over dosis)[sunting]

Pemberian obat dengan dosis berlebih mengakibatkan efek hipoglikemia dan kemungkinan munculnya toksisitas. Hal ini dapat disebabkan oleh:

  • Dosis obat terlalu tinggi untuk penderita
  • Konsentrasi obat dalam plasma penderita di atas rentang terapi yang dikehendaki
  • Dosis obat penderita dinaikkan terlalu cepat
  • Penderita mengakumulasi obat karena pemberian yang kronis
  • Obat, dosis, rute, formulasi tidak sesuai
  • Fleksibilitas dosis dan interval tidak sesuai

Efek obat yang tidak dikehendaki[sunting]

Munculnya efek obat yang tidak dikehendaki (adverse drug reactions) dapat disebabkan oleh:

  • Obat diberikan terlalu cepat, misalnya pada penggunaan insulin diberikan terlalu cepat sering terjadi efek hipoglikemia.
  • Penderita alergi dengan pengobatan yang diberikan.
  • Penderita teridentifikasi faktor risiko yang membuat obat ini terlalu berisiko untuk digunakan
  • Penderita pernah mengalami reaksi idiosinkrasi terhadap obat yang diberikan
  • Ketersediaan hayati obat berubah sebagai akibat terjadinya interaksi dengan obat lain atau dengan makanan

Interaksi obat[sunting]

Interaksi obat yang mungkin timbul dari pemakaian insulin dengan obat hipoglikemik oral atau dengan obat yang lain dapat dilihat pada referensi yang lebih detil, misalnya BNF terbaru, Stokley’s Drug Interactions dan lain sebagainya.

Penderita gagal menerima obat[sunting]

Penderita gagal menerima obat dapat disebabkan oleh:

  • Penderita tidak menerima pengaturan obat yang sesuai sebagai akibat kesalahan medikasi (medication error) berupa kesalahan peresepan, dispensing, cara pemberian atau monitoring yang dilakukan.
  • Penderita tidak mematuhi aturan yang direkomendasikan dalam penggunaan obat
  • Penderita tidak meminum obat yang diberikan karena ketidakpahaman
  • Penderita tidak meminum obat yang diberikan karena tidak sesuai dengan keyakinan tentang kesehatannya.
  • Penderita tidak mampu menebus obat dengan alasan ekonomi.

Hal-hal yang juga perlu mendapat perhatian ekstra terhadap munculnya masalah terkait obat apabila penderita berada dalam kondisi khusus, seperti:

  • Penderita hamil/menyusui
  • Penderita gangguan ginjal
  • Penderita gangguan hati
  • Penderita gangguan jantung (stage 3-4)
  • Penderita lanjut usia
  • Penderita anak-anak
  • Penderita sedang berpuasa

Untuk meminimalkan masalah terkait obat, apoteker perlu melakukan identifikasi dengan mengajukan empat pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apakah terapi obat sesuai dengan indikasinya? Terapi obat dikatakan tidak sesuai bila obat yang diberikan tidak sesuai dengan indikasinya atau penderita memerlukan terapi obat tambahan karena adanya indikasi yang belum diobati (untreated indication)
  2. Apakah terapi obat tersebut efektif? Terapi obat dikatakan tidak efektif bila obat yang diberikan tidak tepat dalam pemilihannya atau dosis yang digunakan terlalu kecil.
  3. Apakah terapi obat tersebut aman? Terapi obat dikatakan tidak aman, bila penderita mengalami reaksi obat yang tidak dikehendaki atau penderita mendapatkan dosis obat yang terlalu tinggi atau penderita menerima/menggunakan obat tanpa indikasi.
  4. Apakah penderita mengikuti aturan yang telah disarankan? Penderita tidak mengikuti aturan penggunaan obat yang disarankan dapat terjadi karena ketidakpahaman penderita terhadap penyakit dan pengobatannya, alasan ekonomi, atau ketidaknyamanan yang dialami.

Referensi[sunting]

Artikel ini dikembangkan dari Binfar Kemenkes, 2005, Pharmaceutical care diabetes mellitus, dan diupdate dengan perkembangan terkini.