Lompat ke isi

Hidup Seperti Kuda Kepang

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sinopsis[sunting]

Seorang pemuda sebagai penari kuda kepang menganggur lama karena minat masyarakat terhadap pertunjukan kesenian itu mulai sedikit. Dia hidup menganggur karena bersikeras mempertahankan idealismenya berjuang demi melestarikan kesenian itu.Namun, idealismenya goyah ketika dia mulai mengenal wanita yang menjadi cinta pertamanya. Demi cintanya, dia rela melakukan pekerjaan yang tidak biasa dilakukan atau di luar kebiasaannya. Bahkan demi agar mendapatkan uang dia berani melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Puncak masalahnya terjadi ketika anak tetangga itu tidak membalas perasaannya dan masalah terus datang membawa dia terjerumus dalam jurang kehancuran.

Tema[sunting]

Perubahan Zaman dan Dampaknya terhadap Seniman

Sasaran[sunting]

Untuk usia 17 tahun ke atas.

Tokoh[sunting]

  • Arwani
  • Luna
  • Putera
  • Elim
  • Suroso

    Latar Tempat[sunting]

    Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah

    Penafian[sunting]

    Cerita ini hanya fiktif belaka meski menggunakan latar tempat yang nyata. Jika ada kesamaan nama tokoh, atau pun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

    Isi Cerita[sunting]

    Tekad Pengangguran[sunting]

    Penari jaran kepang sedang melakukan pertunjukan.

    “Tujuan seni bukanlah untuk merepresentasikan penampilan luar dari hal-hal, tetapi signifikansi batin mereka."

    Arwani tenggelam dalam lamunan. Dia mengingat kutipan Aristoteles yang sering diucapkan almarhum kakeknya di sanggar seni tari kuda kepang. Seperti mantra sihir, kata-kata itu selalu membayangi Arwani setiap kali dia menari di atas anyaman kuda buatan kakek buyutnya. Bagi Arwani, kesenian itu sudah seperti kehidupannya yang sederhana di desa tempat dia dilahirkan.

    Arwani terlahir di Desa Timbang, sebuah wilayah kecil di ujung Kabupaten Purbalingga. Sejak kecil, dia telah diperkenalkan pada kesenian tari kuda kepang, yang diwariskan dari generasi keluarganya. Kehidupan keluarga Arwani sejak dulu bergantung pada pertunjukan seni tari tersebut. Namun, kesenian ini saat ini sedang menghadapi tantangan besar di tengah gelombang modernisasi yang semakin tinggi. Minat masyarakat terhadap kesenian tradisional semakin luntur, dan Arwani merasakan dampaknya secara langsung. Kesenian yang telah menjadi identitas dirinya, kini mulai tergerus peradaban.

    Di tengah kontradiksi batinnya, Arwani mulai berpikir untuk memutar haluan dalam profesinya. Meskipun mencintai seni tari kuda kepang, dia sadar bahwa untuk melanjutkan kehidupannya, dia harus menekan idealisme sebagai seniman tari. Keputusan ini bukan hal yang mudah, karena dia bisa saja memutus rantai keturunan sebagai seniman tari.

    Tekad Arwani semakin besar ketika dia mulai dekat dengan Luna. Seorang perempuan seusianya yang baru pulang dari kota Surabaya. Orang tuanya berasal dari desa Timbang, tetapi karena pekerjaannya di Surabaya, mereka sekeluarga memilih pindah. Sekarang, setelah pensiun, orang tua Luna memilih untuk menikmati masa senja di desa kelahirannya.

    Lik[1], masih pagi udah ngelamun. Anterin aku ke sekolah ayo.” keponakan Arwani menyadarkan lamunannya.

    “Ya, ayo.” Arwani bangkit, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasahi muka dan rambutnya. Dia lalu kembali ke kamar, melihat dirinya sekilas di cermin sebelum pergi ke garasi untuk mengeluarkan sepeda motor.

    Angin pagi berhembus membelai wajah Arwani dengan lembut ketika dia melaju di atas jalan desa dengan sepeda motor tua milik almarhum kakeknya. Beriringan dengan teman-temannya berangkat kerja, dia pergi mengantar keponakannya ke sekolah. Dia begitu semangat pergi mengantar keponakannya itu karena berharap bisa melihat Luna di sekolah.

    Luna, adalah seorang sarjana dan memilih menjadi seorang guru di desa asalnya. Tidak seperti kebanyakan sarjana yang lebih memilih untuk mencari kehidupan di kota. Hari ini Arwani dibuat kecewa karena Luna tidak terlihat di sekolah. Akhirnya dia pun bergegas untuk pulang ke rumah.


    Sebuah Pertemuan dalam Pencarian[sunting]

    Hari demi hari terus berlalu. Arwani telah mengirim lamaran kerja dan telah melalui banyak wawancara. Namun usahanya itu sia-sia. Dia hanya memiliki ijazah SMA dan tidak memiliki pengalaman kerja selain menjadi penari kuda kepang. Mencari kerja di zaman ini tidak mudah jika hanya bermodal ijazah SMA apalagi usia Arwani sudah mendekati dua puluh lima. Dia menyesal telah menolak tawaran beasiswa sarjana ketika baru lulus SMA.

    Taman Kota Usman Janatin Purbalingga

    Perasaannya yang dalam terhadap Luna masih lebih besar daripada penyesalannya itu. Dia pun bangkit kembali, meneruskan pencariannya di dunia kerja. Arwani tahu, bahwa cinta itu tidak sekedar kata-kata. Bagi dia, cinta adalah usaha dan pengorbanan untuk membuat Luna bahagia. Arwani sadar bahwa zaman sekarang tolak ukur kebahagiaan seseorang adalah seberapa banyak harta. “Hei, Wan!” seseorang menepuk pundak Arwani dari belakang ketika dia sedang duduk di kursi taman kota. Tidak asing suara itu terdengar di telinga Arwani. Namun, perasaannya sudah lama sekali tidak mendengarnya.

    “Eh, Putera. Lama sekali nggak ketemu. Gimana kabarmu?” jawab Arwani sambil menoleh ke arah belakang. Putera kemudian duduk di samping Arwani. Dia adalah teman Arwani semasa SMA di kota Purbalingga.

    “Baik, Wan. Kau sendiri apa kabar? Ada acara apa, Wan? Tumben sekali pergi ke kota.” Putera tidak bisa menyimpan rasa penasarannya. Dia tahu persis, Arwani tidak suka dengan kehidupan di kota yang ramai dan panas. Meski Purbalingga bukan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya.

    “Aku juga baik, Put. Ini, aku habis wawancara kerja. Tapi, belum jalanku untuk bekerja di sana. Apa kamu punya info lowongan kerja yang tidak perlu merantau, Put? Kerja apa saja lah, asal dapat uang.” kata Arwani dengan serius. Arwani memang bukan orang yang suka berpergian jauh dan tidak pernah merantau. Ditambah perkenalannya dengan Luna membuat dia semakin betah tinggal desa.

    “Ada sih, Wan, jadi marketing kalau mau.” jawab Putera.

    “Boleh lah, Put. Gimana cara daftarnya?” Arwani tersenyum bahagia. Seolah pencariannya telah berakhir.

    Pertemuan dengan Putera yang tidak disengaja itu membawa Arwani kepada titik terang. Statusnya sekarang tidak lagi seorang pengangguran. Dengan pekerjaan dan penghasilannya yang tidak banyak itu, Arwani sering mengajak Luna jalan ke tempat wisata lokal Purbalingga. Beberapa tempat yang sering mereka kunjungi adalah, Rumah Pohon Igir Wringin, Lembah Pleset, dan Kutabawa Flower Garden. Rumah Pohon Igir Wringin menjadi tempat favorit Luna yang menyukai aktivitas mendaki gunung.

    Terperosok ke dalam Lembah Nestapa[sunting]

    Suatu hari, Arwani dan Luna sedang duduk bersama di Rumah Pohon Igir Wringin. Mereka menikmati ketenangan suasana bukit Wringin sambil melihat pemandangan indah di bawahnya. Angin lembah berhembus dengan lembut membelai wajah cantik Luna yang sedang menatap takjub keindahan alam raya. Ketika langit mulai meredup, matahari yang mulai berubah warnanya menjadi jingga, suasana hari itu semakin damai. Arwani, yang selama ini telah memendam perasaan di dalam hatinya, berpikir bahwa suasana telah mendukung niatnya untuk mengungkapkan perasaannya.

    Ilustrasi Rumah Pohon

    "Luna, ada sesuatu yang ingin aku katakan jujur kepadamu." Arwani memberanikan diri mengatakannya dengan hati yang berdebar-debar.

    “Apa itu, Wan?” Luna menoleh dengan heran, matanya penuh dengan rasa penasaran.

    “Sejak awal aku melihatmu, entah apa itu, dadaku terasa sesak namun gembira. Semakin banyak hari yang kita lalui bersama, dadaku rasanya semakin sesak. Setiap hari, tidak, bahkan setiap waktu aku selalu memikirkanmu. Mungkin, aku telah jatuh cinta padamu, Luna. Aku takut, jika nanti kita tidak bisa lagi bersama. Luna, aku ingin berbagi lebih banyak waktu bersamamu, tidak hanya di tempat ini, tetapi juga di setiap langkah hidupku." Arwani melanjutkan.

    Suasana di Rumah Pohon Igir Wringin tiba-tiba menjadi tegang. Luna memandang Arwani dengan serius. Setelah keraguannya hilang, Luna akhirnya tersenyum dengan kerendahan hati yang dalam.

    "Arwani, aku menghargai kejujuranmu dan aku rasa juga harus jujur padamu." ucap Luna dengan lembut, “sebelum itu aku minta maaf. Sejauh ini aku selalu menganggapmu teman yang baik, dan karena itu, aku merasa nyaman jalan bersamamu. Tapi, Wan. Perihal cinta, sebenarnya aku punya kekasih di Surabaya. Dulu kami pernah berjanji untuk menikah. Dia sedang melanjutkan kuliahnya di sana, sehingga aku harus menunggunya. Maafkan aku, Wan. Selama ini, aku menganggapmu teman, tidak lebih.”

    Hati Arwani terasa berat mendengar pengakuan Luna. Suasana yang cerah sore itu seperti tiba-tiba menghitam membawa badai yang datang hanya memporak-porandakan perasaan Arwani. Namun, meski kecewa, dia mencoba untuk menerima keadaan bahwa Luna hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih.

    "Luna, aku mengerti. Aku juga minta maaf. Aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani atau tidak nyaman." ucap Arwani mencoba tetap tegar menahan perasaannya.

    "Terima kasih, Wan. Aku harap kita tetap bisa berteman seperti biasa." jawab Luna.

    Senja mulai menuju puncaknya. Arwani termenung memandang ke langit yang semakin hitam. Warna merah di ujung cakrawala terlihat seperti darah yang semakin gelap di matanya. Perasaan sesak bahagia berubah menusuk dan membuat lubang besar dadanya.

    Hari demi hari berlalu, akhirnya satu bulan sudah sejak Arwani mengungkapkan perasaannya. Kata-kata Luna masih terukir jelas di dalam pikirannya. Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Luna. Bahkan, disuruh mengantarkan keponakannya saja, dia enggan. Pekerjaannya pun menjadi kacau, bulan ini dia tidak mencapai target. Bahkan, gairah hidupnya yang hilang membuat dia lalai dalam bekerja sehingga sering melakukan kesalahan.

    Dalam dua bulan berikutnya, kehidupan dan pekerjaan Arwani semakin berantakan. Dua kali Arwani harus mengganti rugi perusahaan karena merusak barang dagangannya. Dan akhirnya dia pun dipecat karena berulang kali melakukan kesalahan dan tidak pernah bisa mencapai target.

    Puncak masalah muncul ketika Arwani mendapati dirinya tak mampu mengganti kerugian yang ditimbulkannya. Dalam kebingungannya, ia bertemu dengan Elim, temannya yang bekerja sebagai marketing pinjaman online. Elim menawarkan pinjaman online kepada Arwani sebagai jalan keluar.

    Meski berhasil membayar ganti rugi, Arwani kini malah terjerat dalam jerat pinjaman online yang lebih menakutkan. Teror penagihannya membuat hidup Arwani semakin tertekan, dan tekanan ini akhirnya membawanya ke dalam jurang depresi. Setiap hari, Arwani dihadapkan pada ancaman, intimidasi dan panggilan telepon yang tak henti-henti dari pihak penagih hutang. Ancaman hukum membuatnya merasa terpojok dan tidak memiliki jalan keluar. Setiap langkahnya terasa diawasi dan dikendalikan oleh bayang-bayang tagihan.

    Kesedihan dan keputusasaan merayap ke dalam hatinya setiap hari. Keluarganya tidak ada yang tahu karena dia selalu menunjukkan ekspresi tegar dihadapan mereka. Meski di balik wajahnya yang palsu itu terdapat kegagalan dan tekanan yang membuatnya kehilangan harapan akan perbaikan hidupnya.

    "Wan, besok siang ke sanggar ya! Minggu depan ada tanggapan kuda kepang di desa Langgar." sebuah pesan singkat tertulis di ponselnya. Pesan dari paman Arwani yang merupakan ketua Paguyuban Seni Jaran Kepang milik keluarganya.

    Tarian Terakhir[sunting]

    Rumah joglo merupakan rumah adat Jawa yang mulai langka.

    Keesokan harinya, Arwani datang ke sanggar yang berada di rumah keluarga inti. Sanggar itu terlihat mistis dengan ornamen barong dan juga terdapat ornamen berbentuk kepala kuda yang terbuat dari rotan. Di depan pintu masuk bertengger dua patung singa barong yang menjadi ciri khas rumah Jawa. Bangunan kayu jati tua membuat kesan estetis dan antik pada sanggar itu. Di sana sudah ada pamannya yang sedang duduk berbincang dengan teman-temannya.

    Nyuwun sewu, Wa, Lik,”[2] sapa Arwani sambil menganggukkan kepala.

    “Eh, Arwani. Silahkan duduk dulu sambil menunggu teman-temanmu.” ucap Suroso, pamannya.

    “Nggih, Wa[3].[4] jawab Arwani sambil memposisikan dirinya di sebuah kursi rotan.

    “Ke mana saja kamu, Wan? Biasanya sering main ke sanggar. Sudah berapa bulan tidak ke sini?” Suroso memulai percakapan dengan keponakannya. Arwani adalah keponakan yang dibanggakannya di kesenian kuda kepang. Dia melihat Arwani tidak sekedar penari biasa, melainkan seorang seniman tari. Namun, semuanya telah berubah ketika kesalahannya memilih jalan membuat jati diri Arwani hancur berantakan.

    Hari itu, Arwani mulai berlatih lagi setelah sekian lama tidak menari. Bersama dengan teman-temannya, dia menyelaraskan tubuhnya dengan irama musik, gerakan, dan kuda kepang yang ia mainkan. Seminggu kemudian, tiba hari yang dinanti oleh para penari untuk melakukan pertunjukkan. Berbeda dengan Arwani yang masih kosong perasaannya, hari itu mungkin saja menjadi tarian terakhir di hidupnya.

    Saat terik sore mulai terasa hangat, pertunjukan seni kuda kepang siap dimulai. Penari bersiap dan didandani seperti seorang prajurit zaman kerajaan dan membawa anyaman bambu berbentuk kuda. Irama musik gamelan yang menghentak-hentakkan mulai terdengar dan menjadi penyemangat bagi para penari. Suasana meriah mulai terasa seiring dengan langkah para penari yang menuju ke lapangan. Sebelum mereka mulai menari, Suroso memulai ritual dengan membacakan doa dan membakar kemenyan di sebuah wadah lalu meletakkannya di depan lapangan tari. Asap tipis dan bau kemenyan mulai mengepul, menciptakan semacam baris antara dunia nyata dan dunia ruh.

    Penari Kuda lumping sedang menunjukkan gerakannya

    Para penari mulai menggerakan tubuhnya seiring musik gamelan yang ditabuh oleh penayagan. Dengan gerakan yang khas, mereka mulai memperlihatkan keahliannya. Kuda dari anyaman bambu itu seolah hidup, bergerak serasi dengan irama musik dan tubuh para penari. Suasana penonton semakin ramai menikmati kesenian yang mulai jarang dilihatnya.

    Seiring dengan irama musik gamelan, pikiran Arwani semakin tenggelam dalam kehampaan. Setahun terakhir tekanan hidup membuatnya semakin kehilangan jati diri. Dia merasa hidupnya hanya seperti kuda kepang yang dulu dipuja kini mulai hilang tidak bernilai. Kesenian kuda kepang saat ini hanya menjadi hiburan semata tanpa dilihat dari nilai budaya. Akhirnya, hari itu menjadi pertunjukan kuda kepang terakhir bagi Arwani. Tariannya kali ini mencerminkan kesedihan dan kehilangan jati dirinya. Seiring dengan langkah-langkah penari yang semakin bergema, Arwani menemukan dirinya terjatuh ke dalam ruang hampa. Dia terseret dan terjebak di alam bawah sadarnya. Ditengah gemuruh alunan gamelan, Arwani tersesat di dalam kesepian.

    TAMAT

    Catatan Kaki[sunting]

    1. Lik / paklik / paklek (Bapak Cilik) Sebutan untuk adik laki-laki dari ayah/ibu.
    2. arti: "Permisi, Paman."(Jawa)
    3. Wa / Wak atau Pakdhe (Bapak Gedhe) Sebutan untuk kakak laki-laki dari ayah/ibu.
    4. arti:"Iya, Paman" (Jawa)

    Daftar Istilah[sunting]

    Istilah Arti
    Kuda Kepang Kuda Kepang juga disebut Kuda Lumping atau Jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Di dalam tarian ini menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.
    Penayagan Penayagan adalah para penabuh Perangkat Gamelan atau perangkat Calung Banyumasan.
    Tanggapan Tanggapan adalah istilah dalam Bahasa Jawa yang berarti Pagelaran, Pertunjukan, dan semacamnya.

    Tentang Penulis[sunting]


    Penulis bernama Fermionisme yang lahir di wilayah kecil di Provinsi Jawa Tengah. Aktivitas sehari-harinya sekarang adalah bekerja. Dia menyukai penjelajahan, perjalanan, dan eksplorasi hal-hal yang baru. Pernah juga bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan Tengah sebagai pemanen. Dengan pengalaman penjelajahannya itu dia menemukan cerita-cerita menarik yang kemudian di tulis di buku hariannya. Menulis merupakan salah satu kegemaran dari beberapa kegemaran yang dijalaninya.