Joko Widodo

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Daftar buku bertopik Joko Widodo

Jokowi: Memimpin Kota, Menyentuh Jakarta[sunting]

Penulis: Alberthiene Endah

Penerbit: Metagraf

Tahun Terbit: 2012

Jumlah Halaman: 276

Sejak awal ramainya pemberitaan mengenai Jokowi dan mobil Esemka di media-media masa nasional, telah terbit berbagai buku yang membahas sosok mantan Wali Kota Solo tersebut. Buku-buku itu umumnya mengulas rekam jejak, profil, serta berbagai prestasi Joko Widodo sebagai seorang pemimpin daerah dan disusun oleh berbagai penulis yang tidak terkait secara langsung dengannya. Oleh karena itu, hingga Pemilukada Jakarta usai, belum ada buku yang secara resmi dikeluarkan oleh Joko Widodo sebagai media komunikasinya kepada masyarakat.

Buku Jokowi: Memimpin Kota, Menyentuh Jakarta merupakan sebuah memoar resmi yang merangkum masa kecil, masa muda, hingga perjalanan karier Joko Widodo menuju kursi Gubernur DKI Jakarta. Pada bab pertama, dikisahkan berbagai pengalaman Jokowi semasa tinggal secara berpindah-pindah di daerah bantaran sungai di Solo. Saat kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Berbagai sosok yang ia ingat pada masa itu hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Ayah Jokowi pun hanya menghidupi keluarganya dengan berjualan kayu. Joko Widodo menerangkan bahwa pengalaman hidupnya di masa kecil tersebut banyak berpengaruh pada pola pikir dan sikap hidup yang dianutnya ketika memimpin Kota Solo.

Bab kedua menguraikan tentang pengalaman Jokowi saat bekerja di Aceh pada 1985 hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke Solo pada 1988. Di Aceh, ia berkerja pada PT Kertas Kraft Aceh, sebuah BUMN yang bergerak di bidang produksi kertas. Fase hidup ini dikenang oleh Joko Widodo sebagai sebuah fase hidup yang keras. Ia bersama istrinya harus rela tinggal di tengah hutan dengan akses ke berbagai prasarana hidup yang sulit. Mereka kemudian berfikir bahwa akan sulit untuk melahirkan dan membesarkan anak dengan kondisi seperti itu. Setelah tabungan dirasa cukup, Jokowi dan sang istri memutuskan untuk kembali ke Solo. Akhirnya, Jokowi bekerja di pabrik mebel milik pamannya untuk sementara waktu sebelum memilih untuk membuka usaha mebelnya sendiri pada 1989.

Bab ketiga hingga kedelapan mengisahkan perjalanan Jokowi sejak awal pencalonannya dalam pemilukada hingga menjabat sebagai Wali Kota Solo selama tujuh tahun. Joko Widodo mengisahkan bahwa karirnya di dunia politik berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Jokowi, yang pada saat itu aktif memimpin organisasi pengusaha mebel bernama Asmindo (Asosiasi Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia), dinilai memiliki kapabilitas untuk menjadi kepala daerah di Solo oleh rekan-rekan sesama pengusaha. Mereka kemudian meminta Joko Widodo untuk maju dalam Pemilikada Solo 2005. Jokowi yang awalnya enggan akhirnya maju sebagai peserta pemilukada dan terpilih menjadi Wali Kota Solo untuk periode masa jabatan 2005—2010. Pada Pemilukada Solo 2010, Joko Widodo terpilih kembali sebagai kepala daerah dengan persentase perolehan suara sebanyak 91 persen. Hal ini mencerminkan keberhasilan Jokowi dalam memimpin Solo selama masa bakti jabatannya pada periode pertama.

Dua bab terakhir, yaitu bab kesembilan dan kesepuluh, berisi tentang pandangan Joko Widodo mengenai Jakarta serta kisah awal pencalonannya dalam Pemulikada DKI Jakarta 2012. Jokowi memandang Jakarta sebagai sebuah kota dengan kehidupan masyarakat yang keras. Masalah-masalah yang terbentuk pun begitu kompleks. Meski demikian, Jakarta dinilai tetap bisa “dilembutkan” dengan pendekatan yang manusiawi. Jokowi memaparkan bahwa dalam perkembangannya, masyarakat miskin di Jakarta harus menjadi prioritas utama. Fasilitas-fasilitas dasar untuk mereka, seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan, harus terpenuhi. Penataan Jakarta idealnya bermula dari rakyat kecil, bukan dari kalangan menengah atau atas. Akhirnya, Jakarta tetap memiliki berbagai potensi untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Kehidupan Jakarta bisa dibentuk menjadi kota yang lebih manusiawi untuk ditempati oleh semua kalangan masyarakatnya.

Gagasan-gagasan tersebut merupakan jawaban Jokowi atas kepercayaan masyarakat Jakarta kepada dirinya yang telah terpilih menjadi gubernur untuk masa bakti 2012—2017. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa pada awalnya keluarga Jokowi sempat mempertanyaan keputusannya untuk mengikuti Pemilukada DKI Jakarta 2012. Saat putra sulungnya mempertanyakan kembali keyakinannya untuk maju dalam pemilukada, Jokowi menjawab dengan sedikit berkelakar bahwa pada titik itu ia bahkan sudah yakin akan keluar sebagai pemenang. Istri Jokowi, Ibu Iriana, mengkhawatirkan kehidupan keluarga mereka setelah ia dan suaminya berpindah domisili ke Jakarta. Pada akhirnya keluarga Jokowi dapat memahami keikutsertaannya dalam Pemilukada DKI Jakarta. Joko Widodo kemudian mengukuti masa kampanye yang penuh dinamika dan terpilih menjadi gubernur setelah mengunguli perolehan suara pasangan calon Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dalam pemilukada putaran kedua pada September 2012.

http://www.jokowicenter.com/2013/04/08/jokowi-memimpin-kota-menyentuh-jakarta/

Jokowi Ahok, Pemimpin yang “Biasa-Biasa Saja”[sunting]

Penulis: A. Yogaswara, dkk.

Penerbit: MedPress

Tahun terbit: 2012

Jumlah halaman: 218

Joko Widodo dan Basuki Thahaja Purnama dikenal oleh masyarakat sebagai sosok pemimpin dengan rekam jejak yang baik. Keduanya merupakan pemimpin-pemimpin daerah yang berpihak pada masyarakat bawah. Di saat para pemimpin daerah lain sibuk “menghias” kotanya dengan pusat perbelanjaan modern dan jejaring waralaba multinasional, Jokowi memilih untuk merevitalisasi pasar-pasar tradisional di Solo. Di saat para pemimpin daerah lain lebih suka menutup akses informasi tentang proses perekrutan para birokratnya, Basuki justru membuka hal itu secara luas kepada masyarakat.

Buku Jokowi Ahok, Pemimpin yang “Biasa-Biasa Saja” secara umum berisi uraian mengenai profil dan rekam jejak Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai pemimpin daerah. Bab pertama dibuka dengan penjelasan singkat mengenai konsep satria piningit (kesatria yang tersembunyi) dalam ramalan Jayabaya. Satria piningit digambarkan sebagai sosok pemimpin dengan sifat-sifat yang ideal. Ia merupakan seorang juru selamat yang datang secara tiba-tiba pada kondisi zaman sedang kacau. Buku ini menyimpukan bahwa sesukses apapun kepemimpinan Jokowi, ia mungkin bukan seorang satria piningit yang diramalkan di masa lalu. Mengasosiasikan Jokowi dengan satria piningit dipandang bukan merupakan sebuah hal yang esensial. Hal yang penting untuk dilihat dari kesuksesan politis Joko Widodo saat in ialah bahwa ia sudah memperlihatkan kinerja kepemimpinan yang baik.

Bab-bab selanjutnya memaparkan berbagai kisah Joko Widodo saat menjabat sebagai Wali Kota Solo. Contohnya ialah ketika suatu hari ada seorang ibu datang membawa anaknya yang sedang sakit ke balai kota. Ibu itu menjelaskan bahwa anaknya terus-menerus mengigau dan menyebut nama Joko Widodo. Jokowi kemudian menyikapi kejadian itu dengan cara yang unik. Alih-alih merujuk warga tersebut ke rumah sakit, Jokowi seketika mendinginkan tangannya dengan air es dan mengusapnya pada wajah anak yang sakit. Keesokan harinya, Jokowi memastikan kondisi anak itu melalui ajudannya dan mendapati bahwa kondisi anak yang semula sakit tersebut sudah membaik. Ia pun telah kembali bersekolah. Selain itu, diuraikan juga berbagai langkah Joko Widodo saat memimpin Solo, seperti ketika ia menggagas adanya rembuk warga dan rembuk kota. Rembuk warga dan rembuk kota kemudian menjadi sarana komunikasi yang efektif antara rakyat Solo dan wali kotanya.

Bab ke-11 dan ke-12 banyak bercerita mengenai profil dan rekam jejak Basuki Tjahaja Purnama. Sebelum memutuskan masuk ke dunia politik pada 2003, Basuki dikenal sebagai seorang pengusaha. Ia sempat bergelut dengan usaha kontraktor, pasir kwarsa, juga peleburan biji timah di kabupaten Belitung Timur. Basuki kemudian memilih untuk berjuang di jalur politik karena menyadari bahwa di jalur ini ia bisa berbuat lebih banyak bagi masyarakat. Basuki terpilih sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005—2010. Namun, setelah 16 bulan menjabat ia memutuskan mundur dari jabatan bupati untuk maju pada Pemilukada Provinsi Bangka-Belitung. Ia gagal pada pemilihan kepala daerah tersebut dan melanjutkan karier politiknya dengan menjadi anggota komisi II DPR dari Partai Golkar. Basuki Tjahaja Purnama memiliki rekam jejak yang bersih, baik sebagai Bupati Belitung Timur maupun sebagai anggota DPR. Ia merupakan sosok yang selalu mengedepankan semangat transparansi pada setiap jabatannya.

Sebagai penutup, bab ke-13 berisi simpulan atas fenomena Jokowi dan Basuki pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Munculnya sosok Jokowi dan Basuki dinilai membawa kebaruan yang positif bagi dunia politik di Indonesia. Pola kepemimpinan dan semangat perbaikan yang mereka bawa dapat menjadi model acuan bagi pemimpin-pemimpin lain di Indonesia, yang selama ini dinilai kurang berpihak pada rakyat bawah. Meski demikian, kepemimpinan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama harus tetap terus-menerus diawasi dan dikritisi. Masyarakat idealnya tetap berperan aktif dalam proses pengawasan atas setiap pemimpin mereka. Hal ini bertujuan agar kepemimpinan Jokowi dan Basuki berpihak pada rakyat secara konsisten dan bukan hanya pada pengusaha atau partai politik tertentu yang mendukung pencalonan keduanya di awal pemilukada.

http://www.jokowicenter.com/2013/04/08/jokowi-ahok-pemimpin-yang-biasa-biasa-saja/

Gado-Gado Kerikil Jokowi[sunting]

Penulis: Anas Syahirul, dkk.

Penerbit: Galang Press

Tahun terbit: 2012

Jumlah halaman: 196

Sejak saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, Jokowi sudah dikenal dekat dengan awak media. Ia selalu mudah ditemui oleh para wartawan. Bahkan ia tidak menolak jika ada wartawan yang mencegatnya di tengah aktivitasnya untuk sebuah wawancara singkat. Selain itu, Joko Widodo pun kerap membuka ruang diskusi dengan wartawan-wartawan di Kota Solo terkait problem-problem tertentu di kota tersebut. Karena kedekatannya itu, sudut pandang para wartawan mengenai sosok Joko Widodo menarik untuk diungkapkan.

Terdiri atas enam bab, buku ini merupakan sebuah buku yang ditulis oleh beberapa wartawan media lokal di Solo. Bab pertama memuat kisah-kisah seputar kehidupan pribadi Joko Widodo. Beberapa bagian awal menarasikan pengalaman Jokowi saat kanak-kanak. Seperti yang telah diketahui masyarakat luas, Joko Widodo datang dari keluarga yang sederhana. Jokowi pernah tinggal secara berpindah-pindah di bantaran sungai. Ayahnya pun beberapa kali berganti pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Meski demikian, tidak ada kesedihan ketika Joko Widodo mengenang masa lalunya. Ia selalu berkata bahwa kondisi ekonomi keluarganya yang sulit itu mengajarkan nilai-nilai yang baik tentang etos kerja dan kegigihan hidup. Nilai-nilai tersebut kemudian membawanya pada kesuksesan sebagai pengusaha mebel di kemudian hari.

Bab kedua dan ketiga menguraikan pengalaman-pengalaman Jokowi saat ia menjabat sebagai Wali Kota Solo. Pada awal Joko Widodo menjabat, ia tercatat segera menerapkan sistem birokrasi Kota Solo yang lebih efisien. Perubahan sistem tersebut kemudian membuatnya terpaksa memberhentikan tiga lurah dan satu camat karena tampak enggan mengikuti langkah Jokowi. Joko Widodo juga dikenal telah mengubah pendekatan yang dipakai Salpol PP di Kota Solo, dari yang semula represif menjadi dialogis. Ia menolak pengajuan anggaran pembelian senjata, melarang penggunaan alat pentung bagi satuan pamong praja, dan menempatkan seorang perempuan sebagai Ketua Satpol PP.

Bab keempat berisi tentang perjalanan politik Joko Widodo, sejak awal keikutsertaannya pada Pemilukada Solo 2005 hingga pencalonannya sebagai Gubernur Jakarta periode 2012—2017. Ia bercerita bahwa awal masuknya dalam dunia politik merupakan sebuah “kecelakaan”. Jokowi pun tidak menyangka bahwa ia bisa terpilih menjadi Wali Kota Solo selama dua periode. Joko Widodo dikenal oleh masyarakat dengan ide-idenya yang kreatif. Hal tersebut terlihat pada masa kampanye, baik Pemilukada Solo maupun Jakarta. Jokowi mengaku bahwa ia tidak suka dengan pemasangan spanduk dan baliho sebagai usaha memperkenalkan perserta pemilukada kepada masyarakat pada masa kampanye. Joko Widodo memilih melakukan pendekatan personal dengan hadir di permukiman-permukiman untuk mensosialisasikan berbagai program kampanyenya. Cara ini terbukti sukses membawanya memenangkan dua pemilukada di Solo.

Bab kelima memaparkan berbagai kisah yang mengilustrasikan kesederhanaan Joko Widodo sebagai seorang kepala daerah. Para wartawan yang telah lama mengenal Jokowi tahu betul bahwa Joko Widodo tidak pernah mengambil gajinya sebagai Wali Kota Solo. Ia pun menolak ketika badan anggaran menyiapkan alokasi anggaran untuk mengganti mobil dinas wali kota yang sempat mogok saat digunakan. Jokowi beranggapan bahwa anggaran untuk mobil dinasnya tersebut harusnya dialokasikan untuk keperluan lain karena mobil dinas wali kota dirasa masih layak dan tidak perlu diganti. Untuk kecenderungannya tersebut, ia menjelakan bahwa ia tidak birahi gaji ataupun mobil dinas. Segala fasilitas yang tersedia sudah dirasa cukup bagi Joko Widodo untuk bekerja sebagai wali kota.

Bab keenam mengisahkan pengalaman Jokowi sebagai Wali Kota Solo dalam menghadapi satu musibah di Solo, yaitu kericuhan warga di kampung Gandekan pada Mei 2012. Kericuhan tersebut terjadi menjelang masa kampanye Pemilukada Jakarta. Oleh sebab itu, banyak pihak yang mengasosiasikan kejadian tersebut dengan motif-motif politik tertentu. Sebagai peserta Pemilukada Jakarta, Jokowi tidak meninggalkan tugasnya sebagai Wali Kota Solo. Segera setelah peristiwa itu terjadi, Joko Widodo menghubungi tokoh-tokoh kelompok yang berseteru. Ia juga mendatangi korban-korban luka yang tengah dirawat di rumah sakit.

Bab terakhir, yaitu bab ketujuh, mengisahkan kekaguman Jokowi pada dua tokoh di masa lampau, yaitu Ir. Sukarno dan Paku Buwono X. Dalam pandangan Joko Widodo, Sukarno merupakan seorang pemimpin yang visioner. Sukarno dianggap banyak melahirkan ide-ide yang yang menyeluruh mengenai berbagai bidang bagi Indonesia. Berbagai ide tersebut kemudian menjadi cetak biru berbangsa dan bernegara pada awal Indonesia berdiri. Tokoh lain, yaitu Paku Buwono X, merupakan sosok inspiratif bagi Jokowi. Raja Surakarta ke-10 tersebut berhasil membangun kota Solo dengan berbagai pencapaian-pencapaian pembangunan. Berbagai pencapaian pembangunan tersebut antara lain sistem transportasi kota dan taman kota sebagai ruang terbuka hijau. http://www.jokowicenter.com/2013/04/26/gado-gado-kerikil-jokowi/

Jokowi, Tokoh Perubahan[sunting]

Penulis: Arif Supriyono, dkk.

Penerbit: Republika

Tahun terbit: 2012

Jumlah halaman: 173

Jauh sebelum populer dengan mobil Esemkanya, nama Jokowi sudah menjadi pemberitaan pada surat kabar nasional dengan berbagai prestasinya dalam memimpin Kota Solo. Ia dikenal berhasil menerapkan pendekatan yang berbeda secara efektif dalam menghadapi berbagai masalah di kota yang dipimpinnya. Untuk itu, pada 2010 Republika menganugerahi Joko Widodo sebagai salah satu tokoh perubahan. Namanya pun kian mencuat setelah resmi diusung oleh dua partai politik untuk maju dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012.

Buku ini merupakan sebuah buku yang menghimpun berbagai informasi mengenai sepak terjang Joko Widodo, baik sebagai Wali Kota Solo dengan sederet prestasinya maupun sebagai “the rising star” dalam Pemilukada DKI Jakarta 2012. Buku ini kemudian terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menarasikan berbagai kisah masa kecil dan masa remaja Joko Widodo. Kisah-kisah tersebut dihimpun atas penuturan ibunda Jokowi, Ibu Sutjiatmi. Sebagai contoh, saat remaja Jokowi diingat oleh Ibu Sutjiatmi sebagai pemuda yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Walau memiliki perawakan yang kurus, Jokowi disebut sang ibu sering berperan sebagai Jagger atau pelindung bagi adik-adiknya. Ia dikisahkan kerap menasihati—bahkan tak segan melarang—adik-adiknya atas berbagai hal. Seorang paman juga sempat “menitipkan” anaknya yang berkuliah di Yogyakarta sebagai bentuk kepercayaannya pada Jokowi muda. Selain itu, ibu Joko Widodo bercerita bahwa anaknya merupakan seorang yang taat beribadah sejak belia.

Bagian kedua menguraikan kisah-kisah Joko Widodo saat ia menjabat sebagai Wali Kota Solo. Jokowi bercerita bahwa pencalonannya sebagai Wali Kota Solo berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Ia mengaku bahwa dirinya tidak memiliki postur dan rupa layaknya seorang pemimpin daerah. Ia pun bercerita bahwa sebelum Pemilukada Solo diselenggarakan pada 2005 ia bukanlah seorang yang dikenal luas oleh masyarakat Solo. Meski demikian, Jokowi tetap berhasil mengungguli perolehan suara pasangan-pasangan calon lain dalam pemilihan umum kepala daerah tersebut. Joko Widodo kemudian membuktikan berbagai janjinya sewaktu berkampanye dengan kebijakan-kebijakan yang hasilnya masih dapat dinikmati masyarakat Solo hingga sekarang. Berbagai contoh kebijakan tersebut antara lain perbaikan pelayanan birokrasi, penataan PKL, dan revitalisasi pasar tradisional. Selain itu, Joko Widodo dikenal masyarakat Solo sebagai pribadi yang sederhana. Ia memilih untuk tidak mengganti mobil dinas peninggalan wali kota sebelumnya walaupun mobil tersebut sempat mogok dalam beberapa kesempatan. Ia kemudian hanya mau menggantinya dengan mobil Esemka, sebuah mobil hasil kreasi siswa-siswa sekolah menengah kejuruan di Solo.

Bagian ketiga memaparkan perjalanan Joko Widodo menuju kursi Gubernur DKI Jakarta, dari awal pencalonan hingga kemenangannya pada pemilukada putaran pertama. Buku Jokowi, Tokoh Perubahan melukiskan bahwa penduduk ibu kota mengalami kejenuhan psikologis akibat kinerja Pemprov DKI Jakarta sebelumnya yang dinilai stagnan. Hadirnya sosok Jokowi kemudian dipandang membawa angin perubahan pada peta politik Jakarta. Jokowi juga dianggap sebagai sebuah fenomena politik karena memilih untuk menggunakan pendekatan kampanye yang berbeda. Akhirnya, keunggulan Joko Widodo pada putaran pertama Pemilukada DKI Jakarta 2012 mengejutkan berbagai pihak. Hal tersebut di luar prediksi awal berbagai lembaga survei. Hanya satu lembaga survei, yaitu Cyrus Network, yang menyebutkan bahwa Jokowi memiliki peluang untuk unggul dalam pemilukada. Lembaga tersebut menilai Joko Widodo merupakan bintang baru yang sedang bersinar dan akan menjadi pesaing serius cagub petahana, Fauzi Bowo, yang sebelumnya diramalkan akan memenangkan pemilukada melalui satu putaran saja.

http://www.jokowicenter.com/2013/04/05/jokowi-tokoh-perubahan/

Jokowi si Tukang Kayu[sunting]

Penulis: Gatotkoco Suroso

Penerbit: Ufuk Fiction

Tahun Terbit: 2012

Jumlah Halaman: 243

Buku ini merupakan bentuk novelisasi perjalanan hidup Joko Widodo. Terdiri atas 21 bab, novel Jokowi si Tukang Kayu dimulai dengan cerita masa kecil Jokowi dan diakhiri dengan kisah perjalanan beliau mengikuti Pemilukada Solo 2005. Masa kecil Joko Widodo digambarkan dengan sangat sederhana. Keluarga Jokowi hidup berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan menuju rumah kontrakan lain. Dalam suatu peristiwa novel, diceritakan bahwa penerangan di kediaman Jokowi saat kecil hanya berupa lampu sentir. Seiring berjalannya waktu, kondisi finansial keluarga Jokowi kian membaik.

Joko Widodo remaja diilustrasikan dalam novel sebagai pribadi yang dinamis. Ia menggemari musik-musik mancanegara dan mengubah penampilannya mengikuti para pemain musik yang ia kagumi. Ia juga memenuhi dinding kamarnya dengan berbagai poster musisi, baik dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang remaja, Jokowi bergaul dengan banyak teman dengan berbagai latar belakang. Digambarkan pula dalam narasi novel bahwa pada Jokowi muda mulai tubuh kesadaran sosial. Hal ini dimunculkan melalui kisah keluarga transmigran yang dilihat oleh Joko Widodo di sebuah terminal.

Pada fase ini, Jokowi melihat teman-teman seusianya mulai menjalin kisah asmara dengan lawan jenis yang disukai oleh mereka. Meski demikian, Joko Widodo remaja dikisahkan tidak menjalin hubungan asmara seperti beberapa temannya tersebut. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk belajar dan mengikuti perkembangan musik rock yang ada saat itu. Kisah asmara Jokowi baru dimulai saat ia menginjak bangku kuliah. Dinarasikan dalam sebuah peristiwa, Jokowi yang baru saya pulang dari Yogyakarta dikejutkan dengan kehadiran Iriana, seorang teman adik Jokowi, di rumahnya. Ketertarikan Jokowi pada sosok Iriana terus berkembang dan lambat laun keduanya menjalin hubungan yang lebih serius. Teks novel mengisahkan bahwa Jokowi akhirnya melamar Iriana dan mereka kemudian menikah pada 24 Desember 1986.

Bab-bab selanjutnya bercerita tentang perjalanan Joko Widodo sebagai seorang pengusaha. Bermodalkan uang hasil menggadaikan sertifikat tanah, Jokowi memulai usahanya dengan menyewa sebuah lahan dan mempekerjakan tiga orang karyawan. Bahkan dengan kondisi usaha seperti itu, Jokowi harus rela menanggung banyak kerugian saat tertipu seseorang yang awalnya memesan produk furnitur dalam partai besar. Segala usaha Joko Widodo merintis usaha mebel akhirnya membuahkan hasil saat bisnisnya berkembang menjadi bisnis ekspor yang melayani pesanan furnitur hingga pasar Eropa.

Kesuksesan bisnis Joko Widodo akhirnya menuntunnya masuk dalam bursa calon wali kota dalam Pemilukada Solo 2005. Rekan-rekan bisnisnya menganggap Jokowi layak dan mampu untuk memimpin kota Solo. Meski demikian, ide tersebut awalnya tidak mendapat restu dari anak dan istri Joko Widodo. Mereka menganggap dunia politik merupakan sesuatu yang buruk. Dunia politik dinilai sebagai tempat para pemilik kuasa berkonflik kepentingan. Akhirnya, Jokowi berhasil meyakinkan keluarga atas niatnya yang tulus menganngkat daya hidup masyarakat Solo dan maju sebagai calon Wali Kota Solo periode 2005—2010.

http://www.jokowicenter.com/2013/03/25/jokowi-si-tukang-kayu/