Kumpulan Cerita Rakyat/Asal-Usul Danau Limboto

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Ilustrasi legenda Danau Limboto

Asal-Usul Danau Limboto adalah cerita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tentang terjadinya Danau Limboto yang terdapat di kabupaten tersebut.

Sinopsis[sunting]

Pada masa lalu, wilayah Limboto atau Limutu masih tertutup oleh laut yang luas. Laut itu ditandai oleh dua buah gunung yang juga menjadi penanda arah mata angin, yaitu Gunung Boliohuto di barat dan Gunung Tilongkabila di timur.

Setelah berselang lama, air laut surut dan menampakkan daratan yang luas. Seiring berjalannya waktu, daratan tersebut menjadi hutan lebat yang jarang dijamah manusia. Di dalamnya, muncul sejumlah mata air. Salah satu mata air yang dijuluki Mata Air Tupalo memiliki air yang sangat jernih. Tujuh bidadari sering turun dari kayangan untuk mandi dan bermain air di situ.

Pada suatu hari, saat para bidadari sedang mandi di mata air itu, seorang lelaki bernama Jilumoto lewat. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti 'yang menjelma ke dunia'. Ia mengintip mereka mandi dari balik pohon. Kemudian, terlintas di pikirannya untuk mencuri salah satu sayap mereka yang diletakkan di sebuah batu besar agar si pemilik sayap tidak bisa kembali ke kayangan dan Jilumoto dapat memperistrinya. Jilumoto pun berhasil mencuri salah satu sayap mereka dan bersembunyi.

Pada sore harinya, para bidadari tersebut selesai mandi dan beranjak mengambil sayapnya masing-masing. Sayangnya, yang tertua di antara mereka bernama Mbu’i Bungale tidak dapat menemukan sayapnya, meski sudah mencari-cari di sekitar tempat itu. Karena hari makin gelap, enam bidadari yang lain terpaksa kembali ke kayangan dengan meninggalkan Mbu'i Bungale sendirian di mata air tersebut. Jilumoto keluar dari persembunyiannya dan menemui Mbu’i Bungale yang sedih. Jilumoto pun mengajaknya menikah dan diiyakannya.

Setelah berumah tangga, mereka mencari tanah untuk bercocok tanam. Mereka akhirnya mencapai sebuah bukit yang tidak jauh dari mata air tersebut dan mendirikan rumah di atasnya. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti'opo atau Bukit Kapas.

Pada suatu hari, Mbu’i Bungale menerima kiriman dari kayangan, yaitu sebuah mustika yang disebut Bimelula yang berbentuk seperti telur itik. Ia meletakkan mustika itu di dekat Mata Air Tupalo dan menutupinya dengan tolu atau tudung.

Beberapa hari kemudian, sebuah kafilah dari timur yang terdiri dari empat orang beristirahat di Mati Air Tupalo. Salah seorang dari mereka melihat sebuah tudung tergeletak di dekat situ. Saat mencoba menyentuh tudung itu, tiba-tiba muncul angin kencang dan turun hujan deras. Mereka pun lari mencari tempat berlindung. Peristiwa itu tidak berlangsung lama dan mereka kembali ke tempat tudung tadi. Kali ini, sebelum menyentuh tudung itu, mereka meludahinya dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar tidak timbul bahaya. Tudung pun berhasil diambil, namun mereka terkejut ada mustika di baliknya.

Saat mereka akan mengambil mustika itu, Mbu’i Bungale dan Jilumoto datang. Keduanya meminta mereka tidak mengambilnya karena mustika itu milik Mbu’i Bungale. Namun, mereka menampik permintaan keduanya dengan menunjukkan tudung yang sudah diludahi sepah pinang.

Mbu’i Bungale memberitahu kalau mata air ini milik kayangan dan ia menantang kafilah itu untuk membuktikan kekuatan mereka dengan memperluas mata air. Sayangnya, kafilah tersebut tidak mampu membuktikanya, meski sudah mengeluarkan berbagai macam mantra. Selanjutnya, Mbu’i Bungale membuktikan kekuatannya. Mbu’i Bungale duduk bersila dan mengucapkan mantra. Setelah selesai melakukan itu, ia meminta semua orang di situ segera naik ke atas pohon. Saat itu juga, air menyembur sangat besar dan deras dari Mata Air Tupalo dan wilayah itu pun tergenang air. Kafilah tadi menyaksikan peristiwa itu dari atas pohon kapuk dengan ketakutan. Mereka mohon ampun pada Mbu’i Bungale. Mbu’i Bungale pun mengampuni mereka dan semburan air pun berhenti.

Mbu’i Bungale mengambil tudung dan mustika Bimelula. Saat meletakkan di atas tangannya, mustika itu menetas dan muncullah bayi perempuan yang cantik bagai cahaya bulan. Oleh karena itu, ia menamainya Tolango Hula dari kata tilango lo hulalo yang berarti 'cahaya bulan'. Tolango Hula kelak akan menjadi penguasa di Kerajaan Limboto. Mbu’i Bungale pun mengajak kafilah itu mampir ke rumah mereka.

Saat hendak meninggalkan tempat itu, Mbu’i Bungale melihat lima buah jeruk terapung di genangan air. Ia mengenalinya sebagai buah jeruk yang sama dengan jeruk kayangan. Ia pun mencari di mana pohonnya dan menemukan ternyata beberapa pohon jeruk kayangan memang tumbuh di sekitar situ. Sejak saat itu, wilayah itu mereka namai bulalo lo limu o tutu yang artinya 'danau jeruk dari kayangan', yang lama kelamaan disebut Bulalo lo Limutu atau Danau Limboto.