Kumpulan Cerita Rakyat/Asal Mula Telaga Biru

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Di Dusun Lisawa, Halmahera Utara, hiduplah sepasang kekasih bernama Majojaru dan Magohiduuru. Kala itu dusun tempat mereka tinggal sedang tidak subur. Tanahnya sangat kering dan tidak membuahkan hasil panen yang baik. Hujan jarang turun membasahi tanahnya. Menyadari keadaan tersebut, Magohiduuru memutuskan untuk berlayar mencari peruntungan di tempat lain yang lebih menguntungkan. Ia berharap bisa mendapat pekerjaan atau menemukan lahan yang subur. Dengan begitu maka tidak akan sulit baginya untuk bisa menikahi Majojaru yang cantik.

Saat Majojaru mendengar keputusan kekasihnya, ia sangat takut sampai-sampai berusaha mencegahnya. Namun melihat tekad Magohiduuru yang begitu kuat, Majojaru tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji agar dapat bertemu kembali. Sebagai tanda bukti cinta dan kesetiannnya, Majojaru memberikan tusuk hiasan rambutnya pada kekasihnya. Hari demi hari terlewati, Majojaru dengan sabar menunggu kabar dari Magohiduuru. Namun tidak ada satu kabar atau surat pun yang datang. Bulan demi bulan berlalu dalam ketidakpastian akan keberadaan Magohiduuru. Orangtua Majojaru bahkan sudah mendesak putrinya untuk segera menikah dengan pria pilihan mereka. Namun Majojaru tetap menolak dengan alasan akan tetap sabar menunggu kabar dari Magohiduuru. Alasan ini sangat tidak masuk akal menurut ayah Majojaru. Maka tanpa berpikir panjang, ia kemudian menyebarkan fitnah jikalau Magohiduuru telah tenggelam di laut yang luas ketika berlayar. Mendengar kabar tersebut Majojaru merasa sangat putus asa.

Apalagi setelah itu kedua orangtuanya terus membujuknya untuk menikah dengan anak seorang kepala suku. Majojaru benar-benar merasa ingin mati kala itu. Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah tersebut, Majojaru mencoba mencari tempat berteduh untuk menenangkan perasaannya. Ia pun duduk termenung di bawah pohon beringin sambil menangisi Magohiduuru. Majojaru terus menangis hingga tak terasa air matanya menjadi sebuah mata air yang amat deras. Mata air itu terus menggenang hingga menjadi sebuah telaga. Airnya sebening kaca dan warnanya biru seperti langit cerah. Penduduk Dusun Lisawa kini terus menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan dengan Telaga Biru.