Lompat ke isi

Makan Siang Favorit

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tentang Penulis[sunting]

Ariska Fisabilillah, gadis Jawa yang lahir dan besar di Gorontalo. Lahir pada 23 Januari, tepat saat hari peringatan Patriotik Gorontalo. Menyukai Sastra, Puisi, dan Cerita Pendek Inspiratif. Pernah menerbitkan buku antologi cerita mini bersama komunitas literasi Forum Lingkar Pena dan Sahabat Lingkar Pena Gorontalo.

Sinopsis[sunting]

Setiap jam makan siang, Rena dan Dewi selalu menyempatkan makan di tempat yang menjadi langganannya. Meski hampir setiap hari makan di warung yang sama, Rena selalu makan menu yang berbeda. Dewi sahabat di tempat kerjanya tiap hari mendengarkan cerita tentang makanan favorit Rena. Setiap hari tanpa bosan, rasanya Dewi ingin berkunjung ke tanah kelahiran Rena yang menurut cerita Rena sangat kaya dengan Ikan segarnya. Siang itu, mereka berdua memutuskan makan menu makanan yang sama seperti kemarin. Perantauan selalu berhasil membuat Dewi dan Rena rindu kampung halamannya. Merindu makanan khasnya. Lalu bagaimana mereka berdua mengobati rindu tersebut?

Lakon[sunting]

  1. Rena
  2. Dewi
  3. Ibu pemilik warung makan

Lokasi[sunting]

Kota Balikpapan Baru, Provinsi Kalimantan Timur


Cerita[sunting]

Hari ini suasananya mendung. setelah semalam hujan mengguyur membuat pagi terasa dingin dan menambah ingin berlama-lama dalam selimut, tapi mengingat wajah siswa dan siswi Rena memaksa tetap bangun.

Hari berlalu begitu cepat.

Siang itu, selepas mengajar beberapa kelas rasanya ingin cepat istirahat dan mencari sarapan. Lapar tidak bisa diajak kompormi. Biasanya Rena tidak sarapan nasi di pagi hari. Ada 2 jenis kue yang tersedia di dewan guru untuk dimakan sebelum mengajar. Makanan pengganjal yang cocok bagi seseorang yang tidak bisa makan berat di pagi hari seperti Rena. Ada beberpa gorengan dan jajanan basah. Pilihannya selalu jatuh ke jajanan basah seperti klepon dan kue lapis. Bel jam pulang sudah berbunyi taanaanoo “waktunya jam pulang, its time to go home”. Rena menuruni tangga, sambil membayangkan telur balado di warteg langganannya. Tak lama Dewi pun menyusul dan menyapa Rena.


“Hai Bu Rena, Gimana ngajarnya hari ini?” “Seru banget”. Jawab Rena singkat. Ayo Bu Dewi, kita makan siang di sana. Dengan nada lemas. “Hahaha, pantesan lemas. Laper ya”? Dewi mengejek. “Oke, aku siap-siap dulu ya”, jawab Dewi sambil merapikan barang bawaannya. “Jadi, mau makan siang di mana kita?” “Seperti biasa”.

Dewi tersenyum melihat Rena yang menahan lapar. Mereka berdua jalan kaki ke Warung Makan itu. Jaraknya hanya 10 meter dari komplek Sekolah. Tepat di depan jalan Raya. Di luar sekolah keduanya kerap memanggil nama. Karena umur yang tidak jauh beda. Ditambah lagi mereka sudah jadi teman akrab saat pertama kali berkenalan di Sekolah itu. Dewi merupakan perantauan dari Jawa, kebiasaannya makan makanan yang manis. Berbeda dengan Rena, meski lahir dari suku Jawa, Ia sangat menyukai masakan pedas. Besar ditanah Gorontalo yang membuatnya mencintai cita rasa pedas dalam setiap makanan. Matahari siang itu tidak terlalu terik. Walau hampir pukul 1 siang. Selepas hujan pagi tadi, mentari masih tertutup awan. Panasnya terasa tapi tidak menyengat. “Dewi, kamu harus tau, makanan apa yang paling enak di Gorontalo” “Apa itu?” “Sate Ikan Tuna, ditambah sambal arang kemiri yang nikmat, beeh, tiada duanya”.


“Wah enak sekali, kenapa jadi senikmat itu sih?”


"Iya, karena ikan tuna itu biasanya baru ditangkap oleh nelayan. Benar-benar masih segar, fresh, jadi rasa daging ikannya sangat gurih".


“Heeeh, Renaa, enak sekali yaa. Kemarin milu siram, sekarang ikan tuna. Besok apa lagi yang kamu mau ceritakan, aku nggak sanggup. Pengen coba rasanya.“


"Hmm, baru sebulan di perantauan, aku pengen pulang Dewi. Hahaha." "Kalau liburan ke Gorontalo yuk De, tapi, kamu nggak suka pedas kan? Kalau di Gorontalo, kamu harus coba semuanya". Rena menghasut.

"Iyaa harus diagendakan sih". Rena tak menolak.

Tak lama mereka pun sampai di warung langganannya. Terlihat ibu warung makan sedang sibuk melayani pembeli. Di warung sederhana itu makanannya bervariasi. Walau bagi Rena makanan Gorontalo tetap nomor satu dihatinya.


“Halo Bu Rena, Bu Dewi. Mau makan apa?” sapa pemilik warung dengan hangat.

“Saya mau ayam kecapnya bu, sama capcai sedikit saja“ Oke, siap. “Rena, telur baladonya ya bu, tambah sambal dan sayur lodeh saja”.

"ditambah sambal tidak, Nak?". Ibu Warung memastikan.

"Pakai dong bu, yang agak banyak ya" Jawab Rena.

"Lombok mahal, nak. Hehe" Ibu warung menggoda.

"Biar Rena bayar lagi nanti bu, jangan kasih gratis". Dewi menimpali.

"Jangan gitu dong Dewi, Gorontalo jauh nih"

Dewi puas menggoda Rena.

Biasanya kalau di Gorontalo, Rena bisa memanen lombok di kebun ayahnya. Jadi, Ia bebas membuat sambal setiap hari.

Makanan pun tersaji, Ibu warung sudah hapal bahwa Rena pecinta pedas dari Sulawesi. Dia suka menambah sambal disetiap makanannya. Entah makan rendang, ikan krispy, ayam kecap, dan masih banyak menu lainnya di Warung makan ibu. Tapi, sambal tetap tak pernah terlupa.

"Jadi, di Gorontalo itu sambalnya beda ya Ren dengan disini?" tanya Dewi sambil menyuap makanannya. "Beda Wi, Lomboknya saja sudah berbeda loh, tapi aku bersyukur sambalnya masih terasa pedas. Nda bisa makan aku kalau tidak berasa pedas".

"Jangan terlalu banyak makan sambal juga Ren, sakit perutmu nanti, kambuh maag mu". Mengikuti logat Rena anak Sulawesi itu.

"Hahaha" mereka berdua tertawa.

"Makanan apa lagi Ren yang belum kamu ceritakan, aku ingin dengar". Dewi memancing.

"Apa yaa, oh iya, namanya ikan Oci, enak sekali dibakar, atau dimasak belah rica" "Biasanya nelayan menjual ikan segar di pelelangan, ada juga yang keliling komplek, kalau disini, ikannya sudah mati berapa kaliya, kalau di Gorontalo tidak begitu, meski tetap halal kita makan ya. Kalau dibakar saja, sambalnya pakai sambah mata, jadi sambalnya itu irisan lombok, tomat, bawang merah dan garam, juga sedikit perasan air lemon."

Sambil mengunyah makanan, Rena menjelaskan. Dewi menelan ludah.

"Nah, kalau ikan Belah Rica itu, bumbunya sudah di ulek, lalu digoreng di atas daun ikannya sudah dilumuri bumbu dominan sambal".

"Wih, mantap juga ya nak Rena, bagi ke ibu resepnya dong" Ibu warung ikut nimbrung.

"Boleh bu, nanti Rena kirim resepnya di Whatsapp ya bu"

"oke nak, ditunggu ya"

Tak terasa makanan mereka pun lenyap. sangking laparnya. Rena memuji masakan ibu warung. Makanan selera Nusantara menyelamatkan Rena dari rindu masakan rumahan yang sederhana.

"Nah, sekarang giliran kamu Dewi, menurutmu setelah makan siang, enaknya kita makan apa lagi?" Rena menantang.

Setelah membayar dan berterima kasih dengan ibu, Rena dan Dewi berlalu.

Dewi memberi usul, "Kita makan rujak buah di sana yuk. Di depan sekolah ada yang jual". Rena mengangguk setuju.

"Ren, aku jadi penasaran dengan Gorontalo. sepertinya laut dan pantainya indah ya. Sampai-sampai ikan banyak hidup di sana".

"Iya Wi, di Gorontalo itu kekayaan alamnya sangat banyak, Teluk Tomini, menjadi rumah flora dan fauna laut yang beragam, tapi kekurangannya Wi, belum bisa dimaksimalkan potensinya, dampaknya masih banyak masyarakat yang miskin, ikan disana juga terbilang murah. mungkin kalau bisa dikembangkan lagi Gorontalo bisa jadi wisata yang mendunia loh."

"Kamu pernah lihat Hiu paus? Belum pasti ya?"

"Iya belumlah, di Gorontalo ada juga ya?"


"Iya, bahkan kita bisa berenang bareng sama hiu itu"


"wih, keren yaa"

tak lama mereka jajan rujak buah itu. cukup 10.000 sudah dapat 1 mika kecil. Lalu berjalan menuju kantor Guru.

"Kalau Kamu Wi, di Jawa apa yang paling dirindukan?"


"Tahu Petis"

Bumbunya yang nikmat, dan belum ada yang menjualnya di tanah rantau ini.


"Selain itu Ketupat Tahu"

"Nikmat juga Wi, semua olahan Tahu memang nikmat ya, kapan-kapan kita buat aja yuk!" Rena mengajak.

"Bolehlah, kita coba kalau libur sekolah ya"

Meski mereka berdua tau, makanan itu akan tetap berbeda rasanya. Karena ini bukan hanya sekadar makanan khas, tapi tentang alam, rumah, dan cinta disetiap makanan yang dibuat.


Negeri ini punya hasil alam yang melimpah. walaupun berbeda-beda, negeri ini dibangun atas cita-cita yang sama. Untuk kemakmuran dan kemajuannya, dan mereka berdua sedang memperjuangkan itu. Merantau dan menghargai rindu, untuk keluarga tercinta. Tentu rindu pula dengan makanan khasnya.