Mega Mendung di Kepala Fitri

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Mega Mendung di Kepala Fitri
(2014) 
oleh Fanny Chotimah

Sebuah rangka jembatan dari besi, dua penari lelaki di atas jembatan itu, tubuhnya terlilit kain merah marun. Di bawahnya tujuh penari berkerumun berkostum serba putih, setiap penari berdiri di atas wajan, mereka menggerakkan kedua kakinya di atas wajan itu. Suara debur ombak.

Koreografer Fitri Setyaningsih kembali mempresentasikan work in progress berjudul Mega Mendung, bertempat di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, 5 November 2014. Menurut catatan produser Helly Minarti, Mega Mendung terinspirasi oleh motif batik mega mendung yang menjadi ciri khas kota Cirebon. Fitri menelusuri sejarah dan makna di balik motif ini, menghubungkan mitologi lokal, tuturan sejarah dan narasi-narasi historis yang melingkupinya. Berbekal penelusuran di Cirebon, Rembang dan Lasem. Fitri merajut dan mentransformasi imaji-imaji visual serta lanskap alam ke dalam bahasa koreografiknya.
Sejarah motif mega mendung selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa Tiongkok ke wilayah Cirebon. Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari Tiongkok. Beberapa benda seni yang dibawa dari Tiongkok seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan. Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi Tiongkok ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi Tiongkok ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif mega mendung dari Tiongkok dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif mega mendung Tiongkok, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.
Dalam karyanya Fitri berusaha menangkap ruh dan menginterpretasi ulang penciptaan mega mendung. Karena itu kita menyaksikan rangka jembatan seperti di pelabuhan, suara debur ombak, sorot lampu berwarna biru menguatkan nuansa laut, asap yang membuat kabut. Fitri masih setia dalam mencari bentuk ‘tubuh’ tari yang baru, gerakan tari yang berangkat dari gerakan kehidupan sehari-hari seperti berjalan, menggeleng, berjongkok yang menjadi gerakan yang khas Fitri. Begitupun properti pendukung, benda-benda yang dekat dengan lingkungan keseharian kita seperti wajan, sumbu kompor dan beras merah.
Penari-penari itu bergerak masing-masing, saling melewati satu sama lain, lalu tiba-tiba seorang penari tergugu, badannya gemetar seperti dirasuki kehampaan yang menusuk-nusuk tulang, hingga penari yang lain mendekati untuk menenangkan. Ia pun kembali tenang, begitu seterusnya fenomena itu seperti saling menular. Sehingga pada akhirnya tidak ada orang lain lagi yang bisa menenangkan selain diri kita sendiri. Kehidupan dengan segala ambisi dan hiruk-pikuknya terkadang membuat luka. Hubungan personal dan interpersonal pun kadang dicemari kepentingan-kepentingan duniawi. Setelah fase ‘kesakitan’ para penari itu kembali berkumpul, lalu saling memandang satu sama lain, tersenyum, seolah menyadari kehadiran masing-masing. Seperti tercerahkan dan akan melanjutkan tahapan selanjutnya yaitu sebuah transformasi.
Pada proses menuju transformasi sebuah ‘ritual’ dilakukan, seperti ritual nelayan Nadran melarung sesajian ke laut. Ritual dalam pertunjukan ini membagikan beras merah ke penonton. Beras dan laut mungkin saja berangkat dari mitos Budug Basu yang hidup mengakar di Cirebon, mengenai Dewi Sri, sang dewi padi dengan jodohnya Budug Basu, sang raja ikan.
Sebagai seorang kreator keberadaan riset sangat penting karena bisa memberi kedalaman pada karya yang diciptakan. Fitri Setyaningsih memiliki kesadaran itu, tengok saja project Bintang Hening (2012) ia magang satu bulan di suku Mandar, suku dengan tradisi astronomi lokal yang kuat berdasarkan kehidupan mereka sebagai nelayan maupun pelaut. Dan Fitri sampai pada kesimpulan bahwa tubuh bukan sekadar obyek tapi juga media navigasi.
Dalam Mega Mendung menurut catatan Fitri kita semua merupakan bagian dari mega-mega itu. Berada di setiap lapisannya. Bersama gumpalan-gumpalan awan putih, kelabu, dan hitam yang menyimpan air dan bakatnya menurunkan hujan. Perubahan terus menerus seperti cara waktu bernafas. Kostum putih yang dikenakan penari bisa saja menjadi simbol kain mori sebelum di batik. Namun bisa berarti pula awan (mega), Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Perjalanan Fitri sampai pada pencarian spiritualnya.
Sebuah karya tentu saja merupakan sebuah pernyataan sikap dari kreatornya. Dalam pertunjukan Mega Mendung, Fitri menampakkan diri sebagai seorang perempuan pesisir, berkebaya kembang-kembang dan mengenakan jarik. Dirinya tidak menari, ia menaiki kuda kayu mainan yang bergoyang-goyang. Apakah kesenian ataupun kebudayaan saat ini seperti kuda kayu mainan itu? Tak lagi memiliki ruh dan tidak bisa membawa kita lebih jauh. Dan kita tak ke mana-mana hanya berlari di tempat. (*)