Lompat ke isi

Naik Level

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Naik Level

Premis

[sunting]

Masul mencoba membuktikan bahwa bulan itu bergerak. Akan tetapi Sami melihat bahwa bulan diam di tempatnya. Kang Mujib sebagai guru belajarnya membantu mereka menemukan keadaan sebenarnya dengan cara yang asyik.

Cerita pendek ini merupakan karya Pengguna:Yuliakun

Lakon

[sunting]

Masul

Sami

Kang Mujib

Latar

[sunting]

Halaman rumah Kang Mujib

Cerita Pendek

[sunting]

Anak-anak Kecil Belajar

[sunting]

Malam ini bulan purnama muncul setelah azan Isya selesai. Riuhnya anak-anak belajar di teras rumah Kang Mujib menambah malam itu semakin indah. Walau terlihat kewalahan menanggapi anak-anak tetangganya, dia tidak terlihat lelah.

“Nanyanya satu-satu, ya, Adik-adik. Kang Mujib dan kalian kan cuma punya telinga ... berapa?” Kang Mujib mendekatkan telinganya ke anak-anak itu.

”Duaaa!” seru mereka kompak yang kemudian mendapatkan tepuk tangan dari guru belajarnya.

“Dan ingat, ya. Coba dipahami dulu soalnya sebelum tanya ke saya. Kalian anak-anak hebat, kan?”

“Iya, dooong!” Kali ini yang menjawab hanya sebagian. Sekali lagi Kang Mujib memuji. Dia memperhatikan anak-anak di depannya sambil tersenyum karena berhasil menertibkan lagi mereka yang awalnya sangat ramai.

Kesempatan itu dia manfaatkan untuk pergi ke kamar mandi setelah mendapatkan izin dari anak-anak di situ.

Tidak ada yang mengawasi mereka belajar. Di awal-awal mereka masih bisa dikontrol dengan pesan-pesan Kang Mujib. Lama-lama mereka gaduh lagi. Ada yang usil mencoret buku tulis temannya yang dibalas seperti itu juga. Mereka saling bercerita di teras itu. Malah ada yang memilih pergi dari tempat itu. Tidak jauh-jauh, hanya turun ke halaman rumah Kang Mujib.

Pembuktian

[sunting]

“Mau nunjukin apa, sih, kamu, Mas?” Sami bertanya sedikit kesal.

Masul tidak mendengarkan pertanyaan itu. Dia mencari jalan yang mulus agar kakinya tidak sakit sampai di tengah halaman rumah gurunya. Saat sudah menemukan tempat berhenti yang pas, dia berhenti. Tangannya langsung menunjuk bulan purnama, tapi matanya lurus menatap Sami.

“Kata temenku di sekolah, bulan itu beneran jalan.” Masul langsung pada tujuannya.

Belum lama kemarin, dia berdebat dengan Sami tentang apakah bulan memutari bumi atau justru bumi yang memutari bulan.

“Jalan dari mana, Mas? Itu diem di sana.” Sami tidak mau pendapatnya kalah.

“Kita buktiin ya kalau gitu. Kalau aku salah, robot baruku buat kamu, deh,” ujar Masul begitu percaya diri.

Dia langsung balik badan lalu berjalan sambil mendongak. Dia tersenyum puas melihat bulan terang itu berjalan di depannya. Itu berarti dia bisa membuktikan pendapatnya benar pada Sami.

Sementara Sami semakin tidak paham dengan Masul. Dia melihat betul-betul di atas sana bulan itu tidak berjalan sama sekali.

“Gimana? Bulannya jalan, kan?”

Sami menggeleng. Masul menjadi kesal melihat jawaban itu.

“Ih, kamu! Coba sini aku lihat!” Masul berdiri di dekat Sami. Mereka mendongak bersama-sama untuk membuktikan ucapan siapa yang benar.

Betapa terkejutnya Masul karena ucapan Sami benar. Bulan itu diam di tempatnya. “Loh, bulannya kok nggak jalan?” ujar Masul.

“Gimana? Kamu masih belum percaya kalok yang muter itu bumi ke bulan?” Masul tidak tahu harus menjawab bagaimana. Akhirnya Sami berkata lagi, “Bulan itu sama kayak matahari. Dia cuma kayak gerak muterin bumi dari timur ke barat, padahal dia aslinya diam, yang muter itu bumi.”

“T-tapi tadi beneran jalan bulannya pas aku jalan.” Masul masih mempertahankan yang dia percaya. Dia tidak kehabisan cara membuktikan itu. “Coba kamu jalan sekarang. Pasti bulannya jalan.” Sami melakukan apa yang Masul katakan. Dia terkejut karena dia melihat bulan itu berjalan memimpinnya di depan. “Eh,” ucapnya.

Masul dan Sami berdiskusi tentang bulan dan bumi.

“Kaaaan, beneeer. Aku nggak salah juga.” Mereka mengobrol lagi tentang bulan, mencoba menemukan jawaban yang paling benar dari hal yang membuat mereka penasaran.

Mencari Jawaban

[sunting]

Kang Mujib yang sudah kembali dari kamar mandi menemukan Masul dan Sami di tempat yang berbeda. Dia pamit lagi kepada anak-anak belajarnya untuk menghampiri mereka berdua di halaman.

“Kalian ngapain di sini?” Suara Kang Mujib tenang tapi tegas. Masul dan Sami seketika berhenti mengobrol. Mereka tersenyum malu-malu dan takut karena ketahuan kabur dari belajar.

“Udah selesai PR-nya?” Kang Mujib bertanya lagi.

Masul memberanikan diri menanyakan kebingungannya tentang bulan. “Maaf, ya, Kang, karena kita kabur. Tapi kita berdua punya pertanyaan besar banget dan harus dijawab sekarang.”

Kang Mujib menyamakan tingginya dengan tinggi mereka. Tangannya memegang pundak Masul agar anak itu punya keberanian untuk bertanya.

Masul menceritakan yang barusan mereka lakukan kepada Kang Mujib. Sami membantunya sedikit-sedikit sampai akhirnya Kang Mujib memahami masalah mereka.

Kang Mujib berdiri tegak lalu menengok ke arah bulan. Dia mencari jawaban paling mudah untuk dua anak belajarnya yang sedang dipenuhi rasa ingin tahu.

“Gini, deh, sederhananya. Bumi sama matahari lebih kecil yang mana?”

“Bumi, lah,” jawab Masul dan Sami.

“Nah, berarti yang lebih kecil itu mengelilingi yang lebih besar. Antara bumi dan bulan lebih besar yang mana?” Kang Mujib terus memberi mereka pertanyaan yang ditanggapi mereka tanpa ragu.

Mereka tahu bulan lebih kecil dari bumi.

“Berarti apa yang muterin apa?” Ini pertanyaan terakhirnya.

“Bulan muterin bumi. Yes! Berarti aku bener, Mi,” ujar Masul merasa menang.

“Tapi kok bisa gitu? Kenapa bulan gerak pas kita gerak dan diam waktu kita diam, tapi kalau matahari tetap diam gimanapun posisi kita?” Sami yang belum merasa puas bertanya.

Kang Mujib menemukan jawaban yang bagus sekali untuk pertanyaan itu. “Kalau kalian mau tahu, coba selesaikan dulu PR IPA kalian. Kayak di game yang pernah kalian mainin, kalau level kalian naik, kalian bisa lakuin banyak hal. Nanti kalian bisa cari tahu semuanya. Jadi dinaikin dulu, ya, levelnya?”

Masul dan Sami mengangguk patuh. Mereka kembali bersama teman-temannya lalu mencoba mengerjakan PR IPA dan PR lainnya bersama-sama.  Mereka tidak sabar untuk tahu banyak ilmu.