Lompat ke isi

Nasehat Ibu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

KATA PENGANTAR

Cerita pendek ini ditulis untuk diikut-sertakan dalam Lomba Penulisan Cerita Pendek untuk Anak, Proyek Yuwana, ditulis oleh:

Nama: Drs. Bambang Saparyono, Apt., MPHM.

Premis : Pilihlah makanan yang sehat walaupun mungkin kurang enak, dan hindarilah makanan yang tidak sehat.

Cerita pendek untuk anak:

NASEHAT IBU

Oleh: Kakung Bambang Saparyono

Adikku namanya Siwi. Umurnya empat tahun, sekolah di TK kelas nol kecil. Tetapi ia sudah lancar membaca bila ditulis dengan huruf besar.

Sudah beberapa hari adikku sakit batuk, sehingga tidak bisa masuk sekolah. Selain batuk, perutnya mual dan badannya panas. Kadangkala sampai menggigil dan mengigau. Ibu menjadi prihatin sekali. Ibu mengompres badannya, terutama punggungnya, dengan potongan bawang merah segar. Siwi juga minum perasan jeruk nipis dicampur kecap. Namun demikian sakitnya belum sembuh juga.

Diantar ibu, Siwi sudah berobat ke Puskesmas. Kata dokter, Siwi kemungkinan salah makan. Ibu kemudian mengingat-ingat, makanan apa saja yang ibu berikan kepada Siwi. Menurut ibu, sepertinya tidak ada yang aneh. Semua biasa saja. Semua yang dimakan Siwi juga dimakan oleh anggota keluarga lain. Tetapi yang lain tetap sehat tidak sakit.

Ibu kemudian teringat, ketika badan Siwi sedang panas tinggi, ia meracau, “Lestari, ayo kita bertukar jajanan donk!” Lestari adalah teman sekolah Siwi di TK. Ibu berpikir, jangan-jangan Siwi sering bertukar atau berbagi jajanan bekal sekolah dengan teman lain. Dan jajanan dari teman-teman itu, bisa jadi ada yang kurang sehat, sehingga bisa menyebabkan sakit.

Pulang dari puskesmas, Siwi masih harus istirahat di tempat tidur. Dokter memberikan tiga macam obat untuk Siwi. Ada yang harus diminum tiga kali sehari sampai habis, tetapi ada yang hanya diminum kalau badanya panas saja. Sambil memberikan obat kepada Siwi, ibu bertanya.

“Dhik Siwi sayang.” kata ibu. Ibu memang memanggil Siwi dengan sebutan ‘adik’ karena ia anak kedua. Sedangkan kepada saya memanggil ‘kakak’ karena saya anak pertama.

“Ibu mau tanya nih. Kalau Dik Siwi ke sekolah bawa jajanan, Dik Siwi berbagi dengan teman enggak?” tanya ibu.

“Iya Bu … Kadang-kadang.” jawab Siwi setelah diam sebentar.

Kemudian ibu bertanya lagi, “Ibu nanya lagi nih. Kemudian ada enggak temanmu yang berbagi jajanan dengan Dik Siwi?”

“I i … iya Bu.” jawab Siwi agak ragu-ragu, sepertinya tahu arah pertanyaan ibu.

“O … begitu. Dik Siwi ingat enggak, kata dokter di puskesmas tadi? Apa penyebab Dik Siwi sakit?” kata ibu.

“Apa ya kata dokter tadi?” jawab Siwi sambil mengingat-ingat.

Setelah agak lama berpikir, Siwi berkata lagi, “O iya, aku ingat Bu. Kata dokter, kemungkinan aku salah makan.”

“Iya … betul Anak Cantik. Nah … kemungkinan, jajanan yang Dik Siwi dapat dari teman itu, ada yang tidak sehat sehingga menyebabkan sakit.” kata ibu.

“Tapi makanannya enak, kok Bu. Dan … teman saya itu juga nggak sakit?” kata Siwi.

“Emm … ya bisa saja, makanannya enak tetapi sebenarnya tidak sehat, atau sebaliknya, makanannya terasa tidak enak walaupun sehat. Begitu. Kalau masalah temanmu itu tidak sakit, karena setiap orang memiliki daya-tahan tubuh yang berbeda-beda, Sayang.”

“Maksudnya gimana Bu?”

“Misalnya lombok atau cabai. Bagi banyak orang, makanan yang pedas itu enak. Tetapi bagi orang tertentu bisa menyebabkan sakit perut. Demikian pula takarannya, ada yang satu buah cabai saja sudah terasa terlalu pedas, tetapi ada yang belum terasa.” kata ibu menjelaskan.

“O begitu ya, jadi … Siwi nggak boleh makan jajanan di sekolah?”

“Bukan nggak boleh, Sayang. Hanya harus hati-hati, harus bisa memilih jajanan yang sehat.” kata ibu menjelaskan.

“Jajanan yang sehat itu yang bagaimana, Bu?” Siwi bertanya.

“Yang pertama, tanggal kadaluwarsa. Jajanan yang ada tanggal kadaluwarsa, bila tanggal tersebut sudah lewat, makanan itu tidak boleh dimakan.” kata ibu menjelaskan.

“Walaupun masih enak?” tanya Siwi.

“Ya … walaupun andaikata makanan itu masih enak!” kata ibu tegas, kemudian berkata lagi.

“Terus yang kedua, bungkus tidak menggelembung atau bocor. Bungkus yang menggelembung, mungkin makanan itu mengeluarkan gas karena sudah rusak. Sedang bungkus yang bocor atau tidak dibungkus rapat, kemungkinan bisa terpapar atau kemasukan penyakit. Dan yang ketiga, makanan itu belum berubah rasa, warna, dan baunya. Begitu, Sayang.” kata ibu melanjutkan.

“Yang dimaksud belum berubah rasa, warna, dan baunya itu, gimana Bu?” tanya SIWI.

“Misalnya, makanan yang mestinya berwarna merah cerah tetapi sudah berubah pucat. Atau makanan yang mestinya berasa manis, tetapi ternyata sudah kecut. Atau makanan yang sudah berbau tidak enak.” kata ibu.

“Ibu … kok panjang sekali penjelasanya. Susah diingat-ingat jadinya.” Siwi setengah protes.

“Iya ya, susah diingat ya.” kata Ibu sambil tertawa. Ibu memang kesulitan membuat penjelasan itu menjadi lebih singkat.

Siwi sudah merasa sehat. Pagi esok harinya, rencana akan masuk sekolah. Malam setelah selesai mengerjakan PR, Siwi masuk kamar tidur. Walaupun baru berumur empat tahun, Siwi sudah berani tidur sendiri. Ibu tidak lagi repot harus menemani. Ternyata Siwi tidak segera bisa tidur.

Mengingat nasehat ibu tadi, ia kemudian juga teringat ketika dengan teman-temannya di sekolah saling berbagi atau bertukar jajanan. Temannya banyak, keadaannya juga macam-macam. Tentu makanan yang dibawa juga ada yang sehat dan ada yang tidak sehat. Benar sekali kata ibu, bahwa kita harus bisa memilih makanan yang sehat.

“Tapi penjelasan Ibu tadi kok panjang sekali. Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada teman-teman?” kata Siwi dalam hatinya.

Siwi berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan ke teman-temannya. Kemudian muncul ide dalam hatinya.

“Ah iya, besok saya akan minta Ibu membuatkan catatan, sehingga aku bisa menjelaskan kepada teman-teman.” kata Siwi lagi.

Siwi merasa senang, dan malam itu bisa tidur dengan nyenyak. Sakitnya sudah sembuh, badan tidak sakit lagi.

Pagi harinya Siwi berangkat sekolah. Banyak teman sekolah yang menanyakan tentang penyakitnya. Siwi menjelaskan dengan baik. Tetapi tidak seperti biasanya, hari itu Siwi tidak berbagi atau bertukar jajanan dengan temannya.

Sebelum pulang, Miss Mia mengumumkan, bahwa hari berikutnya akan ada program ‘storytelling’. Dan yang mendapat giliran storytelling adalah Siwi. Ketika mendengar pengumuman Miss Mia, Siwi merasa senang sekali. Siwi memang senang bercerita.

“Miss Mia, boleh nggak bawa catatan?” Siwi bertanya.

“Boleh boleh! Boleh saja, biar ‘storytelling’-nya jadi seru.” kata Miss Mia.

Siwi menjadi senang dan semangat sekali. Malam harinya, dengan dibimbing ibu, Siwi latihan storytelling. Judulnya, ‘Memilih Jajanan Sehat’.

Esok harinya, dalam ‘storytelling’ Siwi menceritakan pengalamanya ketika sedang sakit. Gejala apa saja yang dirasakan, dan apa kira-kira penyebabnya menurut dokter. Diceritakan pula, obat apa yang diberikan oleh ibu. Juga diceritakan ketika berobat ke puskesmas, serta obat yang diberikan oleh dokter. Tidak lupa, Siwi juga menyampaikan cara memilih makanan sehat.

Setelah Siwi selesai membawakan ‘storytelling’-nya, Miss Mia tepuk tangan, kemudian diikuti oleh teman-teman sekolahnya. Semua merasa gembira. Sejak itu, Siwi dan teman-temannya lebih berhati-hati memilih jajanan.

Pelajaran yang bisa dipetik dari cerita ini antara lain, adik-adik harus mentaati nasehat ibu, berhati-hatilah memilih makanan yang sehat, dan jika sakit harus istirahat dan berobat ke dokter. "Salam sayang dari Kakung Bambang, Cucu!".

Yogyakarta, 15 Februari 2023.