Lompat ke isi

Nasi Tiwul Spesial

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sinopsis[sunting]

Sumi pindah ke Kota tempat Ibunya dilahirkan yaitu Kota Pacitan, disana ia ikut serta meramaikan peresmian tempat wisata baru dengan mengikuti lomba membuat nasi tiwul, bagaimana keseruannya?

Lakon[sunting]

  1. Sumi (Anak SD kelas 5, baru pindah tempat tinggal)
  2. Ibu Sumi ( Seorang Ibu Rumah Tangga)

Lokasi[sunting]

Sentono Gentong ( Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Pacitan)

Cerita Pendek[sunting]

Sumi tak ingin melewatkan pemandangan itu. Sumi lari terengah-engah melewati jalan setapak yang sepi. Tampak sebelah kanan dan kiri pepohonan jati yang menjulang tinggi dan sawah dengan metode terasering.

"Wah sudah pukul lima pagi" Sumi melihat jam tangannya. Sumi bergegas berjalan cepat agar cepat sampai tempat tujuan.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai" Sumi tersenyum sumringah, tangannya mengelap keringat yang bercucuran. Terlihat dari balik gunung cahaya warna orange jingga yang indah.

"Waah, mataharinya sudah mulai terbit" teriak Sumi dan beberapa anak lainnya yang telah menyiapkan gawainya untuk merekam momen matahari terbit tersebut. Sumi menikmati pemandangan indah tersebut sambil menyeruput teh hangat yang dibawanya dalam termos kecil.


Setelah matahari keluar dari persembunyiannya barulah terlihat pemandangan pantai teleng Ria dari atas.

"Waaah, bagusnya" Sumi berdecak kagum. Pemandangan pasir pantai berwarna putih dan air laut berwarna biru tampak dari atas. Nama tempat ini adalah Sentono Gentong, tempat rekreasi baru untuk melihat keindahan pantai dari atas gunung.

Sumi mengamati taman rekreasi ini, ada pedagang yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, ada masjid untuk tempat ibadah, rumah-rumah pohon untuk para wisatawan yang ingin melepas lelah disana. Mata Sumi penasaran dengan sebuah bangunan yang berada dekat dengan masjid, tempat apa itu ya, seperti perpustakaan. Sumi mendekati bangunan tersebut.

"Waah, ada perpustakaan" senyum Sumi lebar.


"Oh bukan, ternyata rumah literasi" Sumi membaca tulisan yang berada di depan bangunan tersebut. Bangunan itu merupakan rumah literasi yang didirikan oleh mahasiswa saat melakukan KKN (kuliah kerja nyata).

"Wah banyak buku disini" ujar Sumi.

Ada banyak buku di rumah literasi Sentono Gentong, Buku-buku tersebut didominasi oleh buku anak, karena mayoritas pengunjung tempat rekreasi ini adalah anak-anak, tetapi ada juga buku-buku majalah, sains dan masih banyak buku lainnya.

Sudah sebulan Sumi pindah ke desa ini. Desa dadapan kecamatan pringkuku Kota Pacitan. Kota pacitan terkenal dengan kota seribu goa, walaupun sudah sebulan Sumi belum sempat berjalan-jalan, Sumi dan Ibu sibuk merapikan rumah dan barang-barang pindahan lainnya.

Sumi melihat ke arah papan pengumuman yang berada dekat dengan rumah literasi. Pengumuman itu berisikan tentang akan dibuka secara resmi tempat wisata Sentono gentong tersebut oleh Bapak Lurah Desa Dadapan. Dan dituliskan disana acara lomba membuat makanan tradisional berbahan singkong yaitu nasi tiwul untuk memeriahkan peresmian pembukaan tempat rekreasi Sentono gentong untuk anak SD.


"Bu, nasi Tiwul itu apa? " tanya Sumi kepada Ibunya.

"Nasi yang terbuat dari singkong dan gula kelapa Nak” jawab Ibu menjelaskan.

" Owh, bagaimana cara membuatnya Bu? tanya Sumi penasaran

"Caranya kukus singkong, kemudian campur dengan gula merah” jawab Ibu Singkat.

" Untuk jumlah takarannya  Ibu tau? " tanya Sumi kembali

"Ibu hanya mengira-ngira nak" jawab Ibu sambil tersenyum.

Sumi berpikir bagaimana caranya ia tau takaran resepnya, bagaimanaa  kalau salah takaran, bisa aneh nanti rasanya. Sumi teringat rumah literasi yang ada  di Sentono Gentong, Sumi mendatangi rumah literasi dengan harapan bisa menemukan buku resep makanan tradisional.


Sesampainya di Rumah Literasi Sumi melihat ada beberapa anak sekolah sedang membaca. Sumi memasuki rumah literasi tersebut. Ia mulai mencari-cari buku yang dimaksud.

"Waah, ada" seru Sumi senang. Sumi menemukan buku yang berjudul aneka resep makanan tradisional. Sumi membolak-balikan buku tersebut dan melihat daftar isi agar lebih mudah mencari apa yang dimaksud.

"Banyak juga ya makanan tradisional" gumam Sumi saat membaca daftar isi. Matanya berhenti pada daftar isi halaman 83.

"Wah, ini ada, resep nasi Tiwul" senyum Sumi sumringah

Ini untuk satu porsi, hmm.. Bagaimana kalau jurinya ada banyak ya nanti. Sumi mengasumsikan jika jurinya ada 3. Jadi resepnya juga berubah takarannya. Sumi mencatat resep dengan teliti, jangan sampai salah takaran bisa berbeda nanti rasanya. Pikirnya dalam hati.


"Ibu, Sumi pinjam arit ya" teriak Sumi dari belakang dapur

"Buat apa nak" tanya Ibu penasaran.

"Sumi mau ambil singkong, hehe" saut Sumi pamit.

"Hati-hati ya menggunakan aritnya" pesan Ibu.

"Iya bu" jawab Sumi.

Sumi pergi ke kebun untuk mengambil singkong, Sumi mencari ukuran singkong yang sama agar mudah untuk di timbang. Sumi mengambil 3 buah singkong berukuran sedang.

"Wah, sudah ada 3 singkong dengan ukuran sama nih, singkong yang lain aku bawa untuk Ibu" gumam Sumi.


Sesampainya di rumah Sumi bergegas mengambil timbangan kue, ya Ibu ku seorang penjual kue di Pasar Tradisional. Ibu biasanya menjual getuk, getuk buatan Ibu dititipkan ke Warung yang berada di pasar.

Sumi coba membuat nasi tiwul sesuai dengan resep yang ada di buku.

"Ibuu, sudah jadi nasi tiwul nya, coba cicip bu" pinta Sumi.

Ibu mencicipi nasi Tiwul buatan Sumi.

"Hmm, kemanisan nak" ujar Ibu.

"Oh, berarti dikurangi ya bu gula merahnya? tanya Sumi.

Sumi berlatih lagi supaya bisa membuat nasi Tiwul dengan rasa yang enak.


Minggu depan acara peresmiaan tempat rekreasi Sentono Gentong akan diadakan. Sumi tidak sabar untuk memeriahkan acara tersebut.

Akhirnya waktu yang dinantikan Sumi tiba, Sentono Gentong terlihat ramai sekali.

Pembawa acara mengumumkan bahwa lomba  membuat nasi Tiwul akan segera dimulai. Sumi bersiap pada tempat yang telah disediakan. Ia ingat resep yang Ibu ceritakan ditambah resep dari buku yang ia baca di rumah literasi.

Lomba pun dimulai, Sumi mengambil singkong dengan ukuran sedang berjumlah 3, karena jurinya ada 3, Pak Lurah, Ibu Lurah dan Pak RT.

Ia memngambil 5 buah gula merah, karena sebelumnya 6 buah gula merah rasanya kemanisan.

Sumi mengolah bahan-bahan tersebut menjadi Nasi Tiwul spesial. Ia tambahkan sedikit biji wijen diatasnya.


Saatnya penjurian, Sumi dan para peserta lainnya dag dig dug menunggu hasil perlombaan, siapakan yang jadi pemenangnya.

Setelah selesai penjurian, akhirnya diputuskan, bahwa Sumi menjadi juara harapan 1.

"Yeaaa, Alhamdulillah" teriak Sumi kegirangan.

Sumi sangat senang bukan karena menjadi juara, tapi ia senang karena bisa ikut meramaikan pembukaan salah satu tempat wisata di Desa Dadapan dan mengetahui banyak jenis makanaan tradisionalnya.