Pengguna:Alagos/Bak Pasir/Iason

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pdf icon.png
Unduh buku ini dalam bentuk PDF:

Pencarian Bulu Domba Emas adalah serangkaian petualangan legendaris yang dilakukan oleh 50 orang pahlawan yang disebut para Argonaut dan bertujuan untuk mendapatkan bulu domba emas. Mereka dipimpin oleh Iason dan menggunakan kapal laut yang diberi nama kapal Argo.

Tentang Domba Emas[sunting]

Friksos dan Helle menunggangi domba emas.
Helle terjatuh dari domba emas.

Ada seorang raja di kota Orkhomenos Yang bernama Athamas. Dia punya seorang istri, dewi awan yang bernama Nefele. Dia dan Nefele memiliki dua orang anak: Friksos dan saudarinya Helle.

Setelah beberapa lama menikah, Athamas merasa bosan dengan istrinya yang sekarang. Aakhirnya ia menikahi wanita lain yang bernama Ino. Istrinya yang kesal langsung meninggalkan kota itu dan mendatangkan musim kering yang parah bagi kota itu.

Sementara itu, Ino memendam rasa cemburu pada Friksos, karena ia yang nantinya akan menjadi pewaris tahta Athamas. Akhirnya Ino menipu Athamas, dengan mengatakan bahwa kekeringan ini hanya bisa dihentikan dengan mempersembahkan jiwa Friksos pada para dewa. Nefele yang mengetahui hal ini meminta bantuan pada Hermes.

Hermes membawakan seekor domba bersayap dan berbulu emas. Nefele menyuruh kedua anaknya untuk menaiki domba itu dan domba membawa mereka ke tempat yang aman. Friksos dan Helle pun naik sementara domba itu terbang meninggalkan Orkhomenos. Di tengah perjalanan, Helle terjatu dari domba emas dan tenggelam di laut, yang kemudian diberi nama laut Helle.

Domba itu akhirnya mendaratkan Friksos di Kolkhis. Disana, Friksos dirawat oleh Aietes. Friksos bahkan dinikahkan dengan putri Aetes. Karena ternyata domba itu hasil ciptaan Poseidon, Friksos menyembelihnya dan mempersembahkannya untuk Poseidon. Ia lalu menyerahkan bulu domba itu kepada raja Kolkhis, Aietes, sebagaia ucapan terma kasih. Aietes menggantung bulu domba emas di sebuah pohon suci Ares yang dijaga oleh naga yang tidak pernah tidur.

Kelahiran Iason[sunting]

Iason dan Kheiron.

Aison adalah raja sejati kota Iolkos tapi saudaranya, Pelias, melakukan kudeta dan mengambil tahta Aison. Semua keturunan Aison dibunuhnya namun Pelias membiarkan Aeson hidup dan memenjarakannya untuk alasan yang tidak jelas.

Ketika itu, istri Aison sedang hamil tua. anak yang dikandungnya bernama Iason. Saat Iason lahir, Pelias hendak membunuhnya namun ibunda Iason ini berhasil menipu Pelias dengan mengumpulkan wanita-wanita pembantunya dan mengelilingi Iason yang sedang tertidur. Ibunya dan pembantunya menangis meratap seakan-akan Iason lahir dalam keadaan mati.

Melihat itu Pelias merasa lega dan tidak jadi membunuh Iason karena menganggap Iason sudah mati. Ibunda Iason yang bernama Alkimede I, menitipkan Iason kepada seorang Kentaur penghuni Gunung Pelion yang dikenal dengan nama Kheiron, yang sudah sering melatih para pahlawan.

Di sana Iason dilatih oleh Kheiron tentang ilmu tanaman, seni, berburu, ilmu beladiri dan berbagai kemampuan lain yang dibutuhkannya untuk mengklaim kembali tahta yang semestinya menjadi miliknya.

Sementara itu, Pelias bertanya pada Orakel tentang masa depan kekuasaannya dan Orakel hanya mengingatkannya untuk berhati-hati pada orang asing bersandal sebelah karena ia akan digulingkan oleh orang bersandal sebelah itu.

Tugas Pertama[sunting]

Dari puncak Olimpus, Hera memendam kebencian terhadap Pelias yang kini menguasai Iolkos. Hal ini disebabkan oleh Pelias yang melakukan pembunuhan pada ibu tirinya di kuil Hera.

Hera melihat ada satu kesempatan untuk memberi pelajaran pada Pelias.. Yakni melalui Iason namun sebelum memutuskan untuk membantu Iason dalam perjuanannyanya meraih kembali tahta Iolkos, Hera ingin menguji sejauh mana kebaikan hati Iason, karena untuk menjalankan rencananya Hera membutuhkan seorang pahlawan sejati.

Ketika Iason sudah remaja, dan Kheiron menceritakan tentang Pelias dan permasalahan Tahta Iolkos, Iason pun tersulut emosinya dan ingin segera mengambil haknya juga membebaskan ayahnya. Akhirnya ia pamit pada Kheiron dan pergi menuju Iolkos untuk mengklaim tahtanya..

di tengah perjalanan menuju Iolkos, ia bertemu dengan seorang nenek tua renta. Nenek ringkih itu ingin menyeberang sungai namun arus sungai itu sangat dera. Si nenek meminta kepada Iason untuk menolongnya menyeberang.

Tanpa berpikir panjang, Iason langsung menggendong nenek itu menyeberangi sungai. Karena derasnya arus, maka sebelah sandal Iason terlepas dan terbawa arus. Belum lagi entah kenapa nenek yang digendongnya terasa sangat berat. Nenek itu sebenarnya adalah Hera yang sedang menguji kepahlawanan Iason.

Pelias dan Iason.

Setelah membantu nenek itu, Iason melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya dia tiba di kota Iolkos. Di sana dia menemui Pelias dan langsung meminta haknya, yaitutTahta Iolkos. Pelias melihat Iason yang sandalnya tinggal sebelah dan teringat ramalan Orakel. Dia lalu pun pura-pura mengundang Iason ke acara makan bersama. Di acara itu, sambil santai Pelias bertanya, "Ah jadi kamu menganggap dirimu pantas jadi raja?"

Iason mengangguk.

"Hmm, jadi kamu pasti bisa mengatasi jika ada masalah yang mendadak muncul.. begini misalnya, apa yang akan kamu lakukan untuk menyingkirkan seseorang yang menyusahkan kamu?" tanya Pelias.

Iason berpikir sejenak lalu berkata, "Aku akan menyuruhnya membawakan bulu domba emas kepadaku!". Sebenarnya Heralah yang mengeluarkan kata-kata itu dari mulut Iason.

Pelias tersenyum, "Ah ide yang bagus.. Tugas yang sangat sulit.. tapi jika seseorang berhasil melakukannya, namanya akan abadi sepanjang masa.. hmm.. sekarang, coba kau lakukan itu! Bawakan bulu domba emas kepadaku!! Karena menurut Orakel, Iolkos tidak akan makmur kecuali jika bulu domba emase telah dibawa ke sini, Buktikan dirimu pantas jadi raja, Iason!!"

Pelias pun bersumpah atas nama Zeus bahwa jika Iason berhasil, tahta akan ia serahkan padanya. Iason menerima tantangan itu.

Pengumpulan Kru Kapal[sunting]

Para Argonaut mulai berlayar.

Iason berusaha membayangkan situasi tugasnya ini. Bulu domba emas ada di daerah Kolkhis, digantungkan di dahan pohon milik Ares yang dijaga oleh seekor naga yang tidak pernah tidur. Belum lagi perjalanan ke sana yang sangat jauh dan penuh rintangan. Diapun berpikir bahwa dia membutuhkan kapal yang sangat tangguh dan kru yang tidak kalah kuat.

Hera meminta bantuan Athena untuk membuatkan kapal untuk Iason. Athena pun menolongnya, ia membantu Argos si pembuat kapal dengan memberikan bahan kapal yakni kayu dari pohon ek suci dari hutan di Dodona milik Zeus sebagai bahan rangka utama kapal. Kayu suci itu dapat berbicara dan mengucapkan ramalan tentang masa depan.

Kemudian Iason pun melakukan perekrutan kru kapal dan yang mendaftar adalah figur-figur pahlawan yang sudah terkenal kehebatannya seperti Herakles, Atalanta, Theseus, Orfeus, si kembar Kastor dan Pollux, para Boread (putra Boreas, dewa angin utara, 2 orang pahlawan yang memiliki sayap), dan banyak lagi pahlawan lainnya..

Lalu setelah sekitar 50 orang kru terkumpul, berangkatlah kapal yang dinamakan Argo, dari nama pembuatnya, Argos. Kru kapal yang hebat itu disebut para Argonaut.

Perjalanan Para Argonaut[sunting]

Pulau Lemnos[sunting]

Setelah berlayar beberapa lama, Para Argonaut sampai ke sebuah pulau yang dikenal dengan nama Pulau Lemnos. Disana hanya tinggal penduduk wanita saja dan populasinya terus berkurang.

Dulu penduduk wanita pulau Lemnos ini mengabaikan Afrodit. Sang dewi menjadi kesal sehingga mengutuk seluruh wanita di pulau itu. Bau badan mereka jadi sangat tidak tertahankan.

Suami-suami mereka pun akhirnya mencampakkan mereka dan melakukan hubungan seksual dengan perempuan dari pulau lain. Karena kesal, para wanita di pulau Lemnos pun membunuh suami mereka ketika mereka sedang tidur. Akhirnya mereka hidup tanpa laki-laki dipimpin oleh Ratu Hipsipile.

Ketika para Argonaut datang, mereka pun berhubungan seksual dengan para penghuni pulau dan melakukan repopulasi. Iason sendiri besetubuh dengan Hipsipile dan nantinya menjadi ayah dari dua orang anak kembar. Para Argonaut tinggal di sana selama beberapa hari dan hendak tinggal lebih lama namun Herakles sudah ingin cepat-cepat melanjutkan perjalanan

Propontis[sunting]

Para Argonaut mendarat di daerah Propontis yang sedang diteror oleh raksasa bertangan enam. Herakles berhasil mengalahkan raksasa itu sehingga sang raja, Kizikos, menyambut mereka dengan meriah bersama rakyat Propontis lainnya. Mereka diajak makan bersama dan berpesta.

Kapal mereka pun langsung berlayar siang itu juga seusai makan. Namun ternyata ada badai yang menghempas mereka sangat kuat, sehingga malam harinya, mereka kembali ke tempat yang sama di Propontis.

Mengira kapal yang baru mendarat di malam hari itu adalah kapal bajak laut, rakyat propontis dan raja Kizikos langsung menyerang para Argonaut. Peperangan pun tidak terelakkan. Para Argonaut yang kuat membunuh banyak sekali rakyat Propontis termasuk Raja Kizikos. Baru ketika fajar menyingsing, mereka sadar bahwa ini semua kesalahan. Setelah melakukan penguburan, para Argonaut pun kembali berlayar.

Misia[sunting]

Hilas dan para nimfa.

Para Argonaut sampai di daerah Misia. Disana mereka mengumpulkan perbekalan, memperbaiki dayung yang rusak, dll.

Beberapa orang turun untuk mencari air minum dan makanan, termasuk Hilas, seorang pemuda tampan yang merupakan kekasih pria Herakles. Karena sangat tampan, ketika Hilas sedang mengambil air di kolam yang ada di tengah hutan, para nimfa penjaga kolam itu jatuh cinta padanya dan akhirnya membawanya ke dasar kolam untuk dijadikan kekasih.

Herakles menolak untuk berangkat bersama Argonaut lainnya dan terus mencari Hilas yang dia sayangi. Tapi apa boleh buat, Hilas sudah hilang selamanya. Herakles pun kembali menjalankan tugas legendarisnya dan meninggalkan misi para Argaonaut.

Salmidessos[sunting]

Mereka kemudian sampai di daerah Salmidessos, Thrakia. Disana ada seorang raja yang bernama Fineas. Raja Fineas memiliki berkah dari Apollo untuk dapat melihat masa depan. Namun karena terlalu banyak membocorkan rahasia para dewa kepada manusia, ia akhirnya dihukum. Ia diberikan pilihan: "Tidak buta tapi hidup singkat" atau "buta tapi berumur panjang", Fhineas memilih buta agar dapat membocorkan lebih banyak rahasia masa depan kepada manusia.

Fineas ditolong oleh Kalais dan Zetes.

Zeus pun meletakkannya di Salmidessos di depan sebuah meja yang penuh berisi makanan. Helios, dewa matahari yang marah karena Fineas lebih memilih hidup di dalam kegelapan dibandingkan hidup dibawah cahayanya, mengirimkan para Harpi untuk memastikan Fineas hanya makan secukupnya untuk hidup. Jika setiap ia hendak makan lebih, Para harpi akan merampas makanan itu.

Iason merasa kasihan pada Fineas. Ketika para harpi datang, para Boread, Kalais dan Zetes, yang memiliki sayap kemudian mengejar dan hendak membunuh mereka. Usaha mereka digagalkan oleh Irir yang berjanji bahwa Fineas tak akan lagi diganggu oleh para harpi.

Sebagai rasa terimakasih, Fineas mengungkapkan cara untuk melewati Simplegades. Kemudian mereka berpisah.

Simplegades (Batu Beradu)[sunting]

Kapal Argo mendekati Batu Beradu.

Tempat ini adalah semacam gerbang yang harus dilalui jika seseorang ingin menuju Kolkhis. Namun ini sangatlah berbahaya. Bentuk Simplegades adalah dua buah batu karang raksasa yang saling berhadapan dan akan saling bertabrakan jika ada yang melintas di antara keduanya, sehingga apapun yang melintas akan hancur tergencet.

Cara yang diberikan oleh Fineas adalah, mereka harus melepaskan seekor merpati. Jika merpati itu selamat, maka mereka harus mendayung sekuat tenaga melewati Simplegades. Tapi jika merpati itu gagal dan mati terjepit, maka mereka memang ditakdirkan untuk gagal.

Iason melepaskan seekor merpati seperti yang dikatakan oleh Fineas dan merpati itu terbang melewati Simplegades. Kedua batu karang itu tiba-tiba menutup. namun, ketika karang itu kembali terpisah, nampaklah burung merpati itu berhasil melewati Simplegades dengan selamat, hanya bulu ekornya yang sedikit rusak terjepit.

Para Argonaut langsung mendayung sekuat tenaga melewati Simplegades dan mereka berhasil. Ketika kedua karang itu mengatup, hanya hiasan belakang kapal Argo saja yang rusak. Dan setelah berapa lama, mereka pun sampai di Kolkhis.

Tugas di Kolkhis[sunting]

Sesampainya di Kolkhis, Iason segera menemui sang raja, Aietes. Iason berkata pada Aietes bahwa dia mau mengambil bulu domba emas dan membawanya ke Iolkos. Aietes, yang sudah menganggap bahwa bulu domba emas itu miliknya, enggan memberikannya dengan cuma-cuma. Ia mau Iason melakukan tiga buah tantangan sebelum dirinya rela memberikan bulu domba emas itu.

Melihat tantangan yang diberikan, Iason jadi patah semangat. Tapi Hera tidak berdiam diri. Hera menghampiri Afrodit dan memintanya untuk membuat putri Aietes, Medeia, agar jatuh cinta kepada Iason. Afrodit setuju dan memerintahkan Eros untuk menembakkan panah asmara kepada Medeia. Medeia pun jatuh cinta kepada Iason.

Medeia adalah seorang penyihir, pemuja dewi Hekate (dewi sihir) dan bantuan yang bisa diberikannya adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Iason.

Medeia dan Iason

Ketika Medeia melihat Iason pertama kali, dia langsung jatuh cinta pada Iason. Medeia menawarkan bantuannya asalkan Iason mau bersumpah agar menjadi miliknya selamanya. Iason tidak punya pilihan lain selain menyetujui. Medeia pun membantu Iason.

Tugas yang diberikan raja Aietes merupakan satu paket tugas. Yang pertama, Iason diperintahkan untuk membajak ladang dengan menggunakan dua ekor Khalkotaur, yaitu banteng yang kuku kakinya dari perunggu dan menyemburkan api. setelah itu ia diberikan sekantong benih. ia diperintahkan untuk menebar benih itu di tanah yang sudah dicangkul lalu memanennya dalam sehari.

Iason bergegas menjalankan tugasnya. Medeia menolongnya dengan memberikan sebuah salep, yang setelah Iason oleskan ke seluruh tubuh, membuat tubuh Iason menjadi anti api. Dengan mudah Iason membajak sawah itu. dan ketika ia hendak menaburkan benih, ia menyadari bahwa benih itu bentuknya sangat aneh. saat benih itu ditaburkan, tiba-tiba setiap benih itu langsung tumbuh menjadi para Spartoi, yaitu sekumpulan prajurit berbaju besi lengkap yang siap berperang. Ternyata benih itu adalah gigi-gigi Naga.

Medeia membantu Iason melawan naga.

Medeia langsung memberitahu Iason apa yang harus ia lakukan. Setelah diberitahu Medeia, Iason melempar salah satu Spartoi itu dengan batu. Spartoi yang terkenal lemparan mengira Spartoi disebelahnyalah yang menyerang, akhirnya semua Spartoi itu saling serang satu sama lain, hingga tak satupun Spartoi yang tersisa.

Kini Iason harus menghadapi tugas yang sulit. Mengambil sendiri bulu domba emas dari tempatnya yang dijaga oleh naga yang tidak pernah tidur. Naga itu milik Ares, jadi jika dibunuh bisa menimbulkan kemarahan sang dewa perang.

Medeia lalu mengeluarkan sebuah ramuan yang sangat berguna, ramuan penidur. Iason menghampiri sang naga di malam hari dan menyemprotkan disemprotkanlah ramuan itu ke muka sang naga. Sang naga langsung tertidur dan Iason bisa dengan mudah mengambil bulu domba emas.

Ketika Iason mau bergegas pulang ke Iolkos, Medeia minta diajak. Karena ia sudah bersumpah untuk jadi milik Medeia selamanya, iason pun setuju. Tapi entah kenapa, Medeia mengajak adiknya, Apsirtos.

Sang raja marah karena ia menganggap Iason telah menculik kedua anaknya. maka dari itu, ketika kapal Argo mulai berlayar, sang raja mengejarnya bersama armada kerajaan. Para Argonaut panik karena dengan kecepatan seperti ini pasti mereka akan tersusul. Medeia kembali menunjukkan kegilaannya. Ia langsung berdiri membawa adiknya dan sebilah pedang. Ayahnya dari belakang melihat Medeia dan Apsirtos.

Lalu tiba-tiba Medeia menggorok leher adiknya. Darah terpancar kemana-mana. Bukan hanya itu, ia juga langsung memutilasi mayat Apsirtos hingga menjadi potongan-potongan kecil. kemudian potongan-potongan tubuh itu ia tebar di lautan di belakang kapal Argo.

Para Argonaut tetap mendayung sambil kebingungan dengan apa yang dilakukan Medeia. Sang raja dan pasukannya berhenti untuk mengumpulkan potongan jenazah Apsirtos. Maka bebaslah para Argonaut dari kejaran Aietes.

Medeia dan Kirke[sunting]

Selepas dari perairan Kolkhis, tiba-tiba ada badai dan angin kencang. Kapal Argo pun terombang-ambing dalam badai itu.

Kastor dan Pollux maju ke anjungan kapal. Mereka berpegangan tangan dan berdoa kepada Zeus. Lalu dari kayu rangka kapal Argo terdengarlah sebuah suara yang mengatakan bahwa kapal ini dan krunya telah dikutuk oleh Zeus akibat perbuatan yang dilakukan oleh Medeia. Satu-satunya cara menghilangkan kutukan ini adalah bahwa Medeia harus disucikan oleh seorang perempuan bernama Kirke. Kemudian datanglah dewi Iris yang memberitahukan tempat tinggal Kirke kepada Kalais dan Zetes supaya para Argonauts dapat melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa lama, akhirnya para Argonauts sampai di pulau yang dikatakan sebagai tempat tinggal Kirke. Disana mereka melihat beberapa orang gadis memanggil-manggil. Namun di dekat para gadis itu ada hewan-hewan yang terus mengeluarkan suara seakan memperingatkan para Argonauts

Kru kapal mendayung terus hingga mereka berlabuh di pulau itu, tapi, tak ada satupun yang beranjak turun karena mereka memperhatikan hewan-hewan yang ada disana.

Iason dan Medeia di kediaman Kirke.

Hewan-hewan itu menatap mereka dengan penuh kesedihan. tiba-tiba Medeia meloncat turun dari kapal. dan dia memperingatkan. "Kawan-kawanku!! jangan ada satupun dari kalian yang turun dari kapal! karena di pulau ini, setiap pria yang menginjakkan kaki disini, akan berubah menjadi hewan!". Medeis alalu memanggil Iason untuk ikut turun ke pulau itu. Dengan sihir Medeia, Iason tidak berubah menjadi binatang.

Medeia mengusir gadis-gadis yang tadi memanggil para kru, kemudian berjalan menuju rumah marmer yang ada di puncak bukit pulau itu.

Di sana mereka menemui Kirke. yang ternyata adalah seorang penyihir juga. Ketika melihat mata Medeia, Kirke langsung mengetahui bahwa Medeia adalah kerabatnya. Kirke adalah saudari Aietes dan dengan demikian adalah bibi Medeia

Medeia mengutarakan maksud kedatangannya, yakni untuk disucikan dari darah saudaranya yang ia bunuh. Lalu Kirke mengajak Medeia ke pantai, di sana Kirke berdoa kepada Zeus lalu memandikan Medeia dengan air laut juga mencuci pakaian Medeia yang berlumur darah.

Setelah ritual selesai, Medeia bertanya kepada Kirke tentang apa yang dilihat oleh Kirke di masa depan kehidupan Medeia. Kirke memang melihat masa depan Medeia, namun ia menolak mengucapkannya. Akhirnya Medeia kembali ke kapal dan bersama Argonauts melanjutkan perjalanan.

Terdampar di Libya[sunting]

Sudah beberapa hari mereka berlayar ketika tiba-tiba ombak tinggi membawa mereka ke sebuah pantai pasir dan mendamparkannya di pantai itu. Ketika ombak itu menghilang, ternyata di bawah ombak yang tinggi itu adalah karang-karang tajam, sehingga tidak mungkin bagi kapal Argo untuk berlayar kembali ke lautan tanpa hancur terkoyak karang tajam itu. Setelah mereka perhatikan, yang ada disana bukanlah pasir pantai, melainkan sebuah gurun pasir yang sangat luas.

Para Argonaut mulai putus asa. Iason yang kepanasan dan kelelahan pun akhirnya tertidur dengan kepala yang ditutupi bulu domba emas. Lalu Iason merasakan ada yg menyentuh tangannya. Ia menoleh, ternyata ada tiga orang nimfa dengan tubuh bersinar.

Para nimfa itu mengatakan bahwa para Argonaut tidak boleh menyrah. Iason diperintahkan untuk mengikuti kuda Poseidon dan para Argonaut harus melakukan kepada kapal Argo sesuatu yang selama ini dilakukan oleh kapal tersebut kepada mereka.

Iason menyampaikan pesan ini kepada para Argonaut. Lalu tiba-tiba, dari lautan muncullah segerombolan kuda. kawanan kuda itu berlari melintasi gurun. Akhirnya mereka paham tentang sesuatu yang harus mereka lakukan pada kapal Argo.

Kuda kiriman Poseidon.

Selama ini, yang dilakukan kapal itu adalah membawa mereka di atasnya. saat ini yang harus mereka lakukan adalah memikul kapal Argo melintasi gurun pasir. Karena kuda poseidon berasal dari lautan, maka pasti mereka akan kembali lagi ke lautan yang lain di seberang gurun, jadi yang harus mereka lakukan hanyalah mengikuti jejak kuda poseidon itu.

Perjalanan berat pun dimulai. Para Argonaut menggendong kapal mereka mengikuti jejak kuda Poseidon hingga mereka sampai pada suatu titik dimana jejak-jejak kuda poseidon itu tidak lagi nampak. Para Argonaut meletakkan kapal Argo, kemudian Kalais dan Zetes terbang ke angkasa. Mereka terus naik dan akhirnya melihat air di ujung sana. Mereka pun mengarahkan para Argonaut untuk sampai ke perairan itu.

Setelah sampai disana. mereka mengetahui bahwa danau itu merupakan wilayah kekuasaan Triton, dewa laut putraa Poseidon. Sebagai rasa syukur, mereka mendirikan altar untuk Triton. Kemudian mereka sadar bahwa mereka kehausan sementara air yang ada disana adalah air asin. Tiba-tiba mereka mencium aroma tanaman lebat. Mereka mengasumsikan di sana ada air yang bisa diminum juga. Orfeus memimpin mereka ke arah aroma itu berasal.

Di tengah perjalanan, mereka melihat sosok raksasa yang menjulang tinggi. Orfeus menerangkan bahwa itu adalah Atlas yang tengah menopang langit. Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke arah asal aroma itu.

Akhirnya sampailah mereka ke sebuah wilayah yang ditumbuhi rumput hijau. Orfeus mengetahui wilayah ini. Taman yang dikelilingi pagar perak itu adalah Taman Hesperides, taman tempat tumbuhnya pohon apel emas yang diberikan oleh Gaia sebagai hadiah pernikahan Zeus dan Hera. Nama taman itu diambil dari para penjaga taman tersebut, yakni para Nimfa Hesperides.

Melihat para Argonaut yang mendekat, para nimfa itu langsung melingkarkan diri mereka bertiga mengelilingi pohon apel emas. Orfeus mengatakan kepada para Argonaut untuk tetap tenang dan membiarkannya menyapa para nimfa Hesperides.

Orfeus melangkah masuk ke taman itu sambil memainkan liranya dan alunan musik yang sangat indah terdengar memenuhi udara. Dengan syairnya Orpheus memberitahu para nimfa bahwa para Argonauts ini adalah orang-orang pilihan dewa dan bahwa para nimfa itu tidak perlu khawatir akan kedatangan mereka.

Para nimfa itu mengerti dan mereka langsung menghampiri Orfeus sambil menangis. mereka menyanyikan lagu duka. Mereka memberitahut bahwa sebenarnya tadinya ada seekor naga berkepala seratus bernama Ladon yang ditugaskan Hera untuk membantu mereka menjaga pohon apel emas. Tetapi sekarang naga yang bernama Ladon itu telah tewas karena terkena anak panah beracun.

Mereka cerita bahwa ada seorang manusia yang mengenakan kulit singa sebagai pakaian, datang dan membunuh Ladon llau mengambil apel emas. Walaupun apel emas yang diambil itu telah dikembalikan, mereka jadi harus bekerja lebih keras untuk menjaga taman itu tanpa dibantu oleh Ladon.

Para Argonauts langsung tahu bahwa orang yang sedang dibicarakan oleh nimfa Hesperides ini Herakles, yang sedang manjalankan tugasnya.

Kemudian para nimfa itu bercerita bahwa ketika apel emas dari pohon itu diambil, maka aliran mata air di taman itupun langsung berhenti. Tapi Herakles yang saat itu sedang kehausan langsung menghentakkan kakinya ke batu yang ada disana, memecahkan batu itu, dan dari sana memancarlah mata air baru.

Para Argonaut melihat mata air yang ditinggalkan Herakles dan langsung minum dari sana beramai-ramai.

Mereka meneriakkan pujian pada Herakles, karena walaupun ia tidak lagi bersama mereka, pahlawan itu telah menyelamatkan para Argonaut dari kehausan yang mematikan.

Setelah puas minum, mereka pamit dan hendak kembali ke kapal. Tapi, tidak semua Argonauts berhasil sampai di kapal. Satu Argonaut yang bernama Naupilos digigit oleh seekor ular dan meninggal. Seusai mengubur Naupilos, mereka memulai berlayar kembali. Orfeus memanjatkan doa kepada Triton yang menguasai daeraht itu. Tiba-tiba Triton muncul dan menolong para Argonaut dengan membimbing kapal Argo melalui berbagai perairan hingga akhirnya sampai ke laut lepas.

Bentrok dengan Para Siren[sunting]

Para Siren mengganggu sebuah kapal.
Orfeus berdiri di haluan kapal Argo dan menyanyikan lagu yang lebih indah daripada nyanyian para Siren.

Iason dan kru kapalnya mengarungi pesisir pantai hingga mereka sampai di sebuah pulau karang kecil. Di sana terdapat tiga orang gadis cantik duduk di atas karang. Tiba-tiba terdengarlah sebuah nyanyian merdu yang menawan hati. Para Argonaut tanpa sadar mendayung ke arah pulau karang itu.

Tapi Iason sadar, inilah para Siren yang diperingatkan oleh gurunya, Khiron, bahwa mereka tidak akan selamat jika mereka tidak mengajak Orfeus turut serta. Menyadari bahaya dari nyanyian Siren yang tak tertahankan itu, Orfeus langsung bernyanyi dan memainkan liranya. Suaranya yang sangat merdu ternyata lebih indah dan mengalahkan suara para Siren. Akhirnya para Argonaut berhasil menjauh. Hanya satu orang yang tidak dapat menahan diri, namanya adalah Botes, ia langsung melompat turun dari kapal begitu mendengar suara nyanyian Siren. Afrodit, yang menyukai pemuda itu, langsung menyelamatkannya dan menjadikannya kekasih.

Siren yang gagal menarik para Argonaut menuju kematian pun langsung terjun ke laut, karena mereka ditakdirkan untuk mati jika gagal menarik orang dengan lagunya.

Demikianlah para Argonaut selamat karena keindahan suara Orfeus.

Raksasa di Kreta[sunting]

Para Argonaut sangat senang ketika akhirnya berhasil mencapai laut lepas. Mereka terus berlayar ke arah Iolkos. Angin yang mendorong layar kapal Argo berhenti, dan sekali lagi mereka semua bersama-sama mendayung kapal. Semalaman mereka mendayung. Ketika pagi menjelang, Theseus berteriak, "Pulau Kreta!!"

Talos menghadang kapal Argo.

Para Argonaut, yang kelelahan setelah mendayung semalaman, merasa sangat senang melihat daratan. Mereka berharap dapat mengisi perbekalan dan istirahat. Tapi di pulau ini ternyata ada seorang penjaga, namanya adalah Talos, prajurit raksasa yang tubuhnya terbuat dari perunggu. Talos memiliki sebuah pembuluh yang tersambung dari leher sampai ke kakinya. Di epmbuluh itu mengalir timbal hitam yang merupakan darah Talos. Pembuluh itu disumbat dengan sebuah paku.

Talos ini diciptakan oleh Hefaistos dan diberikan oleh Zeus untuk melindungi Europa, kekasih Zeus di Kreta. Talos setiap hari selalu mengelilingi pulau Kreta tiga kali. Dia akan melemparkan batu besar kepada kapal yang mendekati Kreta. Hal itulah yang dilakukannya kepada kapal Argo. Batu-batu besar ia lemparkan ketika kapal para pahlawan itu mendekat. Para Argonaut panik dan langsung menjauh hingga di luar jarak lempar Talos.

Majulah Medeia ke anjungan kapal. Ia membacakan mantra dan mengutuk Talos sampai dia jadi mengamuk sendiri. Talos yang mengamuk akhirnya tanpa sengaja tersandung batu tajam dan paku yang menyegel pembuluh darahnya terlepas. Maka keluarlah cairan hitam dari mata kakinya terus-menerus. Talos akhirnya mati karena kehabisan darah dan tenggelam.

Setelah itu. Para Argonaut bisa mendarat dengan mudah, beristirahat dan mengumpulkan perbekalan.

Lalu mereka kembali berlayar dan setelah beberapa lama, nampaklah Gunung Pelion, tempat Iason dibesarkan. Ini berarti Iolkos sudah dekat. Iason dan Medeia segera menuju Iolkos sementara para awak kapal Argo saling berpisah karena misi mendapatkan domba emas telah berhasil.

Pembunuhan Pelias[sunting]

Di Iolkos, Iason mendapat kabar buruk. Ayahnya dikabarkan telah mati karena dipaksa minum racun oleh Pelias, Ibunya juga menyusul bunuh diri karena kesedihannya ditinggal suaminya. Iason yang marah akhirnya meminta Medeia untuk membalaskan dendam orang tuanya

Medeia langsung menyusun rencana untuk membunuh Pelias. Malam harinya, Medeia duduk sendiri di dalam kamar, menyanyikan mantra tiada henti sepanjang malam dan di kala pagi, Medeia melihat hasil dari mantra yang dirapalnya.

Sebuah kereta yang ditarik oleh naga langsung tersedia di luar rumahnya. Mantra pemanggilannya berhasil dan dengan menaiki kereta itu ia meluncur terbang. Medeia pergi ke berbagai tempat tanaman-tanaman sihir tumbuh. Gunung Ossa, Pelion, Thris, Pindus dan Olimpus semua didatangi. Sungai Apidanos, Enipius dan Pinius juga didatanginya untuk mengumpulkan bahan-bahan sihirnya. Lalu ia kembali dan memulai memasak ramuan.

Iason melihat Medeia yang pucat dan menyeramkan ketika kekuatan sihir mengelilingi gadis itu. Ia hendak masuk ke kamar Medeia namun gadis itu melarangnya masuk dengan kasar, agar Iason tidak mengganggu proses pemasakan ramuan yang akan segera dimulai.

Sementara itu. Medeia mencapai tahap akhir ramuannya. Ia mengaduk kuali ramuannya dengan kayu dari pohon apel. ketika diangkat dari dalam ramuan, kayu pengaduk itu telah berubah, ditumbuhi daun apel, dan di ujungnya tiba-tiba tumbuhlah satu buah apel segar. Beberapa tetes ramuannya juga tumpah ke tanah, dan disana langsung tumbuh rumput hijau dan bunga yang indah. Yang Medeia buat adalah sebuah ramuan yang dipenuhi kekuatan kehidupan.

Pelias dibunh oleh putri-putrinya sendiri.

Setelah selesai, ia menyimpan ramuan itu ke dalam botol, dan sisanya, ia tebarkan ke taman istana. kemudian bersama naganya, ia berangkat menemui putri-putri Pelias.

Medeia menipu mereka dengan mangatakan bahwa dia memiliki kekuatan untuk membuat ayah mereka kembali muda. Medeia menunjukkan triknya pada seekor domba. Medeia menyembelih seekor domba yang sudah tua, memotong-motong tubuh domba itu, dan memasukannya ke dalam kuali berisi air mendidih denagn dicam[ur ramuan buatannya. Medeia lalu membacakan mantra. Setelah selesai, Medeia mengangkat domba itu, yang kini telah hidup dan bahkan kembali muda. Domba itu menjadi sangat sehat, tanduknya kuat, bulunya tumbuh lebat dan hewan itu mengembik gembira

Putri-putri Pelias merasa takjub dan ingin memudakan kembali ayah mereka. Medeia mengajarkan cara melakukan ritual itu, tapi tidak memberikan cairan yang benar kemudian Medeia lamgsung pergi meninggalkan istana.

Ketika Pelias sedang tidur, putri-putrinya membunuh Pelias, memotong-motong tubuhnya, dan memasukkannya ke dalam kuali yang berisi air mendidih itu. Mereka Membacakan mantra dan menunggu. Namun setelah beberapa jam, ayah mereka tidak kunjung keluar, dan ketika air kuali itu kering, nampaklah sosok ayah mereka yang sudah menjadi mayat.

Setelah Pelias mati, Hera menjadi puas karena bisa membalas perbuaatn Pelias yang telah melakukan pembunuhan di kuil Hera. Demikianlah, petualangan luar biasa yang dilakukan Iason dan para Argonaut sesungguhnya hanyalah bagian dari rencana Hera untuk membunuh Pelias.

Sementara Medeia memanggil naganya dan menemui Iason. Sedangkan putri-putri Pelias hanya bisa meringkuk ketakutan di dekat jenazah ayah mereka.

Kabar Kematian Pelias tersebar, dan kota pun jadi kacau. sementara putri-putri Pelias hanya bisa meringkuk ketakutan di dekat jenazah ayah mereka.

Akastos, putra Pelias, marah pada Iason dan Medeia. Akastos akhirnya mengusir Iason dan Medeia dari Iolkos. Iason dan Medeia lalu mengungsi di Korinthos.

Akhir Petualangan Iason[sunting]

Medeia hendak membunuh kedua anaknya.

Iason dan Medeia akhirnya tinggal di Korinthos. Di sana Iason menikahi Glauke, putri Kreon, raja Korinthos. Melihat ini Medeia mengamuk, ia mengungkit apa saja yang telah ia lakukan untuk Iason namun Iason malah berkata bahwa yang pantas menerima terima kasih adalah Afrodit yang telah membuat Medeia jatuh cinta pada Iason. Karena dendam, Medeia memberikan hadiah kepada Glauke, yaitu sebuah gaun yang telah dikutuk. Ketika Glauke memakainya, tubuhnya terbakar dan Glauke pun tewas. Ayah Glauke ikut terbakar bersama putrinya ketika ia hendak menolong.

Medeia juga membunuh dua orang putra hasil pernikahannya bersama Iason. Setelah itu Medeia kabur ke kota Athena dengan menaiki kereta naganya.

Rakyat Korinthos marah atas pembunuhan raja dan putrinya. Karena Medeia telah kabur, mereka akhirnya menumpahkan kemarahan pada Iason dan mengusir Iason dari Korinthos.

Iason, bersama Peleus, kemudian merebut kembali kota Iolkos. Putra Iason yang bernama Thessalos didaulat menjadi raja Iolkos.

Karena pengkhianatan Iason pada Medeia, para dewa murka. Hera tidak lagi mendukungnya. Iason ikut serta dalam Perburuan Babi Kalidon tapi hanya berhasil membunuh seekor anjng. Di masa tuanya, Iason berjalan sendiri di pantai dan bersandar di bagian depan kapal Argo, mengenang petualangan masa mudanya.

Tiba-tiba kayu depan Argo runtuh menimpa Iason dan langsung membunuhnya seketika.