Puisi, Apa Yang Paling Kita Takutkan?

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

APA YANG PALING KITA TAKUTKAN?

Puisi: Aji Sukman

Apa yang paling menyakitkan untuk kita selain bersua yang tak selancar pertemuan antara senja dan malam?

Apa yang paling kita takutkan?

Jarak antara Makassar dan Jogja, terbentang menabur rindu di tungku perasaan kita masing-masing.

Di sini, aku bertualang menelusuri sebagian Pulau Jawa. Dari Surabaya, Solo, kemudian Jogja, upaya menjalin isu sosial dan borok kenegaraan yang kian meresahkan.

Hari ini, hujan membasuh Tanah Jawa. Sementara Cianjur, masih terkungkung pilu oleh bencana. Lalu di istanah sedang sibuk bermain-main dengan uang rakyat sambil mengurusi kepentingan politik di periode mendatang.

Bukankah hujan adalah air kasih sayang Tuhan untuk kita? Lantas kenapa kepada Cianjur dan lainnya semuanya laksana bencana menerjang relung paling dalam.

Apakah yang salah dari semua ini?

Oh, aku teringat dengan petuah dalam kitab-kitab suci Tuhan. Bahwa segala bencana yang terjadi di darat dan di laut, semua itu karena ulah tangan manusia sendiri.

Lantas tangan manusia yang manakah pelakunya?

Apakah manusia-manusia yang tinggal di ujung desa dengan kesibukannya bertani dan berkebun untuk menyokong kebutuhan pangan negeri ini, agar semua anak bangsa tetap rutin membuang tai di kakus setiap pagi?

Atau apakah pelakunya adalah manusia-manusia yang tinggal di emperan kota penuh jeritan kemiskinan tanpa jalan keluar selama puluhan tahun negeri ini menyatakan merdeka?

Apakah manusia-manusia super mode dan super kaya yang tak henti-hentinya mengeruk sumber daya namun tidak untuk kepentingan dan kemakmuran bersama. Bahkan perbuatannya disokong oleh pemerintah yang sudah menjadi boneka para manusia super mode dan kaya yang kita sebut oligarki lewat aksi tipu-tipu dan jual-jualan undang-undang?

Manusia yang manakah pelakunya itu?

Atau apakah manusia-manusia yang merasa sok baik hanya dengan berdiam diri atas penindasan sistemis dari struktural negara, menganggap bahwa kezaliman yang terjadi cukup diserahkan saja kepada Tuhan untuk mengazab perbuatan para pengusaha serta penguasa yang zalim itu?

Siapakah pelakunya dan Apakah yang paling kita takutkan?

Sungguh parlemen untuk perwakilan rakyat susah telah mati sayangku.

Sementara tatanan negeri kita kian kacau. Semesta telah mengamuk dan memporak-porandakan tanah ini.

Barangkali. Inilah yang paling kita takutkan. Bukan hanya sekadar pertemuan yang sulit hingga dunia serasa mau kiamat. Bukan!

Tetapi, kondisi negeri kitalah yang paling mengkhawatirkan. Dan semakin kacau negeri ini, maka semakin jarang pula kita akan bertemu. Karena semangat dan waktu, harus diporsir banyak untuk perjuangan.

Di atas ketinggian yang tak bisa kutebak. Di dalam pesawat menuju Makassar, aku merasakan rindu yang amat dalam. Sedalam tikaman oligarki merusak tatanan negeri kita.

Juga cintaku padamu amatlah besar. Sebesar kebencianku pada tatanan negeri yang teracak-acak oleh oligarki lewat penguasa tolol tak berguna.

30 November 2022. Di atas ketinggian, antara Pulau Jawa dan Sulawesi.