Lompat ke isi

Sejarah Perkembangan Sistem Ekonomi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Kapitalisme, seperti yang umumnya orang pahami adalah sebuah ideologi politik tertentu. Pandangan ini tentu tidak salah. Tetapi kita perlu lebih dalam memahami apa sebenarnya kapitalisme itu? Karl Heinrich Marx, menyebutkan bahwa kapitalisme merupakan suatu corak produksi. Hal ini dijelaskan oleh Henry Bernstein bahwa corak produksi kapitalis merupakan suatu sistem produksi dan reproduksi dalam perekonomian yang didasarkan pada relasi kapital dengan buruh. Kapital mengeksploitasi buruh untuk mendapatkan laba. Sedangkan buruh bekerja kepada kapital untuk mendapat upah. Definisi ini didasarkan atas penelitian yang mendalam oleh Marx dengan menggunakan metode Materialisme Dialektis dan Historis, yang saat ini lebih dikenal dengan Marxisme. Metode ini digunakan Marx untuk meneliti sejarah corak produksi dalam perkembangan masyarakat.

Marxisme adalah satu-satunya ilmu filsafat yang menjadi praksis perjuangan untuk merombak dunia. Di sisi lain banyak ilmu filsafat yang hanya menafsirkan dunia saja dan ilmunya hanya sebagai wahana pengetahuan atau sekedar teori. Tetapi, filsafat marxisme mengajukan perspektif lain. Ia tidak hanya menafsirkan dunia, tetapi memiliki tujuan untuk merombaknya. Marxisme berlandaskan pada paradigma filsafat materialisme dan logika dialektis. Materialisme merupakan salah satu dari dua aliran besar filsafat yang berbeda pandangan mengenai asal-usul pengetahuan. Materialisme berpandangan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh dari hal-hal material yang bisa diindera. Aliran yang satunya adalah idealisme yang berpandangan bahwa ilmu pengetahuan berasal dari ide.

Dialektika adalah pertentangan antara sesuatu yang membentuk sesuatu yang baru. Tiga ciri dalam dialektika yaitu, saling berkontradiksi, adanya lompatan perubahan dari kuantitatif menuju kualitatif, dan negasi atas negasi. Secara singkat, dialektika merupakan kontradiksi antara suatu materi yang berbeda dengan adanya lompatan perubahan kualitas. Dari kualitas lama menuju kualitas yang lebih baru. Materialisme dialektika historis merupakan konsepsi materialis atas sejarah perkembangan masyarakat yang terjadi karena adanya dialektika material. Dalam perkembangan masyarakat terjadi kontradiksi-kontradiksi material dan merubah tatanan masyarakat dari waktu ke waktu. Perubahan ini selalu menuju kepada perubahan kualitatif.

Kemudian hal apa yang paling menentukan dari material terhadap perkembangan umat manusia? Tentu adalah kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup manusia yang paling menentukan kehidupannya sudah pasti bersifat material (makan, minum, rumah, pakaian, dll.). Untuk memenuhi kebutuhannya itu, manusia memerlukan bahan-bahan dari alam kemudian diolahnya. Cara manusia mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya disebut kerja produksi. Marx menyebutkan bahwa di dalam aktifitas produksi terdapat kekuatan produktif yang termasuk di dalamnya ada sarana produksi (bahan baku, alat, dsb.) dan tenaga kerja produktif manusia. Aktifitas produksi tidak bisa lepas dari hubungan antar sesama manusia, Mark menyebutnya relasi sosial produksi (tuan-budak, tuan tanah-petani hamba, kapitalis-proletariat). Kombinasi dari kekuatan-kekuatan produksi dengan relasi sosial produksi disebut Marx dengan mode of production atau corak produksi. Corak produksi manusia menentukan cara berpikirnya. Corak produksi merupakan basis suprastruktur (budaya, agama, politik, gender, dll.) dari masyarakat.

Marx dalam penelitiannya menemukan perbedaan-perbedaan corak produksi dalam sejarah perkembangan manusia yaitu berawal dari komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme. Perubahan corak produksi terjadi karena adanya pertentangan antar kelas dalam relasi produksi sosialnya. Sehingga Marx kemudian menyimpulkan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas.

Komunal primitif atau komunisme primitif merupakan corak produksi yang paling tua. Pada fase ini aktifitas produksi manusia masih bersentuhan langsung dengan alam. Terbatasnya kekuatan produksi saat itu (sarana produksi dan populasi manusia/tenaga kerja manusia) mempengaruhi hubungan sosial produksi yang terbatas pada pembagian kerja tradisional yang ada dalam keluarga. Pada fase komunal primitif belum muncul kelas-kelas dalam hubungan sosial produksi. Dan belum ada pengakuan hak atas kepemilikan pribadi. Hak atas kepemilikan properti pribadi muncul setelah adanya klaim kepemilikan barang produksi saat pertukaran barang produksi antar komune.

Kemudian transisi dari komunal primitif menuju masyarakat perbudakan terjadi dengan ditandai adanya revolusi agrikultur sekitar 10 rts (ribu tahun silam). Saat itu mulai ditemukannya sarana produksi yaitu tanah dan masyarakat mulai hidup dengan menetap dan mulai bertani. Produksi pertanian tidak dilakukan setiap hari seperti pada saat berburu dan hanya dilakukan saat musim tanam dan panen. Hal ini mendorong pesatnya perkembangan suprastruktur masyarakat. Manusia kemudian mulai mengenal sistem politik, kepercayaan, pemerintahan, dsb. Perkembangan suprastruktur yang pesat merupakan akhir dari zaman komunal primitif. Manusia mulai berpikir untuk melakukan penjelajahan dan penaklukan terhadap komune yang lain. Penaklukan ini yang kemungkinan memulai terbentuknya masyarakat berkelas. Kelas sosial yang pertama kali terbentuk yaitu budak dan pemilik budak. Komune yang menaklukkan akan menjadi tuan sedangkan komune yang kalah atau yang ditaklukan akan manjadi budak.

Corak produksi masyarakat perbudakan ditandai dengan kepemilikan budak. Budak adalah manusia yang menyerahkan diri sepenuhnya untuk bekerja kepada pemiliknya. Budak tidak dijual tenaga kerjanya saja tetapi seluruh kebebasan hidupnya dan yang menjual bukan dirinya sendiri melainkan pemilik budak yang telah menaklukan dirinya.Setelah masa perbudakan kemudian lahir corak produksi feodalistik yang ditandai dengan diberlakukannya hak istimewa para bangsawan, pemimpin agama, dan sejenisnya untuk menguasai tanah dengan menghapuskan hak milik petani dan menjadikannya hak milik golongan bangsawan atau penguasa saat itu. Petani terpaksa bekerja di tanah milik tuan tanah dan membayar upeti atau sewa kepada tuan tanah karena tidak memiliki tanah. Tuan tanah tidak perlu bekerja karena ia mendapatkan upeti dari petani hamba. Pola hubungan dalam corak produksi feodal adalah tuan tanah-petani.

Tanah pada masa feodal belum menjadi komoditas. Meski pun statusnya belum menjadi komoditas tetapi klaim atas hak milik pribadi sudah ketat. Tidak seperti zaman perbudakan. Tuan tanah yang mati mewariskan tanah kepada keturunannya. Berbeda dengan masa perbudakan. Dala corak produksi perbudakan hak milik akan hilang jika pemiliknya meninggal. Di masa-masa akhir dari feodal mulai muncul pertentangan antara kelas tuan tanah dengan golongan borjuis dan petani. Borjuis awalnya adalah kelas pedagang di sebuah kota di Prancis. Watak pedagang tujuannya hanya mencari keuntungan (profit, efisiensi, akumulatif, produktif) dari barang dagangannya.

Ditemukannya mesin uap sebagai kekuatan produksi, mendorong banyak pabrik-pabrik industri kemudian berdiri. Banyaknya pabrik membuat permintaan akan tanah meningkat. Karena permintaan akan tanah naik maka harga sewa tanah juga naik. Golongan borjuis merasa dirugikan dengan kebijakan dari tuan tanah tersebut begitu juga petani yang mulai resah. Sehingga meletuslah revolusi Perancis dan berakhirlah era feodalisme.

Corak produksi kapitalisme ditandai dengan penguasaan atas sarana produksi oleh kaum borjuis/kapitalis dan pola hubungan sosialnya yaitu proletar/buruh dengan kapitalis. Buruh bekerja pada kapitalis dan kapitalis memberi upah kepada buruh. Berbeda dengan budak yang bekerja tanpa upahan karena budak sepenuhnya dimiliki oleh tuannya sedangkan buruh tidak. Buruh menjual tenaganya kepada kapitalis dan kapitalis membeli tenaganya. Kekuatan produksi dalam corak produksi kapitalis terus menerus berkembang. Karena kapitalisme bersifat progresif. Namun, perkembangan kapitalisme merupakan proses menuju kematiannya. Bisa dilihat dari kontradiksi-kontradiksi antara kekuatan produksi dengan hubungan sosial produksi yang semakin timpang. Prinsip efisiensi dalam corak produksi kapitalis mendorong inovasi atas sarana-sarana produksi (terutama mesin-mesin produksi) menuju otomatisasi.

Dalam kapitalisme terjadi kontradiksi antara buruh dengan kapitalis. Buruh menginginkan upah yang layak, sedangkan kapitalis menginginkan maksimalisasi laba dengan cara meningkatkan produktivitas. Peningkatan produktivitas dilakukan dengan cara yang paling efisien. Sehingga inovasi mesin-mesin produksi yang lebih efisien untuk memperbesar produktivitas diperlukan. Jika mesin-mesin produksi lebih efisien digunakan untuk akumulasi kapital, maka kebutuhan tenaga produktif manusia akan menurun. Kapitalis hanya butuh beberapa pekerja untuk mengoperasikan mesin produksi serta untuk memasarkan hasil produksinya. Karena kebutuhan kekuatan kerja dari tenaga manusia menurun maka dalam hubungan sosial produktif akan muncul kelas baru dari orang-orang yang tidak terserap di industri kapitalis tersebut, yaitu pengangguran, gelandangan, dan lain-lain.

Sedangkan dalam proses pertukaran di pasar, kontradiksi terjadi karena ketidakselarasan jumlah komoditas yang diproduksi dengan kebutuhan pasar. Karena kewajiban kapitalis untuk memaksimalkan laba, maka diwajibkan juga untuk memproduksi komoditas dengan skala besar. Ketika komoditas yang dihasilkan dalam proses produksi tidak selaras dengan kebutuhan akan komoditas terkait, maka akan terjadi krisis. Krisis kelebihan barang produksi maupun inflasi tidak menguntungkan untuk kapitalis.

Marx pernah membuat pernyataan bahwa kapitalisme akan menggali kuburnya sendiri. Meskipun corak produksi kapitalis telah menggali kuburnya sendiri dan ia mampu berjalan menuju pemakamannya sendiri. Kapitalis tidak akan mati tanpa ada yang menguburnya, karena kapitalis tidak bisa mengkuburkan dirinya sendiri. Melalui revolusi oleh kelas buruh, kapitalis baru bisa tenang di alam kuburnya.

Catatan :

[sunting]

Dari setiap transisi corak produksi di setiap fase tersebut tidak terjadi bebarengan di setiap daerah. Peralihan corak produksi dari perbudakan menuju feodal tidak terjadi bebarengan. Begitu juga peralihan corak produksi feodal ke corak produksi kapitalis. Perubahan corak produksi terjadi secara bergilir dari setiap daerah yang berbeda perkembangannya.

Bacaan Tambahan :

[sunting]