Lompat ke isi

Sejarah Pulau Kalimantan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Dahulu Kala, saat dimana batu dan laut sajalah yang mampu menyimpan memori ini, Pulau Kalimantan merupakan suatu daratan datar yang amatlah luas, semua orang dapat berjalan dengan mudah kemanapun mereka mau. Tidak ada bukit yang menjulang maupun tanah landai yang dalam. Hanya ada lautan yang datar untuk berenang dan daratan yang datar untuk berjalan. Manusia tinggal dengan damai di atasnya.

Japanese Attack on Borneo (1941-1942)
Japanese Attack on Borneo (1941-1942)

Sang Dewa wilayah atas, tidak puas dengan hal tersebut. "Mengapa saya harus tinggal dan berjalan di tingkatan yang sama dengan manusia dan hewan? Mengapa mereka harus tinggal di dalam rumah yang sama tingginya dengan tubuhku? Bukankah seharusnya saya berada di atas mereka?"

Sang Dewa amatlah kesal dengan hal tersebut. Sang Dewa mencari tempat untuk membangun rumah yang lebih tinggi daripada manusia dan hewan, sang dewa mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini selama berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun, rasa kesal yang ia pendam selama bertahun-tahun, membuatnya menjadi jelek dan kejam.

Tiba-tiba jawaban muncul dibenaknya. Dia harus membangun sebuah gunung. Gunung akan membuatnya tinggal ditempat yang lebih tinggi daripada manusia biasa. Namun, gunung`seperti apa? Gunung dari apakah yang harus Ia buat? Dia berpikir dan mengamati bebatuan, tanah, rerumputan, semak belukar, dan pohon yang besar. Namun dari semua itu, tidak ada yang cukup mulia untuk membangun gunung dan rumahnya.

Akhirnya Sang Dewa memutuskan emas. Emas berkilau dan bercahaya. Emas juga amatlah indah dan mulia. Emas juga dipercaya sebagai benda yang amat berharga oleh rakyat sekitar. Tentu saja, sebuah gunung emas amatlah mulia untuk rumahnya. Kemudian, ia menyulap semua emas yang ada di muka bumi dan membentuknya menjadi gunung yang menjulang amat tinggi, lebih berkilau di pagi hari dibandingkan dengan cahaya matahari itu sendiri.

Para rakyat amat terkesima, mereka menyanyikan kidung dan pujian serta tunduk kepada sang Dewa. Hal ini amat dihargai dan dianggap sebagai pujian yang amat hangat oleh Dewa wilayah atas.

Di puncak gunung tersebut Sang Dewa membangun sebuah rumah yang memancarkan cahaya yang amatlah terang yang amatlah menusuk mata meskipun gunung emas tidak bersinar. Keindahan cahaya rumah Sang Dewa membuat matahari dan bulan pucat dalam ketakutan.

Para rakyat semakin mengagungkan Dewa dan terkesima pada rumah Sang Dewa. Hal ini lebih menyenangkan hati Sang Dewa Wilayah Atas. Namun tidak menyenangkan Sang Dewa Wilayah Bawah. Sang Dewa Wilayah Bawah menjadi naik darah, didalam kegelapan amarahnya, Ia berkata "Siapakah dia menurutnya? Apakah yang dapat ia perbuat, jika ia telah memiliki sebuah gunung emas dan rumah yang megah? Jika ia mempunyai sebuah gunung emas, aku juga harus memiliki sebuah gunung"

Sang Dewa Wilayah Bawah mencari emas untuk membangun gunungnya sendiri -- lebih tinggi, lebih besar, dan lebih bersinar dibandingkan milik Dewa Wilayah Atas. Namun tidak ada lagi emas yang tersisa di bumi.

Sang Dewa Wilayah Bawah melihat gunung menjulang. Ia tidak mau kalah dan merasa terkutuk. Dan akhirnya, ia tidak dapat menahan keinginannya lagi dan ia memutuskan untuk membangun gunung miliknya dengan apapun yang tersisa -- bebatuan dan tanah.

Sang Dewa Wilayah Bawah membangun sebuah gunung yang luar biasa -- lebih tinggi daripada awan, terbentuk dengan sempurna dan sangat nyaman dipandang mata. Namun tidak bercahaya seperti kilauan emas. Gunung itu tidak menyilaukan mata. Maka para rakyat tertawa dan meremehkannya.

Wajah Sang Dewa Wilayah Bawah menjadi merah, semerah nyala api lahar. Sang Dewa menjadi naik darah. Dia tahu bahwa membangun sebuah gunung yang besar tidaklah cukup. Dia harus membuat gunung yang jauh lebih indah dibandingkan Gunung milik Dewa Wilayah Atas.

Dalam kemarahannya yang luar biasa. Dewa Wilayah Bawah mengambil beberapa batuan disekitar wilayah ia membangun gunung tersebut dan menghancurkannya dengan jari tangannya sekuat tenaga. Ketika ia membuka tangannya, ia melihat bahwa bebatuan tersebut berubah menjadi batuan mulia, seperti batu merah delima, zamrud, safhir, dan permata. Namun sang Dewa masih merasa tidak puas. Ia menyemburkan api dan es ke bebatuan ini hingga menghasilkan bebatuan berkilau yang amat indah.

Sang Dewa Wilayah Bawah meletakkan bebatuan tersebut di permukaan gunungnya. Kemudian ia terus menerus menghancurkan dan menggali lebih banyak bebatuan dan menyemburkan api dan es ke bebatuan tersebut hingga gunung miliknya ditutupi dari atas hingga bawah oleh bebatuan mulia terindah dengan berbagai warna yang tidak dapat dibayangkan keindahannya.

Kini, rakyat juga menyorak-nyoraki dan tunduk kepada Sang Dewa Wilayah Bawah. Mereka menyembah dan tunduk kepada Dewa Wilayah Bawah.

Kedua Dewapun saling bertengkar, mereka saling meneriakkan hinaan melewati tanah landai diantara kedua gunung milik mereka. Petir Menyambar dan pepohonan berjatuhan. Kedua Gunung menjadi semakin landai dan landai, mereka saling menghantam mencoba merubuhkan gunung satu dengan yang lain.

Akhirnya kedua gunung meledak dalam erupsi api lahar yang menutupi langit dengan debu asap dan awan. Lahar mengalir deras melalui puing-puing gunung yang tersisa. Aliran lahar tersebut kemudian membentuk Pulau Kalimantan. Namun emas dan bebatuan berharga terbang tinggi ditiup kemanapun angin berhembus dan terbawa ke langit surga. Bebatuan berharga tersebut jatuh bagaikan hujan tertanam dalam di perut bumi. Bebatuan tersebut menanti hingga manusia pada generasi ke 1000 menggali dan menemukan mereka.

Kalimantan berarti Sungai yang Banyak Intannya. Dan para penduduk lokal percaya, apabila engkau pernah meminum air Kalimantan, suatu saat engkau akan menemukan jalan kembali ke Kalimantan.

*misterpangalayo.com