Lompat ke isi

Sejarah Sumatra (Marsden)/Bab 10

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bahasa

[sunting]

Sebelum saya mempelajari sejumlah hukum, adat, dan kebiasaan penduduk pulau tersebut, saya perlu bertanya beberapa hal dari bahasa-bahasa berbeda yang dipakai di sana, keragaman telah menjadi bahan yang sangat dasar dan mengantar.

Bahasa Melayu

[sunting]

Bahasa Melayu, yang diperkirakan dipakai di semenanjung Malaya, dan dari sana menyebar sendiri ke belahan pulau-pulau timur, yang menjadi lingua franca (bahasa perantara) dari belahan dunia tersebut, dan dipakai setiap saat di sepanjang pantai Sumatra, biasanya tanpa pencampuran bahasa lain di daerah pedalaman Minangkabau dan daerah-daerah bawahan langsungnya, dan dipahami di nyaris setiap belahan pulau tersebut. Bahasa tersebut sangat diminati, dan itu wajar saja, karena kelembutan dan kemanisan dari suaranya, yang memberikannya julukan bahasa Italia dari Timur. Ini selaras dengan logat dan lantunan dalam kata-kata (dengan banyak ucapan-ucapan yang dianggap tepat) dan jarang terjadi penggabungan alot konsonan-konsonan suara. Kualitasnya juga dapat diadaptasi ke dalam bentuk syair, yang sangat diminati orang-orang Melayu.

Lagu

[sunting]

Mereka menjalani waktu luang mereka, yang meliputi sebagian besar hidup mereka, dengan melantunkan lagu-lagu yang sebagian besar, memberikan gambaran, atau gaya bicara yang dipakai sepanjang hidup. Beberapa lagu yang kami dengar, dalam jenis pelantunan, saat mereka bimbang atau senang, merupakan kisah-kisah cinta bersejarah seperti ballad-ballad Inggris lama kami, dan seringkali merupakan karya-karya yang luar biasa. Contoh dari jenis ini adalah sebagai berikut:

Apa guna passang palita,
Kallo tidah dangan sumbu'nia?
Apa guna bermine matta,
Kalla tidah dangan sunggu'nia?

Terjemahan:
Apa manfaatnya menyalakan pelita,
Jikalau tidak dengan sumbunya?
Apa manfaat bermain mata,
Jikalau tidak dengan sungguhnya (bersungguh-sungguh)?

Namun, harus diamati bahwa ini seringkali mengandung materi yang sangat sulit untuk melacak hubungan antara arti kiasan dan harfiah dari stanza tersebut. Khususnya dalam komposisi pantun, yang karena bagian-bagian kecil semacam itu disebut, yang lebih panjang disebut dendang, merupakan ritmus dan figur, terutama dendang, yang kami anggap sebagai nyawa dan jiwa puisi. Saya menyimpulkannya dalam upaya agar saya dapat membuat pantun dengan komposisi buatanku sendiri di kalangan penduduk asli sebagai karya kedaerahan mereka. Bahannya adalah dialog antara seorang kekasih dan seorang gundik kaya: ekspresi yang sebenarnya dari kejadian tersebut, dan dalam beberapa tingkat karakteristik. Ini dilalui dengan beberapa, selain wanita tua yang lebih kritis ketimbang yang lain yang menyatakan bahwa ini adalah "katta katta saja"--lebih ke arah perbincangan; yang artinya bahwa ini adalah tujuan dari ekspresi syair dan figuratif yang terkandang dalam puisi mereka sendiri. Bahasa mereka umumnya dipakai bersifat peribahasa dan pengkalimatan. Jika wanita muda dangan anaknya sebelum menikah yang mereka amati adalah:

daulu buah, kadian bunga--
buah sebelum bunga.

Terjemahan:
Terlebih dahulu buah, kemudian bunga--
buah sebelum bunga.(?)

Dan jika mendengar kematian seseorang, yang mereka katakan:

nen matti, matti; nen idup, bekraja:
kallo sampi janji'nia, apa buli buat?

Terjemahan:
(Orang) yang mati, ya matilah; (orang) yang hidup, (tetap) bekerjalah:
jikakalau sudah takdirnya, apa boleh dikata?

Frase akhir yang selalu dipakai mengekspresikan esensi keniscayaan mereka, dan lebih menonjol ketimbang terjemahan yang dapat saya kerjakan.

Abjad Arab Yang Dipakai Oleh Orang-Orang Melayu

[sunting]

Tulisan mereka memakai abjad Arab, dengan pengubahan untuk menyelaraskan abjad tersebut dengan bahasa mereka, dan, akibat penerapan agama mereka dari cara yang sama, sejumlah besar kata Arab dipadukan dengan kata Melayu. Portugis terlalu menambahkannya dengan banyak istilah, terutama untuk gagasan-gagasan seperti yang dimiliki oleh mereka semenjak masa penjalajah Eropa ke wilayah timur. Mereka menulis di atas kertas, memakai tinta dari komposisi mereka sendiri, dengan pena yang terbuat dari tangkai pohon anau. Saya tak pernah menemukan bahwa orang-orang Melayu memiliki abjad tertulis asli apapun yang selaras dengan diri mereka sendiri sebelum mereka memakai abjad yang kini dipakai; namun diyakini bahwa mungkin hal semacam itu telah hilang, serupa dengan nasib yang mungkin juga dialami Batak, Rejang, dan etnis-etnis lainnya di Sumatra, yang setiap hari memakai abjad Arab. Sehingga, saya seringkali berkesempatan untuk mengamati bekas bahasa yang ditulis oleh orang-orang pedalaman dalam abjad kedaerahan; yang akan menyiratkan bahwa perkataan tersebut nampaknya yang mula-mula dipakai. Kitab-kitab Melayu sangat banyak jumlahnya, baik dalam bentuk prosa dan bait. Kebanyakan dari karya-karya tersebut adalah tafsir-tafsir al-Qur'an, dan kisah percintaan atau kepahlawanan lainnya.

Bahasa Melayu termurni atau paling elehgan dikatakan, dan dengan pernyataan paling masuk akal, dipakai di Malaka. Ini berbeda dari dialek yang dipakai di Sumatra, utamanya di wilayah sini (di Bengkulu), yang kata-katanya, pada bagian akhir, dibuat dengan mengucapkan "o", sedangkan yang berada pada bagian awal, diucapkan pada akhiran "a". Dengan demikian, alih-alih menyebut "lada", mereka justru malah menyebutnya menjadi lado. Kata-kata yang berakhiran dengan "k" dalam penulisan di Sumatra, seringkali dihaluskan dalam pengucapan, dengan menembahkannya; seperti tabbe bannia menjadi tabbek banniak ("salam sejahtera'); namun orang-orang Malaka, dan secara khusus orang-orang di wilayah yang lebih timur, yang memakai dialek yang lebih luas, umumnya mereka melafalkan dengan suara penuh. Pengucapan pribadi juga merupakan suatu hal yang khas di daerah masing-masing.

Upaya-upaya dilakukan untuk mengkomposisikan tata bahasa dari pengucapan ini atas prinsip-prinsip pada pengucapan rumpun bahasa Eropa dilakukan. Namun, pembuatan hal semacam itu tidaklah berarti. Tak ada ketetapan pengucapan atau penulisan yang dapat menjadi kasus, deklensi, perasaan, atau konjugasi. Semuanya dilakukan dengan penambahan kata-kata yang memberikan pengartian menonjol, yang seharusnya tak disamakan dengan akusilier atau subservien partikel pada kata lainnya. Contohnya untuk kata "rumah"; deri pada rumah artinya "dari sebuah rumah"; namun pengucapan tanpa pemakaian atau pengartian menyatakan bahwa deri pada adalah tanda kasus ablatif dari pengucapan tersebut, karena itu setiap preposisi harusnya secara merata mengharuskan kasus yang sesuai, dan juga, sampai dan dari, mereka seharusnya memakai kata deatas rumah, di atas rumah. Sehingga pengucapan: kallo saya buli jalan, (artinya "jikalau saya diperkenankan jalan"): ini mungkin dapat berarti penekanan pendahuluan tak sempurna dari subjunktif atau perasaan potensial dari kata jalan; sehingga kalimat ini terdiri dari pengartian kata jalan, buli, dll sebagai kata-kata konstituen. Saya katakan, tak selaras membicarakan kasus pengucapan yang tak mengubah pengartiannya, atau perasaan dari sebuah kata yang tak memperlihatkan bentuknya. Serangkaian pemakaian pengamatan mungkin dikumpulkan untuk mengucapkan bahasa tersebut dengan baik dan benar, namun kami harus mandiri dengan aturan teknis bahasa yang terhimpun pada prinsip-prinsip berbeda.*

(*Catatan kaki. saya tertantang untuk melakukan upaya ini, dan juga menyiapkan kamus bahasa yang merupakan tujuanku untuk mencetak dengan sedikit penundaan karena keadaan yang akan dihadapi.)

Orang Pedalaman Yang Memakai Bahasa Berbeda Dari Melayu

[sunting]

Disamping bahasa Melayu, terdapat berbagai bahasa yang dipakai di Sumatra yang meskipun tak hanya bentuk manifestasi di kalangan mereka sendiri, namun juga bahasa umum yang ditemukan umum, dan asli di seluruh kepulauan laut timur; (yang terbentang) dari Madagaskar sampai wilayah-wilayah temuan terpencil dari Kapten Cook; yang memiliki kepemahaman yang lebih luas ketimbang pengucapan Romawi atau lainnya yang telah ditelaah. Contoh-contoh yang dipersengketakan dari hubungan dan kemiripan yang saya lihat dalam kertas yang diberikan kepadaku oleh Society of Antiquaries yang diterbitkan oleh mereka dalam Archaeologia, Volume 6. Di tempat-tempat berbeda, bahasa-bahasa tersebut kurang lebih telah tercampur atau dimaknai secara keliru, namun antara cabang yang tak bersinggungan, terlihat kesamaan dari banyak kata radikal, dan dalam beberapa kasus, sangat jauh dari pengartian satu sama lain dalam titik situasi, seperti halnya Filipina dan Madagaskar, pengambilan kata-kata lebih kepada yang teramati dalam dialek-dialek provinsi tetangga dari kerajaan yang sama. Untuk menyajikan perbandingan bahasa yang lebih mencolok, dan jika memungkinkan untuk menampilkan semua kata yang dipakai di seluruh dunia dalam satu sudut pandang, merupakan bahan yang tak pernah hilang dari observasi saya, namun saya berharap dapat menyelesaikan karya semacam itu dengan ketiadaan pengartian tanpa arti.

Abjad-Abjad Yang Biasa Ditulis

[sunting]

Bahasa-bahasa utama dari rumpun bahasa Sumatra adalah Batak, Rejang, dan Lampung, yang perbedaannya tak hanya melalui perbincangan dalam hal keadaan yang mereka ekspresikan berbeda namun juga abjad atau aksara yang biasa ditulis. Namun apakah perbedaan ini nampak radikal dan esensial, atau hanya dihasilkan oleh keadaan dan waktu, mungkin dianggap meragukan; dan, dalam rangka agar pembaca dapat membentuk kesimpulan mereka sendiri, sebuah piring yang berisi karakter-karakter abjad dari setiap bahasa, dengan mode dari penerapan markah-markah ortografi dari kata-kata dalam bahasa Rejang yang utamanya dimasukkan. Ini merupakan hal yang luar biasa, dan mungkin satu-satunya dalam sejarah penunjangan manusia, yang terbagi dalam suku bangsa di pulau yang sama, dengan klaim-klim yang sama terhadap keaslian, dalam tahap-tahap peradaban yang nyaris setara, dan mengucapkan bahasa yang berasal dari sumber yang sama, harus memakai abjad-abjad berbeda dari bahasa satu sama lain, serta dari belahan dunia lainnya.

Namun, abjad yang dipakai di pulau tetangga; yakni Jawa (yang dituturkan oleh Corneille Le Brun), yang dipakai oleh etnis Tagalog dari Filipina (yang dituturkan oleh Thevenot), dan etnis Bugis dari Sulawesi (yang dituturkan oleh Kapten Forrest), setidaknya memiliki banyak keragaman dari bahasa-bahasa tersebut dan dari bahasa satu sama lain seperti halnya Rejang dari Batak. Cendekiawan Sanskerta pada saat yang sama akan menerima beberapa analogi mereka untuk aransemen ritmikal, tergantung dengan pengucapan, yang membedakan abjad bahasa kuno tersebut yang pengaruhnya dikenal luas di wilayah tersebut. Di daerah Aceh, dimana bahasanya sangat berbeda dari Melayu, abjad Arab tak pernah diadopsi, dan pada catatan ini, bahasa tersebut sedikit mengklaim keasliannya.

Pada Kulit Pohon Dan Bambu

[sunting]

Manuskrip-manuskrip mereka dari gulungan manapun ditulis dengan tinta buatan mereka sendiri pada kulit dalam pohon yang dipotong menjadi selip-selip yang memiliki panjang beberapa kaki dan ditumpuk bersamaan dalam bentuk persegi; setiap persegi atau gulungan dijawab pada sebuah laman atau lembar. Untuk kejadian paling umum, mereka menulis di bagian luar dari olahan bambu, terkadang secara keseluruhan namun umumnya dipotong menjadi potongan dua atau tiga inci, dengan titik senjata dikenakan di sampingnya, yang dipakai untuk keperluan penggayaan; dan tulisan-tulisan tersebut, atau lebih kepada ukiran, seringkali ditampilkan dengan tingkat kerapian yang menonjol. Sehingga, orang Tionghoa juga dikatakan oleh para sejarawan mereka menulis pada potongan bambu sebelum mereka menciptakan kertas. Dari dua jenis manuskrip ini, saya banyak menemukan contoh dalam penelitianku. Garis-garis dibentuk dari kiri sampai kanan, berbeda dengan praktek orang-orang Melayu dan Arab.

Di Jawa, Siam (Thailand), dan belahan timur lainnya, selain bahasa umum dari daerah tersebut, terdapat bahasa sopan yang hanya dipakai oleh orang-orang berpangkat; sebuah kekhasan yang diciptakan untuk keperluan menghindari istilah vulgar, dan menginsipirasi mereka dengan kehormatan untuk apa yang mereka tak mengerti. Orang-orang Melayu juga memiliki bahasa dalam, atau gaya sopan mereka, yang terdiri dari sejumlah ekspresi yang secara familiar tak dipakai dalam pengucapan atau penulisan umum, namun dengan tanpa istilah-istilah yang berasal dari bahasa yang berbeda, melebihi, dalam bahasa Inggris, tingkat gaya dari para penyair dan sejarawan mereka. Di kalangan penduduk Sumatra pada umumnya perbedaan kondisi tersebut tak teramati dengan perbedaan yang sangat besar dari perilaku antar orang-orangnya.