Lompat ke isi

Sejarah Sumatra (Marsden)/Bab 5

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Buah-Buahan[sunting]

Alam, seperti yang dikatakan oleh seorang penulis terkemuka,[a] nampaknya memberikan kesenangan yang terkumpul dalam produksi paling disukainya di daerah-daerah Melayu; dan dengan rasa percaya, saya pikir ini menandakan bahwa tak ada daerah di dunia yang dapat memiliki kesetaraan dan ragam dari buah-buahan asli; karena meskipun seluruh buah tersebut tak dapat dianggap demikian, tetap ada alasan untuk menyatakan bahwa ada bagian yang lebih besar, dari penduduk asli, yang tak pernah nampak di kalangan pekerja terkecil dalam menunjang atau bahkan menanam seperti halnya tanaman tersebut tumbuh di alam, dapat sulit menduga apa yang dikorbankan untuk mengimpor buah-buahan eksoti tersebut. Sebagian besar tumbuh di alam liar, dan sisanya ditanam dengan cara tak biasa dan kurang perawatan di sekitaran desa-desa mereka.

(a Les terres possedees par les Malais, sont en general de tres bonne qualite. La nature semble avoir pris plaisir d'y placer ses plus excellentes productions. On y voit tous les fruits delicieux que j'ai dit se trouver sur le territoire de Siam, et une multitude d'autres fruits agreables qui sont particuliers a ces isles. On y respire un air embaume par une multitude de fleurs agreables qui se succedent toute l'annee, et dont l'odeur suave penetre jusqu'a l'ame, et inspire la volupte la plus seduisante. Il n'est point de voyageur qui en se promenant dans les campagnes de Malacca, ne se sente invite a fixer son sejour dans un lieu si plein d'agremens, dont la nature seule a fait tous les frais. Voyages d'un Philosophe, par M. Poivre, p. 56.

Terjemahan bebas:

"Tanah-tanah yang dimiliki orang Melayu pada umumnya memiliki kualitas yang sangat baik. Alam tampaknya senang menempatkan produksinya yang paling bagus di sana. Orang melihat di sana semua buah-buahan lezat yang telah saya katakan dapat ditemukan di wilayah Siam, dan banyak buah-buahan enak lainnya yang khas dari pulau-pulau ini. Seseorang menghirup udara yang harum dengan banyak bunga menyenangkan yang mengikuti satu sama lain sepanjang tahun, dan yang bau harumnya menembus ke dalam jiwa, dan mengilhami kegairahan yang paling menggoda. Tidak ada pelancong yang, saat berjalan-jalan di pedesaan Malaka, tidak merasa diundang untuk menetap di tempat yang begitu lengkap fasilitasnya, yang semua biayanya ditanggung oleh alam sendiri."

Manggis[sunting]

PLATE 3. BUAH MANGGIS, GARCINIA MANGOSTANA.
Digambar oleh J. Swaine.
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.

Manggis atau manggista (Garcinia mangostana, L.) adalah kebanggaan daerah tersebut, yang secara eksklusif masuk, dan, menurut anggapan umum, dinyatakan dalam anggapan orang-orang Eropa, sebagai salah satu buah-buahan India. Kualitas karakteristiknya memiliki rasa yang sangat disukai, tanpa pengayaan atau pelezat. Buah tersebut berwarna merah kecoklatan, dan ukuran apel pada umumnya, yang memiliki kulit yang tebal, terkadang keras di bagian luar, namun lembut dan lezat, berisi biji yang ditutupi dengan bulir putih sempurna dan berair, yang sebagian termakan, atau, lebih tepatnya, dapat dihisap, karena buah tersebut larut dalam mulut. Kualitasnya melebihi yang kami kira, dan buah tersebut dapat disantap dalam jumlah sepuasnya tanpa bahaya dari kejenuhan, atau dampak cedera lainnya. Musimnya nampaknya kembali secara tak teratur, dan periodenya singkat.

Durian[sunting]

Durian (Durio zibethinus) juga umum di daerah-daerah Malaya. Ini adalah buah kaya namun kuat dan bahkan memiliki rasa serta bau yang buat, bagi orang-orang yang tidak akrab akan buah tersebut, dan kualitasnya sangat besar; sehingga penduduk asli (dan penduduk lain yang berada di tempat tanaman buat tersebut tumbuh) sangat menyukainya, dan pada masa kelanjutannya dalam musim nyaris karena kelezatannya dan bulir mirip krim; sementara kulit buahnya, yang dilempar ke sekitaran pasar, menimbulkan bau di tempat sekitarnya. Pohonnya besar dan lebat; dedaunannya kecil, namun panjang dan tajam. Bunga-bunganya tumbuh di bagian tangkai dan cabang yang besar. Daun bunganya berjumlah lima, kuning keputihan, dikelilingi lima cabang stamina, kelompoknya terdiri dari sekitar dua belas buah, dan setiap benang sari memiliki empat kepala sari. Ujung lancipnya berada di bagian atas. Saat stamina dan daun bunga berjatuhan, bagian pangkalnya mirip dengan jamur, dan nyaris berbentuk paprika. Buah tersebut umumnya nampak seperti sukun, namun lebih besar, dan bentuknya lebih bulat.

Sukun[sunting]

Sukun kapas, dan sukun biji atau kalawi, adalah dua spesies pohon buah sukun (Artocarpus incisa). Sukun kapas merupakan buah asli, layak pangan, tanap biji dan disebarkan lewat pemotongan akar. Meskipun tak berarti tak umum, buah tersebut dikatakan sebetulnya tak berasal dari Sumatra. Sebaliknya, kalawi berada dalam jumlah besar, dan kulit pohonnya dipakai oleh penduduk daerah tersebut untuk dirajut menjadi busana pekerja mereka. Dedaunan kedua spesies tersebut sangat menonjol, seperti halnya ara, namun lebih panjang. Sukun dipotong dalam bentuk potongan-potongan atau direbus memakai api, disantap dengan gula, dan disantap begitu saja. Namun, buah tersebut tak dapat dianggap sebagai bahan pangan, dan saya menduga bahwa kualitasnya rendah untuk suku Kepulauan Laut Selatan.

Nangka[sunting]

Nama Malabar dari jacca, atau nangka, diterapkan kepada champadak (cempedak) atau chapada (Artocarpus integrifolia, L. dan Polyphema jaca, Lour.) dan kepada nangka (Artocarpus integrifolia, L. dan Polyphema champeden, Lour). Cempedak memiliki dedaunan yang halus dan tajam; sementara nangka memiliki daun yang melingkar, mirip dengan jambu mete. Ini merupakan buah yang sangat umum, kurang dihargai, dan berukuran besar, memiliki, dalam beberapa contoh, lima puluh atau enam puluh pon. Keduanya tumbuh dalam cara biasa dari tangkai pohon. Bagian luarnya bundar, mengandung sejumlah biji kecil atau biji besar (yang, ketika digoreng, memiliki rasa seperti kastanye) menutupi bagian yang kaya akan daging, dan bagi orang-orang asing, bau dan rasanya terlalu kuat, namun menyelerakan. Ketika buah buah tersebut matang, penduduk asli menutupinya dengan bungkusan atau bahan serupa agar menghindarkannya dari burung. Dari perasan pohon ini, mereka membuat sebuah jenis bird-lime: kayu kuning dipakai untuk berbagai keperluan, dan akarnya dijadikan alat warna.

Mangga[sunting]

Mangga dan mampalam (Mangifera indica, L.) dikenal sebagai buah yang kaya rasa dari jenis plumb, dan ditemukan di sini dalam jumlah besar; namun ada beberapa jenis kelas bawah di samping ambachang, atau Mangifera foetida, dan tais.

Jambu[sunting]

Dari jambu (Eugenia, L.) terdapat beberapa spesies, salah satunya adalah jambu merah atau kling (Eugenia malaccensis) adalah jenis paling banyak menurut tabel, dan juga jenis terbesar. Dalam bentuknya, buah tersebut sangat mirip dengan pir, namun tak bergitu lancir di bagian dekat tangkai. Kulit luarnya, yang sangat sempurna, berwarna merah yang indah dan mendalam, bagian dalamnya berwarna putih. Nyaris keseluruhan buahnya layak dimakan, dan saat menggigitnya, buah tersebut memiliki rasa yang enak; namun pada bagian lainnya, buah tersebut kenyal dan tak dapat dicerna. Dalam hal bau dan bahkan rasanya, buah tersebut lebih harum ketimbang mawar, namun kualitasnya lebih khas pada spesies lainnya, yang disebut jambu air mawar, atau jambu air mawar. Tidak ada yang dapat lebih indah ketimbang kembangnya, menambah dan memperlama stamina serta berwarna merah jambu muda. Pohonnya tumbuh menakjubkan, biasa, berbentuk kerucut dan memiliki dedaunan lancip, hijau tua dan besar. Jambu air (Eugenia aquea) adalah buah yang enak dan berpenampilan indah, warnanya merupakan perpaduan putih dan merah jambu; namun rasanya yang asam tak sama dengan jambu merah.

Pisang[sunting]

Dari pisang, atau plantain (Musa paradisiaca, L.) penduduk asli menghasilkan dua puluh ragam, termasuk pisang Hindia Barat. Beberapa ragamnya meliputi pisang amas, atau pisang kuning kecil, yang dikatakan sangat lewat; dan juga pisang raja, pisang dingen, dan pisang kalle.

Nanas[sunting]

Nanas (Bromelia ananas), meskipun bukan tanaman asli, bertumbuh di sini dalam jumlah besar dengan penanaman yang biasa. Beberapa orang berpikir bahwa buah tersebut berkualitas rendah untuk buah-buahan yang diproduksi dari rumah-rumah kaca di Inggris; namun pendapat ini dipengaruhi oleh kecilnya harga buah tersebut, yang tak mencapai dua atau tiga pence. Dengan perhatian setara, buah tersebut dapat berkualitas lebih tinggi, dan ragamnya ditonjolkan. Penduduk asli menyantapnya dengan garam.

Jeruk[sunting]

Jeruk (limau manis) dari banyak jenis, memiliki kualitas tinggi. Buah yang disebut limau japan, atau jeruk Jepang, adalah buah terbaik, yang umumnya tak diketahuid Eropa. Di dalamnya, bulir-bulirnya menempel namun tercerai berai satu sama lain, dan secara keseluruhan, mengandung kuantitas tak biasa dari minyak esensial. Limau gadang (Citrus aurantium), yang disebut di Hindia Barat sebagai shaddock (dari nama kapten yang membawakannya), di sini sangat segar, dan terbagi dalam jenis putih dan merah. Limau kapas, dan limau kapas panjang, sangat berlimpah. Penduduk asli juga mengenal limau langga, limau kambing, limau pipit, limau sindi masam, dan limau sindi manis. Limau karbau tidaklah umum di daerah tersebut.

Jambu Biji[sunting]

Jambu biji (Psidium pomiferum), dan juga jambu protukal (untuk Portugal, akibat karena mereka anggap buah tersebut diperkenalkan oleh orang-orang daerah tersebut) memiliki rasa yang beberapa orang sukai, dan orang-orang lainnya tak sukai. Bulir dari jenis merah terkadang dicampur dengan krim oleh orang-orang Eropa, untuk meniru stroberi, dari jenis yang diproduksi dari tanah asli mereka; dan buah tersebut tidaklah lazim, di antara serangkaian buah-buahan timur terkaya, nampak seperti codling Inggris atau gooseberry.

Srikaya[sunting]

Siri kaya, atau srikaya (Annona squamosa), diambil namanya karena bulirnya yang banyak dan putih, dan dapat disantap dengan sendok. Buah nona, sebagaimana yang disebut oleh penduduk asli (Annona reticulata), adalah spesies lain dari buah yang sama, namun tak memiliki rasa yang bagus.

Pepaya[sunting]

Kaliki, atau pepaya (Carica papaja), adalah buah besar, substansial, dan utuh, yang nampak seperti jenis melon lembut, namun tak memiliki rasa berkadar tinggi. Bulirnya kuning kemerahan, dan bijinya, yang nyaris seukuran biji lada, memiliki rasa pedas seperti lada. Semangka, yang disebut di sini sebagai samangka (Cucurbita citrullus) berkualitas lebih tinggi. Melon batu atau wangi tidaklah umum.

Asam Jawa[sunting]

Asam jawa menghasilkan pohon yang besar dan kaya, dengan dedaunan kecil, dan mampu meredakan demam, sehingga sangat sering digunakan. Penduduk asli menyajikannya dengan garam, dan memakainya sebagai bahan asam dalam kari dan hidangan mereka yang lain. Buah tersebut umumnya dikenal karena tak memiliki rasa manis, dan merujuk kepada banyak buah mereka yang ketika masih hijau ketika dalam keadaan matang.

Rambutan[sunting]

PLATE 4. RAMBUTAN, Nephelium lappaceum.
L. Wilkins delt. Digambar oleh J. Swaine.
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.

Rambutan (Nephelium lappaceum, L. Mant.) berpenampilan tak seperti kebanyakan buah arbutus, namun lebih besar, berwarna lebih merah muda, dan ditutupi dengan rambut-rambut kasar dari duri lunak, sehingga dinamai demikian. Bagian yang disantap adalah bulir bergelatin dan nyaris transparan mengelilingi biji, kaya rasa dan memiliki rasa asam yang menyenangkan.

Lanseh[sunting]

PLAKAT 5. BUAH LANSEH, Lansium domesticum.
L. Wilkins delt. Hooker Sc.
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.
PLAKAT 6. BUAH RAMBEH, SEBUAH SPESIES LANSEH.
Maria Wilkins delt. Digambarkan oleh J. Swaine.
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.

Lanseh, sebagaimana yang diketahui namun sedikit yang diketahui para botanis, adalah buah oval kecil, berwarna coklat keputihan, memiliki kulit luar tipis, terbagi dalam lima lapisan, yang bijinya ditutup dengan bulir daging, agak pahit, dansesuai dengan rasanya. Kulitnya mengandung sari, yang sangat pahit, dan, jika dikuliti, buah tersebut dapat menjaga kualitas bulirnya. M. Correa de Serra, dalam les Annales du Museum d'Histoire Naturelle Tome 10 laman 157 plate 7, memberikan deskripsi Lansium domesticum dari spesimen-spesimen buah yang disimpan dalam koleksi Sir Joseph Banks. Chupak, air-air, dan rambe adalah spesies atau ragam dari buah yang sama.

Blimbing[sunting]

Dari blimbing (Averrhoa carambola) sebuah buah pentagonal, mengandung lima biji datar, dan sangat asam, terdapat dua jenis, yang disebut penjuru dan besi. Daun dari jenis besi berukuran kecil, tumpang tindih dan berwarna kehijauan; sementara buah dari jenis penjuru tumbuh cepat dan berwarna hijau keperakan. Terdapat juga blimbing bulu (Averrhoa billimbi), atau spesies lembut. Buah tersebut umumnya dipakai untuk masak, dan untuk keperluan dimana asam yang kuat diharuskan, seperti dalam membersihkan bagian besi pada keris mereka dan menuangkannya pada kain sutra, yang banyak dipakai oleh mereka. Cheremi (Averrhoa acida) nyaris berkerabat dengan blimbing besi, namun buahnya lebih kecil, berukuran tak biasa, tumbuh cepat pada bagian tangkainya, dan terdiri dari biji keras atau batu tunggal. Buah tersebut merupakan jenis umum untuk buah-buahan asam kami.

Kataping[sunting]

Kataping (Terminalia catappa, L. dan Juglans catappa, Lour.) mirip dengan almond baik pada bagian luarnya idan rasa bijinya; namun alih-alih dipisah menjadi dua bagian, seperti almond, buah tersebut membentuk lapisan spiral, dan berkembang seperti kuntum bunga mawar, namun secara berkelanjutan, dan tidak berbeda dengan laminae.

Spesies Kastanya[sunting]

Barangan (Fagus sp.) mirip dengan kastanya. Pohonnya besar, dan buahnya terkadang tumbuh satu, dua dan tiga dalam sekam. Jerring, Mimosa sp., mirip dengan buah yang sama, namun lebih besar dan berbentuk lebih tak biasa ketimbang barangan. Pohonnya lebih kecil. Tapus (dikatakan merupakan genus baru yang masuk Tricoccae) seperti beberapa analogi, namun sangat berbeda, dengan kastanya. Tumbuhan tersebut lebih seperti tiga kacang dalam satu sekam, membentuk wujud bulat lonjong. Jika dimakan tanpa direbus, buah tersebut dikatakan membuat mabuk. Pohonnya besar.

Kamiling[sunting]

PLATE 7. KAMILING ATAU BUAH KRAS, Juglans camirium.
L. Wilkins delt. Diengravir oleh J. Swaine.
Diterbitkan oleh W. Marsden, 1810.

Buah bernama kamiri, kamiling, dan lebih umum disebut buah kras, atau buah keras (Camirium cordifolium, Gaert. dan Juglans camirium, Lour.) memiliki rasa sangat mirip dengan kacang kenari dan mengandung biji; namun cangkangnya lebih keras dan tak dapat dibuka dengan cara yang sama. Para penduduk asli perbukitan memakainya sebagai pengganti kelapa, baik dalam memasak dan untuk mengolah minyak.

Rotan[sunting]

Rotan salak (Calamus zalacca, Gaert.) menghasilkan buah, bulirnya memiliki rasa manis, asam, dan menyenangkan. Bagian luarnya, seperti buah rotan lainnya, ditutup dengan kulit, atau berpenampilan keranjang. Buah tersebut terkadang mengandung, satu, dua, dan tiga biji, dari zat yang merangsang.

Jambu Mete[sunting]

Buah dan biji jambu, yang disebut jambu muniet, atau jambu monyet (Anacardium occidentale), dikenal karena rasa asamnya yang kuat dari buahnya, dan kualitas minyak yang terkandung dari bijinya, dari merasakan yang tak berpengalaman seringkali mengalaminya.

Delima[sunting]

Delima atau dalima (Punica granatum) berkembang di sana, karena semua iklimnya hangat.

Anggur, dll[sunting]

Perasan anggur ditanam dengan sukses oleh orang-orang Eropa untuk sajian mereka, namun tak ditanam oleh penduduk daerah tersebut. Di sana, ditemukan spesies anggur liar di hutan, yang disebut pringat (Vitis indica); dan juga stroberi, yang bunganya berwarna kuning, dan buahnya memiliki sedikit rasa. Di samping itu, terdapat banyak buah-buahan lainnya karena tumbuh liar, buahnya yang memiliki rasa murni, dan lainnya yang lebih sedikit lebih rendah ketimbang beri umum kami, namun ditunjang oleh budaya. Buah-buahan tersebut meliputi buah kandis, sebuah ragam dari garcinia, buah malaka (Phyllanthus emblica), rukam (Carissa spinarum), bangkudu atau mangkudu (Morinda citrifolia), sikaduduk (melastoma), kitapan (Callicarpa japonica).

Bunga-Bungaan[sunting]

"Kau bernapas di negara orang-orang Melayu", (kata penulis yang di atas[a]), "udaranya penuh dengan wewangian bunga-bungaan tak terhitung banyaknya yang sangat harum, yang bermekaran sepanjang tahun, wangi manisnya merasuk ke sukma, dan menghasilkan sensasi yang menggairahkan jiwa."

Walaupun gambar mewah ini digambarkan dengan tinta yang sangat panas, namun tidak ada yang tahu akan tingkat kebenarannya.

Orang-orang dari daerah tersebut menanam bunga sebagai hiasan, dan mendorong pertumbuhan mereka, serta berbagai perdu dan pohon yang harum.

Kenanga[sunting]

Kenanga (Uvaria cananga, L.) merupakan pohon berukuran terbesar, dilampaui oleh beberapa jenis tumbuhan di hutan, selalu ditempatkan di bagian utama, pada catatan itu, dalam deskripsi yang menjelaskan bunga-bungaan. Bunga tersebut berwarna kuning kehijauan, yang sangat berbeda dari dedaunannya, yang dahan-dahannya menggantung dengan cara yang biasa. Menjelang senja, jika sore itu hening, kami merasakan harum yang terasa pada kejauhan beberapa ratus yard.

Cempaka[sunting]

Cempaka (Michelia champaca). Pohonnya berkembang biasa, berbentuk kerucut, dan dijadikan hiasan di taman-taman. Bunganya berjenis tulip kecil, namun tertutup dan menghadap ke atas; warnanya kuning tua, berbau kuat, dan terasa dari kejauhan. Tumbuhan tersebut ditutupi lapisan rambut, baik oleh wanita, dan oleh pemuda yang ditujukan untuk kekokohan.

Tanjung[sunting]

Bunga tanjung (Mimusops elengi, L.) Sebuah pohon murni, kaya akan lapisan, berwarna hijau tua; bunganya kecil, tersebar, berwarna putih kekuningan, dan dikenakan pada rangkaian bunga oleh wanita; harumnya, meskipun dihirup dari kejauhan, sangat kuat ketika didekati. Buahnya berbiji, mengandung biji datar kehitaman yang besar.

Gardenia[sunting]

Sangklapa (Gardenia flore simplice). Sebuah perdu indah dengan dedaunan yang sangat hijau tua, berujung lancip; bunganya berwarna putih murni, tanpa menampakkan stamina atau pistil, daun-daun bunga tumbuh menyudut satu sama lain. Tumbuhan tersebut memiliki sedikit atau tak memiliki harum. Kaca piring (Gardenia florida, disebut oleh Rumphius dengan nama catsjopiri) adalah bunga ganda putih besar, yang mengeluarkan wangi yang menyenangkan dan tidak kuat.

Hibiskus[sunting]

Bunga raya (Hibiscus rosa sinensis) adalah perdu terkenal, dengan dedaunan hijau kekuningan, bergerigi dan mengeriting. Dari salah satu jenisnya, bunganya berwarna merah, menghasilkan sari ungu tua, dan ketika daunnya menghasilkan warna hitam muda, dari situlah tumbuhan tersebut memiliki nama vulgar kembang sepatu. Jenis kembang lainnya berwarna putih. Tumbuhan tersebut tak memiliki bau.

Plumeria[sunting]

Bunga atau kumbang kamboja (Plumeria obtusa) yang juga disebut bunga kuburan, dari keberadaannya selalu ditanam di sekitaran kuburan. Bunganya besar, putih, kuning di bagian tengah, terdiri dari lima daun bunga yang sederhana, lembut, tebal, tanpa pistil atau stamina yang terlihat, dan memiliki wangi yang kuat. Daun dari pohon tersebut memiliki ukuran yang panjang, lancip, berwarna hijau tua, yang menonjol adalah bahwa bijinya melingkar dari bagian tengah sampai bagian ujung, membentuk bentuk yang indah. Pohon tersebut ditumbuhkan dengan cara yang tak biasa, dan meskipun masih muda, tumbuhan tersebut memiliki penampilan yang antik.

Nyctanthes[sunting]

Bunga melati dan bunga malur (Nyctanthes sambac) merupakan nama berbeda untuk tumbuhan perdu yang sama, yang disebut mugri di Bengal. Tumbuhan tersebut memiliki bunga putih yang indah, bears a pretty white flower, memunculkan aroma yang sangat harum, menurut kebanyakan orang, ketimbang tumbuhan lain yang mekar di daerah tersebut. Bunga tersebut banyak dikenakan oleh para perempuan; terkadang sebagai karangan bunga, dan berbagai kombinasi, bersama dengan bunga tanjong, dan kemudian kuncup yang belum mekar meniru rangkaian mutiara. Ini seharusnya menandai bahwa pemanfaatan bunga (disebut bungo di bagian barat daya Sumatra), nyaris selaras dengan nama yang sebenarnya, sebagaimana buah. Terdapat juga malati china (Nyctanthes multiflora); bunga malati susun (Nyctanthes acuminata) yang elegan.

Pergularia[sunting]

Dan yang terselebrasi, bunga tonking (Pergularia odoratissima), yang memberikan kemanisan yang banyak tersebut di Inggris lewat partisipasi budaya dan liberal sukses Sir Joseph Banks. Di Madras, bunga tersebut dapat ditemukan di pantai Barat, seperti halnya Sumatra, tempat bunga tersebut juga ditemukan. Di Bengkulu, penemuan yang sama secara familiar ditujukan kepada bunga tali-tali (Ipomoea quamoclit), sebuah bunga indah, kecil, monopetal, terbagi dalam lima jenis, dan menutup saat senja. Dari warna mudanya, bunga tersebut dinamai Flos cardinalis oleh Rumphius. Tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan mewah, dengan daun mirip rambut.

Pavetta indica, dll[sunting]

  • Angsuka, atau bunga jarum-jarum (Pavetta indica), didapatkan dari Rumphius, pada catatan soal warna merah mekarnya dari calices panjangnya, yang bernama Flamma sylvarum peregrina.
  • Bunga marak (Poinciana pulcherrima) adalah bunga yang sangat bagus, warnanya merupakan perpaduan kuning dan kizmir, dan bentuknya mengingatkan pada jambul merak, diambil dari nama Melayunya, yang diterjemahkan oleh Rumphius.
  • Nagasari (Calophyllum nagassari) memiliki kembang yang sangat mengagumkan, yang sangat dikenal di Bengal; namun di belahan-belahan hulu India, disebut nagakehsir, dan dalam Transaksi Batavia disebut Acacia aurea.
  • Bakung, atau salandap (Crinum asiaticum), adalah tumbuhan dari jenis lili, dengan besar enam inchi, putih, daun bunga berturbinasi yang memberikan aroma mengharumkan. Tumbuhan tersebut tumbuh liar di dekat pantai di antara tumbuhan-tumbuhan yang bertumbuh di pasir. Spesial indah lainnya dari bakung memiliki warna ungu bersanding putih.
  • Kecubung (Datura metel) juga nampak banyak berkembang di tepi laut. Tumbuhan tersebut memiliki bunga infundibuliform putih, lebih berbentuk pentagonal alih-alih bundar, dengan kait kecil di setiap ujung. Dedaunannya berwarna hijau tua, tajam, besar dan tak setara di bagian bawah. Buahnya berbentuk seperti apel, sangat berduri, dan penuh akan biji kecil.
  • Sundal malam atau harlot malam (Polyanthes tuberosa) diambil dari kemunculan bau manisnya pada musim tersebut. Tumbuhan tersebut ditanam di taman kami, namun tumbuh dengan kekuatan dan kemewahan besar.
  • Bunga mawar (Rosa semperflorens, Curtis, Nomor 284), berukuran kecil dan berwarna merah tua. Penampakannya indah dan tidak sekaya dengan mawar dari iklim kami.
  • Amaranthus cristatus (Celosia castrensis, L.) mungkin merupakan tumbuhan asli, yang umum ditemukan di pedalaman daerah Batak, yang jarang dijangkau orang-orang asing. Berbagai spesies dari genus ini disebut dengan nama umum bayam, yang beberapa jenisnya dapat disantap, seperti yang sebelumnya teramati.

Pandan[sunting]

Pandan (Pandanus sp.), sebuah perdu yang memiliki dedaunan yang sangat panjang, seperti daun nanas atau lidah buaya, memiliki banyak ragam, salah satu di antaranya adalah pandan wangi (Pandanus odoratissima, L.), yang menghasilkan kembang putih kecoklatan, yang memiliki panjang satu atau dua kaki. Penduduk asli menanamnya dan memakaikannya ke orang-orang. Pandan pudak, atau Keura thunberg, yang juga harum, yang saya percaya bahwa tumbuhan tersebut sama dengan pandan wangi. Jenis umumnya dibawa untuk diperdagangkan dan disebut caldera oleh orang-orang Eropa di banyak belahan India. Di Kepulauan Nicobar, tanaman tersebut ditanam dan menghasilkan buah yang disebut melori, yang merupakan salah satu bahan pangan utama.

Epidendra[sunting]

Bunga anggrek (Epidendrum sp.). Spesies atau ragam dari jenis tumbuhan parasit terkenal tersebut sangat banyak, dan dikatakan banyak yang menyukainya . Kaempfer menyebutkan dua jenis dengan nama anggrek warna dan katong'ging; yang pertama saya tujukan kepada anggrek bunga putri (Angraecum scriptum, R.) dan lainnya anggrek kasturi (Angraecum moschatum, R.) atau bunga kalajengking, yang berbentuk mirip dengan serangga tersebut, seperti halnya anggrek kasturi yang mirip dengan kupu-kupu. Aroma harumnya timbul dari ujung ekornya.[B]

(B Habetur haec planta apud Javanos in deliciis et magno studio colitur; tum ob floris eximium odorem, quem spirat, moschi, tum ob singularem elegantiam et figuram scorpionis, quam exhibet...spectaculo sane jocundissimo, ut negem quicquam elegantius et admiratione dignius in regno vegetabili me vidisse...Odorem flos moschi exquisitissimum atque adeo copiosum spargit, ut unicus stylus floridus totum conclave impleat. Qui vero odor, quod maxi me mireris, in extrema parte petali caudam referentis, residet; qua abicissa, omnis cessat odoris expiratio. Amoen exoticae, page 868.)

Terjemahan bebas:

"Tumbuhan ini dianggap sebagai makanan lezat di kalangan orang Jawa dan dipuja dengan penuh semangat; baik karena keharuman yang sangat baik dari bunga yang dihembuskannya, kesturi, dan juga karena keanggunan dan bentuk kalajengking yang disajikannya ... tontonan yang sangat lucu, sehingga saya menyangkal bahwa saya telah melihat sesuatu yang lebih elegan dan layak dikagumi di kerajaan tumbuhan... Aroma bunga kesturi sangat indah dan menyebar begitu melimpah, sehingga satu corak bunga memenuhi seluruh ruangan. Tapi bau itu, yang paling mengejutkanku, berada di bagian paling luar dari kelopak yang membawa ekor; ketika terputus, semua embusan bau berhenti"

Lili Air, dll[sunting]

Bunga teratai atau seroja (Nymphaea nelumbo) serta beberapa jenis tumbuhan air indah lainnya ditemukan di perairan pedalaman daerah tersebut. Daun gundi atau tabung bru (Nepenthes destillatoria) dapat dianggap sebagai bunga, namun merupakan tumbuhan menanjak yang luar biasa. Dari ujung daun perpanjangan tulang rusuk, mirip dengan sulur pohon anggur, tergantung pada membrane yang berbentuk mirip tangki dengan penutup atau katup setengah terbuka; yang bertumbuh selalu nyaris tegak, tumbuhan tersebut umumnya separuh bagiannya berada di air dari hujan atau embun. Cangkir monyet (sebagaimana nama Melayunya) berukuran panjang sekitar empat atau lima inci dan berdiamter satu inci. Giring landak (Crotalaria retusa) adalah bunga papilionaceous yang mirip dengan lupin, kuning, dan memiliki ujung berwarna merah. Namanya diambil dari penebaran bijinya di kolam, yang mengingatkan dengan bunga porcupine-bells, yang diambil dari bentuknya yang mirip dengan lonceng kecil yang dipakaikan pada pergelangan anak-anak. Daup (Bauhinia) adalah bunga kecil, putih, semiflosculous, dengan aroma menyengat. Dedaunannya sendiri menarik perhatian, berbentuk ganda, seolah disatukan oleh engsel, dan kekhasan ini memberikannya nama Linnean, yang diambil dari nama Bauhin dua bersaudara, yang keduanya merupakan botanis terkenal yang selalu bekerja bersama.

Untuk daftar yang diberikan, dalam seluruh rasa hormat, beberapa tumbuhan penting ditambahkan oleh pengamat terkualifikasi dan penuh perhatian. Penduduk asli sendiri memiliki tingkat pengetahuan botani yang mengejutkan orang-orang Eropa. Pada umumnya, sedari kecil, mereka sudah mengenali tidak hanya nama-namanya, tetapi juga bagian dari setiap tumbuhan perdu dan herbal yang dimanfaatkan di pulau tersebut. Mereka membedakan jenis kelamin banyak tumbuhan dan pohon, dan membagi banyak genera ke dalam berbagai spesies sebanyak yang dilakukan para profesor kita. Tumbuhan paku atau pakis yang aku miliki dibawa kepadaku dalam dua belas jenis, yang mereka katakan kepadaku tak semuanya, dan masing-masing diberikan nama berbeda oleh mereka.

Tanaman Obat[sunting]

Beberapa perdu dan herbal yang dipakai sebagai obat adalah berikut ini. Beberapa dari mereka ditanam, diambil dari hutan atau padang ketika mereka menginginkannya.

  • Lagundi (Vitex trifolia, L.) Karakter-karakter botanik dari perdu ini sangat dikenal. Dedaunannya, yang pahit dan menyengat alih-alih harum, dianggap sebagai antiseptik yang kuat, dan dipakaikan saat demam dengan ditempatkan dalam kulit pohon Peru. Tumbuhan tersebut juga diambil bijinya dan ditempatkan pada kargo-kargo beras agar tak dirusak oleh kutu-kutu.
  • Katupong mirip dengan nettle saat tumbuh, dan memiliki buah mirip beri hitam. saya tak dapat mengidentifikasikannya. Daunnya, yang dapat dikunyah, dipakai untuk mengobati luka.
  • Siup, sebuah jenis ara liar, dipakai mengobati ketombe atau kista orang-orang Nias, ketika tak ada pilihan lain.
  • Sikaduduk (melastoma) memiliki penampilan mawar liar. Dedaunannya dipakai untuk mengobati penyakit pada kaki, yang disebut maltus, yang mirip dengan impetigo atau ringworm.
  • Ampadu-bruang atau empedu beruang (brucea, foliis serratis) disebut lussa raja di Rumphius, memiliki rasa pahit, dan diterapkan untuk membantu pemulihan penyakit pada usus.
  • Kabu (nama Latin tidak diketahui). Kulit pohon dan akarnya dipakai untuk mengobati kudis, dengan meletakkannya pada bagian yang terdampak.
  • Marampuyan (genus baru). Tunas muda dari tumbuhan ini, yang memiliki kualitas menyegarkan dan menguatkan, diusapkan pada tubuh dan lengan pada orang yang dalam keadaan sangat lelah.
  • Mali-mali (nama Latin tidak diketahui). Daun merambat dari tumbuhan ini, yang bersematkan kembang putih mirip payung, ditujukan untuk mengurangi pembengkakan.
  • Chapo (Conyza balsamifera) memiliki warna, bau, rasa dan kualitas mirip sage (salvia), namun tumbuh sampai setinggi enam kaki, memiliki daun yang panjang, dan kembang yang mirip groundsel.
  • Murribungan (nama Latin tidak diketahui). Daunnya besar, melingkar dan lembut. Sari dari tangkainya ditujukan untuk mengobati sariawan lidah.
  • Ampi-ampi (nama Latin tidak diketahui). Sebuah tumbuhan merambat dengan dedaunan mirip kotak, dan kembang flosculous kecil. Tumbuhan tersebut dipakai sebagai obat demam.
  • Kadu (Piper sp.), dengan bentuk daun dan rasa mirip sirih. Tumbuhan tersebut dibakar untuk disajikan kepada anak-anak yang baru lahir dari pengaruh roh-roh jahat.
  • Gumbai (nama Latin tidak diketahui). Perdu dengan kembang monopetal, kaku, dan ungu, tumbuh dalam kuncup. Dedaunannya dipakai dalam penyakit usus.
  • Tabulan bukan (nama Latin tidak diketahui). Sebuah perdu yang memiliki kembang semiflosculous, ditujukan untuk mengobati sakit mata.
  • Kachang prang (Dolichos ensiformis). Polong sari tumbuhan ini memiliki ukuran panjang, dan biji-bijiannya, yang berwarna krismon murni, dipakai dalam penyakit-penyakit pleura.
  • Sipit, sebuah spesies ara, dengan daun oval besar, menggulung saat disentuh, dan kaki. Tumbuhan tersebut dijadikan obat untuk sakit panggul.
  • Daun sedingin (Cotyledon laciniata). Dedaunannya, sesuai dengan namanya, dipakai untuk mendinginkan tubuh. Tumbuhan tersebut dipakaikan ke kepala untuk mengobati sakit kepala, dan terkadang ke tubuh saat demam.
  • Long pepper (Piper longum) dipakai dalam pengobatan.
  • Kunyit, juga, dicampur dengan nasi untuk mengurangi bubuk dan kemudian dibentuk menjadi pasta, banyak dipakai dalam kasus kedinginan dan luka pada tulang; dan chunam atau quick-lime nampaknya umum diletakkan pada bagian tubuh yang memiliki luka.
  • Dalam pengobatan kura atau boss (dari kata Portugis, baco), yang merupakan kerusakan pada limpa, membentuk gumpalan keras di bagian atas perut, ramuan tumbuhan tumbuhan berikut ini diterapkan secara khusus: sipit tunggul; madang tandok (genus baru, sangat harum); ati air (Arum sp.?) tapa besi; paku tiong (pakis paling indah, dengan daun mirip daun kelapa; genus tak dapat dipastikan); tapa badak (ragam callicarpa); laban (Vitex altissima); pisang ruko (Musa sp.); dan paku lamiding (Polypodium sp.?); bersama dengan perasan yang disarikan dari akar malabatei (nama Latin tidak diketahui).
  • Dalam pengobatan kurap, tetter atau ringworm, mereka memakai daun galinggan (Cassia quadri-alata) sebuah perdu herbal dengan dedaunan besar dan kembang kuning. Dalam kasus tertentu, barangan (arsenik berwarna, atau orpiment), sebuah racun yang kuat, dipakai.
  • Pemerasan sari dari sudu-sudu (Euphorbia neriifolia) sangat bernilai bagi penduduk asli untuk keperluan pengobatan. Dedaunannya saat disantap oleh domba dan kambing terkadang menyebabkan kematian.

Pohon Upas[sunting]

Mengenai subyek puhn upas atau pohon racun (Arbor toxicaria, R.), yang catatannya secara khusus diterbitkan dalam London Magazine pada September 1785 oleh Tuan N.P. Foersch, seorang dokter bedah dalam penugasan Perusahaan Hindia Timur Belanda, pada waktu itu di Inggris, saya perlu mengutip pengamatan dari Tuan Charles Campbell, di tempat pengobatan di Benteng Marlborough. "Pada perjalananku di daerah di belakang Bengkulu, saya menemukan pohon upas, yang dikisahkan dalam banyak cerita. Beberapa bijinya pada waktu itu didatangkan ke London dalam sebuah bungkus yang saya serahkan kepada Tuan Aiton di Kew. Racunnya dihilangkan, namun tidak dalam keadaan sepenuhnya seperti yang telah dicontohkan. Beberapa tumbuhan tersebut dalam keadaan bermanfaat akan kamu terima pada kesempatan awal. Seperti pohon itu sendiri, tumbuhan tersebut tak melukai orang-orang di sekitarnya. saya duduk di bawah rindangnya, dan melihat burung-burung bertengger di tangkai-tangkai; dan sebagai halnya cerita rumput yang tak tumbuh disekitarnya, setiap orang yang berada di hutan harus mengetahui bahwa rumput tak ditemukan dalam keadaan semacam itu."

Untuk bagian-bagian lain pada pohon racun tersebut, yang sangat diminati, pembaca dapat membaca Account of Lord Macartney's Embassy karya Sir George Staunton Volume 1 laman 272; sampai Pennant's Outlines of the Globe Volume 4 laman 42, yang mana pembaca akan menemukan salinan dari penjelasan asli Foersch; dan sampai Disertasi karya Professor C.P. Thunberg mengenai Arbor toxicaria Macassariensis, dalam Mem. of the Upsal Acad. dari tahun 1788. Informasi yang diberikan oleh Rumphius mengenai subyek Ipo atau Upas, dalam Herb. Amboin. Volume 2 laman 263, yang juga dapat dibaca sampai habis.* Ini membuktikan bahwa beberapa cerita yang timbul terkait padanya oleh orang-orang Sulawesi (tumbuhan tersebut bukanlah tumbuhan asli di Amboina) menyatakan kepada Tuan Foersch, fabel-fabel kepadanya yang menghibur dunia.

(*Catatan kaki. Semenjak bagian atas ditulis, saya melirik Dissertation sur les Effets d'un Poison de Java, appele Upas tieute, etc.; presentee a la Faculte de Medicine de Paris le 6 Juillet 1809, par M. Alire Raffeneau-Delile, yang menjelaskan serangkaian eksperimen penasaran dan peminatan terhadap racun paling aktif ini, yang dibuat dengan spesimen-spesimen yang dibawa dari Jawa oleh M. Leschenault; dan juga disertasi kedua, dalam manuskrip (yang dipersembahkan kepada Royal Society), terhadap dampak-dampak eksperimen serupa yang dibuat dengan istilah upas antiar. Ia menyatakan tentang rebusan atau penyarian dari kulit akar tumbuhan merambat dari genus strychnos, yang disebut tieute oleh penduduk asli Jawa; dan memiliki perasan seperti susu, pahit dan kekuningan, yang didapatkan dari pengolahan kulit pohon besar (genus baru) yang disebut antiar; kata upas artinya, seperti yang dipahami oleh M. Leschenault, racun sayur dari jenis manapun. Tangkai kecil dari pohon upas, dengan beberapa getah racun, dibawa ke Inggris pada 1806 oleh Dr. Roxburgh, yang memberitahukan Tuan Lambert bahwa tumbuhan yang didapatkan olehnya dari Sumatra tumbuh cepat di Taman Botani Perusahaan di Kalkuta. Sebuah spesimen getah, dari seorang priyayi, berada dalam genggamanku.)