Smart city

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Smart city, mulai dari mana?

Beberapa teori dan implementasi yang sudah dijalankan, menunjukkan bahwa smart city dibangun secara top down. Artinya dari atas ke bawah. Inisiatif dari pimpinan, gerakan dari atas, yang mendorong terwujudnya smart city secara sistematis.

Hanya saja, tentunya kita tidak bisa hanyak duduk diam dan berpangku tangan saja dalam perwujudan smart city ini. Berbeda dengan apa yang sudah diwujudkan selama ini, kita bisa memulai perubahan dan pendekatan smart city dimulai dari inisiatif dan partisipasi warga.

Dalam iklim yang demokratis, peranan warga sangat signifikan dalam menentukan pimpinan daerah dan masa depan kota. Oleh karena itu pilihlah pemimpin yang mempunyai visi mengenai smart city serta track record yang baik mengenai keberpihakan terhadap pelaksanaan smart city.

Hal ini mungkin bisa digali dengan pelaksanaan debat terbuka untuk menggali visi calon kepala daerah. Bagaimana rencana pengembangan daerah, bagaimana arah dan tujuan yang ingin dicapai, dan bagaimana proses keterbukaan menjadi ajang partisipasi publik untuk penyelenggaraan kota yang lebih baik.

Partisipasi warga yang lain bisa terwujud dengan turut serta membantu pemerintah dalam pelaksanaan program smart city. Di beberapa negara, seperti Belanda dan Singapura, partisipasi warga terbukti mampu untuk menjadi unsur "penekan" (pressure group) sekaligus "partner" pemerintah dalam penyusunan kebijakan publik. Pemerintah tidak bisa seenaknya sendiri dalam mengambil keputusan karena ada pengawasan dari warga.

Beberapa contoh inisiatif warga dalam membantu proses pembentukan smart city, antara lain

  1. Pembentukan komunitas warga peduli kota misal masalah sampah, lingkungan hidup, ketertiban dan keamanan kota
  2. Pemanfaatan teknologi informasi dengan pengembangan aplikasi-aplikasi yang mempermudah warga untuk mendapatkan informasi atau layanan, seperti rute angkutan umum, informasi event, dan bagaimana cara mengurus perizinan
  3. Sosialisasi dan peningkatan kepedulian warga terhadap kondisi kota
  4. Pemanfaatan aplikasi-aplikasi pelaporan atau keluhan publik, seperti lapor, qlue, dan lain-lain
  5. Taat kepada aturan dan disiplin
  6. Turut serta menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan kota
  7. Penyelenggaran hackathon, scrapathon, dan upaya-upaya analisis data dengan memanfaatkan data kota yang ada

Dan sebagainya