Subjek:Bahasa Indonesia/Materi:Klausa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Klausa[sunting]

Klausa ialah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan sering kali mengikutsertakan objek, pelengkap, dan keterangan. Posisi objek, pelengkap, ataupun keterangan disini bersifat manasuka.

Contoh:
Saat negara-negara lain sudah menjadi negara berkembang, Negara kita baru melakukan proses menuju negara berkembang.
Kalimat diatas terdiri dari beberapa klausa, yaitu:
Saat negara-negara lain menjadi (S-P);
negara berkembang (O-Pel);
negara kita baru melakukan (S-P);
proses menuju negara berkembang (P-O).

Dalam kalimat tertentu klausa terdiri dari 2 bagian, yaitu : klausa induk dan klausa subordinatif (anak kalimat).

Contoh:
Dia menulis surat ketika kedua orangtuanya sudah pergi.
Keterangan:
Dia menulis surat (klausa induk)
ketika kedua orangtuanya sudah pergi. (klausa anak)

Penggabungan kedua klausa ini menjadi proses terbentuknya sebuah kalimat. Bergabungnya kedua klausa ini menandakan masuknya konjungsi atau kata sambung “ketika”. Sedangkan untuk konjungsi atau kata sambung sendiri terdiri atas 4 bagian, yaitu :

  • Konjungsi Kordinatif (serta, dan, atau, tetapi)
Contoh:
Kami membaca dan dia menulis surat.
Rika pergi sekolah tetapi adiknya tinggal dirumah.
Dia memiliki paras yang cantik serta hati yang baik.
Ami pergi ke pasar atau ke toko buku.
  • Konjungsi Korelatif (baik, maupun, tidak hanya, tetapi juga)
Contoh:
Keseriusannya dalam belajar tidak hanya menjadikannya sebagai juara kelas tapi juga memberikannya peluang unuk mendapatkan beasiswa.
  • Konjungsi Subordinatif (sejak, karena, setelah, seperti, agar, dengan)
Contoh:
Dia menjadi pramugari sejak tahun 1990.
Sani menyelesaikan pekerjaan rumah sampai larut malam, karena tugas rumah Sani sangat banyak.
Dia sembuh dari sakit setelah minum obat yang diberikan oleh dokter.
Kedua bersaudara itu menegndarai sepeda motor seperti seorang pembalap profesional.
Kami terus berlatih angkat beban agar saat kejuaraan angkat beban kami menjadi juara.
Andi melihat kepergian orangtuanya dengan meneteskan airmata.
  • konjungsi Antarkalimat (meskipun, demikian, begitu, kemudian, oleh karena itu, bahkan, lagi pula)
Contoh:
Kami tidak akan mengikuti kemauannya meskipun dia memberi kami uang.::
Dia tidak bisa berbicara (klausa)
tidak bisa berbicara (frasa)
karena (konjungsi)
lidahnya pendek. (klausa)

Klausa “Dia tidak bisa berbicara” dalam posisi sebagai klausa induk, sedangkan klausa “lidahnya pendek” menempati klausa anak. Untuk konjungsi “karena” berperan sebagai konjungsi subordinatif-sebab yang telah menghubungkan 2 klausa atau lebih.

Jenis-jenis klausa[sunting]

  • Klausa berdasarkan kategori kata atau frasa.
Contoh :
Mereka sudah menyiapkan seekor sapi untuk hari Raya Idhul Adha.
  • Klausa berdasarkan struktur.
Berdasarkan strukturnya klausa dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
  • Klausa berdasarkan struktur intern.
Didalam klausa yang sesuai struktur internnya terdapat unsure inti klausa yaitu “S” dan “P”. meski begitu dalam penggabungan klausa “S” sering kali dapat dihilangkan dalam kalimat jawaban. Karena klausa yang terdiri dari “S” dan “P” disebut klausa lengkap sedangkan klausa yang tidak bersubjek disebut kalimat tidak lengkap.
Contoh:
May mempercepat laju sepedanya karena May tidak ingin terlambat.
Subjek “May” dalam anak kalimat dapat dihilangkan, hal itu dikarenakan adanya penggabungan klausa “May tidak masuk sekolah” dan “May tidak ingin terlambat”.
Klausa juga dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu kalusa lengkap dan klausa tidak lengkap. Untuk klausa lengkap secara struktur internnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan. Golongan yang pertama yaitu klausa lengkap susun biasa yang Subjeknya terletak di depan Predikat, sedangkan golongan kedua yaitu klausa lengkap susun balik (klausa inversi) yang Subjeknya tepat diletakkan dibelakang Predikat.
  • Klausa berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatikal mengaktifkan Predikat.
Didalam pembentukan klausa juga terdapat klausa positif dan klausa negatif. Klausa positif ialah klausa yang sama sekali tidak memiliki kata negatif yang secara otomatis mampu menegatifkan unsur “P” (predikat), sedangkan untuk klausa negatif merupakan klausa yang memiliki kata-kata negatif yang secara gramatikal memang menegatifkan unsur “P” (predikat) (kata-kata negatif: tiada, tak, bukan, belum, dan jangan).
Klausa Positif
Contoh:
Dia sudah menjadi primadona dikampusnya.
Kami berhasil mendapatkan beasiswa itu.
Klausa negatif
Contoh:
Mereka bukan siswa disekolah ini lagi.
Kami belum menerima THR (Tunjangan Hari Raya).
Rima tidak memiliki orangtua lagi.
Saya mohon jangan bawa dia pergi.
  • Penggolongan klausa berdasarkan kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi Predikat.
Penggolongan klausa jenis ini yang mampu menempati unsur “P” (predikat) pada klausa ialah “Nomina”, “Verba”, “Bilangan”, dan “Frasa Depan”. Berdasarkan penggolangan klausa unsur “P” dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
  • Klausa Nominal
Contoh:
Kami mahasiswa
yang digunakan mobil itu
  • Klausa Verbal
Contoh:
Pamanku membelah kayu.
Anak-anak itu membuat prakarya.
Untuk klausa golongan Verbal fungsi “P” dapat secara gramatikal dinegatifkan dengan kata “tidak”.
Contoh:
Pamanku tidak membelah kayu.
anak-anak itu tidak membuat prakarya.
Klausa Verbal sendiri dapat digolongkan kembali menjadi 6 bentuk klausa, yaitu:
  1. Klausa verbal adjektiva adalah klausa yang unsur predikatnya berupa kata sifat. Contoh: Orang yang pemarah.; Harga saham turun.
  2. Klausa verbal intransitif adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk kedalam kelompok kata kerja intransitive. Contoh: Siswa-siswa SMA berkompetisi di olimpiade matematika.; Presiden sedang berpidato di depan calon PNS.
  3. Klausa verbal aktif Contoh: Nami sedang menulis surat.; Irfan sedang menikmati liburan sekolahnya di Bali.
  4. Klausa verbal pasif Contoh: Sebelum memasuki Mall kami diperiksa oleh security Mall.
  5. Klausa verbal yang refleksif merupakan klausa yang predikatnya menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh sipelaku sendiri (kata kerja). Contoh: Mereka sedang menenangkan diri.; Orang itu mencoba memutus urat nadinya.
  6. Klausa verbal yang resiprokal adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk dalam kata kerja yang menyatakan kesalingan. Bentuk-bentuknya sendiri adalah (saling) meN-, (saling) ber-an dengan proses pengulangan maupun tidak. Contoh: Kami saling berkirim-kiriman surat.; Mereka saling menuduh.
  • Klausa Bilangan
Kata bilangan adalah kata-kata yang dapat diikuti oleh ekor, batang, keping, buah, kodi, helai, dll. Untuk frasa bilangan sendiri ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan, misalkan : dua ekor, tiga batang, beberapa butir, dll.
Contoh:
Di kampung itu terdapat seratus kepala keluarga.
Kami hanya dua bersaudara.
Kami membeli satu kodi pakaian wanita.
  • Klausa Depan
Klausa depan adalah klausa yang predikatnya terdiri atas frasa depan, artinya frasa atau klausa yang diawali dengan kata depan sebagai penanda.
Contoh:
Rok itu untuk kaum hawa.
Masjid itu untuk tempat ibadah umat islam.