Sungai dari Eden/Diam-diam Berbuat Baik

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bab 3 – Diam-diam Berbuat Baik

Sejak dulu, popularitas kreasionisme tidak pernah surut, dan tidak susah melihat alasannya. Alasan itu bukan, setidaknya untuk kebanyakan orang yang saya temui, karena komitmen terhadap kebenaran harfiah Kejadian atau cerita asal-usul kesukuan lain. Lebih sering, orang dengan sendirinya menemukan keindahan dan kerumitan alam hidup dan menyimpulkan bahwa alam itu “pasti” dirancang. Para kreasionis yang mengaku bahwa evolusi Darwinian setidaknya menawarkan suatu pandangan alternatif dari teori alkitabiah mereka sering mengandalkan keberatan yang sedikit lebih cerdik. Mereka menolak kemungkinan akan tahap menengah dalam evolusi. “X pasti dirancang oleh suatu Pencipta,” kata orang itu, “karena separuh X tidak akan berguna sama sekali. Semua bagian X pasti dirakit serentak; bagian-bagian itu tidak mungkin berevolusi secara bertahap.” Misalnya, pada hari saya mulai menulis bab ini, saya kebetulan menerima sepucuk surat. Surat itu ditulis oleh seorang pendeta di Amerika yang awalnya seorang ateis tetapi mulai percaya akan Tuhan setelah membaca sebuah artikel dalam majalah National Geographic. Berikut ada kutipan dari surat itu:

Artikel itu bercerita tentang adaptasi luar biasa yang telah dilakukan anggrek dalam lingkungannya agar berkembang biak dengan sukses. Sambil saya membaca, saya sangat tertarik oleh strategi reproduksi salah satu spesies, yang melibatkan kerja sama seekor tawon jantan. Tampaknya, bunga itu sangat menyerupai betina di spesies tawon tersebut, termasuk memiliki pembukaan di tempat yang seharusnya, agar tawon jantan, jika kawin dengan bunga itu, akan menyentuh serbuk sari yang dihasilkan oleh bunga. Ketika tawon terbang ke bunga berikutnya, proses itu berulang, dan terjadilah penyerbukan. Dan apa yang membuat bunga itu menarik perhatian tawon terlebih dahulu adalah bunga mengeluarkan feromon [kimia menarik tertentu yang banyak digunakan serangga untuk menyatukan jantan dan betina] yang identik dengan feromon yang dikeluarkan oleh betina tawon itu. Saya sangat tertarik, dan mempelajari foto yang mendampingi artikel itu selama sekitar satu menit. Kemudian, dengan rasa terkejut yang intens, saya menyadari bahwa jika strategi reproduksi itu akan sedikitnya berhasil, maka harus sempurna saat pertama kali. Tidak ada tahap-tahap menengah yang mampu menjelaskannya, karena jika anggrek itu tidak tampak dan berbau seperti tawon betina, dan memiliki pembukaan untuk kawin dengan serbuk sari yang ditaruh persis di tempat terjangkau oleh alat kelamin tawon jantan, strategi itu akan gagal total.
Saya tidak akan pernah melupakan bagaimana saya kewalahan dengan perasaan akan tenggelam, karena menjadi jelas bagi saya dalam waktu satu menit itu bahwa harus ada semacam Tuhan yang entah bagaimana mempunyai hubungan terus-menerus dengan proses-proses kejadiannya segala hal. Bahwa pendek kata, Tuhan pencipta bukan sekadar mitos kuno, melainkan sesuatu yang nyata. Dan, dengan berat hati, saya langsung melihat bahwa saya harus mencari dan mengetahui lebih banyak tentang Tuhan itu.

Orang lain, tentu saja, mulai beragama melalui jalan yang berbeda, tetapi pasti ada banyak orang yang telah mengalami suatu yang serupa dengan pengalaman yang mengubah hidup pendeta ini (saya merahasiakan identitasnya di sini untuk alasan kesopanan). Mereka telah melihat, atau membaca tentang, salah satu keajaiban alam. Keajaiban itu secara umum telah memesona mereka, dan rasa terpesona itu melimpah sehingga mereka penuh takzim. Secara lebih khusus, seperti penulis surat di atas, mereka telah memutuskan bahwa fenomena alam partikular ini – jaringan laba-laba, mata atau sayap rajawali, atau apa pun – tidak mungkin berevolusi tahap demi tahap, karena tahap menengah yang separuh terbentuk tidak akan berguna untuk apa pun. Tujuan bab ini adalah menghancurkan argumen bahwa struktur rumit seperti itu harus sempurna atau tidak berfungsi sama sekali. Kebetulan, anggrek adalah salah satu contoh kesukaan Charles Darwin, dan dia pun menulis sebuah buku yang menunjukkan bagaimana prinsip evolusi bertahap melalui seleksi alam dengan kemenangan mengatasi tantangan untuk menjelaskan “Berbagai Cara Anggrek Diserbuki oleh Serangga.”

Kunci argumen pendeta itu adalah pernyataan bahwa “jika strategi reproduktif itu akan sedikitnya berhasil, maka harus sempurna saat pertama kali. Tidak ada tahap menengah yang dapat menjelaskannya.” Argumen yang sama dapat dilontarkan – dan sering pernah begitu – untuk evolusi mata, dan saya akan kembali ke masalah itu dalam bab ini.

Hal yang selalu mengesankan bagi saya kapan pun saya mendengar argumen seperti itu adalah tingkat kepercayaan-diri pernyataannya. Bagaimanakah, saya ingin bertanya pada pendeta itu, Anda bisa begitu yakin bahwa anggrek itu yang meniru tawon (atau mata, atau apa pun) tidak akan berfungsi kecuali setiap bagiannya sempurna dan berada pada tempatnya? Sudahkah Anda sebenarnya memikirkan persoalan itu selama satu detik pun? Apakah Anda sebenarnya tahu apa pun tentang anggrek, atau tawon, atau mata yang digunakan tawon untuk memandangi betina dan anggrek? Apa yang membuat Anda begitu berani menyatakan bahwa tawon itu susah sekali ditipu, sehingga kemiripan anggrek harus sempurna dalam segala aspeknya agar berhasil?

Cobalah ingat kembali saat terakhir kali Anda ditipu oleh suatu kemiripan kebetulan. Barangkali Anda mengangguk kepada orang yang tidak Anda kenal di jalan, karena mengira bahwa dia adalah seorang teman. Ada pemeran pengganti yang menggantikan bintang film dalam adegan menjatuhkan diri dari kuda atau melompat dari tebing. Kemiripan pemeran pengganti dengan bintang biasanya dangkal sekali, tetapi dalam adegan sekilas, itu cukup untuk menipu penonton. Manusia laki-laki bergairah ketika melihat gambar di majalah. Gambar itu hanyalah tinta yang dicetak di kertas. Gambarnya berdimensi dua, bukan tiga. Tinggi gambarnya hanya beberapa inci. Mungkin gambarnya hanyalah karikatur kasar yang terdiri atas beberapa garis, bukan representasi yang menyerupai realitas. Namun, gambar itu masih bisa membuat lelaki ereksi. Barangkali hanya pandangan sekilas atas betina yang dapat diharapkan oleh tawon jantan sebelum ia berusaha kawin dengannya. Barangkali tawon jantan hanya melihat beberapa stimulus utama.

Ada banyak alasan untuk berpikir bahwa tawon bisa saja lebih gampang ditipu dibandingkan dengan manusia. Ikan stickleback tentu lebih mudah ditipu daripada manusia, dan ikan memiliki otak lebih besar dan mata lebih tajam daripada tawon. Stickleback jantan mempunyai perut merah, dan mereka akan mengancam tidak hanya jantan lain tetapi juga tiruan kasar yang “berperut” merah. Guru saya yang dulu, ahli etologi dan pemenang Penghargaan Nobel Niko Tinbergen, suka bercerita tentang sebuah mobil pos merah yang melewati jendela laboratoriumnya, lalu semua stickleback jantan bergegas ke bagian jendela tangkinya dan dengan semangat mengancam mobil itu. Stickleback betina yang sedang bertelur mempunyai perut buncit yang menonjol. Tinbergen menemukan bahwa model warna perak yang bentuknya agak panjang, yang sama sekali tidak menyerupai seekor stickleback bagi manusia tetapi memiliki “perut” yang buncit, mampu memicu perilaku perkawinan di antara para jantan. Eksperimen-eksperimen yang lebih baru dalam aliran penelitian yang didirikan oleh Tinbergen telah menunjukkan bahwa barang yang bernama bom seks – objek berbentuk buah pir, bundar dan gemuk tetapi sama sekali tidak seperti ikan menurut penilaian (manusia) – lebih mujarab lagi dalam menggairahkan stickleback jantan. “Bom seks” stickleback adalah contoh klasik atas suatu stimulus supernormal – yakni, suatu stimulus buatan yang lebih mujarab dibandingkan dengan yang asli. Sebagai contoh lain, Tinbergen menerbitkan gambar atas seekor burung penangkaptiram yang berusaha mengerami sebuah telur sebesar telur burung unta. Burung memiliki otak lebih besar dan penglihatan lebih tajam dibandingkan dengan ikan – dan a fortiori dibandingkan dengan tawon – namun, sepertinya burung penangkap-tiram “berpikir” bahwa telur sebesar telur burung unta adalah objek luar biasa untuk dierami.

Camar, angsa berleher pendek, dan burung lain yang membuat sarang di darat, memiliki tanggapan seragam ketika telur berguling dari sarang. Mereka memanjangkan leher dan menggulingkan telurnya kembali dengan bagian bawah paruhnya. Tinbergen dan murid-muridnya menunjukkan bahwa camar melakukan ini tidak hanya kepada telurnya sendiri tetapi juga kepada telur ayam dan bahkan tabung kayu atau kaleng cokelat yang dibuang oleh turis. Anak camar herring mendapat makanannya dengan meminta kepada orang tuanya; mereka mematuk bagian merah di paruh orangtuanya, dan itu menstimulasikan orang tuanya agar memuntahkan sedikit ikan dari temboloknya. Tinbergen dan seorang kolega menunjukkan bahwa model kasar atas kepala orang tua camar herring yang terbuat dari kardus sangat mujarab dalam memicu perilaku meminta makanan dari anak-anak camar herring. Hanya bintik merah yang benar-benar dibutuhkan. Dari sudut pandang anak camar herring, orang tuanya adalah sebuah titik merah. Mungkin dia melihat bagian-bagian lain dari orang tuanya, tetapi sepertinya itu tidak penting.

Penglihatan yang sepertinya terbatas tidak hanya terjadi pada anak camar. Ciri khas camar kepala-hitam dewasa adalah topeng mukanya yang gelap. Murid Tinbergen bernama Robert Mash menyelidiki pentingnya hal ini bagi camar dewasa lain dengan melukis model kepala camar yang terbuat dari kayu. Setiap kepala dipasang kepada ujung batang kayu yang disambungkan dengan motor listrik dalam kotak supaya, dengan menggunakan pengendali jarak jauh, Mash dapat menaikkan atau menurunkan kepalanya, atau memutarkannya ke kiri atau ke kanan. Dia menguburkan kotaknya dekat sebuah sarang camar, dengan kepalanya tersembunyi di bawah pasir. Lalu, setiap hari, dia mengunjungi tempat persembunyian dekat sarangnya dan mengamati tanggapan camar kepada kepala palsu ketika dinaikkan atau diputar bolak-balik. Para burung menanggapi kepalanya dan putarannya, sama seperti jika itu camar sungguhan, walaupun itu hanyalah kepala palsu di ujung batang kayu, tanpa tubuh, tanpa kaki atau sayap atau ekor, diam dan tanpa gerakan selain dari naik, berputar, dan turun yang lebih menyerupai gerakan robot daripada makhluk hidup. Bagi seekor camar kepala-hitam, rupanya, tetangga yang mengancam itu sekadar muka hitam tanpa tubuh. Tubuh, sayap, atau apa pun yang lain tidak perlu ada.

Hanya untuk memasuki tempat persembunyian untuk mengamati burungnya, Mash, seperti generasi-generasi ornitolog sebelum dan sesudahnya, mengeksploitasi suatu kekurangan dalam sistem saraf burung yang sudah lama diketahui: burung tidak pintar menghitung. Dua orang memasuki tempat persembunyian, dan salah satunya pergi. Tanpa muslihat ini, burungburung akan mencurigai tempat persembunyian itu, karena mereka “tahu” bahwa seseorang sudah masuk. Tetapi jika mereka melihat satu orang pergi, mereka “mengira” bahwa keduaduanya telah pergi. Jika burung tidak bisa membedakan di antara satu orang dengan dua, apa begitu mengherankan bahwa tawon jantan bisa ditipu oleh sekuntum anggrek yang agak menyerupai tawon betina?

Satu lagi cerita burung yang seperti ini, tetapi yang ini adalah tragedi. Induk-induk kalkun adalah penjaga ganas anaknya. Mereka harus melindunginya dari perampok sarang seperti cerpelai atau tikus pebangkai. Prinsip yang diandalkan induk kalkun agar mengenali perampok sarang bersifat singkat dan mengerikan: Di sekitar sarang, serang apa pun yang bergerak, kecuali jika makhluk itu berbunyi seperti bayi kalkun. Hal ini ditemukan oleh seorang zoolog dari Austria bernama Wolfgang Schleidt. Schleidt pernah memelihara induk kalkun yang membunuh semua anaknya sendiri dengan kejam. Alasannya sederhana dan menyedihkan: dia tuli. Pemangsa, dari sudut pandang sistem saraf kalkun, didefinisikan sebagai objek yang bergerak yang tidak mengeluarkan kicauan bayi. Bayi-bayi kalkun ini, walaupun mereka menyerupai bayi kalkun, bergerak seperti bayi kalkun, dan lari dengan penuh kepercayaan kepada induknya seperti bayi kalkun, menjadi korban pemahaman terbatas induknya mengenai “pemangsa.” Dia melindungi anaknya sendiri dari diri mereka sendiri, dan dia membantai semuanya.

Dalam versi serangga cerita tragis kalkun itu, sel indrawi tertentu di antena lebah hanya peka terhadap satu zat kimia, asam oleat. (Ada sel lain yang peka terhadap zat kimia yang lain.) Asam oleat dikeluarkan oleh bangkai lebah yang membusuk, dan kimia itu memicu “perilaku pengurus bangkai” lebah, yakni, membuang bangkai dari sarang. Jika seorang peneliti menaruh setetes asam oleat di lebah yang masih hidup, makhluk malang itu diseret, meskipun dia menolak penyeretan itu dan jelas-jelas masih hidup, lalu dibuang dengan para lebah mati.

Otak serangga adalah jauh lebih kecil daripada otak kalkun atau otak manusia. Mata serangga, bahkan mata majemuk besar yang dimiliki capung, kalah tajam dengan mata kita atau mata burung. Selain dari itu, sudah diketahui bahwa mata serangga memandang dunia secara sangat berbeda dengan mata kita. Karl von Frisch, seorang zoolog Austria yang agung, sewaktu muda menemukan bahwa serangga buta terhadap cahaya merah tetapi mampu melihat – dan bahkan sebagai warnanya sendiri – cahaya ultraungu, yang kita tidak bisa lihat. Mata serangga sangat memperhatikan sesuatu yang dinamakan “kedipan,” yang sepertinya – setidaknya bagi serangga yang bergerak cepat – menggantikan sebagian dari apa yang kita namakan “bentuk.” Kupu-kupu jantan pernah disaksikan “merayu” dedaunan mati yang sedang gugur dari pohon. Kita melihat kupu-kupu betina sebagai sepasang sayap besar yang berkibar. Seekor kupu-kupu jantan yang sedang terbang melihatnya dan merayunya sebagai konsentrasi “kedipan.” Jantan itu dapat ditipu dengan lampu strobo, yang tidak bergerak tetapi hanya terus menyala dan padam bergantian. Jika kecepatan kedipannya pas, kupu-kupu jantan akan menganggap lampu itu sebagai kupu-kupu lain yang sedang mengibarkan sayapnya pada kecepatan yang sama. Garis, bagi kita, adalah pola statis. Bagi serangga yang terbang melewatinya, garis tampak sebagai “kedipan” dan dapat ditiru dengan lampu strobo yang menyala pada kecepatan yang sesuai. Dunia yang dilihat melalui mata serangga begitu asing bagi kita, sehingga membuat pernyataan berdasarkan pengalaman kita sendiri saat membahas “kesempurnaan” yang dibutuhkan anggrek untuk meniru tubuh tawon betina adalah kesombongan manusia belaka.

Tawon sendiri adalah subjek suatu eksperimen klasik, yang pertama kali dilakukan oleh naturalis Prancis agung, Jean-Henri Fabre, dan diulangi oleh berbagai peneliti lain, termasuk anggota mazhab Tinbergen. Tawon penggali betina pulang ke liangnya membawa mangsanya yang sudah disengat dan dilumpuhkan. Ia meninggalkan mangsa itu di luar liang sambil dia masuk, sepertinya untuk memastikan bahwa keadaan aman sebelum ia keluar lagi dan membawa mangsanya masuk. Sementara dia di dalam liang, peneliti memindahkan mangsa beberapa inci dari tempat tawon menaruhnya. Ketika tawon muncul kembali, dia menyadari akan kehilangannya dan cepat menemukan mangsa kembali. Lalu dia membawa mangsa itu kembali ke pintu masuk liang. Hanya beberapa detik telah lewat sejak dia memeriksa bagian dalam liangnya. Bagi kita, tidak ada alasan baik kenapa dia tidak melanjutkan saja rutinitasnya dengan membawa mangsa ke dalam agar tuntas. Tetapi programnya telah ditata ulang ke tahap yang lebih awal. Dengan setia, dia meninggalkan mangsa di luar liang dan masuk ke dalam untuk pemeriksaan satu lagi. Peneliti bisa mengulangi sandiwara ini 40 kali, sampai dia bosan. Tawon itu berperilaku seperti mesin cuci yang telah disetel kembali ke tahap lebih awal di programmnya dan tidak “tahu” bahwa sudah mencuci baju yang sama 40 kali tanpa istirahat. Ilmuwan komputer terkemuka Douglas Hofstadter menciptakan kata sifat baru, “sphexish”, untuk melabelkan otomatisme kaku dan tanpa pikiran seperti itu. (Sphex adalah nama salah satu genus representatif tawon penggali.) Jadi, setidaknya dengan cara tertentu, tawon itu mudah ditipu. Penipuan tersebut sangat berbeda dengan penipuan yang direkayasa oleh anggrek. Namun, kita harus waspada jika ingin menggunakan intuisi manusia untuk menyimpulkan bahwa “jika strategi reproduksi itu akan sedikitnya berhasil, maka harus sempurna saat pertama kali.”

Mungkin saya terlalu berhasil dalam meyakinkan Anda bahwa tawon itu mudah ditipu. Mungkin Anda berprasangka justru sebaliknya dari pendeta penulis surat itu. Jika penglihatan serangga begitu buruk, dan jika tawon begitu mudah ditipu, buat apa anggrek membuat bunganya begitu mirip dengan tawon? Sebenarnya, penglihatan tawon tidak selalu seburuk itu. Dalam keadaan tertentu, sepertinya tawon itu melihat dengan sangat baik: misalnya, ketika mencari liang setelah penerbangan pemburuan yang panjang. Tinbergen menyelidiki fenomena ini dengan tawon penggali pemburu lebah, Philanthus. Dia menunggu sampai seekor tawon sudah memasuki liangnya. Sebelum dia muncul kembali, Tinbergen cepat menaruh beberapa “patokan” di sekeliling pintu masuk liang – misalnya, sebilah ranting kecil dan sebuah bunga pinus. Lalu dia kembali bersembunyi dan menunggu tawonnya keluar. Setelah keluar, tawon terbang melingkari liang dua atau tiga kali, seolah-olah mengambil foto secara mental atas daerahnya, lalu pergi mencari mangsanya. Sementara tawonnya pergi, Tinbergen memindahkan ranting dan bunga pinus beberapa kaki dari tempat semula. Ketika tawonnya kembali, dia tidak memasuki liangnya tetapi mencelup ke dalam pasir di tempat yang sesuai dengan posisi baru ranting dan bunga pinus itu. Sekali lagi, tawon telah “ditipu” dalam arti tertentu, tetapi kali ini kita harus menghargai penglihatannya. Sepertinya dia memang sedang “mengambil foto secara mental” saat dia terbang melingkari liangnya. Sepertinya dia mengenali pola, atau “gestalt” ranting dan bunga pinus itu. Tinbergen mengulangi eksperimen ini banyak kali dengan jenis patokan yang berbeda-beda, seperti cincin bunga pinus, dengan hasil yang konsisten.

Sekarang, mari kita lihat suatu eksperimen yang dilakukan oleh salah satu murid Tinbergen, Gerard Baerends, yang cukup berbeda dengan eksperimen “mesin cuci” Fabre. Spesies tawon penggali Baerends, Ammophila campestris (spesies yang juga dikaji oleh Fabre), berbeda dengan tawon penggali lain karena merupakan “pembekal progresif.” Kebanyakan tawon penggali membekali liangnya dan bertelur, lalu menutupi liang dan membiarkan larvanya makan sendiri. Ammophila berbeda. Seperti burung, dia kembali ke liang setiap hari untuk memeriksa keadaan larvanya, dan memberinya makanan jika dibutuhkan. Sejauh ini, tidak begitu mengesankan. Tetapi seekor Ammophilia betina memiliki dua atau tiga liang sekaligus. Dalam satu liang ada larva yang relatif besar dan hampir dewasa; dalam liang lain ada larva kecil yang baru menetas; dan dalam liang satu lagi, barangkali ada larva yang umur dan besarnya menengah. Ketiga-tiganya tentu memiliki kebutuhan makanan yang berbeda-beda, dan induknya mengasuhnya sesuai dengan kebutuhan itu. Melalui beberapa eksperimen teliti yang melibatkan penggantian isi sarang, Baerends mampu menunjukkan bahwa induk tawon memang memperhitungkan kebutuhan makanan yang berbeda di setiap sarang. Hal ini tampak cerdik, tetapi Baerends menemukan bahwa, dengan cara yang aneh dan asing bagi kita, hal ini juga tidak cerdik. Subuh-subuh, induk tawon berkeliling untuk memeriksa semua liangnya yang aktif. Dia mengukur keadaan setiap sarang saat pemeriksaan subuh itu, dan hasil pemeriksaan itu memengaruhi perilaku pembekalannya sepanjang hari. Setelah pemeriksaan subuh itu, Baerends bisa mengganti isi sarang sesuka hatinya, dan tidak ada perubahan dalam perilaku pembekalan induk tawon. Seolah-olah tawon itu menyalakan peralatan pemeriksaan sarang hanya selama pemeriksaan subuh lalu mematikannya, agar hemat listrik.

Di satu sisi, cerita ini memperlihatkan bahwa ada peralatan canggih untuk menghitung, mengukur, dan bahkan memperhitungkan dalam otak induk tawon. Kita dengan mudah percaya bahwa otak tawon hanya bisa ditipu oleh kemiripan yang sangat terdetail di antara anggrek dengan tawon betina. Tetapi pada titik yang sama, cerita Baerends memperlihatkan kapasitas untuk kebutaan selektif dan kemungkinan untuk ditipu yang sangat konsisten dengan apa yang kita lihat di eksperimen “mesin cuci” di atas, dan membuat kita mudah percaya bahwa kemiripan kasar di antara anggrek dengan tawon betina mungkin saja memadai. Pelajaran umum dari semua ini adalah, jangan pernah gunakan penilaian manusia dalam hal hewani. Jangan pernah katakan, dan jangan pernah percaya orang yang mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa x berevolusi melalui seleksi bertahap.” Saya menamakan kekeliruan semacam ini “Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi.” Berkali-kali, argumen ini mendahului suatu pengalaman kegagalan intelektual.

Argumen yang saya serang mengatakan: evolusi x secara bertahap tidak mungkin terjadi, karena x itu “jelas-jelas” harus sempurna dan lengkap jika sedikitnya akan berfungsi. Sejauh ini, dalam tanggapan saya, saya banyak mengandalkan fakta bahwa tawon dan hewan lain mempunyai pandangan dunia yang sangat berbeda dengan pandangan dunia kita, dan lagi pula kita juga tidak sulit ditipu. Tetapi ada argumen lain yang saya ingin kembangkan yang lebih meyakinkan lagi dan lebih umum. Mari kita gunakan istilah “rapuh” untuk sebuah perangkat yang harus sempurna untuk sedikitnya berfungsi – seperti diklaim oleh penulis surat itu tentang anggrek yang meniru tawon. Sebenarnya, memikirkan perangkat yang sepenuhnya rapuh adalah tugas yang sangat sulit, dan saya menganggap itu signifikan. Pesawat terbang tidak rapuh, karena meskipun kita lebih memilih memercayakan nyawa kita kepada sebuah Boeing 747 lengkap dengan semua bagiannya yang berfungsi dengan sempurna, sebuah pesawat terbang yang telah kehilangan peralatan utama pun, seperti satu atau dua mesinnya, masih bisa terbang. Mikroskop tidak rapuh, karena meskipun sebuah mikroskop yang kurang berkualitas menghasilkan gambar yang tidak jelas dan kurang terang, kita masih dapat melihat objek kecil lebih baik dengannya dibandingkan jika tidak pakai mikroskop sama sekali. Radio tidak rapuh; jika ada padanya yang kurang, mungkin fidelitasnya akan menghilang dan suaranya akan melengking dan terdistorsi, tetapi kita masih bisa memahami arti kata-kata. Saya sudah melamun selama 10 menit di depan jendela, berusaha memikirkan contoh sangat bagus atas alat buatan manusia yang rapuh, dan saya hanya bisa memikirkan satu: pelengkung. Dalam arti tertentu, pelengkung itu hampir rapuh karena, ketika kedua sisinya sudah menyatu, ia sangat kuat dan kokoh. Sebelum kedua sisinya bertemu, mereka tidak dapat berdiri sama sekali. Pelengkung harus dibangun dengan bantuan semacam perancah. Perancah memberi topangan sementara sampai pelengkung selesai; lalu perancahnya dapat dilepas dan pelengkung tetap stabil untuk waktu yang lama.

Tidak ada alasan teknologis kenapa sebuah perangkat secara prinsip tidak boleh rapuh. Insinyur bebas merancang, di meja gambarnya, perangkat yang, jika separuh selesai, tidak akan berfungsi sama sekali. Namun, bahkan di bidang keinsinyuran, kita susah mencari perangkat yang benar-benar rapuh. Saya percaya bahwa ini lebih benar lagi mengenai perangkat yang hidup. Mari kita lihat beberapa perangkat yang konon rapuh dari dunia kehidupan yang telah dikemukakan oleh propaganda kreasonis. Contoh tawon dan anggrek hanyalah salah satu contoh atas fenomena tiruan yang memukau. Banyak hewan dan beberapa tumbuhan mendapat manfaat karena kemiripannya dengan objek lain, seringkali hewan atau tumbuhan lain. Hampir setiap aspek kehidupan pernah diperkuat atau diperlemah oleh tiruan: menangkap makanan (harimau dan macan tutul hampir tidak kelihatan ketika memburu mangsanya di hutan yang berbelangbelang dengan sinar matahari dan bayangan; ikan sungut ganda menyerupai dasar laut tempat mereka menunggu, dan mereka mengumpan mangsanya dengan sebatang “tongkat pancing” panjang, yang di ujungnya ada umpan yang meniru cacing; kunang-kunang femme fatale meniru pola kedipan rayuan spesies lain untuk mengumpan jantan yang kemudian ia makan; ikan blenny bergigi pedang meniru spesies ikan lain yang tugasnya membersihkan ikan besar, lalu menggigit sirip kliennya ketika sudah mendapat akses terbuka); menghindari dimakan (hewan mangsa dapat menyerupai kulit pohon, ranting, daun hijau segar, daun mati yang sudah mengering, bunga, duri mawar, rumput laut, batu, tahi burung dan hewan lain yang sudah diketahui beracun atau berbisa); menipu pemangsa agar tidak mendekati anaknya (burung avocet serta burung lain yang membuat sarangnya di darat meniru sikap burung dengan sayap patah); mendapat pemeliharaan untuk telur (telur cuckoo menyerupai telur spesies inang partikular; betina dalam spesies ikan pengeram mulut partikular memiliki telur palsu yang digambar di sisinya untuk memikat jantan agar mengambil telur asli ke dalam mulutnya dan mengeraminya).

Dalam semua kasus tersebut, ada godaan untuk berpikir bahwa tiruan tidak akan berhasil kecuali sempurna. Dalam kasus anggrek tawon, saya banyak membahas ketidaksempurnaan persepsi tawon dan korban tiruan lain. Memang, menurut mata saya, anggrek tidak begitu mengagumkan dalam kemiripannya dengan tawon, lebah, atau lalat. Kemiripan serangga daun dengan daun adalah jauh lebih tepat menurut mata saya, barangkali karena mata saya lebih menyerupai mata pemangsa (seperti burung) yang menjadi sasaran tiruan daun itu.

Tetapi dalam arti yang lebih umum, perkiraan bahwa tiruan harus sempurna agar berhasil tetap salah. Setajam apa pun mata seekor pemangsa, kondisi melihat tidak selalu sempurna. Lagi pula, hampir selalu ada kontinum kondisi melihat, dari yang buruk sekali hingga yang baik sekali. Pikirkan sebuah objek yang Anda sangat kenali, saking kenalnya Anda tidak akan salah mengira itu barang lain. Atau pikirkan seseorang – misalnya, seorang teman dekat, sangat jelas dan akrab sehingga Anda tidak akan pernah keliru melihatnya sebagai orang lain. Tetapi sekarang bayangkan bahwa dia berjalan ke arah Anda dari jarak jauh. Harus ada jarak sangat jauh, sehingga orangnya tidak kelihatan sama sekali. Dan jarak sangat dekat, sehingga Anda melihat setiap corak, setiap bulu mata, setiap pori. Di jarak menengah, tidak ada tranformasi tiba-tiba. Kemampuan Anda untuk mengenali orang itu meningkat dan menurun secara bertahap. Panduan keahlian senapan militer menguraikan itu: “Dari 200 meter, semua anggota tubuh dilihat dengan jelas. Dari 300 meter, garis bentuk muka kabur. Dari 400 meter, tidak ada muka. Dari 600 meter, kepala adalah titik dan tubuh melancip. Ada pertanyaan?” Dalam kasus teman Anda yang mendekat sedikit demi sedikit, tentu Anda dapat tiba-tiba mengenalinya. Tetapi dalam kasus ini, jarak memberi gradien probabilitas untuk pengenalan tiba-tiba.

Bagaimanapun, jarak memberi gradien visibilitas. Jarak itu bertahap secara esensial. Untuk tingkat kemiripan apa pun di antara model dengan peniru, apakah kemiripan itu sangat tepat atau hampir tidak ada sama sekali, harus ada suatu jarak yang darinya mata pemangsa akan tertipu dan suatu jarak yang sedikit lebih dekat yang darinya mata itu kurang bisa ditipu. Jadi seiring berjalannya evolusi, kemiripan dengan tingkat kesempurnaan yang semakin meningkat dapat dipilih oleh seleksi alam, karena jarak kritis untuk ditipu semakin berkurang. Saya menggunakan “mata pemangsa” sebagai pengganti untuk “mata siapa pun yang perlu ditipu.” Dalam kasus tertentu, yang perlu ditipu itu adalah mata mangsa, mata orang tua angkat, mata ikan betina, dan seterusnya.

Saya pernah mendemonstrasikan fenomena ini di ceramah publik khusus untuk anakanak. Kolega saya Dr. George McGavin, dari Museum Universitas Oxford, dengan murah hati membuatkan saya suatu model “lantai hutan” yang dilengkapi dengan ranting, daun mati dan lumut. Di atasnya, dia menaruh dengan teliti puluhan serangga mati. Beberapa darinya, seperti kumbang warna biru logam, sangat menonjol; yang lain, seperti serangga tongkat dan kupu-kupu yang meniru daun, berkamuflase dengan bagus sekali; sedangkan yang lain lagi, seperti kecoak cokelat, kamuflase tingkat menengah. Anak-anak yang hadir diajak mendekati model tersebut dengan perlahan-lahan, sambil mencari serangga dan bersorak setiap kali menemukan salah satunya. Saat mereka berada cukup jauh, mereka bahkan tidak melihat serangga yang paling menonjol. Sambil mereka mendekat, mereka pertama-tama melihat serangga yang menonjol, lalu yang, seperti kecoak, yang visibilitasnya menengah, dan akhirnya yang berkamuflase dengan baik. Serangga yang kamuflasenya terbaik luput dari deteksi bahkan ketika anak-anak itu menatap dari dekat, dan anak-anak itu tersentak ketika saya menunjukkannya.

Jarak bukan satu-satunya gradien yang dapat dibahas seperti ini. Senja adalah gradien yang lain. Di tengah malam, hampir tidak ada yang dapat dilihat, dan bahkan kemiripan peniru yang sangat kasar akan berhasil. Pada siang bolong, hanya peniru yang sangat tepat dan teliti dapat luput dari deteksi. Di antara waktu-waktu ini, saat fajar dan senja atau di hari yang berawan saja, dalam kabut atau badai hujan, ada kontinum visibilitas-visibilitas yang halus dan tidak terputus. Sekali lagi, kemiripan yang ketepatannya meningkat secara bertahap akan dipilih oleh seleksi alam, karena untuk ketepatan kemiripan apa pun, ada tingkat visibilitas yang untuknya ketepatan kemiripan itu adalah penentu. Seiring berjalannya evolusi, kemiripan yang semakin meningkat memberi manfaat bertahan hidup, karena intensitas cahaya kritis untuk ditipu menjadi semakin lebih terang.

Gradien yang serupa diberi oleh sudut penglihatan. Peniru serangga, baik maupun buruk, terkadang terlihat sebelah mata oleh pemangsa. Pada waktu lain ia terlihat pas dari depan, tanpa ampun. Harus ada sudut pandang yang begitu miring sehingga peniru terburuk akan luput dari deteksi. Harus ada sudut pandang yang begitu terpusat sehingga bahkan peniru terbaik akan terancam. Di antara kedua-duanya ada suatu gradien pandangan, suatu kontinum sudut-sudut. Untuk tingkat kesempurnaan tiruan apa pun, ada sudut pandang kritis yang darinya pembaikan atau pemburukan kecil adalah penentu. Seiring berjalannya evolusi, kemiripan dengan kualitas yang meningkat secara halus dipilih, karena sudut pandang kritis untuk ditipu semakin pindah ke pusat.

Kualitas mata dan otak musuh dapat dianggap sebagai gradien yang lain lagi, dan saya sudah merujuknya di bagian lebih awal bab ini. Seberapa pun tingkat kemiripan antara model dengan peniru, besar kemungkinan ada mata yang akan ditipu dan mata yang tidak akan ditipu. Sekali lagi, seiring berjalannya evolusi, kemiripan dengan kualitas yang meningkat secara halus dipilih, karena apa yang ditipu adalah mata pemangsa dengan kecanggihan yang semakin tinggi. Maksud saya bukan bahwa mata lebih baik berevolusi di pemangsa sejajar dengan peningkatan kualitas tiruan, walaupun itu bisa saja terjadi. Maksud saya, di dunia ini ada pemangsa dengan mata baik dan pemangsa dengan mata buruk. Semua pemangsa merupakan ancaman. Peniru buruk hanya menipu pemangsa dengan mata buruk. Peniru baik menipu hampir semua pemangsa. Ada kontinum halus di antara kedua-duanya.

Sebutan mata buruk dan mata bagus membawa saya sampai di masalah kesukaan para kreasonis. Apa gunanya separuh mata? Bagaimana bisa seleksi alam memilih mata yang kurang sempurna? Saya pernah membahas pertanyaan ini sebelumnya dan mengemukakan suatu spektrum mata menengah, yang diambil dari mata yang benar-benar ada dalam berbagai filumfilum di kerajaan animalia. Di sini saya akan menggabungkan mata dalam rubrik gradien teoretis yang sudah saya tetapkan. Ada gradien, atau kontinum, tugas-tugas yang untuknya mata mungkin digunakan. Saat ini saya sedang menggunakan mata saya untuk mengenali huruf-huruf aksara sambil mereka muncul di layar komputer. Kita membutuhkan mata yang bagus dan tajam untuk melakukan itu. Saya sudah mencapai umur yang cukup tua sehingga sudah tidak bisa membaca tanpa bantuan kacamata; saat ini kacamata saya minusnya kecil saja. Semakin saya menua, minus resep kacamata saya akan semakin naik. Tanpa kacamata, saya akan semakin susah melihat detail yang dekat. Di sini ada kontinum satu lagi – kontinum umur.

Manusia biasa siapa pun, setua apa pun, memiliki penglihatan yang lebih bagus dari serangga. Ada tugas yang dapat diselesaikan secara memadai oleh orang yang penglihatannya relatif buruk, bahkan orang yang hampir buta. Kita bisa bermain tenis dengan penglihatan yang lumayan kabur, karena bola tenis adalah objek besar, yang posisi dan gerakannya dapat dilihat, bahkan jika mata kita kurang fokus. Mata capung, meskipun buruk dibandingkan dengan tolok ukur manusia, tetap bagus menurut tolok ukur serangga, dan capung bisa memburu serangga saat kedua-duanya sedang terbang, suatu tugas yang kira-kira sama sulitnya dengan memukul bola tenis. Mata yang jauh lebih buruk dapat digunakan untuk tugas menghindari menabrak tembok atau jatuh dari tebing atau ke dalam sungai. Mata yang lebih buruk bisa tahu kapan bayangan, yang mungkin adalah awan tetapi mungkin juga adalah pemangsa, menunggu di atas. Dan mata yang lebih buruk lagi masih bisa membedakan di antara malam dengan petang, yang berguna untuk, antara lain. menyesuaikan musim kawin dan tahu kapan harus tidur. Ada kontinum tugas yang bisa dilakukan mata, sehingga untuk kualitas mata apa pun, dari yang sangat bagus hingga yang sangat buruk, ada tingkat tugas yang untuknya peningkatan marginal pada penglihatan kecil akan menjadi penentu. Dengan demikian, tidak ada kesulitan memahami evolusi mata yang bertahap-tahap, dari asal-usulnya yang kasar dan primitif, melalui kontinum menengah yang halus, hingga kesempurnaan yang kita temukan dalam elang atau manusia muda.

Jadi pertanyaan kreasionis – ”Apa gunanya separuh mata?” – adalah pertanyaan enteng yang mudah dijawab. Separuh mata itu hanya 1 persen lebih baik dari 49 persen mata, yang sudah lebih baik dari 48 persen, dan perbedaan itu signifikan. Pengajuan keberatan yang seolaholah lebih mendalam hampir selalu mengikuti pertanyaan pertama itu: “Sebagai seorang fisikawan,[1] saya tidak bisa percaya bahwa ada waktu yang cukup untuk organ serumit mata berevolusi dari ketiadaan. Apa Anda benar-benar berpikir ada cukup waktu?” Kedua pertanyaan tersebut berasal dari Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi. Namun, hadirin ingin pertanyaan itu dijawab, dan saya biasanya mengandalkan keluasan waktu berskala geologis. Jika satu langkah merepresentasikan satu abad, seluruh waktu Anno Domini hanya sebesar lapangan cricket. Untuk sampai di asal-usul hewan multiseluler dengan skala yang sama, kita harus berjalan dari New York ke San Francisco.

Dari sudut pandang waktu berskala geologis yang amat luas, menjawab pertanyaan ini sama dengan menggunakan palu uap untuk membuka kulit kacang tanah. Berjalan dari New York ke San Francisco merepresentasikan waktu yang ada untuk evolusi mata. Tetapi suatu kajian baru oleh dua ilmuwan Swedia, Dan Nilsson dan Susanne Pelger, mengemukakan bahwa hanya secuil dari waktu itu sudah cukup. Ketika kita menyebut “mata,” sebenarnya, maksud kita secara tersirat adalah mata vertebrata, tetapi mata yang bisa menghasilkan gambar telah berevolusi sebanyak 40 hingga 60 kali, secara mandiri dari nol, dalam banyak kelompok invertebrata yang berbeda. Di antara lebih dari 40 evolusi mandiri ini, setidaknya sembilan prinsip rancangan yang berbeda telah ditemukan, termasuk mata lubang jarum, dua macam mata lensa-kamera, mata reflektor melengkung (“parabola”), dan beberapa macam mata majemuk. Nilsson dan Pelger berfokus pada mata kamera dengan lensa, seperti yang berkembang dengan baik dalam vertebrata dan gurita.

Bagaimana caranya memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk jumlah perubahan evolusi tertentu? Kita membutuhkan besaran untuk mengukur besarnya setiap langkah dalam evolusi, dan besaran itu bisa saja diucapkan sebagai perubahan persentase dari apa yang sudah ada. Nilsson dan Pelger menggunakan perubahan 1 persen yang berturut-turut sebagai besaran untuk mengukur perubahan kuantitas anatomis. Ini hanyalah besaran untuk alasan kemudahan – seperti kalori, yang didefinisikan sebagai jumlah energi yang dibutuhkan untuk melakukan jumlah pekerjaan tertentu. Penggunaan besaran 1 persen menjadi paling mudah ketika semua perubahan terjadi dalam satu dimensi. Seandainya, misalnya, seleksi alam memilih ekor burung cenderawasih yang semakin panjang, berapa langkah evolusi yang dibutuhkan agar ekor itu mencapai panjang satu kilometer? Peningkatan panjang ekor sebanyak 1 persen tidak akan dilihat oleh pengamat burung biasa. Namun, jumlah langkah yang dibutuhkan untuk membuat ekor sepanjang satu kilometer ternyata hanya sedikit – kurang dari 700.

Memperpanjang ekor dari satu meter hingga satu kilometer bisa saja diperhitungkan (meskipun absurd), tetapi bagaimana bisa evolusi mata dipahami menurut skala yang sama? Masalahnya dalam kasus mata adalah banyak hal yang harus terjadi bersamaan di banyak bagian yang berbeda. Tugas Nilson dan Pelger adalah membuat model komputer atas mata yang sedang berevolusi dan menjawab dua pertanyaan. Pertanyaan pertama hampir sama dengan yang kita lontarkan beberapa kali sepanjang beberapa halaman terakhir, tetapi mereka bertanya secara lebih sistematis, menggunakan komputer: Adakah suatu gradien perubahan halus, dari kulit datar hingga mata kamera lengkap, dengan setiap tahap menengah sebagai perbaikan? (Berbeda dengan perancang manusia, seleksi alam tidak boleh mundur – bahkan jika ada bukit yang lebih menggoda di ujung jauh lembah.) Kedua – pertanyaan yang membuka seksi ini – berapa lama yang dibutuhkan untuk kuantitas perubahan evolusi tertentu?

Dalam model komputernya, Nilsson dan Pelger tidak berusaha menyimulasi pekerjaan internal sel. Mereka memulai ceritanya setelah penciptaan sebuah sel tunggal yang sensitif terhadap cahaya – tidak apa-apa menyebutnya sebagai fotosel. Akan bagus, di masa depan, untuk membuat model komputer lagi, kali ini pada tataran di dalam sel, untuk menunjukkan bagaimana fotosel hidup yang pertama terjadi melalui modifikasi tahap-demi-tahap atas sel umum yang lebih awal. Tetapi harus ada titik berangkat, dan Nilsson dan Pelger mulai setelah penciptaan fotosel. Mereka bekerja pada tataran jaringan: tataran materi yang dibuat dari sel dan bukan tataran sel-sel individu. Kulit adalah jaringan, begitu pun lapisan dalam usus, juga otot dan hati. Jaringan dapat berubah dengan berbagai cara di bawah pengaruh mutasi acak. Lembaran-lembaran jaringan dapat menjadi lebih atau kurang luas. Mereka bisa lebih tebal atau lebih tipis. Dalam kasus istimewa jaringan transparan seperti jaringan lensa, mereka dapat mengubah indeks biasnya (kekuatan membelokkan cahaya) dalam bagian lokal jaringannya.

Keindahan simulasi mata, berbeda dengan, misalnya, kaki citah yang sedang berlari, adalah efisiensinya dapat diukur dengan mudah, menggunakan hukum dasar optika. Mata direpresentasikan sebagai sayat melintang dua-dimensi, dan komputer dapat dengan mudah memperhitungkan ketajaman visualnya, atau resolusi spasialnya, sebagai bilangan riil tunggal. Akan jauh lebih susah menghasilkan ekspresi bilangan setara untuk mengukur kemujaraban kaki atau tulang pinggang citah. Nilsson dan Pelger mulai dengan retina datar di atas lapisan pigmen datar dan ditutupi dengan lapisan perlindungan transparan yang datar. Lapisan transparan dibolehkan mengalami mutasi acak lokal dalam indeks biasnya. Lalu mereka membiarkan modelnya berubah secara acak, hanya dibatasi oleh syarat bahwa perubahan apa pun harus kecil dan harus merupakan perbaikan atas apa yang ada sebelumnya.

Hasilnya cepat dan meyakinkan. Ada suatu trayektori ketajaman yang meningkat secara konsisten dan tanpa ragu-ragu dari permulaan yang datar melalui lekuk dangkal hingga mangkuk yang semakin mendalam, sementara bentuk representasi mata berubah di layar komputer. Lapisan transparan menebal hingga mengisi mangkuk itu dan menonjolkan permukaan luarnya sehingga melengkung. Lalu, hampir seperti sulap, sebagian dari isi transparan itu memadat menjadi wilayah lokal berbentuk bola dengan indeks bias yang lebih tinggi. Tidak lebih tinggi secara seragam, tetapi suatu gradien indeks bias yang membuat wilayah berbentuk bola itu berfungsi sebagai lensa indeks-gradien yang bagus sekali. Lensa indeks-gradien tidak dikenal oleh pembuat lensa manusia tetapi lumrah dalam mata yang hidup. Manusia membuat lensa dengan menggiling kaca hingga menghasilkan bentuk tertentu. Kita membuat lensa majemuk, seperti lensa mahal warna ungu di kamera modern, dengan memasang beberapa lensa sekaligus, tetapi masing-masing lensa individu itu terbuat dari kaca yang seragam di seluruh lensanya. Lensa indeks-gradien, sebaliknya, memiliki indeks bias yang berubah terus-menerus di dalam substansinya sendiri. Biasanya, indeks biasnya lebih tinggi di dekat pusat lensa. Mata ikan memiliki lensa indeks-gradien. Sudah lama diketahui bahwa, untuk lensa indeks-gradien, hasil yang paling bebas dari kekeliruan didapat jika suatu nilai teoretis terbaik dicapai pada rasio di antara jarak fokus dengan radius lensa. Rasio ini disebut rasio Mattiessen. Model komputer Nilsson dan Pelger selalu menuju rasio Mattiessen.

Dan sekarang, mari kita angkat pertanyaan tentang berapa lama yang dibutuhkan untuk semua perubahan evolusi itu. Untuk menjawab ini, Nilsson dan Pelger harus membuat beberapa asumsi tentang genetika dalam populasi alami. Mereka harus memberi modelnya nilai yang masuk akal untuk kuantitas seperti “heritabilitas.” Heritabilitas adalah ukuran seberapa jauh variasi diatur oleh keturunan. Cara biasa untuk mengukurnya adalah dengan mengukur sebanyak apa kembar monozigotik (yaitu, “identik”) saling menyerupai dibandingkan dengan kembar biasa. Satu kajian menemukan bahwa heritabilitas panjang kaki di manusia lelaki adalah 77 persen. Seratus persen heritabilitas berarti kita bisa mengukur kaki salah satu kembar identik untuk tahu dengan sempurna panjangnya kaki kembar yang lain, meskipun keduanya kembar itu dibesarkan terpisah. Nol persen heritabilitas berarti kaki-kaki kembar monozigotik tidak lebih serupa dibandingkan dengan kaki anggota-anggota acak dari populasi tertentu di lingkungan tertentu. Heritabilitas-heritabilitas lain yang pernah diukur dalam manusia adalah 95 persen untuk lebar kepala, 85 persen untuk tinggi saat duduk, 80 persen untuk panjang tangan dan 79 persen untuk tinggi badan.

Heritabilitas sering melebihi 50 persen, sehingga Nilsson dan Pelger tidak ragu menggunakan 50 persen heritabilitas dalam model matanya. Ini adalah asumsi yang konservatif, atau “pesimis.” Dibandingkan dengan asumsi yang lebih realistis, misalnya 70 persen, asumsi pesimis cenderung meningkatkan perkiraan akhir atas waktu yang dibutuhkan untuk evolusi mata. Mereka ingin berat sebelah seperti itu karena kita secara intuitif skeptis terhadap perkiraan pendek atas waktu yang dibutuhkan untuk evolusi organ yang rumit seperti mata.

Untuk alasan yang sama, mereka memilih nilai pesimis untuk koefisien variasi (yakni, berapa banyak variasi yang biasanya ada dalam populasi) dan intensitas seleksi (sebesar apa manfaat bertahan hidup yang diberi oleh penglihatan yang lebih bagus). Mereka bahkan mengira bahwa setiap generasi baru hanya berbeda dalam sebagian mata di satu saat: perubahan serentak di bagian berbeda mata, yang akan sangat mempercepat evolusi, dilarang. Tetapi bahkan dengan asumsi-asumsi konservatif ini, waktu yang dibutuhkan untuk evolusi mata ikan dari kulit datar sangat kecil: kurang dari 400 ribu generasi. Untuk jenis-jenis hewan kecil yang kita bahas, kita dapat berasumsi ada satu generasi per tahun, jadi sepertinya waktu yang dibutuhkan untuk evolusi mata kamera yang bagus adalah kurang dari setengah juta tahun.

Berdasarkan hasil Nilsson dan Pelger, tidak mengherankan bahwa mata telah berevolusi setidaknya 40 kali secara mandiri di kerajaan animalia. Ada cukup waktu untuk evolusinya dari nol 1500 kali berturut-turut dalam satu garis keturunan tertentu. Dengan asumsi itu mengenai durasi generasi yang biasa untuk hewan kecil, waktu yang dibutuhkan untuk evolusi mata tidak susah dipercaya karena begitu lama, tetapi ternyata terlalu cepat untuk diukur oleh para geolog! Itu kedipan mata geologis.

Diam-diam berbuat baik. Salah satu corak kunci evolusi adalah evolusi berjalan tahap demi tahap. Ini persoalan prinsip, bukan fakta. Bisa jadi atau tidak bahwa episode tertentu dalam evolusi terjadi secara tiba-tiba. Mungkin ada kurun evolusi cepat, atau bahkan makromutasi tibatiba – perubahan besar yang memisahkan anak dari kedua orang tuanya. Tentu ada kepunahan mendadak – barangkali disebabkan oleh malapetaka alam seperti ketika komet menabrak Bumi – dan ini meninggalkan ruang hampa yang diisi oleh pengganti yang maju dengan cepat, seperti saat mamalia menggantikan dinosaurus. Sebenarnya, evolusi bisa saja tidak selalu bertahap. Tetapi evolusi harus bertahap ketika digunakan untuk menjelaskan kejadian objek rumit yang tampak dirancang, seperti mata. Karena jika tidak bertahap dalam kasus seperti ini, evolusi sudah tidak punya kekuatan untuk menjelaskan lagi. Tanpa berjalan bertahap dalam kasus ini, kita kembali ke keajaiban, yang hanyalah sinonim dengan ketidakhadiran total penjelasan.

Alasan mata dan anggrek yang diserbuki oleh tawon begitu mengesankan bagi kita adalah kemungkinan terjadinya kecil. Mereka sangat tidak mungkin terjadi secara spontan atau kebetulan di dunia nyata. Evolusi bertahap yang maju langkah demi langkah, dengan setiap langkah beruntung tetapi tidak terlalu beruntung, adalah solusi teka-tekinya. Tetapi jika tidak bertahap, itu bukan solusi untuk teka-tekinya: itu hanyalah pernyataan-ulang atas teka-teki itu.

Terkadang, kita akan susah memikirkan apa tahap menengah itu. Pertanyaan itu akan menantang kecerdikan kita, tetapi seandainya kecerdikan kita gagal, itu hanyalah kegagalan kecerdikan. Itu bukan bukti bahwa tidak ada tahap menengah. Salah satu tantangan paling kuat terhadap kecerdikan kita dalam memikirkan tahap menengah berasal dari “bahasa tarian” lebah yang banyak dipuji, ditemukan dalam karya klasik Karl von Frisch yang membuat dia terkenal. Di sini produk akhir evolusi terkesan begitu rumit, begitu halus dan jauh sekali dari apa pun yang biasanya akan kita harapkan dari perbuatan serangga, sehingga sulit untuk membayangkan tahap menengah.

Lebah madu saling bercerita tentang lokasi bunga melalui tarian yang dikodekan secara teliti. Jika makanannya sangat dekat dengan sarang, mereka melakukan “tarian bundar.” Ini hanya membuat para lebah lain bersemangat, dan mereka bergegas ke luar dan mencari di sekitar sarang. Tidak begitu mengesankan. Tetapi yang sangat mengesankan adalah apa yang terjadi ketika makanan itu berada lebih jauh dari sarang. Pencari yang menemukan makanannya melakukan apa yang disebut sebagai tarian goyang, dan bentuk dan waktu tariannya memberi tahu para lebah lain baik arah maupun jarak makanan dari sarang. Tarian goyang dilakukan di dalam sarang pada permukaan vertikal. Sarang itu gelap, jadi tarian goyang tidak dilihat oleh para lebah lain. Tariannya dirasakan olehnya, dan juga didengar, karena lebah yang menari mengiringi pertunjukannya dengan suara melengking kecil dan berirama. Tariannya berbentuk angka delapan, dengan garis lurus di tengah. Arah garis lurus itulah yang, dalam bentuk kode cerdik, menceritakan arah makanannya.

Garis lurus tarian tidak secara langsung menunjukkan makanannya. Tidak bisa, karena tarian dilakukan pada permukaan vertikal dalam sarang, dan arah sarang tidak berubah, di mana pun makanannya. Makanan harus dipetakan dalam geografi horizontal. Dinding sarang vertikal itu menyerupai peta yang dilengketkan pada dinding. Garis yang ditulis di peta dinding tidak langsung menunjukkan suatu tujuan, tetapi kita bisa membaca arahnya melalui suatu konvensi arbitrer.

Untuk memahami konvensi yang digunakan oleh lebah, kita harus tahu terlebih dahulu bahwa lebah, seperti banyak serangga, menavigasi dengan menggunakan matahari sebagai kompas. Manusia juga melakukan ini, secara garis besar. Metode ini memiliki dua kekurangan. Pertama, matahari sering tersembunyi di belakang awan. Lebah menyelesaikan masalah ini dengan indra yang kita tidak punya. Sekali lagi, von Frischlah yang menemukan bahwa mereka dapat melihat arah polarisasi cahaya dan ini memberi tahu mereka letak matahari walaupun matahari sendiri tidak terlihat. Masalah kedua dengan kompas matahari adalah matahari “berjalan” melintasi langit sepanjang hari. Lebah mengatasi masalah ini dengan menggunakan jam internal. Von Frisch menemukan, dan ini sulit dipercaya, bahwa lebah penari yang terkurung dalam sarang selama berjam-jam setelah ekspedisi pencarian bekal akan pelan-pelan memutarkan arah garis lurus tarian, seolah-olah garis ini adalah jarum pendek dalam jam. Mereka tidak bisa melihat matahari di dalam sarang, tetapi mereka pelan-pelan mengubah arah tariannya agar sesuai dengan gerakan matahari, yang, menurut jam internalnya, pasti terjadi di luar. Menarik sekali, ras-ras lebah dari Belahan Selatan melakukan hal yang sama tetapi terbalik, sebagaimana seharusnya di wilayah itu.

Sekarang, mari kita bahas kode tarian itu sendiri. Garis lurus tarian yang terarah langsung ke atas mengisyaratkan bahwa makanan berada di arah yang sama dengan matahari. Langsung ke bawah mengisyaratkan makanan berada di arah yang sebaliknya. Semua arah menengah mengisyaratkan arah di antara kedua kutub itu. Lima puluh derajat ke kiri dari sumbu vertikal berarti 50° ke kiri dari arah matahari di bidang horizontal. Namun, ketepatan tarian ini tidak berdasarkan derajat. Kenapa harus seperti itu? Membagi kompas menjadi 360° hanya merupakan konvensi arbitrer kita. Lebah membagi kompas menjadi sekitar 8 derajat lebah. Sebenarnya, ini menyerupai apa yang kita lakukan ketika kita bukan navigator profesional. Kita membagi kompas informal kita menjadi delapan kuadran: U, TL, T, TG, S, BD, B, BL.

Tarian lebah juga mengodekan jarak makanan. Atau lebih tepat, berbagai aspek tariannya – kecepatan memutar, kecepatan bergoyang, kecepatan bersiul – berkorelasi dengan jarak makanan, dan salah satu aspek tersebut, atau kombinasi apa pun di antara ketiganya, kemudian dapat digunakan oleh lebah lain untuk membaca jarak. Semakin dekat makanannya, semakin cepat tariannya. Kita bisa mengingatnya dengan berpikir bahwa lebah yang menemukan makanan di dekat sarang mungkin saja akan lebih bersemangat, dan kurang lelah, daripada lebah yang menemukan makanan yang jauh. Ini lebih dari sekadar pembantu ingatan; kita diberi petunjuk tentang bagaimana tarian itu berevolusi, sebagaimana kita akan lihat.

Sebagai rangkuman, seekor lebah menemukan sumber makanan bagus. Dia kembali ke sarang, sarat dengan nektar dan serbuk sari, dan mengantar muatannya ke para pekerja yang menerimanya. Lalu dia mulai menari. Di suatu tempat di dinding vertikal, tidak penting di mana persisnya, dia bergegas ke sana kemari dalam bentuk angka delapan sempit. Lebah pekerja yang lain berkumpul di sekelilingnya, merasa dan mendengar. Mereka menghitung kecepatan siulan dan barangkali kecepatan memutar juga. Mereka mengukur, bertolak dari sumbu vertikal, sudut garis lurus tarian sambil penari menggoyangkan abdomennya. Mereka pergi ke pintu sarang dan cepat keluar dari kegelapan menuju cahaya matahari. Mereka mengamati posisi matahari – bukan ketinggian vertikalnya melainkan arah kompasnya di bidang horizontal. Dan mereka terbang lurus ke arah yang sudutnya, bertolak dari matahari, sama dengan sudut tarian penemu makanan itu, bertolak dari sumbu vertikal di dinding sarang. Mereka terus terbang ke arah ini, bukan untuk jarak tidak tertentu tetapi untuk jarak sebanding (terbalik) dengan (logaritma) kecepatan siulan penari. Menarik juga bahwa jika lebah pertama mengambil jalan memutar saat mencari makanan, dia tidak mengarahkan tariannya ke arah jalan memutar itu tetapi langsung ke arah kompas makanan yang direkonstruksi.

Cerita tentang lebah yang menari tentu sulit dipercaya, dan ada yang pernah tidak percaya. Saya akan kembali ke para orang skeptis, dan ke eksperimen baru-baru ini yang akhirnya membuktikan mereka bersalah, di bab berikutnya. Di bab ini, saya ingin membahas evolusi bertahap tarian lebah. Seperti apa tahap-tahap menengah dalam evolusinya, dan bagaimana mereka berfungsi saat tariannya belum lengkap?

Cara pertanyaan itu dilontarkan sebenarnya kurang tepat. Tidak ada makhluk yang hidup dalam “tahap menengah” yang “belum lengkap.” Lebah kuno yang sudah lama mati, yang tariannya dapat ditafsir, dari sudut pandang masa depan, sebagai tahap menengah menuju tarian lebah madu modern, tetap hidup dengan baik. Mereka hidup sepenuhnya sebagai lebah dan tidak menganggap dirinya “menuju” suatu yang “lebih baik.” Lagi pula, tarian lebah “modern” kita mungkin bukan versi terakhir dan bisa saja berevolusi menjadi suatu yang lebih spektakuler lagi saat kita dan lebah kita sudah tidak ada. Namun, tetap ada teka-teki tentang bagaimana tarian lebah kekinian dapat berevolusi secara bertahap. Bagaimana bentuk tahap menengah itu, dan bagaimana fungsinya?

Von Frisch sendiri telah memikirkan pertanyaan ini, dan dia mendekatinya dengan melihat-lihat di bagan silsilah, di saudara lebah madu modern yang jauh. Ini bukan leluhur lebah madu, melainkan lebah yang lain yang hidup pada waktu yang sama. Tetapi mungkin saja lebah lain itu mempertahankan corak leluhurnya. Lebah madu sendiri adalah serangga iklim sedang yang membuat sarang di pohon keropos atau gua. Saudara terdekatnya adalah lebah tropis yang dapat membuat sarang di daerah terbuka, menggantungkan sarangnya dari dahan pohon atau batu yang menonjol. Mereka kemudian dapat melihat matahari sambil menari, dan tidak perlu mengandalkan konvensi bahwa sumbu vertikal “merujuk” ke arah matahari. Matahari dapat merujuk dirinya sendiri.

Salah satu saudara tropis ini, lebah kerdil Apis florea, menari di permukaan horizontal di atas sarang. Garis lurus tarian langsung menunjukkan makanannya. Tidak perlu ada konvensi peta; penunjukan langsung memadai. Ini tentu saja merupakan salah satu tahap transisi yang masuk akal menuju lebah madu, tetapi kita masih harus memikirkan tahap menengah lain yang mendahului atau mengikuti tahap ini. Apa kira-kira pendahulu tarian lebah kerdil? Buat apa seekor lebah yang baru menemukan makanan bergegas ke sana-kemari dalam bentuk angka 8 dengan garis lurus yang menunjukkan makanannya? Diperkirakan bahwa ini adalah bentuk persiapan lepas landas yang diritualkan. Sebelum tarian itu berevolusi, menurut von Frisch, seekor lebah pencari makan yang baru membongkar muat makanan akan lepas landas ke arah yang sama, untuk terbang kembali ke sumber makanan itu. Sebagai persiapan untuk lepas landas, dia akan berbelok ke arah itu dan mungkin berjalan beberapa langkah. Seleksi alam akan memilih kecenderungan apa pun untuk melebih-lebihkan atau memperpanjang lepas landasya jika hal itu mendorong lebah lain untuk ikut. Barangkali tariannya adalah semacam persiapan lepas landas yang diulangi secara ritual. Ini masuk akal karena, apakah mereka dulu menari atau tidak, lebah sering menggunakan taktik lebih langsung, yaitu saling mengikuti ke sumber makanan. Fakta lain yang mendukung ide ini adalah bahwa lebah yang menari mengangkat sayapnya sedikit ke samping, seolah-olah siap-siap untuk terbang, dan menggetarkan otot sayap, tidak cukup kuat untuk lepas landas tetapi cukup untuk menghasilkan bunyi yang merupakan bagian penting dari sinyal tarian.

Satu cara sederhana untuk memperpanjang atau melebih-lebihkan persiapan lepas landas adalah dengan mengulanginya. Mengulanginya berarti kembali ke awal dan melangkah beberapa kali lagi ke arah makanan. Ada dua cara untuk kembali ke awal: belok kanan atau belok kiri di ujung landas pacu. Jika ada yang belok ke kiri atau ke kanan secara konsisten, maka tidak akan jelas yang mana arah lepas landas yang benar, dan yang mana perjalanan kembali ke titik awal landas pacu. Cara terbaik untuk menghindari kesalahpahaman adalah berbelok selangseling ke kiri dan ke kanan. Demikian seleksi alam atas pola angka 8.

Tetapi bagaimana hubungan di antara jarak makanan dan kecepatan tarian berevolusi? Jika kecepatan tarian berbanding secara positif dengan jarak makanan, itu sulit dijelaskan. Tetapi, Anda pasti ingat, sebenarnya sebaliknya: semakin dekat makanannya, semakin cepat tariannya. Ini langsung mengemukakan jalan yang masuk akal untuk evolusi bertahap. Sebelum tarian dalam arti persis berevolusi, lebah pencari makanan mungkin melakukan pengulangan yang diritualkan atas persiapan lepas landas tetapi tidak pada kecepatan tertentu. Dia membuat kecepatan tarian sesuka hatinya. Bayangkan, jika Anda baru terbang pulang beberapa mil, sarat dengan nektar dan serbuk sari, apakah Anda akan ingin lari cepat-cepat dalam sarang? Tidak, besar kemungkinan Anda lelah. Sebaliknya, jika Anda baru menemukan sumber makanan berlimpah yang agak dekat dengan sarang, Anda akan mengakhiri perjalanan pulang Anda yang dekat dengan segar dan semangat. Tidak susah membayangkan bagaimana suatu hubungan yang pada mulanya kebetulan di antara jarak makanan dengan kelambatan tarian dapat diritualkan menjadi kode yang resmi dan andal.

Dan sekarang, tahap menengah yang paling menantang. Bagaimana tarian kuno, dengan garis lurus yang langsung menunjukkan makanan, berubah menjadi tarian di mana sudut garis lurus bertolak dari sumbu vertikal menjadi kode untuk sudut letak makanan bertolak dari matahari? Perubahan seperti itu harus ada karena bagian dalam sarang lebah madu itu gelap dan matahari tidak nampak, dan juga karena saat menari di dinding vertikal, lebah tidak bisa langsung menunjukkan letak makanan, kecuali permukaan itu kebetulan menunjuk ke arah makanannya. Tetapi tidak cukup sekadar menunjukkan bahwa perubahan itu perlu ada. Kita juga harus menjelaskan bagaimana transisi sulit ini dicapai melalui seruntunan tahap menengah yang masuk akal.

Ini tampak terlalu membingungkan, tetapi salah satu fakta unik tentang sistem saraf serangga menyelamatkan kita. Eksperimen luar biasa yang berikut telah dilakukan dengan berbagai serangga, dari kumbang hingga semut. Mulai dengan seekor kumbang berjalan di papan kayu horizontal yang diterangi lampu listrik. Hal pertama yang harus ditunjukkan adalah bahwa serangga itu menggunakan kompas cahaya. Jika bola lampu digeser, serangga juga akan mengubah arah ia berjalan. Jika arahnya misalnya, 30° bertolak dari cahayanya, dia akan mengubah haluannya agar arahnya tetap 30° bertolak dari posisi baru cahayanya. Sebenarnya kita bisa menyetir kumbang itu ke mana pun, menggunakan sinar cahaya sebagai tangkai kemudi. Fakta tentang serangga ini sudah lama diketahui: mereka menggunakan matahari (atau bulan atau bintang) sebagai kompas, dan mereka mudah ditipu dengan bola lampu. Sejauh ini tidak masalah. Sekarang, eksperimen yang menarik itu. Matikan lampunya dan pada titik yang sama miringkan papan hingga vertikal. Kumbang tidak terganggu dan terus berjalan. Dan, mirabile dictu, dia mengubah arah jalannya agar sudutnya bertolak dari sumbu vertikal tetap sama dengan sudut sebelumnya yang bertolak dari cahayanya: 30° di contoh kita. Tidak seorang pun tahu kenapa ini terjadi, tetapi tetap terjadi. Sepertinya eksperimen ini menunjukkan keistimewaan kebetulan sistem saraf serangga – suatu kebingungan indrawi di antara indra gravitasi dengan indra penglihatan, barangkali seperti jika kita melihat kilat cahaya saat kepala kita dipukul. Bagaimanapun, besar kemungkinan corak ini menyediakan jembatan yang dibutuhkan untuk evolusi kode “vertikal merujuk matahari” dalam tarian lebah madu.

Secara signifikan, jika kita menyalakan lampu di dalam sarang, para lebah mengabaikan indra gravitasinya dan menggunakan arah cahaya untuk langsung merujuk matahari dalam kodenya. Fakta ini, yang sudah lama diketahui, pernah dieksploitasi dalam salah satu eksperimen paling cerdik yang pernah dilakukan, eksperimen yang akhirnya membuktikan bahwa tarian lebah madu benar-benar berfungsi. Saya akan kembali ke eksperimen itu di bab berikutnya. Di bab ini, kita sudah menemukan seruntunan tahap menengah yang masuk akal yang melaluinya tarian lebah modern bisa berevolusi dari asal-usul sederhana. Cerita saya ini, berdasarkan ide-ide von Frisch, mungkin saja tidak betul. Tetapi sesuatu seperti itu pasti terjadi. Saya menceritakannya sebagai jawaban terhadap skeptisisme alami – Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi – yang muncul dalam orang yang menghadapi fenomena alam yang sangat cerdik atau rumit. Kata orang skeptis, “saya tidak dapat membayangkan seruntunan tahap menengah yang masuk akal, jadi tahap itu tidak ada, dan fenomena itu muncul secara spontan sebagai keajaiban.” Von Frisch telah menawarkan seruntunan tahap menengah yang masuk akal. Seandainya runtunan itu kurang tepat, itu tetap cukup masuk akal untuk mengatasi Argumen dari Ketidakpercayaan Pribadi. Ini juga berlaku untuk semua contoh lain yang sudah kita lihat, dari anggrek yang meniru tawon hingga mata kamera.

Banyak sekali fakta alam yang aneh dan menarik dapat dikumpulkan oleh orang yang skeptis terhadap Darwinisme bertahap. Saya pernah disuruh menjelaskan, misalnya, evolusi bertahap makhluk yang hidup di palung yang dalam di Samudra Pasifik, tempat di mana tidak ada cahaya dan tekanan air dapat melebihi 1000 atmosfer. Suatu komunitas hewan sudah muncul di sekitar tempat ventilasi hidrotermal panas di dalam palung Pasifik. Ada biokimia alternatif lengkap yang dijalankan oleh bakteri yang menggunakan panas dari tempat ventilasi dan memetabolisme sulfur, bukan oksigen. Komunitas hewan lebih besar akhirnya bergantung pada bakteri sulfur ini, sama seperti kehidupan biasa bergantung pada tumbuhan hijau yang menangkap energi dari matahari.

Semua hewan di komunitas sulfur adalah saudara dari hewan lebih biasa yang terdapat di tempat lain. Bagaimana mereka berevolusi, dan melalui tahap menengah apa? Sebenarnya, bentuk argumennya akan persis sama. Untuk suatu penjelasan, kita hanya membutuhkan setidaknya satu gradien alami, dan ada banyak sekali gradien jika kita turun ke dasar laut. Seribu atmosfer adalah tekanan yang mengerikan, tetapi hanya sedikit lebih besar secara kuantitatif dari 999 atmosfer, hanya sedikit lebih besar secara kuantitatif dari 998 atmosfer, dan seterusnya. Dasar laut menawarkan gradien kedalaman dari 0 kaki melalui semua kedalaman menengah hingga 33.000 kaki. Tekanan bervariasi secara halus dari 1 atmosfer hingga 1000 atmosfer. Intensitas cahaya bervariasi secara halus dari terang siang dekat permukaan hingga kegelapan total di kedalaman, yang hanya diterangi oleh kelompok langka bakteri bercahaya dalam organ cahaya ikan. Tidak ada perubahan drastis. Untuk setiap tingkat tekanan dan kegelapan yang memaksa hewan menyesuaikan diri, akan ada satu rancangan hewan, hanya sedikit berbeda dengan hewan lain, yang dapat bertahan satu depa lebih mendalam, satu lumen lebih gelap. Untuk setiap ... tetapi bab ini sudah terlalu panjang. Anda sudah mengetahui metode-metode saya, Watson. Terapkanlah.

  1. Saya berharap tidak ada yang merasa tersinggung. Sebagai dukungan untuk poin saya, saya mengutip kalimat-kalimat berikut dari Science and Christian Belief, oleh seorang fisikawan terkemuka, Pastor John Polkinghorne (1994, hal. 16): “Seseorang seperti Richard Dawkins dapat menawarkan gambaran yang meyakinkan tentang bagaimana pemilahan dan akumulasi perbedaan-perbedaan kecil dapat menghasilkan perkembangan berskala besar, tetapi, secara naluri, seorang ilmuwan fisik ingin melihat perkiraan, seberapa kasarnya, tentang berapa banyak tahap yang akan membawa kita dari sebuah sel yang sedikit sensitif terhadap cahaya hingga sebuah mata serangga yang terbentuk dengan lengkap, dan tentang kira-kira berapa generasi yang dibutuhkan agar terjadi mutasi yang diperlukan.”